Cinta Yang Pudar

1795 Kata
SMA NUSA BANGSA Ruang Guru “Dean, ibu ingin merekomendasikan kamu untuk mewakili kelas X-B untuk mengikuti olimpiade Fisika. Nilai kamu yang sekarang sangat baik, sepertinya memungkinkan untuk mengikuti olimpiade Nasional ini. Apa kamu bersedia?” tanya sang guru menawarkan Dean untuk mengikuti olimpiade tingkat nasional untuk pertama kalinya.             Bukan sulap, bukan sihir! Hanya saja, peningkatan nilai Dean selama beberapa bulan ini sangat mengejutkan. Guru- guru yang tak percaya, berulang kali melakukan pengujian pada Dean. Dan hasilnya, memang sekarang Dean sudah cukup jenius. Bukan berarti, Dean juga pintarnya tiba- tiba. Di sat dia mulai fokus belajar, dia bisa mengerti semua pelajaran dengan mudah. Dean masih sangat terniat untuk mengejar prestasinya, makanya itu dia terus maju. “Baiklah kalau begitu, Bu! Nanti saya akan belajar, supaya lulus dan maju ke Olimpiade!” Dean tentu saja menerima tawaran sang guru. Olimpiade adalah cara untuk menguji sudah berapa banyak ilmu yang dia pelajari selama beberapa bulan ini. Semenjak rajin belajar, Dean merasa puas dengan nilainya. Dia mulai merasa bangga bisa mengejakan tugas dan PR-nya tanpa menyalin punya temannya lagi. Tapi, dia tidak sombong! Dia dengan baik hatinya berbagi dengan teman sepergoblokannya dulu, yakni Jogi dan Marco. Dia adalah tipe yang setia kawan kok! “Baguslah kalau begitu! Tapi, ibu ingin kamu berpenampilan lebih rapi! Jangan suka buka- buka kancing kemeja kamu dan jangan suka mengeluarkan kemeja sekolahmu. Anak yang pintar dan rajin, harus berwibwa juga!” pesan sang guru sambil memerhatikan penampilan Dean yang kayak preman. Walau dia pintar, dia masih belum memerhatikan penampilannya. “Hehehe! Maaf ya, Bu! Nanti segera saya perbaiki!” Dean menyengir sambil memerhatikan penampilannya sendiri. “Oke, kamu bisa kembali!” Sang guru mengizinkannya keluar dari ruangannya. Dean langsung memberikan salam hormat da keluar dari ruang guru. Dia ke kamar mandi cowok sembari memerhatikan penampilannya. Dia memasukkan kemejanya dan mengancing kemejanya yang menampakkan kaus hitamnya. Tiba- tiba, dia teringat akan sesuatu. “Sorry kalau lancang! Tapi perhatikan sedikit penampilanmu.”             Momen pertemuan pertamanya dengan Irene. Di hari tahun ajaran dimulai dan disitulah, Dean merasakan cinta pada pandangan pertama. Irene adalah gadis yang pertama kali memerhatikan dirinya. Tanpa sadar, Dean tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Dia merasa senang walau hanya mengingatnya. Waktu terus berlalu, tapi mereka masih belum bicara sejak beberapa waktu . Ya, lebih tepatnya setelah dia nyaris menyatakan perasaannya. “Irene, aku rindu sama kamu,” gumamnya rendah penuh dengan kerinduan. Semua momen itu masih lengkap di memori seorang Dean.  Pria itu kembali memerhatikan penampilannya di cermin yang memang terlihat lebih baik kalau rapi. Dan sekarang, Dean ingin beranjak ke kantin. Hari ini, dia harus sendirian karena tadinya gak bisa samaan dengan yang lain.   Di Kantin             Irene sama sekali tak bernapsu dengan makanannya. Hari ini, dia duduk sendirian di kantin. Teman- temannya pada sibuk dengan kegiatan mereka masing- masing. Marsha sibuk di OSIS karena sekarang adalah masa transisi setelah tamatnya Kevin. Sekarang, mereka di bawah pimpinan ketua OSIS baru yang menjabat sementara. Yang lainnya, sedang sibuk dengan ekskul mereka masing- masing. Apalag daya, Irene tak terlalu tertarik dengan beberapa kegiatan tambahan itu.             Malah, di saat seperti ini, dia sangat ingin bertemu dengan Dean. Egonya masih belum runtuh juga. Dia masih mengeraskan hatinya untuk tak bertemu atau bicara duluan dengan Dean. Masih berharap, kalau Dean yang mendatanginya terlebih dahulu. Namanya juga perempuan, egonya memang ketinggian. “Irene!” Suara itu sontak mengalihkan perhatian Irene. Dia mendongak dan melihat Dean yang kini berada di hadapannya. Dia terkejut dan merasa kalau ini hanyalah khayalannya. Akhir- akhir ini, Irene memang sering berhalusinasi soal ini. Mungkin, karena terlalu memikirkan orang ini. “Oi!” Dean kembali menyadarkan Irene. Mendengar itu, Irene sadar kalau dia sekarang tak sedang berhalusinasi. Dia segera mengalihkan padangannya dan menyembunyikan keterkejutannya dari Dean. “Loe… gue pikir siapa,” ujar Irene dengan nada sok cool. “Memangnya, loe berharap siapa yang datang?” tanya Dean agak menyelidik. “Enggak kok. Gue agak terkejut aja karena lagi sendiri dari tadi, eh, tiba-tiba loe nyapa,” jawab Irene seadanya tetapi terus menyembunyikan perasaannya. Jujur sih, dia sangat senang karena harapannya langsung terkabul di saat itu juga. Seakan, kerinduannya selama ini benar- benar terbalas setelah beberapa waktu tak bertemu dengan orang ini. “Gue pikir, loe berharap Kak Kevin yang datang. Ngingatin aja sih, dia udah tamat,” kata Dean membuat Irene memberengut kesal. ‘Kenapa dia berpikir gitu sih? Mesti ya, aku bilang kalau aku enang dia ada di sini dan aku sedikit merindukannya? Ya kali!’ batin Irene kesal. Dean memang tengah salah paham saat ini. “Rene, akhir- akhir ini, kayaknya loe sombong banget ya?” tanya Dean. “Sombong? Enggak kok, loe aja yang terlalu sibuk karena baru popular,” elak Irene karena tak ingin Dean tahu dia memang sengaja menjaga jarak dengannya. “Gue gak sebodoh itu sih. Loe yang menghindar duluan. Kenapa?” Deaan tak bisa dikelabui begitu saja. “Gue gak menghindar! Gue hanya ingin tahu diri aja untuk saat ini. Akan repot kalau dekat dengan orang yang popular!” Irene masih menyangkal dan berusaha melemparkan semua ini kembali pada Dean. “Gue gak merasa sepopuler itu. Loe yang berlebihan menanggapinya, Rene.” Dean merasa Irene merasa berlebihan menganggapnya popular. Memang sih, dia mulai digandrungi oleh para siswi, walau tak sebanyak Kevin dulu. Hanya saja, Dean tak pernah mengabaikan Irene kalau gadis itu ingin bertemu dengannya. Bagi Dean, dibanding meladeni banyak gadis, lebih baik dia meladeni Irene saja. Gadis di hadapannya saat ini masihlah nomer satu di hatinya. “Gue gak mau mengalami hal yang sama seperti dulu. Kalau dekat dengan orang yang banyak penggemarnya, lama- kelamaan dia akan diabaikan dan yang tinggal hanyalah rasa kecewa. Gue… gak mau semuanya terulang lagi. Itu menyakitkan!” jawab Irene seadanya. Irene tak ingin perasaannya pada Dean terus tumbuh karena takut sakit hati. Sialnya, hatinya sama sekali tak bisa diatur! Di saat dia terus menyangkal perasaannya dengan menegaskan kalau dia masih menyukai Kevin, di saat itulah dia merasakan sesak. Sesak karena ketidakjujurannya sendiri. “Loe salah paham, Rene! Kayaknya, sikap loe berubah karena sengaja menjaga jarak dengan gue. Loe gak mau ada orang yang mengusik perasaanmu kepada Kak Kevin. Apa tebakan gue benar?” tebak Dean benar- benar sebuah kesalahpahaman. Irene membelalak sambil berdiri dari bangkunya. “Loe sama sekali gak mengerti apa- apa!” kesal Irene lalu meninggalkan Dean di kantin. Dean terdiam melihat kekesalan Irene. Dia tak tahu mau berekspresi seperti apa, karena sama sekali tak mengerti soal gadis itu. Dia merasa kalau Irene masih menjaga perasaannya pada Kevin, padahal Irene sudah mulai melabuhkan hati padanya.             Dean sudah berusaha keras menembus benteng pertahanan seorang Irene yang sudah dibangunnya sejak lama. Dan dia sudah berhasil! Dia bahkan sudah mulai menggantikan Kevin yang bertakhta di hati Irene. Dean belum menyadarinya dan Irene enggan mengakui ini. Keduanya kini terjerat dalam kesalahpahaman yang sepertinya akan semakin membuat keduanya saling berjarak. “Tidak! Gue belum nyerah! Gue bahkan belum menunjukkan keberhasilan gue sama loe, Rene! Gue akan buat loe bisa melupakan Kevin dan menyukai gue!” Dean masih bertekad. Dia belum menyerah walau agak kecewa. Perasaannya pada Irene sudah cukup dalam. Dulu, dia bisaa mendapatkan perempuan yang dia mau dengan mudahnya menyatakan cinta. Tapi, dalam kasus Irene, dia perlu berjuang bahkan harus sampai berubah. Dean memang sama sekali tak keberatan. Perubahan ini memang memberi dampak positif untuknya. Makanya itu, dia belum menyerah! Ini malah baru dimulai.   Kediaman Keluarga Hanendra “Ma, lusa Irene ingin mengantarkan kak Kevin sebelum berangkat ke Singapura untuk kuliah. Bolehkah?” Irene meminta izin pada orang tuanya. Saat ini, mereka sedang berada di meja makan untuk makan malam. “Kevin kuliah di Singapura ya? Hebat sekali ya! Papa sepertinya gak bisa mengantarkan kamu, deh. Soalnya, papa ada dinas keluar kota seminggu ini. Kamu sekalian aja ikut dengan keluarganya!” saran Ruth setelah memberikan izin untuk putrinya. “Gak masalah sih, Ma! Makasih untuk izinnya!” Irene berterima kasih untuk izin yang diberikan mamanya. Kalau mamanya yes, papanya juga yes pastinya. Soalnya, papanya juga ada di sini. “Kasihan ya, pangeran loe udah nyebrang ke luar negeri. Gak punya DOI lagi dong!” ledek Genie pada kakaknya itu. “Apaan sih? Gak usah lebay deh! dasar bocah ingusan!” kesal Irene pada adiknya yang sengaja meledeknya. “Jangan bertengkar! Masalah gini aja, langsung diperpanjang,” tegur Ruth kepada dua putrinya. “Irene sedih gak, kalau Kevin pergi keluar negeri?” tanya Othman dengan nada ingin tahu. “Ya… sedih sih, karena selama ini Irene selalu dekat dengan kak Kevin.” Irene menjawab seadanya. Tapi, Othman melihat ada sesuatu yang berubah dari cara bicara Irene soal Kevin. Putrinya ini dulu selalu menggebu- gebu dan penuh semangat setiap membahas soal Kevin. Tapi, sepertinya Irene sudah lebih santai menanggapinya. Othman sadar, ada yang berubah dari putrinya, tapi entah apa itu.   Beberapa hari kemudian… Di Bandara “Makasih ya, kamu sudah mau ikut ke sini! Kakak sangat senang!” Kevin berterima kasih pada Irene yang sudah datang ke sini, bahkan ikut dengan keluarganya. Kevin tadi sudah memeluk dan mengucapkan selamat tinggal pada papa dan mamanya. “Sama- sama kak! Irene sendirilah yang memang ingin ke sini. Hari ini, harus ada sebuah momen sebelum kakak pergi jauh ke negeri orang. Kakak jangan lupain Irene walau sudah di sana ya!” pesan Irene.             Kevin menatap Irene, lalu dia memeluk Irene. Tentu saja, gadis itu cukup terkejut! Bukan mereka saja, tapi kedua orang tua Kevin agak terkejut dengan putra semata wayang mereka yang memeluk Irene. Mereka tahu, Irene dan Kevin memang dekat sedari kecil. Hanya saja, mereka saat ini sudah beranjak remaja. Pastilah, ada perbedaan antara anak- anak dan remaja. “Mana mungkin kakak melupakan Irene! Kakak janji, sekembalinya dari sana, kakak akan mendatangi Irene terlebih dahulu!” Kevin mengucapkan sebuah janji. Irene  hanya mengangguk walau dia agak sesak karena pelukan Kevin yang begitu erat. “Ekheemm!! Nak, pesawat akan lepas landas sebentar lagi, lho!” tegur papanya Kevin sambil sedikit berdehem. “Kak, jangan sampai terlambat!” Irene berujar lagi dan Kevin akhirnya melepaskan pelukannya. Dia menatap Irene dan berkata lagi, “Kakak takkan terlambat lagi, Rene! Tidak akan pernah! Kakak tak mau menyesal lagi. Maka dari itu, tunggulah kakak pulang!”             Kevin menggenggam tangan Irene seakan menaruh harapan pada gadis itu. Irene terdiam merasa ada sebuah hal yang ingin disampaikan Kevin suatu hari nanti. Tapi, Irene takut kecewa lagi dan menganggap semua hanyalah harapan belaka. Perasaannya juga berbeda dan kini hatinya tidak pada Kevin lagi. Dia belum mengakuinya, tapi begitu jelas. “Kakak baik- baik di sana ya!” Irene berpesan sambil menyunggingkan senyum termanisnya. Akhirnya, Kevin melepas genggamannya sambil berjalan menuju ke dalam. Tak lupa, dia melambaikan tangannya dan dibalas oleh Irene dan orang tuanya. Kevin baru menyadari, ternyata dia menyukai Irene. Dia tak rela Irene bersama orang lain! Dia bahkan bertekad, untuk menyatakan semua perasaannya pada gadis itu suatu hari nanti!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN