Mengukir Nama Kita

1916 Kata
Mansion Keluarga Wijaya “Oh Mama! Oh Papa!” teriak Dean dari luar sambil melangkah penuh kegirangan. Dia masuk ke rumah dan melihat kedua orang tuanya yang menatap heran kepada anak mereka itu. “Kenapa harus teriak- teriak?” tegur Eddy karena putranya sama sekali tak punya sopan dan santun. “Lihat nih!” Dean langsung menunjukkan sebuah thropy juara utam Olimpiade Fisika tingkat Nasional. Elly dan Eddy berulang kali saling menatap karena mereka tak percaya kalau anak mereka bisa memenangkan Olimpiade untuk tingkat Nasional. Mereka berdua memang tahu, Dean membuat kemajuan yang sangat baik belakangan ini. Tapi, kemajuannya ternyata bukanlah kemajuan biasa. Dean yag sekarang memang bisa sangat dibanggakan. “Mama nyaris gak percaya sih!” Elly terheran- heran sambil meraih thropy pertama yang dimiliki putranya. Dari dulu, Dean tidak pernah memenangkan penghargaan apapun sepanjang karir bersekolahnya. Sekalinya mengukir prestasi, Dean ternyata gak main- main seriusnya. “Percaya dong sama anak kalian ini! Dean ini akan menjadi calon pimpinan Perusahaan besar, harus dong punya prestasi! Dan lagi, tadi Dean bekerja sama dengan Irene. So pasti, kita berdua pasti menang!” Dean membanggakan dirinya sambil memberi tahu kalau dia melakukan lomba ini bersama dengan Irene. “Begitu ya? Kalau begitu, mama akan simpan thropy ini dan mengabadikannya. Mama bisa cerita ke teman- teman mama soal anak tunggal mama yang sangat membanggakan!” Elly langsung memeluk putranya dan mengelus- elus kepalanya seperti seorang bayi. Eddy hanya geleng- geleng melihat istrinya memanjakan putra mereka. “Masih panjang lagi perjalanan kamu untuk menjadi Pimpinan Perusahaan kita, Nak! Teruslah maju! Perkembangkan dirimu menjadi lebih baik.” Eddy memberikan semangat pada putranya untuk terus maju. “Ma, thropy-ny ku tarus di kamar aja ya? Sekalian, mau aku tunjukkin sama penghuni haremku,” pinta Dean membuat kedua orang tuanya menautkan alinya bingung. “Harem?” bingung papa dan mamanya Dean. “Ah, maaf! Kalian gak ngerti ya? A- aku cabut dulu!” Dean langsung ke kamarnya sambil membawa thropy-nya. “Ada apa dengan Dean?” tanya Eddy pada istrinya. Elly tak tahu harus menjawab apa, dah hanya menggidikkan bahunya karena tak tahu harus menjawab apa soal Dean.             Dean kini sudah tiba di kamarnya. Dia melihat- lihat thropy hasil kemenangannya dengan Irene. Dia tak bisa berhenti tersenyum mengingat momen olimpiadenya bersama Irene. Dia bahkan tak menyangka, kalau otaknya sangat lancar dan bisa mengerti semua soal yang ditanyakan kepada semua peserta olimpiade. “Hai, haremku? Lihat ini! Sebagai suami kalian, aku dengan bangga menyatakan diri sebagai… pemenang!” Dean bicara pada poster- poster gambar anime yang ditempelnya di dindingnya. Biasalah, wibu akut.             Dean langsung meletakkan thropy itu di tempat yang aman dan langsung terlihat. Dia mengambil sebuah pisau dan mengukir namanya dan Irene di thropy itu. Dia memang sengaja sih, supaya thropy ini menjadi kenang- kenangan yang sangat berharga dan bisa dia lihat untuk selamanya. Selesainya mengukir nama mereka, Dean tersenyum memandanginya. “Irene, aku aakan selalu mengenang setiap waktu kebersamaan kita. Setelah aku mendapatkan gelar juara umum nanti, aku akan menyatakan perasaanku. Aku akan siap dengan jawabanmu. Aku akan berusaha untuk jadi pantas bagimu, Irene!” tekad Dean.             Dia tak bisa menahan perasaannya lagi. Biarlah Irene mengetahui perasaannya dan memberikan jawaban yang sejelas- jelasnya. Dia tak mau dijauhi begitu saja oleh Irene karena alasannya yang jelas. Dia memang masih terlalu muda untuk sebuah hubungan, tapi namanya perasaan anak muda yang tak ingin kehilangan pujaan hatinya. Dia pikir, menjalani hubungan itu sangat mudah yang penting saling mencintai saja!             Mempertahankan hubungan itu adalah hal yang sulit karena usia mereka yang masih muda dan pemikiran mereka yang sangat labil. Tapi, biarlah waktu yang menjawab bagaimana kisah ini akan terus berlanjut.   Kediaman Keluarga Hanendra             Irene kini sedang berada di kamarnya untuk beristirahat sepulang olimpiade. Dia baru selesai makan malam dengan keluarganya. Dia duduk terdiam memandangi langit malam yang bertabur bintang yang sangat indah. Gadis itu tersenyum sambil mengingat segala kenangannya bersama seseorang. Cowok yang selama beberapa waktu ini mengusik hatinya. Cowok yang berhasil membuatnya berdebar dan salah tingkah. “Kenapa bersama Dean, rasanya sangat berbeda ya?” gumamnya sambil memegangi dadanya. “Apa… aku mulai ada rasa lebih sama dia? Tapi, kenapa bisa secepat ini ya?” Dia bergumam lagi karena bingung.             Tentu saja, dia merasa bingung karena merasa jatuh cinta kepada Dean dalam waktu yang singkat. Padahal, selama ini dia merasa sudah memantapkan hatinya untuk Kevin seorang. Dan Dean sudah berhasil membuatnya cenat- cenut, panas dingin, khawatir, tremor dan perasaan aneh lainnya. “Kak Irene! Mana thropy olimpiadenya? Kenapa cuma sertifikat?” tanya Genie langsung nyosor masuk ke kamar kakak perempuannya. Dia benar- benar mengganggu lamunan Irene soal Dean. “Lah, lagi melamun toh?” ujarnya melihat kakak perempuannya duduk melamun memandang keluar jendela. “Apaan sih? Cuma gak bisa tidur aja!” sangkal Irene gak mau ketahuan sedang melamun. “Mikirin siapa? Kak Kevin? Kangen? Belum sebulan dia pergi, udah kangen aja. Padahal, dia bakal bertahun- tahun kuliah di sana. Sudahlah, lupakan saja! Jangan cinta- cintaan melulu,” saran Genie dengan nada sotoy kepada kakaknya. “Sok tahu banget ya? Awas nanti, kalau kamu udah gede, terus jatuh cinta, kakak akan bully kamu habis- habisan!” kesal Irene karena adiknya bersikap sok tahu soal urusan hatinya. Padahal, Genie ini masih SMP, tapi sudah sok menasehati kakaknya. “Ya udah, aku tadi nanya, mana thropy-nya?” Genie back to laptop. “Oh, tadi sama partner olimpiade kakak. Secara sih, dia yang jawab lebih banyak dan menghasilkan lebih banyak poin,” jawab Irene. “Siapa kak? Yang namanya Danael itu ya?” tanya adiknya lagi ingin tahu siapa yang bisa menjadi partner kakaknya di olimpiade. Bahkan, secara tak langsung mengalahkan Irene yang selalu memenangkan banyak olimpiade sepanjang hidupnya. “Bukan, namanya Dean. Dia anak kelas sebelah. Sebenarnya, kakak juga heran karena dia bisa membuat kemajuan pesat selama beberapa bulan terakhir ini. Dia dulunya, bahkan gak rangking loh!” Irene mulai menjelaskan soal keheranannya soal Dean yang maju dengan sangat pesat. “Beneran? Tapi, itu biasa sih kak! Sebenarnya sih, Genie bisa ngalahin kakak. Tapi, aku sengaja jadi murid yang biasa aja supaya gak jadi orang sombong kayak kamu!” balas Genie merasa dirinya juga sama seperti Dean. “Oh, mau ngajak berantem? Balik sana! Urus itu poster- poster gaje kamu!” Irene kesal sambil mengusir adiknya keluar. “Iri? Bilang bos!!” Genie beranjak dari kamar kakaknya tak lupa menjulurkan lidahnya untuk mengejek Irene. “Hahh… anak itu benar- benar merusak mood-ku aja! Mending bobo aja deh! Besok harus sekolah!” Irene langsung naik ke ranjangnya dan memejamkan matanya untuk tidur. Hari esok masih menunggunya.   SMA NUSA BANGSA Jam Istirahat             Saat ini, para siswi sedang mengerumuni lapangan basket karena para anggota klub basket sedang latihan untuk lomba beberapa hari ke depan. Ada juga yang sedang latihan cheerleader untuk mengiringi semangat anggota klub basket. Dan banyaknya para siswi menyoraki Dean supaya semangat dalam melakukan latihannya.             Cowok ini semakin bertambah saja kepopulerannya. Dengan memenangkan olimpiade kemarin, dia semakin menambah popularitasnya. Sikap ramahnya kepada semua orang, membuat para siswi cepat terpana. Ada juga yang menyamakan karakternya dengan Kevin yang sebelumnya popular. “Kayaknya, Dean adalah siswa paling popular dalam beberapa bulan terakhir ini ya?” bisik mereka. “Iya, apalagi dia lebih humble dan gak terlalu disegani.” Yang lain lagi menambahkan. “By the way, dia udah punya pacar belum ya? Dia sama Irene gak beneran pacaran kan? Kalau beneran, bakal susah sih menyaingi sejenisnya Irene,” tambah yang lain lagi. “Apa susahnya menyaingi Irene? Dean itu orangnya gampang jatuh cinta kok!” sosor Lani di tengah para siswi- siswi yang berisik- bisik soal Dean. “Lani? Kamu yang diisukan mantannya Dean itu kan?” tanya salah satu di antara mereka soal isu- isu tetangga yang menyebar. “Ya, benar! Dan asal kalian tau aja, sebenarnya Dean hanya menjadikan Irene sebagai pelampiasannya. Dean dulu sangat suka sama gue karena kepintaran dan kecantikan gue. Dia sengaja cari yang sama, untuk berusaha melupakan gue. And now, dia masih belum punya pacar karena pada faktanya dia belum move on!” jelas Lani dengan penuh kepercayaan diri. Percaya diri sih boleh, tapi jangan sampai memalukan diri sendiri sih. “Karena itu, loe bermasalah sama Irene?” tanya yang lainnya. “Irene duluan yang memulai semuanya. Kenapa? Karena dia itu cewek gaje tukang gantung. Dia itu sok cantik dan menggantung Dean sekaligus memanfaatkan Dean sebagai pelarian,” jawab Lani sengaja menjelekkan Irene di depan siswi- siswi lainnya. “Dean dijadiin pelarian? Ih, jahat banget si Irene itu ya? Dia pikir, dia secantik itu? Emang sih, dia itu pintar, tapi sombongnya gak ketulungan!” Mereka mulai membuat kesimpulan soal Irene dari kata- kata Lani. Gadis itu menyeringai karena sudah menambah jumlah orang yang tidak menyukai Irene. Sampai sekarang, meski Irene sudah menjaga jarak dengan Dean, Lani masih tetap cemburu. Karena kenyataannya, Dean terlihat masih menyukai Irene. Hal itu terlalu jelas dan benar- benar meyudutkan Lani. Tentu saja, dia tak terima soal ini. “Kyaaa!! Keren banget!!” Sorak- sorai para siswi dan beberapa cheerleader karena Dean memasukkan bola basket ke ringa dengan indah. Lani tersenyum tipis saat melihat Dean yang semakin hari semakin keren. ‘Dean, aku ingin semuanya kembali seperti dulu lagi. Saat yang ada hanya cerita kita!’ batin Lani seakan menuntut untuk bersama Dean.             Di luar ruangan, Irene dan Marsha berhenti sejenak karena mendengar sorak- sorai yang benar- benar ramai. Irene diam- diam memerhatikan Dean yang saat ini sedang memainkan bolanya dengan sangat konsenterasi. Gadis itu tersenyum tipis melihat cowok itu. Dan Marsha? Jelas dia melihat ekspresi Irene saat ini. Dia merasa, Irene memang memiliki perasaan untuk Dean walau berulang kali dia menyangkalnya.             Marsha memilih diam saja untuk semakin memerhatikan Irene. Dia sengaja menunggu supaya bisa menangkap basah Irene yang memerhatikan Dean main basket. Walau Dean baru popular, sepertinya Marsha tak berminat sama sekali untuk menyukai cowok itu. Kenapa? Pertama, Dean tak pernah membuatnya tertarik. Kedua, menyukai Dean hanya membuat sakit hati. Kenapa? Karena Dean sudah jelas- jelas menyukai Irene. “Irene!” panggil Dean dari dalam karena mendapati Irene sedang berada di luar ruangan. Gadis itu terkejut, karena Dean melihatnya di sini. Langsung saja, Irene menarik tangan Marsha untuk pergi ke kantin. Kenapa dia lari? Karena dia salah tingak tentu saja. Dan Dean? Dia kembali dibingungkan dengan reaksi Irene yang langsung pergi begitu saja. “Rene, loe suka sama Dean kan?” tanya Marsha sesampainya di kantin. “Paan sih? Loe gak jelas!” Irene masih saja menyangkal. “Susah banget bilang iya? Apa salahnya sih?” Marsha gak habis pikir dengan Irene yang masih terus menyangkal. “Apa gak lucu ya? Gue sepuluh tahun suka sama Kak Kevin dan dalam waktu yang singkat, gue suka sama cowok lain. Gue takut, ini hanya pelampiasan karena kak Kevin sempat nolak gue.” Irene beralasan selogis- loginya. “Iya juga ya? Kalau gitu, loe mesti mastiin perasan loe dulu deh. Tapi, menjauhi Dean kayak gitu, bisa bahaya loh! Dia sudah dikerumuni banyak cewek!” Marsha memberi peringatan. “Semua ada waktunya, Sha! Kalau pun, dia gak mau suka sama gue sekarang, gak rugi juga sih! Fokus gue adalah belajar dan belajar!” Irene berusaha mengembalikan fokusnya. Dia masih sekolah! Soal asmara memang belum pas untuknya saat ini. “Oke! Loe bener! Tapi, sakit banget sih kalau dia malah suka sama cewek lain,” ujar Marsha membenarkan irene, tapi sangat menyayangkan kalau Irene menunda- nunda. “Siapa yang tahu soal hari esok?” balas Irene sambil tersenyum seadanya. Karena baginya, biarlah waktu yang menjawab segalanya. Soal apa yang terjadi dalam kisah cintanya, ah bukan dia saja, tapi yang lain juga!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN