Perpisahan Kakak Kelas

1661 Kata
Tanpa terasa, siswa- siswi kelas XII sudah menyelesaikan Ujian Nasional mereka. Syukurnya, semua angkatan tahun ini bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Perjuangan mereka selama tiga tahun di sekolah ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis. Sebagian besar diri mereka sudah mendapat beasiswa di berbagai PTN dan Universitas luar negeri. Namanya juga sekolah berbasis Internasional.             Tapi, sebelum mereka melangkahkan kaki ke jenjang Universitas, mereka semua memutuskan untuk membuat acara perpisahan. Mereka ingin membuat perpisahan yang bersejarah dalam mengenang perjuangan dan persahabatan mereka selama tiga tahun ini. Tentu saja, para guru dan adik kelas diundang dengan senang hati oleh angkatan ini. Dan rumor ini sudah menyebar ke seluruh sekolah. Pastilah, banyak adik kelas yang ingin menghadiri acara seperti ini. “Gue dengar ada Acara Perpisahan kakak kelas pekan ini, loe mau ikut, Dean?” tanya Marco mengetahui soal rumor ini. “Perpisahan? Hmm… mending gue nge- wibu di rumah sih,” balas Dean kelihatannya sama sekali tak berminat dengan acara seperti ini. Ada alasan kenapa dia gak mau datang ke sana. “Tumben? Prom kemarin, loe kelihatan semangat amat!” Marco heran dengan tanggapan Dean. “Prom kemarin wajib karena acara ulang tahun sekolah. Ini kan, gak wajib! Gak mengurangi nilai juga!” jawab Dean dengan wajah datarnya. “Oke- oke! By the way, loe perhatikan gak? Si Becca sekarang sibuk banget ya?” tanya Marco lagi sambil melihat ke arah bangku Becca yang udah kosong aja di jam istirahat. Biasanya, dia masih sempat bicara dengan mereka sebelum ke ruang OSIS. “Loe gak tahu ya, Becca sekarang adalah ketua OSIS sementara untuk melanjutkan masa jabatannya Kak Kevin,” jelas Marco diangguki oleh Dean dan Marco.             Ternyata, ada banyak kesibukan yang dilakukan para siswa/i di Semester ini. Ada yang sibuk di OSIS. Ada juga yang sibuk untuk acara perpisahan, dan lagi ada juga yang sibuk untuk mengejar nilainya. Kini, Dean sudah mulai memanjat untuk meraih nilai yang terbaik. Tekadnya masih sama, dia ingin mendapatkan juara umum supaya Irene bisa melihatnya. Walau akhir- akhir ini, sepertinya ada rentangan jarak di antara mereka. ‘Aku merindukanmu, Irene.’ Dean membatin sambil menutup matanya sejenak di jam istirahat.   Kantin             Irene kini bersama beberapa temannya di kantin. Mereka semua sibuk membicarakan soal gaun bagus yang akan mereka gunakan saat acara perpisahan kakak kelas nanti. Mereka semua ingin pansos dan ingin semakin mengenal beberapa kakak kelas mereka yang sedang popular di tahun ini. Sebenarnya, Irene kurang tertarik dengan acara ini. Dia tahu, ini adalah momen yang cocok untuk bertemu dengan Kevin lagi. Sayangnya, rasanya tak seistimewa dulu. Ada sedikit yang berubah. “Irene! Nanti kamu bawa pasangan?” tanya Marsha membuyarkan lamunan Irene. “Pasangan? Ini bukan prom deh! Kita dateng barengan aja deh!” saran Irene merasa kalau membawa pasangan itu seperti sudah memiliki orang spesial saja. Memang sih, Irene masih merasa Kevin spesial baginya. Hanya perasaannya saja! Kenyataannya, sepertinya ada sesuatu yang berubah di hati Irene. “Iya deh! Kasihan Irene nanti gak ada pasangannya! By the way, kamu gak niat ajak Dean, gitu?” saran salah satu temannya. “Dean? Kenapa harus dia? Aku sudah muak dengan gossip yang menyebar tempo hari!” kesal Irene kala mengingat bagaimana para siswi menggosipi dirinya kemarin. “Pengen deh ajak dia!” kata yang satunya lagi. Irene memerhatikan bagaimana mereka menganggap Dean yang saat ini sedang berada di taraf popular di antara para siswi. Rasanya dia tak suka, tapi dia tak tahu kenapa. Irene lebih memilih diam untuk saat ini.             Sesudah dari kantin, Irene tak langsung ke kelas. Dia memilih duduk di taman sekolah. Dia ingin merenungi tentang perasaannya yang sepertinya mulai ada yang salah. Semenjak dia menjauhi Dean, hidupnya terasa hampa. Dia ingin bertemu dan kembali berbincang dengan Dean. Tapi, entah kenapa rasanya sangat sulit hanya sekedar berkata ‘hai’ kepada cowok itu. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Semenjak perasaan lain menyerang keduanya, yang disebut sebagai cinta, maka di situ lah datang yang disebut sebagai ego. “Gue ini… kenapa ya?” Irene tak habis pikir kalau semuanya akan sejauh ini. Dia pikir, menjauhi Dean takkan berpengaruh apa- apa untuknya. Sialnya, semua ini sangat bahan terlalu berpengaruh padanya. Terkadang, konsenterasinya saat belajar sangat terganggu. ‘Gue yang duluan menjauhi dia, gue ingin semuanya kembali kayak dulu. Tapi, kenapa rasanya sangat sulit mengembalikan segalanya? Kalau waktu bisa diputar, gue gak akan melakukan hal bodoh itu!’ sesal Irene dalam hatinya. Beberapa hari kemudian… Acara Perpisahan Ballroom Hotel                                                                                   Kini, tibalah di hari yang sangat ditunggu- tunggu oleh para siswa/i tingkat akhir ataupun para adik kelas mereka. Acara perpisahan yang mewah ini memang sangat menyita perhatian seluruh sekolah. Wajar saja, kebanyakan dari lulusan tahun ini adalah anak- anak konglomerat. Semuanya terlihat sangat menikmati pesta mereka.             Irene dan beberapa temannya termasuk Marsha datang juga ke sini. Tapi, mereka semua langsung berbaur dengan yang lainnya dan tanpa sengaja meninggalkan Irene sendiri. Irene hanya bisa terdiam di tempat duduknya sambil melamun. Dalam hatinya, dia mengharapkan seseorang hadir dan membuang semua kebosanannya di sini.             Orang yang pernah bersamanya di acara Prom Night sebelumnya. Orang yang selalu membuatnya tertawa dan merasa nyaman. Orang yang berhasil membuatnya gelisah dan merasaa bersalah saat ini. Dean Alvaro, dialah orang yang sangat Irene temui di acara ini. Niatnya, dia memang ingin bertemu Kevin dan mengucapkan selamat. Sayangnya, sepertinya dia berharap lain. “Irene!” Suara yang sangat dikenal gadis itu membuatnya langsung mendongak. Dia bisa melihat kedatangan Kevin dengan tuxedo abu- abunya yang membuatnya kelihatan sangat rupawan. Ah, dari dulu memang sudah begitu. Tapi, anehnya Irene tak merasakan desiran seperti dulu. Dia tak merasa berdebar saat Kevin memanggil namanya sekarang. ‘Ada apa ini?’ herannya dalam hati. “Kamu sedang sendiri? Mana yang lain?” tanya Kevin sambil mengambil tempat duduk di depan Irene. “Mereka sibuk berbaur. Kakak tahu kan, Irene dari dulu memang suka menyendiri,” jawab Irene seadanya. Rasa bahagia yang selalu dirasakan Irene bersama Kevin dulu, kini sudah meluap entah kemana. Perasaan Irene sepertinya memang sudah mulai berubah. “Kita bicara di sana yuk! Di sini agak ribut. Ada beberapa hal yang ingin kakak bicarakan sama kamu,” ajak Kevin dan langsung diangguki oleh Irene.             Sesampainya di sana, Irene masih diam memandangi suasana kota dari atas sini. Dia sama sekali tak menatap Kevin penuh harap seperti dulu. Kevin sadar, adaa yang berbeda dengan Irene yang sekarang. Seakan, Irene sudah tak mengharapkan dirinya lagi dan kelihatan lebih supel aja. Irene bahkan lebih minim ekspresi saat ini. Biasanya, gadis itu akan selalu menampakkan raut kebahagiaannya jika bersama Kevin. ‘Kenapa, saat Irene seperti ini, aku merasa kesal ya?’ Kevin membatin sambil memperhatikan gadis itu diam –diam. “Irene, bagaimana dengan semester ini? Kamu kelihatannya sangat sibuk ya? Kita jarang bertemu walau satu sekolah. Kakak ingin meminta maaf karena tak bisa seperti harapan kamu, Rene. Sepertinya, kakak selalu mengabaikan kamu ya?” Kevin mengungkapkan rasa bersalahanya pada Irene. “Bukan masalah, kak. Kakak sendiri yang bilang kalau denga begitu, aku akan memiliki lebih banyak teman dan tak terus bergantung sama kakak. Irene juga tak kesal sama kakak hanya karena itu,” balas Irene dengan senyuman yang tulus pada Kevin. “Harusnya, tidak seperti ini ya?” ujar Kevin lagi. “Maksudnya?” Irene tak mengerti maksud ujaran Kevin. “Ada jarak yang merentangkan kita karena perasaan lain, selain pertemanan. Tak pernah ada hubungan pertemanan murni di antara cowok dan cewek. Salah satunya, pasti memiliki rasa yang disebut dengan cinta. Kakak juga merasa bersalah karena sudah menyakiti hatimu, Rene.” Kevin juga meminta maaf karena sudah menyakiti perasaan Irene tempo hari karena menolak Irene. Tapi sialnya, dia malah menyesali hal itu sekarang. Menyesal bukan karena menyakiti hari Irene saja. Dia menyesal karena hal itu membuat Irene menjauh darinya dengan sangat cepat. “Tak apa, kak. Benar kata kakak, untuk saat ini, prestasi adalah hal terpenting yang harus dikejar! Irene kembali fokus pada tujuan Irene sekolah, bukan untuk pacaran tapi untuk meraih mimpi. Dulu, impian Irene adalah selalu bersama kakak dan berusaha untuk pantas bersama kakak. Lucu saja kalau diingat lagi,” jawab Irene merasa kalau dulu sangat kekanakan. “Oh, jadi… perasaan kamu sepertinya sudah berubah ya?” tebak Kevin. “Berubah? Apa menurut kakak, perasaan seseorang bisaa berubah secepat itu?” tanya Irene meminta pendapat Kevin. Dia bukan mengiyakan atau menyangkal, hanya saja dia sedang ragu dengan perasaan dan hatinya yang menipu ini. “Kakak pernah bilang, suatu hari perasaan kamu akan berubah. Tapi, walau kakak gak ada nanti, kamu jangan pacaran dulu ya? Fokus dengan pelajaran dan raihlah mimpimu!” Kevin berpendapat sembari memberikan saran untuk menyemangati Irene. “Pacaran? Itu mungkin adalah hal terakhir yang Irene lakukan setelah menggapai semua cita- cita Irene. Kakak yang mengajarkan hal itu pada Irene. Kalau kita fokus pada cita- cita, maka cinta akan datang dengan sendirinya.” Irene membalas perkataan Kevin sambil mengangguki saran dari cowok itu.             Irene baru menyadari satu hal. Semua ini berubah ketika Kevin menolak perasaannya. Pemikirannya semakin panjang dan dirinya semakin berubah menuju kedewasaan. Dia pikir, kebersamaannya dengan Dean hanyalah pengalih dari kesedihannya. Sayangnya, kebersamaan itu seakan mengukir sebuah perasaan yang sama sekali tak pernah diinginkan oleh Irene. “Dan satu lagi, kakak harap kamu bisa ikut ke bandara di hari keberangkatan kakak ya! Minggu depan, kakak harus ke Singapura. Kakak mendapat beasiswa di sana.” Kevin menyampaikan satu hal lagi. Mendengar itu, Irene agak terkejut karena Kevin harus pergi jauh bukan untuk waktu yang sebentar. “Singapura? Kenapa secepat ini?” tanya Irene dengan perasaan agak sedih. Wajarlah, namanya juga Kevin adalah orang yang selalu ada dan menemaninya sejak kecil. “Banyak hal yang mesti di urus di sana! Seenggaknya, kakak bisa mengucapkan salam perpisahan ke kamu di hari itu,” pinta Kevin lagi. “Baiklah kak! Irene pasti datang ke sana!” Irene mengangguk cepat. Kevin tersenyum senang karena Irene mau mengantarkan keberangkatannya nanti. Kevin tak menyadari kalau dia sebenarnya tak hanya menganggap Irene sebagai adik, tapi ada rasa spesial yang tersirat. Sialnya, Kevin baru menyadarinya sekarang. Entah itu sudah terlambat atau tidak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN