Sedikit Curhat

2181 Kata
Setelah menghabiskan es kelapanya, Irene melamun beberapa saat sementara Dean menunggu sambil memainkan game di Hp-nya. Lamunan Irene teralihkan mendengar suara game dari Hp Dean dan dia sedikit melirik ke arah Hp cowok itu. Gadis itu terlihat sedikit tertarik dengan apa yang dimainkan oleh Dean dan tanpa sadar agak mengikuti alurnya. “Lah? Kok gak di kill? Sikit lagi nyawanya tuh!” ujar Irene tanpa sadar mengejutkan Dean. “Dah siap melamunnya? Apa jangan- jangan loe dari tadi liatin gue main?” tanya Dean pada Irene. “Hehehe! Baru aja kok! Loe masih mau main atau anterin gue pulang?” jawabnya sambil menanyakan apakah Dean masih betah nge-game. “Oh yaudah! Kita balik aja! Ntar loe kemalaman, gue yang kena marah! By the way, bokap loe tau gak, kalo loe balik sama gue?” tanya Dean lagi takut ada kesalahpahaman. “Udah gue chat tadi! Dan kebetulan emang, bokap gue lagi ada meeting dan gak bisa menjemput gue.” Irene menjawab dibalas anggukan oleh Dean. Dean langsung memasukkan Hp-nya ke tasnya lalu menghidupkan motornya. Irene langsung naik di boncengan untuk pulang ke rumahnya. Dia memberi tahu alamat rumahnya kepada Dean dan cowok itu langsung mengarahkannya sesuai pengarahan yang dari Irene. Sepanjang jalan, keduanya diam lagi dan saat akan sampai, Irene tiba- tiba membuka pembicaraan dengan Dean. “Sorry ya!” ujarnya dari belakang. “Kenapa?” Dean nanya balik. “Gue udah merepotkan loe dan malah marah pas tadi loe nanya. Bener kok, gue suka sama kak Kevin.” Irene mengkonfirmasi pertanyaan Dean barusan. Mendengar penegasan dari Irene, Dean hanya mengangguk walau hatinya agak sedikit potek. Tak terasa, mereka sampai di kediaman keluarga Hanendra. “Masuk dulu, yuk!” ajak Irene. “Lain waktu aja ya! Soalnya, besok ada presentasi yang harus gue pelajari. Titip salam sama semua ya! Bye!” Dean menolak halus karena ada beberapa tugas yang harus segera dia selesaikan. Irene melambaikan tangannya sambil masuk ke pagar rumahnya. Walau hari ini dia sempat kesal karena satu dan lain hal, dia bisa agak tersenyum lagi. Dan semuanya berkat Dean. Irene sendiri tidak tahu kenapa cowok itu seakan memberi aura kebahagiaan setiap kali mereka bertemu dan berbincang- bincang. Rasanya lega dan masalah terlupakan begitu saja. Irene senyum- senyum sendiri sembari memasuki halaman rumahnya. Diam- diam, mama dan adik perempuannya mengintipnya semenjak dia turun dari motornya Dean. Mereka sengaja sembunyi- sembunyi untuk mengejutkan Irene. Mereka bahkan menebak- nebak siapa yang mengantar pulang Irene. Biasanya, gadis itu akan diantar papanya atau naik taksi. “Kok senyum- senyum?” Ruth langsung mengejutkan Irene yang baru saja sampai di depan pintu rumah. “Mama?” Irene terkejut dengan kehadiran sang mama. “Udah pacaran ya? Tapi, kelihatannya bukan sama kak Kevin!” tambah Genie lagi membuat Irene memberengut kesal. “Siapa yang pacaran? Dia itu teman aku!” jawab Irene tak terima dengan tuduhan Genie. “Teman sekelas?” selidik Ruth lagi. “Bukan, anak kelas sebelah,” jawab Irene membuat Genie dan Ruth saling menatap. Mereka langsung memasang senyuman iseng kepada Irene. Irene yang melihat mama dan adiknya menatap dan melempar senyuman begitu auto bingung. “Kenapa sih?” tanyanya lagi ingin meminta penjelasan. “Teman beda kelas ya! Kok bisa kenal? Bukannya kamu introvert? Apalagi namanya kalo bukan jodoh?” iseng Genie membuat Irene membelalak. “Apaan sih? Jodoh apanya?!” Irene makin kesal dengan keisengan adiknya. “Kenapa gak diajak masuk, mama kan pengen kenalan,” tambah Ruth membuat Irene menghentak- hentakkan kakinya karena merasa disudutkan di sini. “Isshh! Kalian ini! Aku mau ke kamar!” Irene yang sudah malas disudutkan langsung berlari ke kamarnya. Sedangkan, Genie dan mamanya bertos ria sambil tertawa. Mengerjai Irene ternyata agak menyenangkan juga menurut mereka. Mansion Wijaya Dean baru saja sampai ke mansionnya. Dia langsung memarkirkan motornya sambil masuk tanpa merasa ada semangat. Walau dia baru saja bersama Irene, dia masih potek dengan kenyataan yang sangat jelas kalau gadis itu menyukai orang lain. orang yang popular dan cerdas satu sekolah. Dean bahkan lupa melepas sepatunya saking tenggelam dalam lamunannya soal Irene yang menyukai Kevin. “Dean! Kenapa sepatunya gak di lepas?” tegur mamanya dari dalam. Dean agak terkejut lalu melihat ke bawah dan memang benar sepatunya yang sangat bersih (kotor) masih terpasang di kakinya. Dia langsung menunduk dan melepas sepatunya. Dia menaruh ke rak sepatu lalu naik ke kamarnya dengan wajah tanpa semangat. Elly yang melihat anaknya yang lemes kayak gak dikasih makan tentu saja heran. Biasanya anak itu selalu terlihat ceria dan menganggap semuanya santai. Karena penasaran, Elly mengambilkan makan siang Dean lalu menyusuli anaknya itu ke kamarnya. Dia langsung membuka pintu kamarnya Dean dan menemukan putranya sedang memeluk dan bicara sendiri dengan guling waifu-nya. “Hinata- chan? Apa kamu belum merelakan aku menyukai manusia yang sebenarnya? Aku janji, walau aku jadian sama Irene, kamu takkan terlupakan.” Dean bicara sendiri dengan gulingnya membuat mamanya ngeri sendiri. ‘Anakku kena gangguan mental ya?’ Elly bertanya- tanya dalam hati merasa was- was dengan perilaku Dean yang mulai meresahkan. “Dean? Kamu telat pulang lagi! Ayo makan siang!” Elly langsung masuk ke kamar putranya sambil membawakan nampan makanan. “Eh, mama!” Dean langsung meletakkan bantal guling waifu-nya sambil tersenyum menatap mamanya. Elly diam- diam melirik sekaligus melotot melihat bantal guling anaknya yang ternyata ada gambar perempuan animasi di situ. “Dean, sejak kapan kamu punya guling kayak gini?” tanya Elly sambil meraih guling itu. “Lah? Dean udah beli dari enam bulan lalu! Kok mama gak sadar?” Dean menjawab sambil nanya lagi. Soalnya, selama ini mamanya selalu membangunkannya. Masa iya, gak melihat gambar di bantal gulingnya. “Mama baru tahu! Pantas aja, tingkah kamu selalu nyeleneh dan gak bener! Rupanya ini penyebabnya!” Elly menyita bantal itu sambil berkacak pinggang menatap garang pada putranya. “Kok mama menyalahkan Hinata-chan? Dia gak salah kok, Ma.” Dean tidak terima dengan perkataan ibunya yang menyatakan guling waifu kesayangannya membuat dia jadi aneh. Soalnya, dia memang sudah aneh dari dulu. “Mulai sekarang, kamu gak boleh punya bantal beginian lagi! Mama kasih yang baru nanti!” Elly tetap menyita bantal itu walau Dean sudah pasang wajah memelas. “Jangan gitu dong, Ma! Nanti Dean bobonya gimana? Biasanya, Dean selalu meluk Hinata- chan baru bisa bobo,” keluh Dean membuat Elly making geleng- geleng dengan tingkah putra tunggalnya ini. Dia sebenarnya tahu hobi putranya ini. Dean suka main game, nonton kartun ( anime ), dan membeli poster. Tapi dia tak tahu, ternyata selain itu, Dean suka nge- halu. Inilah yang membuat Elly khawatir dengan kewarasan putranya. “Amit- amit Dean! Kamu mau ada guling gak ada guling bisa ngebo di mana aja! Sekarang juga, kamu makan dan kerjakan PR!” perintah Elly sambil membawa keluar guling waifu- nya Dean. “Irene suka sama yang lain dan Hinata- chan juga pergi! Apa ini nasibku ya?” Dean manyun seperti anak kecil sambil melipat kakinya. Memang ada- ada aja tingkah cowok satu ini. Tapi ya sudahlah, namanya juga dalam masa transisi. Di saat seperti inilah, mereka belajar untuk menjadi lebih dewasa. Semuanya akan dilalui dan berubah menjadi lebih baik pada waktunya. Tenang saja, Dean juga akan berubah seiring berjalannya waktu. SMA NUSA BANGSA Kelas X-B “Oke, presentasi yang bagus dari kelompok Rebecca.” Sang guru memberi apresiasi dengan kelompok Rebecca yang baru saja selesai mempresentasikan tugas fisika mereka. Tadinya sih, dia sanksi karena hanya satu yang bisa diandalkan. Ternyata, Becca bisa memegang kendali sebagai ketua kelompok dengan sangat baik sehingga semua anggota bisa menjelaskan materi dengan baik dan benar. Kelompok mereka langsung duduk setelah presentasi dan mendengarkan presentasi kelompok lainnya. Tanpa terasa, waktu berlalu dan pelajaran Fisika selesai. Saat ini kembali ke jam istirahat di mana para murid berhamburan, kebanyakan ke kantin untuk makan siang. Semua anggota kelompok Becca merasa senang dengan nilai yang bagus, terkecuali Dean. Dia masih mencoret- coret bukunya di jam istirahat. Hal yang tak pernah dilihat oleh teman- temannya. Biasanya, Dean akan langsung terbang ke kantin kala mendengar bel istirahat. “Nape loe? Kesambet?” tanya Marco mengalihkan perhatian Dean. “Galau bro!” jujur Dean membuat Jogi dan Marco saling bertatapan. Becca yang sayup –sayup mendengar Dean sedang galau, merasa agak penasaran. “Soal dia lagi ya?” tanya Jogi memastikan. Dean langsung mengangguk membuat Jogi dan Marco ber’oh’ ria. “Sorry kalau kemarin kita matahin semangat loe. Gini aja deh, gimana kalau kamu bertransformasi jadi Dean si anak pintar? Kalau begitu, dia bakalan perhatian sama kamu! Kamu ikutin aja lomba pidato Minggu depan!” saran Marco membuat Dean terbelalak. “Pidato? Pidato apaan? Mana bisa!” Dean langsung menolak saran Marco yang menurutnya tak cocok dengannya. “Gimana kalau hari guru nanti, kamu ikut lomba bermain alat musik atau bernyanyi?” Becca angkat suara mengalihkan perhatian para cowok yang sedang mendikusikan nasib percintaan Dean. “Kamu bisa bernyanyi?” tanya Becca lagi memastikan. “Emangnya kamu tahu, kita sedang ngomongin apa?” Jogi bertanya pada Becca untuk memastikan apakah Becca mendengar pembicaan mereka barusan. “Eumm… soal lomba?” Becca sengaja tidak memberi tahu kalau dia dengar semuanya. Dia hanya ingin agar Dean bisa mengikuti salah satu lomba, ya walaupun lomba biasa. Dia mau Dean punya semangat dan tak terlalu memikirkan soal lomba akademik yang tak bisa spontan dia ikuti. “Gue sih… bisa main gitar. Nyanyi bisalah! Gue daftar deh!” Dean agak berminat dengan lomba ini. “Baguslah kalau begitu! Nanti aku catet nama kamu untuk perwakilan kelas kita ya! Oh iya, Jogi sama Marco mau ikut?” tawarnya lagi pada Jogi dan Marco. “Gak deh Becca, suara gue kaleng- kaleng,” tolak Jogi merasa tak punya hobi bernyanyi dengan benar. Becca langsung menatap meminta jawaban pada Marco. “Gue gak dulu deh! Suara gue kayak gendang rusak! Parah!” Marco juga menolak karena merasa suaranya jelek. “Bisa aja ini berdua! Yuk ke kantin! Gue baru sadar, kalo cacing di perut gue udah konser,” ujar Dean sambil berdiri dan pergi ke kantin bersama kedua temannya. Becca diam- diam tersenyum karena bisa sedikit mengembalikan mood seorang Dean. Setibanya di kantin, Dean mengambil tempat duduk bersama kedua temannya sambil memesan makan untuk mereka. Dean diam- diam memandangi Irene yang juga sedang duduk di sebelah sana bersama teman- temannya. Gadis itu masih menampakkan senyumnya dan tanpa sadar, Dean tersenyum melihat senyuman gadis yang dia sukai. “Gini bro, kalo loe beneran suka, buktikan sama dia kalo loe bisa bikin nyaman dan selalu ada untuknya. Terkadang ya, cewek itu lebih lengket sama yang selalu ada. Ntar, perasannya sama yang lain bakalan luntur karena keberadaan loe,” saran Marco membuat Dean kembali semangat lagi. “Bener juga ya! Kenapa gue harus menyerah sebelum berperang?” Dean baru menyadari kebodohannya. “Hadeuh… kalo gitu loe bakalan jadi kain lap, Dean. Karena pada akhirnya, dia akan memilih si ketua OSIS kalau ditembak duluan sama sana.” Jogi malah berpendapat berbeda dengan Marco. Dia kayak ke reality aja gitu. “Kenapa sih loe? Siapa yang tahu hati cewek? Kalo belom mencoba, siapa yang tahu?” Marco merasa sarannya sangat cemerlang untuk dicoba. “Gue setuju sama Marco! Karena loe sama sekali gak mendukung gue, maka hari ini loe bayar sendiri! Bye!” Dean ngambek karena semangatnya dipatahin sama Jogi. “Lah? Kok gitu?” protes Jogi tapi apa boleh buat. Dia salah juga sih. Untung aja, dia bawa uang jajan. Kalo gak, dia bisa aja disuruh nyuci piring sama ibu kantin karena gak bayar. Selesai makan, mereka bertiga beranjak untuk kembali ke kelas. Tapi sebelum meninggalkan kantin, Irene memanggil Dean. “Dean!” panggil Irene membuat Dean langsung berbalik. “Ya?” sahutnya dan dibalas senyuman oleh Irene. Irene langsung berlari ke arahnya sambil tersenyum. Hal itu membuat Dean deg- deg ser luar biasa. “Loe nanti ada waktu gak? Ada beberapa hal yang pengen gue minta tolong sama loe? Oh iya, sebelumnya loe pandai menggambar?” tanya Irene memastikan. “Pande! Dia bisa bikin sketch dengan bagus banget!” Marco yang mendahului Dean menjawab Irene. “Woahh! Kalau begitu, kebetulan dong! Ada untuk perlombaan pidato nanti. Harus ada sebuah gambar yang berkaitan dengan pidato yang gue sampaikan. Kebetulan, gue gak pandai menggambar. Kalo gue suruh adek gue, dia bukan anak sekolah ini. Biasa dibilang, aku harus cari partner untuk lomba ini!” jelas Irene seakan lampu hijau oleh Dean. Dia langsung mengangguk cepat menerima tawaran dari Irene. “Gue mau! Tapi… kenapa mesti gue, Rene?” Dean menanyakan alasan Irene memilihnya. “Pertama, di kelas gue semuanya pada partisipasi dan udah punya rekan masing- masing. Kedua, gue tau basanya wibu jago gambar! Jadinya, gue milih loe! Dan ketiga, loe masih murid SMA NUSA BANGSA dan bakal bagus kalau kita berdua bisa menang dan mengharumkan nama sekolah. Dan keempat dan paling penting, loe adalah teman gue!” Irene menjelaskan alasannya secara mendetail. “Begitu ya! Ok, nanti pas pulang, kita diskusikan ya!” Dean langsung semangat dan dibalas anggukan semangat oleh Irene. ‘Teman dulu! Semuanya butuh proses! Lagian, dia langsung mengingat gue! Berarti, gue memang spesial! Eaa!!’ Dean membatin penuh percaya diri. Gak tahu aja dia kalo teman Irene tidak banyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN