Tak terasa satu semester berlalu begitu saja. Hari ini, adalah hari yang sangat mendebarkan bagi seluruh siswa/i SMA NUSA BANGSA. Kenapa? Karena mereka akan segera mendapatkan rapot mereka yang merupakan laporan hasil belajar mereka untuk satu semester ini. Dan lagi, orang tua diwajibkan ikut untuk mengambil laporan hasil belajar ini. Mereka akan mendampingi anak mereka sambil mendengarkan penjelasan guru soal bagaimana keseharian anak mereka di sekolah.
Ada yang merasa percaya diri bahwa orang tuanya akan bangga dengan hasil belajar mereka. Ada juga yang takut orang tuanya kecewa karena merasa tak berhasil membuat mereka bangga dengan nilainya selama ini. Dan yang paling parah, ada yang ketakutan dimarah karena nilainya yang sangat tak memuaskan selama tahun ajaran ini.
Macam- macamlah perasaan para murid ini. Di pihak orang tua juga menyimpan rasa penasaran tinggi mengenai bagaimana sikap dan tingkah laku anak- anak mereka saat di sekolah. Anak- anak pasti lepas dari orang tua selama di sekolah dan hanya guru yang tahu bagaimana kelakuan anak mereka. Pastinya, hal ini akan menjadi nilai yang akan dicantumkan di rapot mereka.
Kelas X-A
“Peringat utama untuk semester ini diraih oleh Irene Alicya Hanendra! Berikan selamat kepada teman kalian!” Bu Juwita mengumumkan siapa peringkat utama yang sudah sangat membanggakan nama sekolah.
‘PROK! PROK! PROK!’
Seluruh siswa/i di kelas ini memberikan selamat dalam bentuk tepuk tangan. Memang, tak semuanya sih ingin benar- benar memberikan ucapan selamat kepada Irene. Ada juga yang memandang iri da tak suka karena keberhasilannya. Tapi, mereka harus bersikap baik di depan guru dan orang tua mereka. Papa Irene juga sangat bangga walau sudah menduga putrinya mampu menyabet gelar sebagai peringkat utama.
“Wah, kali ini kamu yang dapat peringkat satu,” bisik Dana pada Irene.
“Mungkin kedepannya akan terus tuh!” balas Irene percaya diri.
“Kita lihat saja!” tantang Dana diangguki mantap oleh Irene.
Yap, berikutnya diumumkanlah bahwa Dana berada di peringkat kedua dengan nlai yang sangat beda tipis dengan Irene. Hanya selisih lima angka saaja. Tapi, yang menjadi nilai plus dari Irene adalah keaktifannya dalam mengikuti lomba dan mengharumkan nama sekolah. Hal itu memang sangat menjadi pertimbangan dalam memberikan peringkat kepada siswa/i di sekolah ini.
“Baiklah, saya memberi tahukan kepada semuanya untuk ke aula setelah ini. Pasti Bapak/Ibu dan para anak didik kami sangat penasaran tentang siapa yang menjadi juara umum untuk tingkatannya. Saya persilakan!” Bu Juwita mengarahkan mereka untuk ke aula. Irene sangat percaya diri akan mendapat pujian berlipat ganda karena dia memastikan dirinyalah yang akan menjadi peringkat juara satu umum untuk kelas sepuluh.
Mereka semua dikumpulkan di aula, mulai dari yang kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Baik yang berperingkat utama sampai peringkat akhir. Pokoknya, yang namanya siswa/i sekolah ini. Sang kepala sekolah ingin memberikan sertifikat dan trophy kepada anak didik yang berprestasi dan juga ingin mengobarkan semangat yang lainnya untuk maju.
“Elly?” sapa Othman, papanya Irene saat melihat mamanya Dean ada di aula. Dia langsung duduk si samping Elly untuk sedikit berbincang- bincang soal anak. Biasalah, teman lama.
“Eh, kamu yang datang ke sini? Irene peringkat berapa?” tanya Elly langsung karena sangat penasaran dengan peringkat Irene.
“Biasalah, dia bisa kejar peringkat utama untuk semester ini,” jawab Othman sebagai hal yang sudah biasa didapatkan Irene. Tapi, memang itu kenyataannya.
“Oh iya, kalau Dean?” Othman langsung menanyakan soal peringkatnya Dean.
“Dean peringkat tiga,” jawab Elly dengan nada sewot.
“Lah? Itu sudah bagus, loh!” Othman merasa peringkat Dean sudah sangat bagus.
“Dari bawah!” lanjut Elly lagi membuat temannya itu hanya bisa memangut mengerti wajah kesal dan sewotnya Elly.
“Beruntung kamu ya, Irene sangat pintar dan rajin belajar. Anakku hanya tahunya main laptop dan game! Mengesalkan sekali!” keluh Elly soal anaknya yang cuma sebiji itu.
“Jangan begitu! Setiap anak itu memiliki kelebihannya masing- masing! Jangan suka membandingkan anak kamu dengan anak orang lain. Kasihan dia.” Othman memberi saran kepada Elly agar tidak membandingkan Dean dengan Irene. Dia tahu, anak- anak itu gak suka dibanding- bandingkan.
“Denger tuh, Ma!” sosor Dean yang duduk di sebelah Elly menyetujui soal saran dari papanya Irene.
“Tapi, kalau tak ada perbandingan, rasanya semua bakalan sama aja dan mereka gak bakalan bergerak maju. Makin mundur malahan.” Elly merasa kalau dia tak membandingkan Dean, maka anak itu akan bertingkah sesukanya untuk kedepannya.
“Bener sih, Tan! Gak salah kok buat perbandingan untuk maju!” timpal Irene malah menyetujui Elly.
“Ini baru bener!” Elly langsung ber-tos ria dengan Irene karena merasa penalaran mereka cocok.
‘Irene malah dukung mama!’ kesal Dean dalam hatinya melihat kecocokan cara berpikir mamanya dan Irene yang malah semakin menyudutkan di sini.
“Selamat datang para Bapak/Ibu yang kami hormati dan para murid yang kami sayangi. Pada kesempatan ini, kami senang mengumumkan soal siapa siswa/i berprestasi yang sangat dibanggakan oleh sekolah ini. Yang masih belum, ayo kejar kesempatan ini! Masa depan dan mimpi kalian masih sangat panjang!” Sang kepala sekolah memberi sambutan sekaligus semangat untuk anak didiknya supaya maju dan mengejar prestasi mereka.
“Saya akan langsung umumkan saja ya!” Sang kepala sekolah langsung mengumumkan para juara umum tanpa membuang banyak waktu.
“Untuk kelas X, juara tiga umumnya adalah Danael Arlanta. Juara kedua Rebecca Karen dan juara umum pertama Irene Alicia Hanendra! Ayo maju anak- anak! Berikan sambutan!” Sang kepala sekolah menyuruh ketiga anak berprestasi itu maju ke depan untuk menerima trophy beserta sertifikat mereka.
“Sebenarnya, nilai juara satu dan dua umum sama. Tapi, karena Irene sudah mengharumkan nama sekolah, maka kami memilihnya sebagai juara utama. Terus pertahankan prestasi kalian ya anak- anak!” Sang kepala sekolah menjelaskan sedikit sambil menerima salam hormat dari anak- anak itu.
Diam- diam, Irene memandang tak suka kepada Becca. Baginya, sudah makin jelas kalau anak itu adalah saingannya yang sangat berbahaya. Dia tak suka kalau Becca mengalahkannya. Hal itu hanya berlaku buat Becca karena dia masih sentimen soal Kevin yang sangat akrab dengan Becca.
‘Mungkin aku takkan mendapatkan peringkat ini kalau aku membiarkan ikut olimpiade kemarin,’ batin Irene sambil memandang sinis kepada Becca.
Mereka kembali ke tempat duduk masing- masing setelah menerima penghargaan. Dilanjutkan lagi dengan pengumuman untuk kelas sebelas dan dua belas. Irene masih terus memandang Becca dengan rasa tak suka tapi gadis itu diam saja walau sadar Irene sudah sangat sinis padanya. Becca sama sekali gak mau ambil pusing dengan cara Irene memperlakukannya. Baginya, ketidaksukaan Irene sama sekali bukan urusannya.
‘Aku sama sekali tak pernah mengganggunya!’ acuh Becca dalam hatinya.
“Selamat ya, Rene!” Dean langsung memberi selamat kepada Irene karena kebetulan mereka duduknya dekatan.
“Kamu hebat banget! Seadainya Dean bisa kayak kamu~” ujar Elly sebagai ucapan selamat pada Irene tak lupa membandingkan Irene dengan putranya. Kebiasaan emak- emak dah!
“Makasih ya, tante! Makasih ya, Dean! Kamu juga harus semangat untuk kedepannya. Aku akan selalu mendukung kamu loh!” Irene mengucapkan terima kasihnya sambil memotivasi Dean untuk maju.
“Makasih ya, Rene! Kalau kamu yang dukung, aku pasti maju kok!” Dean langsung nyengir memandangi Irene.
“Memang kenapa kalau Irene yang dukung kamu?” tanya Othman pada Dean membuat anak itu jadi terkejut. Dia sampai lupa kalau ada papanya Irene di sini. Harusnya dia lebih jaga sikap.
“Ya… kalau didukung temen yang pintar, saya yakin pintarnya bisa kecipratan om!” Dean memang sangat pintar ngeles. Padahal, sudah sangat jelas alasannya adalah karena dia suka Irene dan ingin Irene bangga padanya.
“Semoga saja bisa kecipratan!” Elly juga berharap supaya Dean bisa berubah menuju kemajuan jika bergaul dengan Irene. Tak lama, Kevin naik ke panggung untuk menerima thropy sebagai pemegang juara utama tetap setiap semester di sekolah ini. Semua gadis langsung bertepuk tangan dengan meriah melihat Kevin yang sangat dibanggakan di sekolah ini.
“Kevin sepertinya popular!” komentar Othman hanya diangguki oleh Irene. Mata gadis itu bersinar saat melihat Kevin di depan dan tersenyum senang dengan prestasi yang di dapat oleh pujaan hatinya itu. Diam- diam, Dean memperhatikan bahwa Irene memang sangat mengagumi Kevin juga dari segi prestasinya.
‘Suatu hari, kamu akan menatapku demikian, Rene! Bukan tak mungkin, kalau aku juga bisa mendapatkan peringkat utama!’
Ternyata, Dean diam- diam bertekad untuk mendapatkan peringkat utama. Dia cemburu dengan tatapan memuja yang diberikan Irene kepada Kevin. Malah, tekadnya semakin bulat melihat hal itu. Ya, Dean tak akan ragu lagi! Dia memang ingin maju supaya tatapan itu suatu hari akan menjadi miliknya.
Acara itu pun selesai dan semuanya bubar untuk pulang dan menanti libur akhir semester yang sudah ditunggu- tunggu. Sebelum pulang, Dean menyamperin Becca untuk mengucapkan selamat pada gadis itu. Dia adalah teman sekelas terbaik dan terpintar juga selalu membantu Dean tanpa pamrih.
“Becca! Selamat ya! Kamu harus bertahan terus!” Dean memberi selamat kepada Becca tak lupa dengan senyuman penyemangatnya yang sangat menghangatkan hati Becca.
“Makasih,” balas Becca tersenyum malu- malu. Dean memang selalu membuatnya salah tingkah seperti ini. Walau begitu, dia langsung dihantam kenyataan bahwa Dean hanya menyukai Irene.
“Dean, loe ke mana saja sih? Papa aku mau ajak kamu dan mama kamu untuk makan bareng. Katanya sih, mereka mau reuni gitu. Papa kamu udah di telpon juga!” Irene mendatangi Dean karena mereka akan makan siang bersama keluarga mereka. Becca yang melihat interaksi Dean dan Irene yang semakin dekat hanya bisa menekan perasaannya yang sialnya semakin bertumbuh.
“Aku balik duluan ya,” Becca memilih undur diri.
“Hampir aja ya, Becca!” ujar Irene sebelum Becca benar- benar berlalu dari hadapan mereka. Irene mneyeringai sambil berjalan mendekati gadis itu. Dia memandang remeh kepada Becca lalu menatapnya tajam.
“Kalau aku gak ikut olimpiade, mungkin saja sekarang semua orang akan melihat ke arahmu! Untung saja, kau tak bodoh!” bisik Irene membuat Becca semakin kesal. Becca tak tahan lagi! Baginya, semua ini adalah salah nya Irene yang tak bisa bermain adil. Irene sangat keterlaluan di matanya.
‘PLAK!’
Tanpa sadar, tangan Becca menampar pipi Irene. Kesabarannya sudah habis! Cukup Irene yang sudah membuatnya kalah, tapi kali ini Irene sangat keterlaluan dengan mengejeknya. Becca juga manusia walau pun dia memang memiliki hati yang lembut. Dia sudah sangat kesal dengan sikap Irene yang menurutnya sangat berlebihan padanya.
“Apa yang kamu lakukan Becca?” tanya Dean tak percaya kalau Becca bisa melakukan hal seperti itu. Selain itu juga, dia sama sekali tak tahu apa yang dibisikkan Irene kepada Becca.
Melihat Dean yang langsung menghampiri Irene, Becca jadi tersadar kalau Dean takkan semudah itu mempercayainya kalau pun dia memberi penjelasan. Dean langsung ada di pihak Irene dan hal itu sangat jelas.
“Padahal aku hanya ingin memberinya selamat!” ketus Irene sedikit berbohong untuk membuat Dean berada di pihaknya.
“Kamu kenapa bisa sekasar ini?” tanya Dean masih dengan suara lembutnya kepada Becca. Mendengar pertanyaan itu, hati Becca langsung luluh. Dean tak sepenuhnya marah kepadanya begitu saja. Dia masih bertanya baik- baik untuk mendapat penjelasan darinya.
‘Kalau aku menyalahkan Irene, hal itu takkan ada gunanya!’ batin Becca mempertimbangkan apa yang harus dia katakana.
“Aku salah! Aku minta maaf… Irene.” Becca akhirnya memilih untuk meminta maaf karena sudah menampar Irene. Walau memang sebenarnya, hal ini tak sepenuhnya salahnya.
“Ya!” jawab Irene singkat memandang penuh kemenangan pada Becca.
“Gini dong, baikan! Jangan suka bertengkar, nanti cepat tua! Yuk, Rene! Nanti kita dicariin! Dah dulu ya, Becca!” Dean kemudian mengajak Irene bersamanya. Becca hanya memandang nanar kepergian mereka.
‘Aku akan menunggumu dengan sabar, Dean.’ Becca bertekad untuk menunggu Dean menyadari cintanya.