Di Sebuah Restoran
Beberapa menit menunggu, keluarga Hanendra akhirnya datang ke restoran yang diberitahukan Elly untuk mengajak mereka makan siang bersama. Biasalah, Elly sedang senang sekali hari ini. Jadinya, dia ingin mengajak keluarga teman dekatnya itu untuk berbagi kebahagiaan bersama. Kini, mereka semua duduk di salah satu meja yang agak besar sambil bercerita.
Meski Dean adalah juara umum yang baru, Irene sama sekali tak merasa iri dalam hatinya. Dia memang ingin bersaing, tapi tak ada alasan baginya untuk iri pada Dean. Dan keberhasilan Dean, membuat Irene semakin khawatir. Khawatir bukan dalam bidang akademik, tetapi karena dirinya yang akan segera naik daun dan popular. Semakin dia popular, Irene akan semakin terlupakan.
Seperti biasa, orang tua akan sibuk bercerita dan tanpa sadar mengabaikan anak- anak mereka. Irene masih menyantap makanannya perlahan dan Dean sedari tadi memerhatikan Irene, terang- terangan! Kalau Genie, dia hanya makn sambil mendengarkan musik di earphone-nya. Dia selalu begitu, karena memang pada dasarnya dia suka menyendiri. Jadi, di pihak anak- anak mereka hanya diam dan memerhatikan.
‘I realize the screaming pain. Hearing loud in my brain. But, I’m going straight ahead with the scar.’
“Ini si Jogi ngapain nge- ghosting sih? Nelpon tapi pas diangkat, gak dijawab!” rutuk Dean saat suara ringtone Hp-nya berbunyi. Genie yang merasa familiar dengan suara lagu itu, langsung membuka earphone-nya dan menatap serius ke arah Dean.
“Itu… tadi lagu siapa?” tanyanya dengan antusias.
“Yang barusan? Itu Hp-nya Dean yang bunyi,” jawab Irene pada adiknya.
“Kenapa emang?” tanya Dean lagi karena merasa terpanggil.
“Ohhh! Kakak tahu lagu itu dari mana?” tanya Genie langsung kepada Dean.
“Eumm… dari anime yang kakak tonton,” jawab Dean kepada Genie.
“Kakak suka nonton anime?” Genie semakin antusias karena mengetahui Dean sama seperti dia, bau bawang alias wibu.
“Iya, kamu juga? Kakak pernah ingat, kalau Irene pernah certain soal adiknya yang suka nge- wibu. Akhirnya, bisa ketemu dengan yang sealiran! Kamu nonton JJK gak?” Dean juga ikut antusias apalagi kalau membahas soal anime dengan Genie.
“Suka dong!” Genie langsung menyahut. Keduanya terlibat pembicaraan soal hobi mereka. Cerita mereka berdua benar- benar asyik dan sangat seru. Irene hanya jadi penonton yang benar- benar diabaikan di sini. Orang tuanya sibuk dengan mereka dan adiknya sibuk dengan Dean. Wah! Irene baru sadar kalau dia sama sekali tidak asyik.
“Whut?! Kakak suka Sagiri? Parah! Parah!” Genie geleng- geleng kepala setelah berbicara soal hobinya dengan Dean.
“Lah? Kamu suka cebol? Siapa parahan coba? Kan normal, cowok sukanya sama cewek!” Dean membalas Genie dengan mengatai Husbu-nya (suami dalam anime).
“Kak Irene! Parah nih cowok! Dia suka Sagiri lomte!” Genie langsung mengadu kepada kakaknya membuat Dean shock parah.
“Eh, gak gitu konsepnya!” Dean langsung membela dirinya.
“Sagiri itu apaan sih?” Irene tak mengerti maksud adiknya. Genie langsung membuka Hp-nya dan menunjukkan gambar karakter Sagiri kepada kakaknya. Dean langsung meneguk ludahnya ketakutan. Saat melihat apa yang ditunjukkan genie, mata Irene melotot.
“Ih! Parah sih ini namanya! Jadi, serem gue deket- deket sama loe!” Irene langsung menatap horror kepada Dean. Cowok itu langsung mati kutu di depan Irene. Dia tak bisa berkata apa- apa lagi. Ternyata, Genie adalah tipikal orang yang cepu, suka ngadu! Dean jadi auto s**l bertemu dengan anak ini.
“By the way, kenapa kamu bisa tahu yang beginian, dek?” tanya Irene pada adiknya.
“Masa begini aja gak tau? Kalau wibu, sudah pasti kenal sama Sagiri. Ini nih, karena kakak bilang suamiku Levi sebagai cebol!” Genie mengatakan alasan kenapa dia mengadu kepada Irene. Tapi, dia sama sekali tak tahu kalau Dean menyukai Irene. Dia pikir, keduanya hanyalah teman biasa. Lagian, gak ada yang pernah cerita sih.
“Wah! Pembicaraan di antara anak- anak sepertinya sedang seru!” Eddy angkat bicara setelah memerhatikan anak- anak.
“Seru apanya, Pa? Dean malah disudutkan!” Dean ngambek saat ini. Irene dan Genie hanya diam saja sambil tertawa kecil melihat Dean yang ngambek seperti anak kecil.
“Eh, om baru saja ketemu sama kamu. Nama kamu Genie ya? Kelas berapa sekarang?” tanya Eddy pada Genie.
“Saya akan naik kelas dua SMP, Om.” Genie menjawab dengan sopan kepada Eddy.
“Woahhh! Kamu cantik kayak kakak kamu ya! Pasti pintarnya juga sama!” Elly memuji Genie tapi tak tahu kalau genie agak tersinggung kalau mulai membahas soal kepintaran. Kenapa? Karena dia tidak seperti kakaknya dalam hal akademik. Sudah pasti, Irene jauh lebih diatasnya. Dia hanya memiliki kelebihan di bidang non- akademik. Setidaknya, begitulh pemikirannya saat ini.
“Genie ini selalu mendapat penghargaan setiap kali dia ikut lomba menggambar, melukis, dan segala bidang seni lainnya. Irene dan Genie memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang yang berbeda." Ruth angkat bicara untuk membanggaakan kedua putrinya. Genie sangat senang ketika mamanya tidak menganggapnya lebih rendah dari Irene. Kakaknya juga bersyukur, karena adiknya tidak disudutkan karena tidak meraih nilai akademik yang memuaskan.
“Itu keren sekali! Seandainya, Dean dari dulu menggunakan bakatnya dengan benar, aku juga akan bangga. Anak ini suka dan pandai sekali menggambar. Tapi, malah lebih suka bersenang- senang dan mengabaikan pelajarannya!” Elly memuji Genie dan sedikit menyentil Dean dengan kata- katanya.
“Tapi, Ma? Dean sekarang udah naik pangkat!” Dean membenarkan dirinya dengan mengingatkan mamanya kalau dia baru saja menyabet juara umum di sekolahnya.
“Iya! Sekarang, kamu sudah berubah menjadi lebih baik. Papa dan mama sangat bangga padamu,” puji Eddy pada putranya.
“Semua orang bisa berubah! Dean menunjukkannya hari ini. Kita tidak boleh memandang setiap orang dengan sebelah mata. Kita tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.” Othman juga memberikan pujian kepada Dean yang sangat membanggakan semua orang hari ini. Bukan orang tua dan temannya saja, tetapi seluruh SMA NUSA BANGSA.
“Makasih semuanya, hehehe…” cengir Dean karena dia mendapat pujian dari papanya dan papanya Irene. Dia diam- diam memandangi Irene dan bisa melihat senyuman dan kekaguman dari tatapan Irene padanya, meski tadi sempat ilfeel sih!
‘Irene! Aku akan mempertahankan tatapan itu darimu untukku! Aku sudah membuktikan kalau aku mampu. Aku mampu melakukan apa saja demi cintaku!’ batin Dean bertekad. Untuk saat ini, dia maju karena cinta. Seraya waktu berlalu, pemikirannya akan semakin dewasa dan tahu apa manfaatnya kalau dia mengutamakan pendidikannya di usia sekarang.
Tak terasa, mereka udah selesai dengan acara makan siangnya. Kedua keluarga ini akan segera berpisah dan melanjutkan kegiatan mereka berikutnya. Tapi, sebelum keluarga Hanendra pulang, Dean ingin menyatakan sesuatu kepada Irene hari ini juga. Dia langsung meminta izin kepada orang tuanya Irene supaya diizinkan bicara empat mata dengan puti mereka.
“Om, boleh saya bicara dengan Irene sebelum pulang?” tanya Dean denga nada gentle kepada papanya Irene. Eddy dan Elly tentu sangat terkejut dengan keberanian putranya. Mereka tahu Dean menyukai Irene, tapi kalau secepat ini, mereka juga agak khawatir. Soalnya, mereka berdua masih muda.
“Mau bilang apa? Di sini aja?” Irene tak ingin basa- basi.
“Gak apa, Nak! Siapa tahu penting!” Othman memberi izin. Dean tentu saja terkejut, tapi juga senang. Ya, Othman mulai memercayai Dean untuk dekat dengan putri sulungnya. Beberapa kali mereka bertemu, dia tahu kalau Dean memang menyukai putrinya. Dia juga bukan tipe ayah yang galak dan sangat friendly. Jadi, kalau ada yang mau jadi menantunya, gak usah sungkan.
“Eumm… okay!” Irene langsung mengangguk dan beranjak ke luar restoran. Seperginya Dean dan Irene, orang tua Dean langsung merasa gak enak dengan anak mereka.
“Oth, kenapa kamu kasih izin ke mereka? Dean itu… dia suka sama anak kamu,” ujar Elly memberi tahu.
“Apa? Kak Dean suka sama kak Irene?!” sosor Genie terkejut. Ruth langsung memicing kepada putrinya untuk diam dan merespek pembicaraan orang tua. Akhirnya, Genie hanya diam dan nyimak.
“Aku tahu kok! Biarin aja dia bicara empat mata sama Irene. Siapa tahu, Dean mau nembak,” jawab Othman santai langsung mendapat sikutan dari istrinya.
“Mereka masih muda!” Eddy membalas.
“Kan cuma nembak, belum tentu pacaran. Lagian, kalau mereka sampai pacaran juga, kita batasi saja. Anak muda gak bisa dilarang,” jelas Othman dengan pemikirannya yang fair aja soal ini.
“Lagian, belum tentu Irene menerima, bukan?” lanjut Othman lagi berusaha menenangkan semuanya. Siapa orang tua yang gak khawatir kalau anaknya yang masih terlalu muda berpacaran. Mereka tentu takut terjadi apa- apa, baik di pihak Dean dan Irene.
“Irene… tak ingin pacaran selama sekolah. Biarlah, Dean menyatakan perasaannya. Tak ada yang salah dengan perasaan mereka,” tambah Ruth lagi setelah rasa khawatirnya berkurang. Dia tahu, kalau Irene takkan berpacaran sebelum tamat. Eddy dan Elly hanya mengangguk karena yang dikatakan teman mereka ada benarnya juga.
Di pihak Irene dan Dean…
“Mau ngomong apa?” tanya Irene sambil melipat tangan di dadanya.
“Gue… dah lama mau bilang ini. Dan, kesempatannya baru datang sekarang. Ini soal perasaan gue,” jawab Dean berusaha menutupi kegugupannya.
“Iya… perasaan yang gimana?” Irene mulai penasaran. Bukan Dean aja yang deg- degan di sini, tapi Irene juga. Kenapa? Alasannya jelas, kalau Irene juga punya perasan yang sama.
‘Aku ini kenapa sih?!’ Irene masih berusaha menyangkal perasaannya yang sudah sangat jelas.
“Gue eh, maksudnya aku suka sama kamu!” Dean langsung menyatakan perasaannya dengan terus terang. Irene agak terkejut mendengar ini. Dean terlihat sangat serius dengan perkataannya. Debaran di jantung Irene semakin menjadi- jadi sampai dia tak tahu mau berkata apa. Keheningan meliputi mereka berdua sejenak. Dean diam saja karena menunggu jawaban dari Irene.
‘Apa… dia serius?’ Irene bertanya- tanya dalam hatinya.
‘Haduh! Irene kenapa diam aja sih?’ Dean jadi deg- deg ser sendiri karena kebungkaman Irene.
‘Kalau pun dia serius, apa aku ingin pacaran? Bagaimana dengan pelajaran nantinya? Pacaran itu akan sangat mengikat diriku. Sepertinya saat ini belum tepat. Aku harus cari cara untuk menolaknya dengan halus!’ Irene memikirkan segalanya sebelum mengambil keputusan. Dulu, dia takkan berpikir dua kali soal asmara, tapi dia semakin bertumbuh ke arah kedewasaan. Dia tak mau menyesal di kemudian hari.
“Hahahahahaha!” Irene tertawa. Jujur, Dean sangat terkejut dengan reaksi Irene yang malah menertawakannya.
“Apa yang lucu sih?” tanya Dean dengan nada kesal.
“Kamu bercandanya sih!” jawab Irene sambil berusaha tetap santai.
“Aku serius!” Dean berkata tegas.
“Dean, kamu itu terlalu banyak bercanda. Jangan bercanda soal hal yang begini dong. Untung, yang kamu candai adalah aku, coba orang lain, pasti langsung baper!” balas Irene berusaha menyangkal perasaan Dean.
‘Maafkan aku, Dean! Aku belum bisa memastikan perasaanku sendiri!’ Irene meminta maaf dalam hatinya kepada Dean.
“Irene! Aku berani bicara sama papa kamu untuk bicara empat mata karena perasaanku serius! Aku benar- benar suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu. Kenapa bisa, sampai sekarang kamu gak peka dan menganggap kalau aku cuma bercanda?” Dean tak terima dengan cara Irene menanggapi perasaannya.
“Loe tahu gue suka sama orang lain kan? Jadi, gue harap loe bisa tebak sendiri apa jawabannya!” ujar Irene dengan nada datar lalu meninggalkan Dean sendiri. Cowok itu tak habis pikir dengan tanggapan Irene untuk perasaannya. Irene selama ini tak menganggaapnya sama sekali.
‘Aku minta maaf, Dean! Aku takut, kalau perasaanku padamu hanya sekedar pelarian karena rasa kecewaku sebelumnya. Kamu adalah orang baik, kamu pantas mendapat perasaan yang sesungguhnya. Aku tak bisa menerima perasaanmu, sebelum aku yakin!’ sesal Irene dalam hatinya.
Irene datang duluan di tengah- tengah keluarganya dan keluarga Dean. Gadis itu hanya diam saja dan wajahnya begitu masam. Semua orang ingin bertanya, tapi meliha ekspresi Irene saat ini, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Tak lama, Dean menyusul lalu langsung minta izin pada orang tuanya untuk ke mobil.
“Pa! Ma! Aku masuk ke mobil duluan!” Dean langsung pergi meninggalkan orang tuanya yang terheran- heran. Mereka merasa ada sebuah ketegangan di antara Dean dan Irene barusan.
“Eumm… sepertinya, kita semua harus pulang.” Ruth berusaha mencairkan suasana. Setelahnya, mereka semua pulang ke kediaman masing- masing. Perasaan Irene dan Dean kini tengah campur aduk antara menyesal dan kecewa. Hal ini, akan segera menimbulkan masalah untuk hubungan pertemanan mereka kedepannya.