Duet

2325 Kata
SMA NUSA BANGSA Para siswa/i SMA Nusa Bangsa baru saja selesai mengadakan Upacara Hari Guru. Semuanya tentu saja belum bubar karena ada acara yang akan dilaksanakan untuk memeriahkan HUT PGRI di sekolah ini. Dimulai dari membacakan puisi- puisi untuk guru dan juga pengucapan terima kasih kepada guru yang diwakili oleh masing- masing ketua kelas dari tiap kelas. Ternyata, tak sampai di situ saja. Sang ketua OSIS naik ke mimbar untuk mengumumkan lomba penutup yang akan semakin memeriahkan hari ini. Lomba ini dikhususkan untuk para siswa/i supaya semakin kompak satu dengan yang lain. “Lomba terakhir yang diadakan untuk acara ini adalah lomba bernyanyi. Tema lagu bebas dan peserta akan diacak. Setiap anggota OSIS sudah mendata siapa saja yang berpartisipasi dari tiap kelas. Baik yang bisa bermain musik dan bernyanyi. Jadi, kami akan ambil namanya acak dan bersiap ya!” Kevin mengumumkan lomba yang memang sengaja dilakukan untuk bersenang- senang dan memeriahkan hari ini. ‘Aku harap, aku punya kesempatan untuk bernyanyi dengan Kak Kevin. Tapi, dia ikutan gak ya?’ batin Marsha berharap. “Gue pengen langsung pulang sih, tapi belum boleh. Gak niat banget lihat yang beginian,” bisik Irene kepada Lani. “Lumayan lho! Kita bisa liat konser gratis! Gue penasaran, Dean ikutan gak ya?” alas Lani penasaran soal keikutsertaan mantannya dalam lomba ini. “Loe sayang amat ya sama mantan,” ejek Irene dengan senyuman isengnya. “Apaan sih, Rene! Dean itu jago banget main gitar dan bernyanyi. Dulu di SMP, dia sering mengiringi paduan suara pakai gitar,” jelas Lani hanya dibalas anggukan oleh Irene. “Kalau kak Kevin… dia suka piano.” Tanpa sadar, Irene menyebutkan alat musik yang suka dimainkan oleh Kevin. Dia tanpa sadar tersenyum teringat masa lalu ketika Kevin selalu memainkan alunan piano bersama- sama. Beberapa peserta terlewati begitu saja. Mereka suka sih mendengar lagu- lagu kekinian yang dimainkan oleh teman- teman atau kakak kelas mereka. Dan ternyata, Marsha bernyanyi bersama Dana karena memang peserta dipilih secara acak. “Kebetulan banget pesertanya sekelas ya, Rene.” Lani berbisik dan hanya diangguki oleh Irene. “Selanjutnya, yang bermain musik adalah Dean Alvaro Wijaya kelas X-B!” Salah satu anggota OSIS membacakan nama Dean dan cowok itu langsung ke depan sambil duduk di tempat yang sudah disediakan. “Dean nyanyi!” Lani langsung histeris. Irene hanya geleng- geleng melihat tingkah Lani. “Dan yang menemaninya bernyanyi adalah…” Si pembawa acara itu sedang mengacak nama dan akhirnya mengambil sebuah kertas bertuliskan nama, “ Irene Alicia Hanendra kelas X-A!” Irene yang sedang duduk tenang langsung terbelalak mendengar namanya dipanggil. Seingatnya, dia sama sekali tak berminat dengan lomba ini. Semua teman sekelasnya melihat ke arahnya dan otomatis yang lain terara kepadanya karena dia masih belum maju juga. “Gue gak daftar kan Lan? Gara- gara loe nih! Maju aja sana!” Irene sama sekali gak mau maju. “Aduh! Mana sanggup gue kalo nyanyi sama Dean. Takutnya…” Lani gak siap menggantikan Irene. Emang sih, dia suka sama Dean. Hanya saja, dia jaga image banget di depan mantannya itu. Dia gak mau terlihat masih suka sama Dean. “Maju dong, Rene!” panggil Dean dari depan membuat Irene mengalihkan atensinya. Akhirnya, gadis itu maju walau hatinya tak mau. Dia duduk di sebelah Dean sambil menatap bingung ke arah cowok itu. “Kita nyanyi apa? Indonesia Raya?” tanya Irene berbisik. “Gimana kalau Ari Lasso- BCL, ‘Aku dan Dirimu’?” Dean menyarankan lagu yang bawaannya romantis gitu. ‘Beruntung banget gue hari ini! Makasih Ya Tuhan!’ Dean berterima kasih dalam hati karena merasa sangat beruntung bisa bernyanyi dengan Irene. Dia penasaran juga sih, gimana suara Irene saat bernyanyi. “Gue gak tahu lagu itu!” bisik Irene protes. “Nyanyi dong! Lama amat!” paksa Marsha membuat yang lain jadi bersorak- sorak menyuruh mereka bernyanyi secepatnya. Mereka kebanyakan berdiskusi jadinya. Sebenarnya, Marsha gak mau Irene bernyanyi dan sengaja mempermalukan Irene yang kelihatannya sangat bingung di hadapan semua orang. “Gini aja! Gue yang mulai duluan, nanti loe cari liriknya sambil belajar cara nyanyi dengan memperhatikan gue! Gimana?” Dean memberikan ide. Jujur, Irene sangat gugup tapi dia sama sekali tidak mau malu di depan umum. Sekilas, dia melirik ke arah yang Kevin yang fokus menunggunya bernyanyi. Akhirnya, dia mengangguk menerima sarannya Dean. Cowok itu pun memulai intronya dengan gitarnya. “Tiba saatnya kita, saling bicara.” Dean memulai lagunya diiringi dengan gitar yang sangat sesuai nadanya. “Tentang perasaan yang kian menyiksa, tentang rindu yang menggebu, tentang cinta yang tak terungkap.” Dean bernyanyi begitu tepat sambil memberi kode kepada Irene untuk melanjutkannya. Irene langsung melihat liriknya di Hp-nya sambil mulai bernyanyi sebagus yang dia bisa. “Sudah terlalu lama… kita berdiam” Irene mulai bernyanyi dan semuanya langsung tepuk tangan. Dean sendiri sangat terkejut kalau suara Irene sangat bagus dan enak didengar. Sebelas dua belas lah sama BCL. “Tenggelam dalam gelisah yang teredam. Memenuhi… mimpi- mimpi malam kita.” Irene ternyata benar- benar bisa mengikuti lagu dengan baik. Kemudian, Dean mengangguk sebagai kode kalau mereka akan bernyanyi bersama untuk lirik berikutnya. “Duhai cintaku! Sayangku! Lepaskanlah.” Dean memulai reffreinnya. “Perasaanmu, rindumu, s’luruh cintamu.” Irene membalasnya. “Dan kini hanya ada aku dan dirimu sesaat… di keabadian.” Mereka kini menyatukan suara sambil saling menatap. ‘PROK! PROK! PROK!’ Semuanya langsung tepuk tangan melihat duet antara Dean dan Irene yang kelihatannya sangat hidup. Suara mereka sama- sama bagus dan tatapan mereka terlihat sangat mendalami lirik lagu ini. Mereka terlihat seperti pasangan yang tengah kasmaran. “Tambah! Tambah! Tambah!” Semuanya pada bersorak supaya keduanya bernyanyi lagi. Mereka selain suaranya bagus, perform mereka hidup dan sangat membuat penonton menikmatinya. “Guys… kalo mau request, bayar dong! Kita gak konser gratis!” Dean berujar kepada semua teman- teman mereka yang meminta mereka bernyanyi lagi. “Ayo dong! Kalau gak mau nambah, seengganya nyanyikan lagunya sampai habis!” Kevin berdiri dari duduknya meminta Dean dan Irene menghabiskan satu lagu itu, bukan hanya sebait saja. Sebenarnya, dia ingin memastikan satu hal. Dean kemudian lalu melihat ke arah Irene. Gadis itu terdiam mendengar permintaan Kevin secara langsung. Dia merasa sungkan menolak permintaan Kevin. Dia kemudian menatap Dean lalu berkata,”Kita lanjutkan lagunya?”. Dean tentu saja mau menerima tawaran gadis itu. Ya, walaupun pasti Irene melakukan semua ini karena Kevin. Keduanya pun melanjutkan lagunya sampai habis. Semua penonton terkesima melihat duet mereka. Marsha yang tadinya berniat mempermalukan Irene yang pasti kikuk di depan, kini harus melihat Irene dipuji semua orang karena suaranya yang bagus. Becca yang melihat itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya. Dia mencoba tegar melihat cowok yang dia sukai terlihat jelas bahagia bersama dengan gadis yang lain. Lani yang awalnya bersorak- sorai kini mulai merasa berbeda. Gadis itu mulai merasa sedikit cemburu melihat Irene dan Dean. Apalagi, kalau dia memperhatikan tatapan yang dilemparkan Dean kepada Irene. Terlalu jelas! Lani yang tadinya bertepuk- tepuk tangan sambil bernyanyi kini menghentikan tepukan tangannya dan merasa tak suka. Hatinya mulai merasa iri pada Irene yang mendapat tatapan penuh cinta dari Dean. “Seperti ada cinta yang tak terungkap dari tatapan mereka,” gumam Kevin yang memerhatikan dengan cermat setiap gerak- gerik dan tatapan antar Dean dan Irene. Semua siswa/i yang belum mengenal mereka malah berpikir kalau mereka berpacaran. “Yeaayy!” Sorak- sorai siswa/i setelah keduanya menyelesaikan duet mereka dengan keren. Irene dan Dean yang menerima sorak- sorai itu kemudian saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Selain merasa senang mendapat pujian dari semuanya, mereka merasa seakan bahagia karena mendapat kesempatan untuk berduet. Mereka kemudian kembali ke tempat duduk masing- masing. Dean yang duduk di antara teman- temannya langsung mendapat jempol- jempol yang adalah kode kalau cowok itu sudah semakin melangkah maju untuk mendekati Irene. Sedangkan Irene, saat ingin duduk, tiba- tiba Lani menatapnya sinis dan langsung berdiri meninggalkan Irene tanpa berkata apapun. Tentu saja, Irene kebingungan mendapat tatapan demikian dari Lani. Tentu saja dia heran! Bukannya tadi Lani yang mendukungnya untuk bernyanyi dengan Dean? Sekarang, gadis itu kelihatan seperti orang yang cemburu. Irene jadi bingung dengan sikap temannya yang satu itu. “Kalian kelihatan cocok ya,” ujar Marsha duduk di sebelah Irene mengambil tempat duduknya lani. “Maksud?” tanya Irene balik tak mengerti maksud Marsha. “Mending loe sama Dean aja dan lupakan untuk mengejar kak Kevin! Loe cocok sama Dean! Kelihatan banget malah!” jawab Marsha sambil melipat tangannya di dadanya. Irene menatap tak suka ke arah Marsha karena perkataan gadis itu. Dia merasa dinilai sesuka hati oleh Marsha saat ini. ‘Apa? Menyerah? Yang benar saja!’ Irene masih merasa kalau hatinya adalah milik Kevin. Dia masih memiliki rasa pada Kevin dan jelas saja dia belum mau menyerah. “Gak usah mengatur orang! Kelihatan banget, loe sengaja mengikutkan gue di lomba ini kan? Gak masalah sih! Seenggaknya, Kak Kevin bisa tahu mana suara yang lebih enak didengar. By the way, loe cocok kok duet sama Dana. Kayak saling menutupi gitu suaranya!” balas Irene dengan tatapan mengejek dan meremehkan kepada Marsha. Soalnya, tadi penampilan Dana dan Marsha benar- benar seadanya banget. Suara gitarnya Dana bagus sih, hanya saja suara mereka kalau dipadukan parah juga. Mereka juga kenapa pilih lagu duet, dah tahu salah satu suaranya agak gimana gitu. Irene awalnya gak niat mengejek kelemahan Marsha, hanya saja siapa yang mulai duluan coba? Irene juga manusia, jadi dia masih ingin membalas. Dia juga masih terlalu labil menanggapi sesuatu. Mendengar ejekan Irene, Marsha langsung pergi dari samping gadis itu. Irene tetap duduk di tempatnya sampai akhirnya semua rangkaian acara untuk hari ini selesai. Irene masih bingung karena Lani tak juga kembali duduk di sebelahnya. Saat menoleh ke belakang, Irene bisa melihat kalau Lani ternyata mengambil tempat duduk lain seakan sengaja menjauhinya. Irene kecewa diperlakukan seperti ini! Tapi, harusnya Irene sadar kalau dulu dia memperlakukan Marsha seperti itu. Mungkin, ini yang namanya karma. Walau begitu, Irene tetap merasa tak bersalah karena dia merasa tidak memiliki rasa pada Dean. Dia dengan santainya pulang tanpa memedulikan Lani. ‘Kita lihat saja nanti! Siapa yang butuh duluan, loe atau gue!’ kesal Irene dalam hatinya sambil melangkah dengan wajah judesnya. Mood-nya yang tadinya baik kini down begitu saja karena tingkah Lani. “Suara kamu keren!” Sebuah suara mengalihkan perhatian Irene dan dia langsung mencari sumber suara. Dia melihat seorang cowok yang tidak dia kenal karena mungkin tak sekelas atau mungkin kakak kelas. “Makasih!” Irene hanya berterima kasih. “Ah, kenalkan! Nama aku Hendra! Saya kakak kelas kamu, kelas XII- B.” Hendra memperkenalkan diri kepada Irene sambil mengulurkan tangannya. Irene hanya mengangguk sambil menyambut uluran tangan cowok ini. Dia ini lumayan ganteng dengan kulit putih, hidung mancung kayak bule gitu. Dia idola juga karena bagian dari anak basket. “Irene, kak! Kelas X-A.” Irene juga memperkenalkan dirinya seramah mungkin walau mood-nya sudah anjlok. Seepat mungkin, Irene menarik tangannya dari Hendra. Dia bukannya gimana atau kepedean, tapi gak suka aja terlihat akrab dengan orang asing, walau satu sekolah sih! “Boleh minta nomer Hp atau saling follow sosmed gitu?” tanya Hendra membuat Irene jadi serba salah. Dia bukan tipikal orang yang suka membagikan nomor Hp atau saling follow sama orang yang baru kenal. Teman sekelasnya aja gak semua punya nomer kontaknya. “Sayang, kita balik yuk!” Dean langsung mengejutkan Irene sambil menggenggam tangan Irene. Irene langsung menatap Dean dengan bingung karena memanggilnya ‘sayang’. “Eh, kalian beneran pacaran ya? So-sorry dek, gak maksud. Kakak cuma mau temenan sama Irene aja kok,” ujar Hendra merasa gak enak. “Kakak suka kalau pacar kakak diminta nomernya sama yang lain? Saya sih NO!” Dean melarang Hendra secara tak langsung. “Oh, gitu ya? Gak apa deh!” Hendra akhirnya menggaruk- garuk tengkuknya dan berlalu dari mereka berdua. Seperginya Hendra, Irene langsung melepas tangan Dean sambil memberikan tatapan membunuh kepada cowok itu. “Kenapa?” tanya Dean sesantai mungkin walau keadaannya sudah tak cocok lagi untuk santai. “Apa sayang- sayang? Sayang- sayang pala loe peyang!” Irene langsung mengeluarkan unek- uneknya karena sedari tadi dia diam pas dipanggil sayang sama Dean. “Jadi… loe gak sayang sama gue?” Dean langsung memasang wajah sedih ala ana kecil. “Enggak lah! Minta kasih sayang sama nyokap loe sana!” jawab Irene tanpa ragu. Dia masih memasang wajah judesnya dan Dean melihat itu sebagai ekspresi imutnya Irene. “Gue maksud baik, kok! Gue mau bantuin loe, soalnya loe kelihatan gak nyaman gitu waktu dia minta nomer Hp loe. Gue aja gak dapet, masa dia dapet!” ungkap Dean. Dia emang nat membantu sih, walau sekalian cari- cari kesempatan. Dasar! “Iya, makasih! Kalo gitu gue balik!” Irene berterima kasih karena dia tak bisa menyangkal kalau Dean membantunya. Dia langsung melangkah tetapi Dean langsung menyusulinya. “Loe gak mau share nomor loe sama gue? Siapa tau ada apa- apa sama loe?” Dean masih membujuk Irene untuk kasih nomernya. “Harus ya?” tanya Irene lagi masih terus berjalan. “Enggak sih, tapi wajib.” Dean masih berjalan di sebelah Irene. “Sama aja!” Irene kemudian berhenti dan menatap kesal Dean. Walau begitu, dia mengambil Hp-nya di tasnya lalu menunjukkan nomenya kepada Dean. Dengan cepat, Dean mengambil Hp-nya dan mencatat nomer Irene. “Ayo! Waktunya sepuluh detik!” Irene agak mengisengi Dean. Hitung- hitung, membalas keisengan Dean tadi yang menyebut dirinya sebagai pacarnya. “Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh enam,.” Irene mulai menghitung. “Aishh! Cepet amat!” Dean mengeluh sambil menekan nomer Irene di Hp-nya. “Lima, empat, tiga, dua, satu! Ok!” Irene langsung memasukkan Hp-nya ke tasnya. “Huft! Untung saja sudah selesai!” Dean menghembuskan napas lega. Dia berhasil mendapatkan nomer cewek yang dia sukai setelah sekian lama. “Ok! Gue balik dulu ya! Papa udah di depan. Bye!” pamit Irene sambil melambaikan tangannya kepada Dean. Cowok itu tersenyum sambil membalas lambaian tangan Irene. Hari ini cukup menyenangkan dan sungguh memuaskan perasaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN