Rasa Canggung

2456 Kata
SMA NUSA BANGSA Ruang OSIS “Kak, bagaimana kalau kita adakan lomba bernyanyi pasangan tapi bukan antar kelas. Nanti namanya diacak saja kak, aku rasa begini bagus untuk menambah solidaritas antar kelas,” saran Marsha saat rapat OSIS untuk lomba hari guru. “Bagus juga, tuh! Tapi maunya, kita daftarkan dulu siapa yang pandai nyanyi dan pandai mainkan alat musik di masing-masing kelas, biar siapa pun pasangannya, tetap bagus hasilnya!” Kevin merasa saran Marsha sangat bagus dan menyetujuinya. “Benar kak! Jadi, kita pisahkan siapa yang pandai main alat musik dengan yang pandai bernyanyi.” Becca menambahkan. “Ya, kalau begitu, Marsha bisa minta tolong daftarkan yang kelas X ya. Lalu, Erick kamu daftarkan yang kelas XI, dan Nana untuk kelas XII. Lomba ini akan diadakan seusai upacara Hari Guru. Nah, untuk lomba yang lainnya kita adakan sebelumnya. Tapi, jangan kasih tau mereka dulu ya! Ini pasti akan seru!” perintah Kevin kepada seluruh anggota OSIS. Mereka baru saja menyelesaikan pembahasan soal lomba untuk hari guru dua pekan lagi. Beberapa acara lainnya juga sudah dikerjakan dan diajukan kepada guru untuk disetujui. Marsha merasa sangat bangga karena sarannya diterima dengan baik oleh Kevin dan seluruh anggota OSIS. ‘Aku harap, nanti aku dapat kesempatan bernyanyi dengan kak Kevin,’ harap Marsha dalam hatinya. Gadis itu pun berjalan dengan riang menuju kantin karena sekarang memang jam istirahat. Dia saking senangnya tanpa sadar menabrak seseorang. Langsung saja, dia meminta maaf tapi dia agak terkejut melihat siapa yang ditabraknya barusan. “Dana?” “Sorry, Sha! Kamu kelihatannya kesenangan banget ya, sampai gak lihat jalan gitu. Aku ke kelas dulu ya,” pamit Dana dan hanya diangguki oleh Marsha. Tak ada basa-basi yang berarti. Marsha terus melanjutkan langkahnya dan mengambil bangku kosong di kantin. Dia sedang sendiri saat ini karena yang lain sudah duluan. Dia agak sibuk karena mengurus berbagai urusan di OSIS. Ya mau bagaimana lagi, sudah pilihannya untuk masuk sebagai anggota OSIS. Marsha sejujurnya masuk OSIS karena menyukai dan mengagumi Kevin. Dia sangat spontan membicarakan Kevin bahkan kepada Irene yang ternyata menyukai cowok itu. Dia agak merasa bersalah sih, tapi kelihatannya Irene tanpa basa-basi langsung memusuhinya. Dia bukan tipikal orang yang suka musuhan apalagi sama teman sekelas. Hanya saja, Irene yang agak berlebihan soal ini. “Marsha kan? Melamun aja loe?” seorang cowok memanggilnya dan otomatis dia mengalihkan perhatiannya. “Gue di sini ya! Soalnya yang lain full,” pintanya hanya diangguki oleh Marsha. “Loe… Dean ya? Anak kelas B?” tanya Marsha teringat pernah mengenal Dean beberapa waktu yang lalu. “Iya! Ternyata loe gak pikun ya!” Dean mengiyakan. “Oi, Bro! Kita gabung sini boleh?” tanya Marco dan Jogi yang kini menghampiri Dean. “Duduk aja! Selagi kosong juga!” Marsha memberi izin kepada kedua teman sekelasnya Dean. Dengan cepat, Marco langsung mengambil tempat duduk dan Jogi tersenyum sumringah menatap Marsha. “Kamu Marsha, kan? Selebgram muda itu! Kamu famous banget di sekolah ini!” puji Jogi hanya dibalas anggukan oleh Marsha. “Tapi gue yang dansa sama dia di prom night kemarin,” sela Marco membuat Jogi dan Marsha langsung terpengarah. Bukan apa-apa, sebenarnya Marsha tidak tahu siapa pasangannya saat prom night kemarin. Dia sudah berharap banyak bisa berdansa dan semakin dekat dengan Kevin, eh cowok itu malahan menjadi MC di sana. Akhirnya, dia dansa dengan orang lain secara acak. Dan ya, dia sama sekali tak mau tahu dengan siapa orangnya karena waktu itu dia sudah kehilangan semangat. “Kamu? Sorry gue gak sempat nanyain nama loe, soalnya kemarin gue buru-buru gitu.” Marsha beralasan dan diangguki oleh Marco. “Gue tahu kalo waktu itu loe adalah Marsha adalah karna kedatangan loe yang mencolok dengan si ketua OSIS sih,” balas Marco dianguki semangat oleh Marsha. Dia senang karena masih banyak yang mengingat kalau saat itu dia bersama Kevin. “Loe gak barengan si Irene? Kemarin kalian sama, tapi sekarang dia malah sama si Lani dan yang lain,” tanya Dean membuat Marsha sedikit menggembungkan pipinya kala mengingat soal Irene. “Gimana jelasinnya ya? Irene itu kekanakan banget!” jawab Marsha membuat Dean malah semakin bingung. “Emang dia dah tua? Masih dikira anak-anak sih kalau usia segini.” Jogi beropini. “Iya, gue tahu! Hanya saja, dia dan gue suka sama satu cowok yang sama. Dan dia langsung musuhin gue gitu,” jelas Marsha membuat Dean terbelalak. Jelas saja dong, dia kepingin tahu siapa cowok yang disukai sama Irene. “Biar gue tebak, loe suka sama Kak Kevin?” sosor Marco dibalas anggukan pelan oleh Marsha. Mendengar itu, Dean jadi teringat beberapa saat kala dia membicarakan sang ketua OSIS dengan Irene. Gadis itu bahkan terlihat tak suka saat melihat para gadis yang mengerubungi ketua OSIS itu. ‘Oh, jadi gitu ya.’ Dean membatin mengerti. “Dahlah bicaranya, yuk makan siang! Ntar lagi belajar! Dean, loe traktir ya!” ajak Jogi. “Iya! Sekalian loe juga ya, Marsha! Pesan aja, gue yang bayar!” Dean sangat bermurah hati kepada teman-temannya. “Serius nih? Rezeki mana boleh ditolak!” Marsha tanpa ragu-ragu menerima tawaran Dean untuk mentraktirnya. Mereka berempat langsung memesan makanan untuk makan siang. Tapi Dean, terus menatap Irene dari kejauhan yang sedang bersama teman-temannya. Dia sudah mengetahui kebenaran kalau gadis yang dia sukai ternyata menyukai si ketua OSIS yang ganteng dan pintar. Dia seakan sadar diri kalau dia tak selevel dengan Kevin. Seusai makan siang, Dean keburu lemes karena kepikiran dengan Irene yang ternyata benar- benar menyukai Kevin. Dia pikir, yang kemarin itu hanya sebatas kekaguman saja. Dia seakan merasa tak akan mungkin mendapatkan Irene karena merasa bodoh sejak lahir. Kedua teman sekelasnya, yakni Jogi dan Marco peka dengan keadaan sahabat mereka itu! Langsung saja, Marco menepuk bahu Dean dan berusaha menghibur temannya itu. “Bro! Cewek itu gak cuma satu! Loe ganteng dan kaya walaupun agak b**o! Tapi santai aja, banyak cewek yang bakalan nempel sama loe!” hibur Marco malah membuat Dean makin manyun. “Gini aja bro! Sadar diri aja, kita balik ke realita! Kalo sekalinya cewek pintar menyukai cowok pintar, tipenya gak bakal berubah! Percaya deh!” Jogi malah semakin menjatuhkan semangat Dean. Hei sob! Teman macam apa mereka ini? Entahlah, kita tak tahu. “Gue mau berubah!” tekad Dean. “Jadi apa? Power Ranger?” tanya Marco dibalas jotosan oleh Dean. “Gue mau jadi anak pintar dong!” Dean memperjelas tekadnya. Saat mendengar itu, Jogi dan Marco langsung saling menatap satu sama lain. “UAHAHHAHAHAHAAA! Becanda loe gak lucu!” tawa mereka berdua. Mereka merasa seorang Dean yang sering terlambat, ngasal saat ujian dan mengerjakan PR menjadi pintar begitu saja! Mau berubah begitu saja? Candaan macam apa itu? Setidaknya, begitulah pemikiran teman sepergoblokannya Dean. “Ketawa terus! Dukung kek! Malah diketawain?” kesal Dean karena kedua temannya ini malah menertawakan tekadnya untuk menjadi pintar. Memangnya salah kalau dia mau menjadi anak yang pintar? Emang gak salah sih, hanya saja mereka merasa tak mungkin. “Memangnya bisa kecoa jadi kupu-kupu? Kek gitulah umpamanya, Bro! Saking gak mungkinnya!” Jogi memberi pendapat yang sejujur-jujurnya. “Gimana mau pintar, kerjaan loe nge-wibu dan nge-halu! Kapan belajarnya?” Marco juga beropini. Seketika Dean sadar, kalau menjadi pintar mungkin tak mungkin untuknya. “Bener juga ya,” sewot Dean ditimpuk dengan kenyataan yang benar adanya. Dia mana mungkin bisa pintar, orang belajar aja gak pernah. Baca buku cuma sampulnya doang. Dia akhirnya terdiam sampai masuk ke dalam kelas. Dia bukannya semangat, malah lemes dan semakin tak berniat dengan pembelajaran hari ini. Dia kebanyakan melamun karena merutuki kenapa dia terlahir jadi anak bodoh. Harusnya sadar juga sih, gak ada orang terlahir bodoh wahai Dean! Kamunya aja yang malas belajar! Tapi mau gimana, otaknya masih terlalu kekanakan saat ini. Semantara waktu terus berlalu, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Lagi-lagi waktu tak terasa begitu saja. Para murid dengan cepat menyusun buku ke dalam tas mereka karena tentu saja ingin pulang. Tapi sebelum semuanya bubar, Marsha maju ke depan untuk membuat pengumuman. “Perhatian sebentar ya guys! Gue mau nanya, si kelas ini siapa yang pandai bernyanyi?” tanyanya untuk mulai mendaftarkan anak kelas X yang bakal mereka ikutkan lompa pas hari guru nanti. “Gue gak bisa nyanyi sih, cuma main gitar,” jawab Dana seadanya. “Ok, noted! Loe bis main gitar kan! Ada yang bisa main alat musik dan bernyanyi?” tanyanya lagi dan beberapa siswa menjawabnya. Gadis itu mencatat semua yang mengangkat tangan sesuai dengan keahlian mereka baik itu bernyanyi atau main musik. “Irene bisa nyanyi! Kemarin dia nyanyi lagu Korea bagus banget!” Lani langsung menunjuk Irene. “Udahlah Lan, gak usah!” Irene males berpartisipasi dan tak mau tahu dengan apa maksud Marsha melakukan ini. “Kenapa sih, Rene?” tanya Lani tak mengerti kekesalan Irene sedari pagi. “Gue mau fokus untuk lomba Minggu depan!” jawab Irene tak acuh dan langsung keluar dari kelas tanpa mengacuhkan Marsha. Gadis itu hanya mendelik karena mendapat perlakuan tak enak dari Irene. Tapi dia sengaja menuliskan nama Irene dan memasukkannya dalam daftar yang bisa bernyanyi dalam kelas ini. ‘Bodo amat dia gak suka! Aku cuma daftar yang bisa nyanyi dan main gitar!’ batin Marsha sambil menggidikkan bahunya. Dia sengaja membuat Irene terkejut nantinya. Jujur aja, Irene sama sekali tak bersemangat untuk bersekolah. Dia kembali teringat soal Kevin walau dia berusaha melupakannya dengan fokus belajar. Hanya saja, bayangan cowok itu saat menolaknya kembali menghantuinya. Dia merasa, tidak berarti sama sekali di hadapan cowok itu. Seakan, kemampuan dan prestasinya sama sekali belum cukup untuk membuatnya pantas bersama Kevin. Entahlah, ini yang bakal sangat mengganggu prestasinya suatu hari nanti. “Irene!” Suara yang sangat dia kenal membuatnya menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup lagi walau hanya mendengar suara cowok itu. “Aku tahu kamu kesal, Rene! Aku minta maaf soal kemarin. Tapi…” Dia adalah Kevin! “Cukup, kak! Jangan meminta maaf terus! Memangnya, meminta maaf bisa mengubah perasaan kakak?” Irene memotong ucapan Kevin yang ingin meminta maaf kepadanya. “Irene, maksud kakak bukan begitu! Kakak mau kamu maju dan jangan terpusat dengan memikirkan soal asmara, setidaknya untuk saat ini! Kamu akan terluka dan bersedih terus! Kakak khawatir sama kamu!” jelas Kevin menunjukkan kepeduliannya kepada teman masa kecilnya ini. “Perhatian palsu! Untuk apa semua kekhawatiran itu, kak? Kakak sama sekali gak peduli sama aku! Biarin aja, mau aku bodoh dan prestasiku turun, itu bukan urusan kakak! Kita gak ada hubungan apa- apa untuk saling mengurusi bukan?” Irene sama sekali tak mau menerima perhatian Kevin yang menurutnya palsu. Baginya, hanya mereka yang terikat dalam hubungan khusus yang boleh saling memerhatikan. “Kita teman masa kecil! Kamu sudah seperti adikku, Rene!” Kevin memperjelas hubungan mereka. “Aku gak mau dianggap adik! Aku cinta sama kakak! Bukan menganggap kakak sebagai saudara! Hiksss!” Irene tanpa sadar menangis karena mendengar penegasan Kevin yang menyebutnya sebagai adik. Hatinya sangat sakit dan dia merasa sesak karena tak terima. Dia tak mau bersaudara dengan Kevin, dia mau menganggap Kevin sebagai pria! “Kita masih terlalu muda untuk hal yang seperti itu.” Kevin berusaha menarik ulur perasaan Irene. Dia seakan memberi harapan tapi tak memberi kepastian. “Lantas apa salahnya? Kita tak punya hubungan saudaara atau ikatan darah! Asal kakak tahu… hikss… Irene belum menyerah kok! Irene akan terus berjuang supaya kakak bisa melihat keseriusan Irene!” Irene bertekad karena merasa perasaannya pada Kevin masihlah kuat seperti dulu. “Irene… fokuslah belajar dulu! Kamu harus bersemangat dalam mengejar prestasi! Jangan sedih memikirkan hal seperti ini. Kakak akan selalu merasa bersalah kalau prestasi kamu jatuh.” Kevin berusaha menyemangati Irene. Gadis itu dengan cepat mengusap air matanya. Dia sama sekali tak ingin malihat Kevin, karena menatap cowok itu membuat hatinya sakit. ‘Kakak harus sadar! Kalau aku sangat berarti buat kakak! Kakak tidak boleh mengabaikanku lagi!’ tekad Irene dalam hatinya. Tak lama, dia melihat Dean sedang mengeluarkan motornya dari parkiran. Entah kenapa, sebuah ide bodoh merasuk ke dalam pikirannya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju Dean dan meninggalkan Kevin. “Dean! Boleh aku menumpang?” panggilnya membuat Dean berbalik sembari menatapnya terkejut. “Gue gak salah dengar?” Dean bergumam pelan. “Boleh apa ngga, nih?” tanya Irene kembali membuyarkan lamunan Dean. “Eh, boleh kok! Ini pake helmnya!” Dean memberikan helm untuk Irene. Cowok itu langsung menaiki motornya dan diikuti Irene yang naik di belakang. Kevin yang melihat semua itu berkata dalam hati, ‘Irene, cara kamu itu salah! Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri kedepannya’. Sepanjang jalan, Irene hanya diam sambil berpegangan pada tas sekolah Dean. Jujur saja, Dean sangat bingung dengan tingkah Irene saat ini dan ingin mau dikemanakan penumpangnya ini. Karena tak ingin membiarkan Irene terus bungkam, Dean langsung memberhentian motornya di pinggir jalan dekat penjual es kelapa. “Kok berhenti?” tanya Irene bingung. “Turun! Kita minum dulu, ntar!” ajak Dean hanya diangguki oleh Irene. Mereka duduk dan Dean memesan es kelapa untuk mereka berdua. Gadis itu langsung menerima es pemberian Dean dan meminumnya. Dia masih bungkam dan belum mau cerita. “Ada angin apa loe sampe mau menumpang sama gue?” tanya Dean tanpa basa- basi. “Sorry! Gue cuma lagi emosi,” jawab Irene seadanya. “Trus, loe mau gue anter ke mana?” tanya Dean lagi untuk memperjelas. “Ke rumah gue lah? Masa iya ke rumah loe?” sewot Irene membuat Dean semakin bingung. “Emang gue google maps tahu di mana rumah loe? Dari tadi diem melulu kayak orang bisu, gimana gue tahu rumah loe!” Dean tak kalah kesal dengan jawaban Irene. “Oh, nanti gue kasih tahu jalannya! By the way… loe punya due helm! Loe punya pacar ya?” tanya Irene soal helm Dean. Pasti ada alasan kenapa dia punya helm cadangan untuk penumpang. “Oh, yang satunya sering gue titipin di sekolah. Emang terkadang, gue ada boncengan teman sekelas kayak si Marco atau Jogi. Gue masih jomblo kok! Loe santai aja!” jelas Dean dibalas delikan oleh Irene. “Kenapa gue mesti tenang? Mau loe jomblo atau pacaran juga gue B aja!” balas Irene bagaikan panah yang langsung menusuk ke Dean. Dia teringat kalau Irene menyukai Kevin yang sangat popular dan pintar. “Loe suka sama kak Kevin ya?” tanya Dean membuat Irene tersentak. “Sotoy!” Irene tak mau mengaku. “Loe suka dia karena pintar ya?” tanya Dean lagi dan menganggap jawaban Irene tadi sebagai pengakuan malu- malu. “Apaan sih?! Ngapain tanya yang begituan?” Irene malas ditanyain soal ini. “Gak apa, btw gue mau balikin duit loe kemarin,” Dean mengeluarkan dompetnya sambil mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan untuk mengembalikan uang Irene. Gadis itu menerimanya tanpa basa-basi. “Bunganya, loe mesti anterin gue pulang!” perintah Irene. “Oke siap!” Dean tersenyum pada Irene.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN