Dean baru saja selesai latihan basket untuk hari ini. Dia memang anggota baru yang direkomendasikan guru Penjas-nya. Dia cukup pandai bermain bola basket, makanya dia bergabung di klub basket. Kedua temannya juga, yakni, Jogi dan Marco ikut masuk ke klub ini. Dean sebenarnya pengen cerita sama Irene. Hanya saja, kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu semakin menipis karena kesibukan mereka akhir- akhir ini.
‘Entah terlalu sibuk atau memang Irene yang kelihatannya jaga jarak sama gue,’ batin Dean sambil meneguk sebotol air mineral. Jogi kemudian duduk di sebelahnya sambil menawarkan sesuatu. Dean mengernyit melihat apa yang ditawarkan temannya itu.
“Ini di sekolah!” tegur Dean.
“Jam pelajaran udah selesai! Gak ada guru juga! Kakak kelas banyak yang begini kok!” balas Jogi masih menawarkan sebatang rokok pada Dean.
“Sejak kapan loe nyebat?” tanya Dean sambil memicing pada Jogi.
“Baru- baru ini, sih! Loe coba aja deh! Katanya, cowok yang gak nyebat itu banci!” jawab Jogi.
“Gak selalu gitu juga kok!” Sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya. Itu adalah senior mereka dan anggota kebanggaan di Klub Basket. Kevin Aldrich Kesuma.
“Eh? Maaf kak!” Jogi langsung menyembunyikan rokoknya karena panik. Kalau sudah di hadapan ketua OSIS, peraturan pasti akan selalu ditegakkan.
“Kakak maafkan kali ini! Jangan ulangi lagi!” Kevin memberikan peringatan untuk Jogi. Empunya hanya mangut- mangut menuruti Sang Ketua OSIS. Kemudian, perhatian Kevin berpaling ke Dean yang hanya diam sedari tadi.
“Dean Alvaro Wijaya!” panggil Kevin.
“Ya, kak?” Dean langsung menyahut.
“Mau main sebentar?” tanya Kevin sambil memantul- mantulkan bola basket.
“Boleh, sekalian latihan kak!” Dean mengiyakan dan berdiri untuk main basket berdua dengan Kevin. Ya, hanya berdua!
Keduanya terlihat sangat pandai saat beradu kemampuan mereka dalam permainan bola ini. Tanpa mereka sadari, beberapa siswi yang belum pulang mengintip keduanya yang sedang bermain. Mereka langsung kesem- sem sendiri melihat pesona kedua cowok ganteng yang sedang main basket itu. Dan di situ ada Irene juga. Dia diam- diam ke sini sebenarnya untuk melihat Dean, tapi kebetulan di sini ada Kevin dan malah rame pula.
“Kamu… suka sama Irene?” tanya Kevin dengan suara rendah sambil memainkan bolanya. Memang sengaja, supaya tak ada yang mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
“Kenapa kakak kepo?” balas Dean sambil merebut bola dari tangan Kevin lalu memasukkannya ke ring. Seusai itu, mereka bermain lagi dan Kevin masih ingin membicarakan beberapa hal lagi.
“Jangan ganggu dia!” Kevin memperingatkan.
“Kakak gak seharusnya bilang kayak gitu setelah menolaknya dan buat dia sedih!” jawab Dean masih berusaha mempertahankan permainan bolanya. Tak lama, Kevin berhasil merebut bola dan memasukkannya ke ring. Dia kemudian memegang bolanya sambil menepuk pundak Dean.
“Gak boleh ada yang buat Irene sedih!” katanya lagi membuat Dean mendecih.
“Makasih untuk permainannya, kak! Tapi, sebelum bicara tolong berkaca dulu ya!” ujar Dean dengan senyuman remehnya sambil berjalan mengambil tasnya. Mungkin, latihan dan permainan bersama Kevin sudah cukup untuk hari ini.
Sekeluarnya Dean dari ruang latihan basket, dia dikejutkan dengan keberadaan Irene di sini. Tatapan mereka bertemu dan keduanya membeku seketika. Dean langsung tersenyum ingin menyapa Irene. Tapi, gadis itu langsung berbalik dan lari dengan cepat sebelum Dean memanggil namanya. Tentu saja, Dean merasa bingung dengan sikap Irene belakangan ini.
‘Ada apa sebenarnya?’ Dean bertanya- tanya dalam hati.
“Dean! Kamu keren banget!” ujar salah satu siswi yang ada di situ.
“Kamu the next popular setelah kak Kevin lho!” tambah yang satunya lagi.
“Masa sih? By the way, gue buru- buru!” Dean sama sekali tak mengacuhkan siswi- siswi yang mengerumuninya dan berfokus untuk mengejar Irene. Kevin yang melihat semua itu merasa memang ada perasaan yang tak terjelaskan di antara mereka berdua.
Dean berusaha lari dan ternyata dia menemukan Irene di halaman depan sekolah. Tempat biasanya gadis itu menunggu jemputan papanya. Dean tak mau membuang kesempatan ini lagi! Dia ingin bicara dengan Irene soal alasan gadis itu seakan menjaga jarak dengannya.
“Irene! Loe kenapa sih belakangan ini?” tanya Dean yang kini sudah berada di sebelah Irene.
“Gue gak suka dekat- dekat sama loe!” balas Irene judes.
“Lah? Salah gue apa?” tanya Dean dengan nada terkejut. Irene tiba- tiba berkata dengan nada judes padanya.
“Loe bau dan keringatan!” jawab Irene membuat Dean mangut- mangut. Kemudian, cowok itu langsung jaga jarak satu meter dengan Irene.
“Udah! Gue gak dekat lagi kan? Baunya masih kecium gak?” tanya Dean dengan nada gak serius ke Irene. Dia gak sakit hati dibilang bau sama Irene. Itu wajar, karena dia baru aja keringetan main basket.
“Lain kali loe bawa handuk dan baju ganti!” saran Irene langsung diangguki mantap oleh Dean.
“Jadi… gue mau nanya sama loe. Apa alasannya loe kayak jaga jarak sama gue?” tanya Dean meminta penjelasan sama Irene.
“Perasaan loe aja kali!” jawab Irene tak mau jujur.
“Beneran? Tadi, kenapa loe menghindar pas gue mau manggil loe di depan ruang latihan basket?” tanya Dean lagi makin menuntut. Dia tahu, Irene memang sengaja, bukan sekedar perasaannya saja.
“Di sana rame banget! Nanti banyak yang mengira kita ada hubungan khusus. Gue gak suka aja,” jelas Irene kali ini agak jujur. Sebenarnya, Irene juga memang sengaja menjauhi Dean sih!
“Memangnya salah, kalau orang berpikir kita punya kedekatan khusus?” tanya Dean lagi.
“Salah! Karena gue merasa gak punya perasaan apapun sama loe! Lagian ya, loe sekarang udah popular. Loe gak butuh gue lagi! Banyak siswi lain yang mau jadi temen loe!” balas Irene.
Entahlah, tapi dia merasa sesak saat bilang ‘gak punya perasaan apapun’ sama Dean. Dia merasa ada yang janggal dengan dirinya sendiri. Dia tadinya ingin bicara sama Dean seusai cowok itu latihan basket. Tapi, melihat kepopuleran Dean saat ini, dia jadi takut. Dia takut kejadiannya akan sama seperti dengan Kevin dulu. Dia tak ingin seperti mengejar- ngejar Dean atau pun merasa pertemanan mereka istimewa. Irene hanya menjaga- jaga kalau seandainya Dean berubah seperti Kevin dulu. Dia tak ingin merasakan sakit hati yang sama lagi.
“Oke, gak masalah kalau loe gak punya perasaan apapun sama gue. Tapi, asal loe tahu, Rene! Di antara semuanya, cuma loe yang paling gue butuhkan! Bagi gue, loe adalah yang terpenting!” Dean menandaskan kalau dia membutuhkan Irene dan posisi Irene bagi dirinya.
“Kenapa gitu?” Irene berusaha mencari tahu maksud perkataan Dean.
‘Apa ini saatnya gue kasih tau perasaan gue ke Irene?’ Dean membatin.
“Karena gue…”
“Irene! Kebetulan tugas kakak di OSIS sudah kelar. Hari ini, kamu mau kakak antarkan pulang atau kamu dijemput?” Kevin nyosor begitu saja dengan hadir di antara keduanya. Dean langsung menatap sinis pada Kevin yang mengganggu momennya bersama Irene.
“Kok tumben kak? Irene selalu dijemput sama papa kok!” tolak Irene halus. Dia sudah tak ingin diperlakukan istimewa lagi oleh Kevin. Dia tak mau melambung tinggi seperti dulu kemudian jatuh lagi. Rasanya sangat sesak. Kini, Irene bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya layak untuk diperjuangkan.
“Begitu ya? Dah lama juga ya kakak gak berkunjung ke rumah kamu. Jadi kangen deh!” Kevin bicara sambil tersenyum manis pada Irene.
“Irene juga kangen saat- saat itu kak,” balas Irene. Tapi, diam- diam Irene memerhatikan perubahan wajah Dean yang hanya diam saja. Dean jelas- jelas tak suka akan kehadiran Kevin di sini.
“Kakak boleh pulang duluan! Irene ada yang perlu dibicarakan sama Dean.” Irene menyuruh Kevin pulang seakan mengusirnya secara halus. Kevin hanya tersenyum sebagai tanggapan karena sangat peka dengan maksud Irene saat ini.
“Oke lah kalau begitu! Kamu belajar yang semangat ya. Kakak balik ya, Rene!” pamit Kevin diangguki oleh Irene.
Seperginya Kevin, hanya tinggal Dean dan Irene di sini. Mereka masih terdiam selama beberapa saat. Jujur saja, Irene penasaran dengan apa yang hendak disampaikan Dean tadi. Dia merasa harus tahu apa yang membuat dirinya begitu penting bagi Dean. Jujur sih, dia senang mendapat pengakuan demikian dari Dean.
“Loe boleh lanjutkan yang tadi,” pinta Irene membuat Dean jadi menggaru- garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus melanjutkan yang tadi atau tidak.
“Gue akan lanjutkan yang tadi, tapi loe mesti jawab pertanyaan gue dulu!” Dean balik meminta.
“Apa?” Irene ingin tahu apa yang ingin Dean tanyakan padanya.
“Gue harap kejujuran loe, Rene! Gimana pun, kita adalah teman. Sekecil apa pun kejujuran loe, gue hargai. Jadi, udah berapa lama loe suka sama kak Kevin?” tanya Dean membuat Irene terdiam.
“Sejak… gue berumur enam tahun. Udah sepuluh tahun perasaan gue terpendam hanya untuk dia.” Irene jujur.
“Apa pernah ada yang menggantikan dia selama ini?” tanya Dean lagi.
“Bukannya udah gue bilang perasaan gue cuma hanya untuk Kak Kevin? Apa masih belum jelas?” Irene makin menandaskan. Dean jadi merasa miris mendengar semua ini. Padahal, dia yang meminta kejujuran Irene. Tapi, setelah gadis itu jujur, dia malah merasa sakit hati dan potek lagi.
“Apa loe mau buka hati, seandainya ada yang suka sama loe?” tanya Dean membuat Irene terkejut mendengarnya. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Dia masih terdiam karena bingung.
‘TIN- TIN!’ Klakson mobil papanya Irene mengalihkan perhatian keduanya. Irene langsung berlari ke arah mobil papanya tanpa menjawab pertanyaan Dean. Meninggalkan cowok itu dalam keadaan bingung.
“Itu Dean kenapa?” tanya Othman melihat Dean yang terdiam. Biasanya, anak itu agak rewel, jadi papanya Irene heran.
“Gak apa, pa. Kita langsung pulang aja, yuk! Irene mengantuk,” pinta Irene hanya diangguki oleh papanya.
Di sepanjang jalan, Irene sama sekali tak bisa berhenti memikirkan maksud pertanyaan Dean. Dia juga gak tahu mau jawab apa. Selama ini, setiap ada cowok yang menyatakan perasaan padaya, maka dia akan langsung menolaknya. Dean memang tak menyatakan perasaan padanya. Hanya saja, Irene tak tahu bisa membuka hatinya pada orang lain untuk saat ini. Walau begitu, Irene tak rela kalau dia harus kehilangan Dean.
‘Aku… kenapa jadi egois seperti ini sih?’ Irene bertanya- tanya dalam hatinya. Perasaan lain mulai datang di dalam hatinya.
Memang, tak ada yang namanya pertemanan murni di antara pria dan wanita. Salah satu atau keduanya pasti menyimpan sebuah perasaan. Memang benar, Dean menyukai Irene. Itu sangat bahkan terlalu jelas. Di pihak Irene? Dia bukan robot yang tidak punya perasaan. Kebersamaannya dengan Dean selama ini sangat berarti untuknya. Dia tak rela kalau Dean harus pergi begitu saja. Dia gak rela kalau ada orang lain yang dekat dengan Dean. Itu namanya cinta. Tapi, Irene bukannya tak sadar, dia menyangkalnya.
‘Tidak mungkin!’ sangkalnya dalam hati.