Partner Olimpiade

1638 Kata
Hari terus berjalan dan waktu terus berputar. Tanpa terasa, akhir dari tahun ajaran awal ini sudah sangat dekat. Di jam istirahat ini, Irene sedang berjalan menuju ruang guru. Sebelum bubar tadi, sang guru sudah memintanya untuk datang karena ada pemberitahuan soal hasil keputusan murid yang mewakili sekolah untuk olimpiade. Sebelum masuk, langkah Irene tiba- tiba berhenti. Dia terdiam sejenak karena teringat soal Dean. ‘Dean ikut olimpiade ini gak ya?’ pikirnya. Tak lama, dia langsung menggeleng cepat karena bingung soal pemikirannya. ‘Kenapa aku memikirkan dia sih? Fokus saja dengan apa yang ada di depanmu!’ Irene meneruskan laangkanya dan tanpa sengaja, dia bertabrakkan dengan seseorang. Ya, karena tadi fokusnya mulai kemana- mana sih. “Sorry!” Irene minta maaf sambil mendongak. Dia agak terkejut dengan siapa yang ada di depannya. “Irene? Loe kenapa melamun di depan ruang guru?” tanya Dean pada Irene yang masih kelihatan bingung dan terkejut. “Loe… kenapa di sini?” tanya Irene langsung mengalihkan perhatian dari Dean. Jantungnya saat ini berdebar tak karuan dan dia berusaha untuk tetap tenang. ‘Kenapa… malah Dean yang ada di depanku?’ rutuknya dalam hati. “Gue mau nemuin guru Fisika. Katanya, dia mau kasih tau petunjuk soal olimpiade,” jawab Dean santai. Irene kemudian mendongak dan melihat ke arah Dean karena tak percaya cowok itu bisa mengikuti olimpiade. Padahal, dia baru saja membuat kemajuan belakangan ini. “Baguslah kalau begitu. Gue juga sebenarnya sih,” balas Irene berusaha menenangkan detak jantungnya. Dean langsung tersenyum dan tanpa sadar menarik tangan Irene untuk masuk ke ruangan guru. ‘Kenapa… dia bisa sesantai ini? Kalau dia punya perasaan padaku, harusnya tak seperti ini kan? Perkataan Marsha soal Dean yang punya rasa ke aku, pasti hanya bohongan. Dean memang pada dasarnya baik ke semua orang,’ batin Irene dan dia masih diam di tempatnya. “Eh, sorry! Reflex soalnya. Hehehe…” cengir Dean langsung melepas tangan Irene. Gadis itu masih diam dan berjalan bersama Dean ke dalam ruang guru. Mereka berdua kini menemui guru Fisika untuk membhas soal olimpiade. “Kalian berdua, akan mewakili sekolah ini untuk mengikuti olimpiade. Sistemnya berbeda dengan olimpiade sebelumnya. Kalian harus memiliki partner yang bisa membantu untuk memberikan jawaban. Olimpiadenya bukan mengerjakan soal, tapi tanya jawab! Kalian berdua mengerti?” Sang guru memberikan instruksi mengenai olimpiade yang akan dilaksanakan Minggu ini. “Saya mengerti, Bu! Saya merasa beruntung deh, bisa bekerja sama langsung dengan juara umum di sekolah ini. Rasanya, seperti kemenangan ada di depan mata!” Dean langsung menunjukkan kesenangannya dan menatap Irene dengan tatapan lembut seperti biasanya.             Kalau dulu, Irene mungkin akan membalas tatapan itu. Sekarang, rasanya sulit sekali. Kalau dia melihat Dean yang seperti itu, dia seperti terkena tremor saja. Bukan berlebihan, tapi inilah yang tengah dirasakan Irene sekarang. Sungguh berbeda dengan cinta pertamanya. Dulu, dia tak ragu menatap Kevin dan sangat senang ketika cowok itu ada di sekitarnya. Dia senang juga sih, kalau Dean ada di dekatnya, hanya saja, debaran jantungnya tak bisa diajak berkompromi. “Irene? Kamu sakit? Kenapa diam saja, Nak?” tanya sang guru membuyarkan lamunan Irene. Jujur saja, dia bingung dengan Irene yang kini kelihatan sang gugup. Irene tak pernah seperti ini sebelumnya. “Bu- bukan apa- apa, Bu! Saya mengerti semua penjelasan ibu. Terima kasih ya!” Irene langsung menjawab sang guru dengan senyuman. Dean juga bingung sih, kenapa Irene bisa sampai seperti ini. Seperti ada yang salah aja. “Baiklah kalau begitu. Irene, tolong jaga kesehatan kamu ya.” Sang guru menyudahi pembicaraan mereka dan keduanya keluar dar ruang guru. Irene masih diam- diam memerhatikan Dean yang penampilannya mulai terlihat lebih rapi. “Irene! Loe tahu gak?” Dean tiba- tiba melihat ke arahnya dan mengejutkan Irene. ‘s**l! Bisa- bisanya dia sesantai ini?’ kesal Irene dalam hatinya. “Gak!” jawab Irene singkat, padat dan jelas. “Ih! Jutek amat kayak biasanya. Gak apa deh, yang penting aku suka! Loe tahu, gue senang banget bisa berpartner sama loe!” ujar Dean dengan nada santai tak lupa dengan senyumannya. Mendengar itu, Irene langsung berdebar lagi dan keringat dingin. Dia baper dengan perkatan Dean dan mulutnya seakan terkunci untuk membalas perkataan Dean. “Loe kenapa sih? Sakit ya? Keringat dingin kayak gini, pula!” Dean langsung menaruh tangannya di dahi Irene. Gadis itu langsung terbelalak dengan tindakan Dean yang begitu tiba- tiba. Irene langsung mendorong Dean menjauh dan berkacak pinggang. “Kamu maunya apa sih? Gak usah urusin orang!” kesal Irene berusaha galak walau dia gugup. Sebenarnya, orang galak itu karena menutupi kegugupannya. “Eh, loe manggil gue apa? Kamu? Sweet banget sih?” goda Dean lagi membuat Irene memerah. “Apaan sih, GR banget!” Irene terus menyangkal. Kalau dulu, dia santai saja dengan gombalan Dean. Sekarang, apa- apa sikit, langsung baperan aja. ‘Gak bener nih!’ Irene memang semakin yakin ada yang tidak benar dengan perasaannya. “GR juga gak salah! Kuy lah, ngantin bareng!” ajak Dean. “Gue… harus ke kelas!” Irene lagi- lagi berusaha menghindarinya. Gadis itu berlari ke kelasnya meninggalkan Dean yang bingung dengan perubahan sikapnya. ‘Ternyata, semuanya gak bisa kayak dulu lagi ya? Apa Irene udah tahu, kalau aku suka sama dia? Aku kan, gak pernah bilang apa- apa? Tapi, orang lain aja tahu, apa lagi dia!’ sesal Dean dalam hatinya karena merasa Irene sengaja menjauhinya karena menyadari perasaannya. Nah, Irene malah kebalikannya! Irene berusaha menjauhi Dean karena terlalu kikuk dan takut berharap. Salah paham kan!   Hari Olimpiade                     Olimpiade hari ini sudah berjalan dengan sangat baik. Dan hasilnya, Irene dan Dean akhirnya mengumpulkan poin paling banyak. Irene memang gugup kalau di dekat dean, tapi kalau sudah agak lama, rasanya bisa leih tenang. Apalagi, dia harus terus fokus denga olimpiade. Dan hebatnya lagi, Dean- lah yang lebih banyak menjawab pertanyaan sepanjang olimpiade. Irene memang terkejut dengan kemajuan luar biasa dari Dean yang langsung dilihatnya. “Juara utama Olimpiade Fisika kali ini, dianugerahkan kepada SMA NUSA BANGSA! Ayo, naik perwakilan dari sekolah ini!” Sang juri mengumumkan kemenangan mereka dan naiklah mereka untuk menerima thropy dan sertifikat. Memang sih, thropy-nya hanya satu. Dan Irene memutuskan untuk memberikannya untuk Dean saja. Lagian, dia sudah banyak thropy di rumahnya. Dan setelah acara ini selesai, Irene dan Dea berbincang- bincang sebentar sambil menunggu jemputan orang tuanya. “Gue terkejut! Loe keren banget!” puji Irene karena kekagumannya. “Gak usah terkejut! Gue saudaraan sama Albert Einstein, jadi yang beginian bukan hal yang sulit,” balas Dean kepedean seperti biasa. “Apaan sih? Kamu tetap gak berubah ya kepedeannya?” Irene sewot dengan sikap Dean yang belum berubah. “Sama kayak perasaan aku ke kamu, gak berubah! Eaa!” Dean menggombal lagi dan membuat Irene yang tadinya sudah sempat tenang, mengalami sport jantung lagi. Dasar Dean! “Apa lagi sih itu? Dasar aneh!” Irene cepat- cepat menepis. Dia merasa, Dean bisa mengatakan hal seperti ini kepada siapa saja karena memang sifatnya yang humoris dan suka bercanda. “Loe juga, kapan sih, berkurang galaknya? Kasihan anak kita nanti, mamanya galak amat!” Ternyata Dean belum berhenti gombalnya. Dean masih santai, tapi Irene semakin deg- degan. Dasar! “Si- siapa yang mau punya anak sama kamu. La- lagian masih SMA udah mikirin punya anak! Dasar aneh!” Irene membalas dengan sesantai mungkin walau diselipi kegugupan luar biasa. “Tau gak, Rene? Kalau nanti gue punya anak, gue mau kasih namanya Ramses, keren gak?” Dean malah makin menjadi- jadi. “Gak tau!” Irene bodo amat dengan pembahasan absurb Dean. Oh ayolah, Dean harus tahu, saat ini jantung Irene sedang gak nyantai! “Enaknya, punya anak yang pintar atau biasa aja ya? Kalau loe gimana?” Dean masih berusaha memancing Irene. “Ya, pintarlah! Gue harus memastikan anak gue mewarisi kepintaran gue!” Irene tanpa sadar menjawab dan mengikuti alur percakapan Dean. “Gak apa deh! Kan kita sama- sama pintar! Anak kita pasti pintar!” Dean semakin menggoda Irene dengan mengerling. Irene sudah kesal dan langsung saja mencubit lengan Dean denga kuat. “Aww! Sakit Rene!” Dean merintih kesakitan. “Jangan mikir macam- macam ya! Dasar orang aneh!” Irene benar- benar memasang wajah galak dan judes seperti sebelumnya. “O-oke, ampun Nyai!” Dean meminta ampun dengan wajah memelas. Irene berkacak pinggang  menatap galak pada Dean. ‘TIN- TIN!’ Ternyata itu adalah papanya Irene. “Gue balik duluan!” Irene langsung masuk ke mobil papanya meninggalkan Dean. Tapi, Dean malah ikut ke mobil Irene hanya untuk menyapa papanya Irene. “Halo, om! Sudah lama tak bersua ya!” sapa Dean sok akrab. “Halo juga, Dean! Gimana olimpiadenya? Juara berapa?” tanya Othman melihat thropy yang dipegang Dean. “Oh, baru juara satu kok, om!” jawab Dean santai. “Kalian berdua dapat juara satu?! Om gak percaya kamu bisa semaju ini! Hebat!” puji Othman dengan kemajuan pesat Dean. “Ini semua karena Irene kok, Om! Apalah saya yang hanya ampas tahu ini.” Dean merendah dan memuji Irene. “Bohong, Pa! Dia yang menjawab dan mengumpulkan poin terbanyak!” Irene langsung menyosor. “Beneran? Wah! Memang, anaknya Eddy dan Elly sangat keren! Kalau begini, om jadi teringat dengan papa kamu! Pertahankan prestasimu ya, Dean! Kalau begini kan, kamu bisa maju. Bisa om pertimbangkan nanti kalau kamu melamar Irene!” pujinya lagi sambil sedikit iseng. “Papa!” kesal Irene kala papanya mulai bercanda lagi. “Oke, om! Modalnya cuma jadi juara umum ya? Oke, saya akan sabet kejuaraan itu nantinya!” Dean langsung semangat mendengar ini. “Hahahaha! Okelah, kita balik dulu ya!” Othman tertawa sambil pamit. “Oke om! Dah, Irene!” Dean melambaikan tangannya pada Irene dengan senyuman manisnya. Seperginya Irene dan papanya, Dean kembali berjingkat senang seperti biasa. “Sepertinya, lampu hijau dari calon mertua sudah nyala!” gumamnya percaya diri luar biasa! Biasalah, Dean mah jangan ditanya kalau soal kepercayaan diri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN