Juara Baru

1746 Kata
Ujian semester genap akhirnya selesai. Hari ini adalah hari pengambilan laporan hasil belajar siswa untuk semester genap ini. Semester genap merupakan penentuan apakah mereka akan naik kelas atau tidak. Dan setelah ini, mereka semua akan naik satu tingkat menuju kelas XI. Mereka akan punya adik kelas dan kakak kelas. Mereka akan berada posisi pertengahan setelah ini.             Setahun berlalu tanpa terasa bagi murid tahun ajaran baru. Sebentar lagi, sekolah akan membuka pendaftaran untuk menerima murid untuk tahun ajaran baru kedepan. Melewati kelas X adalah awal bagi mereka. Tantangan barunya adalah di kelas XI dan puncaknya di kelas XII. Pelajaran akan semakin sulit dan tugas akan semakin banyak. Kalau dipikirkan, memang akan membuat puyeng. Tapi, semuanya akan berlalu begitu saja kalau dikerjakan dengan sungguh- sungguh.             Saat ini, semua murid yang terdiri dari kelas X dan XI berada di aula. Kalau kelas XII, sudah tamat sebulan lebih yang lalu. Jadi, hanya tinggal dua tingkat yang ada di sini. Tentu saja, semuanya dikumpulkan di sini karena sang kepala sekolah ingin mengumumkan siapa saja juara umum dari setiap tingkatan. Para murid dan orang tua ingin sekali mendengar soal ini. Terleih lagi, orang tuanya Dean. “Mama gak nyangka, kamu bisa mendapat juara 1 untuk tahun ini di kelasmu. Bagaimana dengan juara 1 sebelumnya?” bisik Elly pada putranya masih tak percaya kalau putranya yang sebelumnya juara tiga dari belakang, bisa langsung terbang ke juara satu. Kalau bukan keajaiban, apalagi coba? Tapi, itulah kenyataannya! Dean berhasil menyabet juara satu di kelasnya. “Papa juga gak percaya!” Eddy juga berbisik sambil bolak- balik memeriksa nilai Dean di rapotnya. Dia benar- benar tak menyangka putranya ini bisa maju dengan sangat pesat. “Sebenarnya, Dean mendapat juara satu di kelas karena berhasil memenangkan olimpiade, Ma. Dan lagi, fokus juara satu sebelumnya benar- benar terbagi karena kesibukannya di OSIS,” jelas Dean pada kedua orang tuanya yang terheran- heran. “Mama berharap ini bukan mimpi, sih!” Elly berulang kali mencubiti pipinya sendiri untuk memastikan kalau ini adalah kenyataan. “Gak usah lebay, Ma!” Dean memutar bola matanya malas melihat mamanya yang bereaksi berlebihan menurutnya. Tapi itu wajar saja kok! Namanya juga, anaknya baru kali ini mendapat juara satu. Siapa yang gak terkejut? Biasanya, Elly selalu berbesar hati setiap kali mengambil rapotnya Dean. Dia akan selalu disuguhi peringkat yang sangat besar angkanya. Pokoknya, dulu Dean gak pernah  lepas dari angka dua puluh ke atas. “Terima kasih, semuanya sudah berkumpul!” Sang kepala sekolah mengucapkan kata sambutannya setelah naik ke mimbar. Semua hadirin yang berbicara langsung tenang untuk bisa mendengar pengumuman dari sang kepala sekolah. “Hari ini, dengan bangga saya ingin mengumumkan soal juara- juara umum untuk semester ini. Saya akan mulai dari kelas sebelas dulu!” Sang kepala sekolah mulai mengumumkan juara umum dari kelas sebelas. Beliau langsung memberikan thropy kepada para siswa/i berprestasi untuk semester ini. Tak lupa, mereka juga menyalam sang kepala sekolah sebagai penghormatan. “Baiklah, sekarang pengumuman untuk kelas sepuluh. Tapi sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk kelas sepuluh tahun ini. Kalian semua sangat bersemangat dan membuat citra sekolah kita semakin naik ke atas awan. Ada yang selalu memenangkan olimpiade, ada yang selalu mengurus event di sekolah dengan sukses, dan juga ekstrakulikuler yang sering kalian menangkan.” Sang guru memuj para murid kelas sepuluh tahun ajaran ini. “Kalian semua punya bakat di bidang masing- masing! Kalian juara di bidang kalian. Meski, kejuaraan umum ini hanya diberikan kepada tiga siswa saja, kalian semua adalah yang terbaik!” lanjut sang kepala sekolah untuk memuji, bukan membesarkan hati. Dia mengatakan hal ini sungguh- sungguh dari harinya karena kebanggaannya. “Tanpa basa- basi lagi, saya akan umumkan mulai juara tiga umumnya. Rebecca Karen dari kelas X-B!” Semua hadirin bertepuk tangan menyambut Rebecca yang mendapat peringkat ketiga di tahun ini. Gadis itu hanya bisa menghela napas karena tahun ini dia jadi peringkat kedua di kelas dan juara umum ketiga di seluruh angkatannya. ‘Ini masih awal, Becca! Pokoknya, jalanmu masih panjang!’ batin Becca lalu ke depan sambil memberikan salam kepada kepala sekolahnya dan sekalian mengambil thropy juara umumnya. Di semester ini, Becca cukup banyak kesibukan antara lain, pekerjaannya, mengurus ibuny yang sempat sakit beberapa saat, menjadi ketua OSIS pengganti dan juga sempat agaak patah hati. Walau bukan masalah besar, patah hati juga bisa mengganggu konsenterasi belajar seseorang.             Irene terbelalak karena Rebecca sampai turun ke peringkat tiga. Dia sedikit meremas rok sekolahnya karena sangat penasaran, apakah dia bisa menyabet juara satu umum lagi atau tidak. Diam- diam, Irene melihat ke arah Dana yang duduk tak jauh darinya. Dulunya, hanya Dana yang bisa menandinginya. “Juara umum kedua, Irene Alicia Hanendra!” Sang kepala sekolah menyebutkan namanya. Irene terbelalak dan kedua orang tuanya, yang kebetulan sedang berada di sini melihat dirinya. Mereka sih, gak terlalu masalah. Tapi, Irene kelihatannya agak kesal karena peringkatnya sampai turun. ‘Siapa sih, yang bisa mengalahkan aku tahun ini? Perasaan, Dana tak terlalu aktif soal olimpiade atau lomba lainnya?’ batin Irene bingung. Tapi, dia tetap memilih untuk berdiri dan berjalan ke depan untuk menerima thropy-nya. Dia berusaha tersenyum diiringi suara tepuk tangan smbutan seluruh hadirin di aula ini. “Pa, ini gak mungkin kan?” Elly berbisik kepada suaminya sambil melirik ke arah Dean, anak mereka. “Papa gak yakin sih,” balas Eddy merasa gak yakin kalau Dean yang akan menyabet juara satu umum untuk semester ini. “Dan juara umum pertama, ah! Pasti semuanya tak percaya. Tapi, saya memang sengaja memilih anak ini untuk menjadi juara umum pertama, supaya bisa dijadikan contoh bagi semua murid yang merasa dirinya tak mampu untuk bersaing. Anak ini tadinya seperti tak ada harapan untuk mendapat juara. Tapi, ternyata dia berhasil membuktikan bahwa dia sanggup. Bahkan, dia berhasil memenangkan olimpiade Nasional untuk tahun ini.” Sang kepala sekolah memuji murid yang akan dia sebutkan namanya ini. “Pa, kalau nama Dean disebut, mama bakal teriak nih!” Elly jantungan. Kalau Dean sih, malah santai saja. Kenapa? Dia gak bener- bener yakin kalau namanya yang akan dipanggil. “Murid yang bisa dijadikan contoh ini adalah berasal dari kelas X-B, Dean Alvaro Wijaya!” Sang guru mengucapkan nama itu dengan bangga. “HAH?!” Seluruh murid di kelas B terpelongo saat mendengar nama Dean disebutkan. Soalnya, setiap pembagian rapot di kelas, saang guru tak pernah memberi tahu rangking muridnya. Biarlah hal itu menjadi kejutan. Sementara Dean hanya menatap tak percaya. “Dean! Itu anakku!!” teriak Elly sama sekali tak elegan seperti biasanya. Dia langsung berdiri dan menyuruh Dean untuk maju ke depan. Semua orang langsung melihat ke arah Dean karena teriakan mamanya. Papa Dean hanya bisa diam sambil memberi kode kepada istrinya untuk tenang. “Sa- saya pak?” tanya Dean tak percaya. “Iya! Memangnya, ada Dean Alvaro Wijaya lain di kelas X-B?” tanya kepala sekolah pada Dean yang masih terpelongo di tempat duduknya. Ya, tentu saja dia langsung maju dengan wajah bangga dan sok gantengnya. Emang iya, dia ganteng sih!             Dean mengambil trophy-nya dan menyalam sang kepala sekolah. Irene dan Becca yang berada di depan masih menatap tak percaya. Dean hanya membalas tatapan keduanya dengan menaikkan alisnya dan tersenyum sok ganteng. Dia agak pamer kepada keduanya. Ya, namanya juga anak remaja, kalau ada yang lebih sedikit langsung pamer.             Setelah itu, berakhirlah acara pengumuman juara umum di aula. Semua guru langsung memberikan motivasi kepada Dean untuk semakin maju. Kedua orang tua Dean langsung memeluk putra mereka. Apalagi Elly, yang tidak henti- hentinya mencubiti pipi putranya yang sudah besar ini. Dia terlalu gemes dengan anaknya yang berhasil menyabet juara satu umum di sekolah berbasis internasional ini. Ini sangat di luar dugaannya. “Nanti guru les kamu mama kasih reward!” ujar Elly aking senangnya. Dean juga bisa maju karena bantuan gurunya termasuk guru les privatnya. Memang sih, guru les privatnya sudah dibayar jutaan, tapi dengan hasil seperti ini, Elly dan Eddy sama sekali tak menyesal menghabiskan uang segitu. Demi anak tunggal mereka, segitu bukan apa- apa. “Dean! Selamat ya!” Irene memberikan selamat sambil mengulurkan tangannya untuk memberi salam selamat kepadanya. “Kamu telat, Rene! Kamu bukan yang pertama!” balas Dean tapi tetap meraih tangan Irene yang ingin menyalamnya. “Mana mungkin, gue adalah yang pertama! Nyokap loe harus yang pertama dong!” ujar Irene langsung diangguki Dean karena dirasanya sangat masuk akal. “Tante gak duga loh, Rene! Ini benar- benar kejutan!” Elly mengungkapkan perasaannya yang terlalu bahagia kepada Irene. “Iya, Irene juga terkejut. Ternyata, Dean yang berhasil menggeser Irene di semester ini. Tapi… semester depan gimana ya?” balas Irene sambil melirik ke arah Dean. “Aku sih, yang penting yang yakin!” Dean hanya menggidikkan bahunya. Dia sebenarnya, tak terlalu berharap sih. Tapi, namanya juga kebetulan! “Bro! Loe punuh dengan kejutan!” Jogi langsung menghampiri Dean bersama Marco. Sebagai teman yang pernah sama- sama merasakan bagaimana di bawah, mereka ingin memberikan selamat kepada Dean. “Makasih bro! Kalian juga harus maju!” balas Dean sambil menyalam kedua temannya itu. Pokoknya, banyak deh yang kasih selamat kepada Dean.             Mereka akhirnya keluar dari aula. Suasana hari ini cukup mengejutkan dan mencengangkan karena Dean berhasil menyabet juara umum pertama. Elly tak henti- hentinya memeluk dan kini dia menggandeng anaknya. Suaminya yang malang jadi dilupakan. Poor sekali! “Dean, selamat ya! Kamu hebat banget!” Becca menghampiri Dean sekeluarnya dari aula. Di sana tadi terlalu ramai kalau dia ingin memberikan selamat. “Makasih banyak!” Dean tentu saja berterima kasih. “Dean! Om gak sangka kamu bisa menggeser Irene!” Othman sengaja menghampiri Dean karena sangat kagum ada yang bisa menggeser putrinya. “Hehehe… makasih om!” Dean berterima kasih lagi. Dia mau bilang apalagi coba? Dia aja masih gak percaya sebenarny. “Oth! Ajak dong, istri kamu dan Irene makan bareng lagi. Aku lagi seneng banget nih! Rasanya, pengen traktir semua orang,” ajak Elly pada Othman supaya ngumpul lagi seperti kemarin. “Baiklah, nanti kirim aja nama restonya. Kami mau ambil rapot putri bungsu kami dulu.” Othman menerima ajakan temannya itu. “Oke, kami tunggu!” jawab Elly dengan senyuman. Wanita ini memang tak bisa berhenti tersenyum sedari tadi. “Kita makan bareng lagi dengan mereka ya? Siapa tahu, kamu dan Irene beneran jodoh!” bisik Elly membuat hati Dean berbunga- bunga. “Mama restuin?” tanya Dean tak percaya. “So pasti!” jawab Elly sementara suaminya hanya geleng- geleng melihat kelakuan istri dan anaknya. Dia hanya diam karena tak ingin merusak momen ini. Dia senang kok, seneng banget malah. Tapi, Eddy memang gak suka heboh orangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN