“The winner of image-based English Speech Competition for this time is Irene Alicia Hanendra!”
Pengumuman hasil lomba pidato bahasa Inggris kali ini benar- benar membuat Irene merasa sangat senang. Akhirnya, setelah berlatih dan bekerja sama untuk menyelesaikan projek, akhirnya dia bisa memenangkan lomba ini dengan hasil terbaik. Gadis itu langsung naik ke panggung untuk menerima penghargaan pemenang utama.
“Thank you!” Irene berterima kasih saat juri menyerahkan trophy lomba kepadanya. Semua peserta dan hadirin memberikan tepuk tangan untuk keberhasilan Irene. Ya, termasuk keluarga Irene yang kebetulan bisa hadir di lomba kali ini.
‘Cih! Dia menang lagi! Bisa makin besar kepala lama- lama nih orang!’ batin Marsha tak suka melihat keberhasilan Irene. Jelas sih, dia memang iri.
“Do you want to say something?” tanya sang pembawa acara kepada Irene untuk menyatakan bagaimana rasanya setelah dia memenangkan perlombaan ini.
“Yes! Thanks a lot for the opportunity! First of all, I want to thank for God and my parents. Thanks for all who support me. And specially for my friend and my partner in this competition, Dean Alvaro Wijaya!”
Irene menyampaikan kata-kata terima kasihnya kepada semuanya. Dean juga hadir di sini dan ikutan tepuk tangan. Dia mengerti sih apa yang dibilang Irene. Tapi, Bahasa Inggrisnya masih agak- agak gimana gitu. Dia senang aja karena bisa hadir dan menyaksikan perlombaan ini sampai akhir. Dia senang karena Irene akhirnya bisa menang dan dia ada campur tangan dalam hal ini. Itu yang membuatnya semakin puas.
“Dean Alvaro Wijaya! Come here!” panggil sang pembawa acara untuk menyerahkan sertifikat lomba kepadanya. Dean mengerti kalo cuma ‘come here’, yang artinya dia harus naik ke panggung. Dia pun naik ke panggung dan menerima sertifikat lomba itu. Kini, dia berdiri di panggung bersama Irene untuk memberikan penghormatan kepada hadirin.
Tak terasa, acara lomba sudah selesai. Semua hadirin memberi selamat kepada Irene dan ada juga peserta yang sudah pulang. Kebetulan, hari ini Irene bersama kedua orang tuanya. Sebelum itu, Irene ingin menghampiri Dean dan berterima kasih secara pribadi sekali lagi kepada cowok itu. Bagaimanapun, Dean tetap membantunya untuk menang.
“Dean, makasih sekali lagi ya!” ujar Irene pada Dean.
“Sama- sama! Berkat loe, gue punya sertifikat seperti ini dan setelah ini, bokap dan nyokap bisa bangga sama gue! Berasa kayak anak pintar gue hehehe!” Dean senang karena punya sebuah sertifikat lomba yang bisa dia pamerin ke orang tuanya. Walau cuma segitu, setidaknya ini adalah pencapaian terbaik baginya. Tapi, mungkin itu adalah awal!
“Nah, kalo loe mau benar- benar membanggakan orang tua loe, terus kejar prestasi loe! Gue dengan senang hari membantu kok! Jangan sungkan ya, Dean! Oh iya, catatan MM aku bisa kamu balikin besok ya! Aku mau belajar untuk ulangan. Ok, gue cabut dulu. Bye!” Irene memotivasi sambil pamit untuk kembali bersama keluarganya. Gadis itu melambaikan tangan sembari tersenyum kepada Dean. Tentu saja, Dean membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan juga.
Seperginya Irene, cowok itu kembali berjingkak- jingkak kesenangan. Dia merasa, semakin hari jarak antara dirinya dan Irene semakin dekat. Hubungan keduanya juga makin akrab. Dia merasa semakin yakin kalau dia bisa mendapatkan hati gadis itu.
“Yes! Yes! Yes! Langkah demi langkahku semakin jelas!” Dean bergumam senang membuat beberapa di sekitarnya menatap cowok itu dengan heran.
“Loe… suka sama Irene ya?” tanya seorang gadis membuat Dean mengalihkan atensinya. Ternyata, Marsha yang menghampirinya untuk bertanya.
“Perasaan, gue gak pernah ngomong apa- apa sama loe?” Dean bingung sendiri Marsha menyimpulkan sesuatu walau dia tak pernah memberi tahu apa pun kepada gadis itu.
“Haduhh! Gak perlu bicara, tatapan loe udah jadi jawabannya! Jelas banget malahan! Apa sih yang membuat loe suka sama yang model begituan? Udah sombong, gampang iri dan mengesalkan! Cih!” Marsha mendecih menilai Irene dengan buruk.
“Terus, loe bicara begini bukannya karena iri? Gini ya, Sha! Mending Loe urus hidup loe sendiri. Masalah gue ya biar gue yang urus. Ah iya, gue cabut dulu. Bye!” balas Dean benar- benar tamparan keras untuk Marsha.
Memang dia bicara dengan santai tapi pas kena pada sasarannya. Cowok itu langsung pergi menuju parkiran dan menghidupkan motornya untuk segera pulang. Seperginya Dean, Marsha hanya bisa menatap sinis kepada cowok itu. Dia gak kepikiran kalau orang sesantai Dean bisa menyinggungnya sejauh itu.
‘s**l! Gue pikir dia polos!’ batinnya kesal. Namun tak lama, sebuah seringaian terukir di bibir tipis Marsha.
“Terus aja dekatin si Irene! Semakin loe deket sama dia, semakin gampang dia melupakan kak Kevin. Dan peluang aku untuk mendekati kak Kevin semakin besar,” gumamnya merasa rasa suka Dean menguntungkan baginya.
***
“Trophy baru lagi! Selamat sekali lagi ya, sayang!” Othman memberi selamat lagi kepada putrinya saat di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.
“Iya, Pa! makasih juga kalian udah sediakan waktu untuk hadir,” balas Irene berterima kasih kembali atas kehadiran orang tuanya.
“Tadi itu, Dean anaknya Eddy yang kemarin papa ceritakan ya?” tanya Ruth saat teringat soal Dean.
“Iya, Ma! Anaknya ganteng dan kayaknya ramah, persis seperti papanya. Di sekolah kalian dekat, Rene?” jelas Othman kepada istrinya sambil menanyakan Irene soal kedekatan mereka.
“Biasa aja sih, Pa. Namanya juga teman. Dia sering bantu Irene sih!” jawab Irene sembari tersenyum teringat soal Dean.
“Jangan- jangan, dia yang kemarin antar kamu pulang ke rumah ya?” Ruth bertanya berusaha menebak- nebak siapa cowok yang kemarin mengantar Irene pulang.
“Eumm… i- iya, Ma.” Irene tak bisa berkutik lagi. Jujur lebih baik daripada harus berbohong hanya soal sepele seperti itu.
“Apa? Kamu boncengan naik motor sama dia? Kemarin, kamu bilang sama papa pulang naik taksi. Ternyata, kamu bohong ya, Rene!” Sebagai ayah, tentu saja Othman terkejut mendengar ini. Soalnya waktu itu, Irene tidak jujur kepadanya.
“Maaf, Pa. Tapi, kita gak pacaran kok!” Irene hanya menunduk dan merasa bersalah sudah membohongi papanya.
“Bukan itu masalahnya, sayang. Lain kali, kamu harus jujur! Kamu baru saja kenal dia. Walaupun, kami sudah kenal orang tuanya, bagaimana kita bisa jamin kalau dia benar- benar anak yang baik? Kalau Kevin, kami sudah percaya karena kenal sama dia sejak kecil. Jangan berani- berani lagi ya? Kamu bayangin deh, kalau masa depan kamu rusak, siapa yang rugi? Kamu sendiri kan? Papa dan mama juga sedih!” Othman menjelaskan alasannya panjang lebar.
Dia seorang ayah! Dia tentu saja ingin melindungi putri- putrinya dari kemungkinan bahaya sekecil apapun. Mereka bukan Tuhan yang bisa tahu segalanya, kejujuran dari anak memang sangat diharapkan supaya orang tua bisa membantu meluruskan cara berpikir anaknya. Syukurlah, Irene mau jujur kepada orang tuanya.
“Iya, Pa. Irene bakalan ingat selalu nasihat papa!” Irene juga bisa menerima nasihat orang tuanya. Dia tahu, kalau ini adalah bentuk kasih sayang orang tuanya.
“Nanti, kamu suruh aja dia datang ke rumah. Kalau mama dan papa kenal dia, kita akan nilai apakah memang dia teman yang baik untuk kamu atau bukan,” tambah Ruth lagi. Irene menganggukkan kepalanya sebagai tanda dirinya menerima nasihat orang tuanya.
Terkadang, seorang anak bisa menyimpang terlalu jauh bukan semata- mata karena kesalahan orang tuanya. Ada juga anak yang keras kepala dan tidak mau dinasehati. Terkadang, mereka terlihat penurut di depan orang tuanya tetapi tak tahu bagaimana di luar. Tapi sebenarnya, nasihat orang tua itu bagaikan pagar yang bisa melindungi anaknya dari ancaman dunia luar yang bahaya seperti binatang buas. Orang tua mana yang mau anaknya tenggelam dan hancur karena pergaulan dunia luar yang sangat kejam?
Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya walau caranya berbeda. Mereka berharap, dengan cara mereka baik benar maupun salah bisa membuat anak mereka sukses di kemudian hari. Syukurlah, Irene sangat menghormati kedua orang tuanya dan berusaha mendengar nasehat mereka. Orang tua Irene juga sangat perhatian dan lembut kepada putri mereka. Tak semua orang punya orang tua seperti Irene. Dia juga sangat mensyukuri hal seperti ini.
***
Mansion Wijaya
“Mama! Papa! Lihatlah kertas ini~~”
Dean bersenandung dibuat- buat dari luar sambil menunjukkan sebuah sertifikat hasil lomba tadi. Eddy dan Elly yang sedang berbincang langsung mengalihkan perhatian mereka kepada putra tunggal mereka itu. Pasangan itu langsung melirik satu sama lain karena melihat Dean datang dengan wajah sumringah dengan selembar kertas yang di bawa- bawanya.
“Apa itu?” tanya Eddy dengan tatapannya mengarah ke sertifikat lomba itu.
“Dean mendapat sertifikat lomba, Pa! Jadi gini, ada temen Dean yang pidato dan Dean bertugas menyelesaikan gambar untuk projek lombanya. Karena Irene menang, Dean juga dapat sertifikat! Yuk berbangga untuk anak kalian ini.” Dean menjelaskan dengan sangat bangga kepada papa dan mamanya.
“Owh… jadi kamu membantu kemenangan orang lain? Bukan masalah, lain kali kamu harus jadi pemenangnya. Papa hargai usaha kamu!”
Eddy tersenyum sambil melihat sertifikat itu. Dia menghargai apapun usaha anaknya untuk maju. Walau dimulai dari hal- hal kecil. Karena menuntut anak- anak itu adalah hal yang bisa membuat mental seorang anak tertekan. Dia ingin menganju bukan memaksa putra semata wayangnya ini untuk maju.
“Irene sangat memberi dampak positif untuk kamu ya!” Elly berujar bangga karena Dean dekat dengan Irene. Menurutnya, Irene memang cocok dijadikan teman oleh Dean karena sepertinya gadis itu memberi semangat bagi putranya.
“Irene yang putrinya Othman? Kamu kemarin cerita soal dia. Memangnya, dia pacar Dean?” tanya Eddy menebak.
“Bukan pacar, Pa! Tapi calon menantu kalian!” sosor Dean sambil senyum- senyum. Elly dan Eddy kembali saling menatap sebagai tanggapan atas ucapan Dean barusan.
“Jadi, benar tebakan mama kalau kamu suka sama dia! Tapi, syarat untuk pacaran masih sama! Harus peringkat utama! Kalau tidak, mama akan suruh Irene menjauhi kamu!” ancam Elly langsung membuat wajah ganteng Dean shock.
“Kok gitu sih, Ma? Mama sayang sama Dean kan? Jangan jauhkan Dean dari belahan jiwanya Dean,” rengek Dean seperti anak kecil membuat kedua orang tuanya terkekeh.
“Memangnya Irene mau sama kamu?” tanya Eddy lagi membuat Dea semakin terpojok. Dia tiba- tiba teringat kalau Irene memiliki rasa kepada orang lain dan hal itu sudah sangat jelas.
“Kalau belum, maka Dean akan pupuk cinta untuk Irene!” Dean membalas dengan super pede. Kedua orang tuanya hanya menggeleng dengan tingkah putra tunggal mereka ini.
“Sudahlah, kamu belajar sana! Bukannya sebentar lagi mau Ulangan Akhir Semester? Kamu harus dapat nilai yang bagus!” Elly akhirnya mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Dean belajar.
“Okay Ma! Dean akan belajar! Setelah ini, Dean akan jadi pemenang! Uhuy!!” ucap Dea sambil memandang bangga pada sertifikat lombanya. Kedua orang tuanya yang melihat Dean punya semangat untuk meraih prestasi hanya berharap anak mereka semakin ada kemajuan ke arah yang lebih baik ke depannya.