Kelas X- B
“Ibu sangat terkesan dengan nilai ulanganmu kali ini, Dean? Kamu nyontek sama siapa?” tanya guru Fisika soal ulangan Dean.
Selama ini, nilai tugas Fisika Dean memang cukup bagus. Belakangan, dia tahu kalau Dean dibantu oleh Becca yang memang murid berprestasi di kelas ini. Kalau nilai ujiannya Dean, sama sekali tak seperti nilai tugas sehari- harinya. Jelas saja, sang guru heran dengan hasilnya kali ini. Setahunya, dia selalu melakukan pengawasan ketat setiap ulangan. Dan murid- murid yang suka mencontek seperti Dean selalu menjadi sasaran utama.
“Dean gak nyontek, Bu! Dean kan anak baik,” jawab Dean santai membuat sang guru memicing. Dia masih tak yakin kalau anak ini bisa tiba- tiba pintar.
“Bagaimanaa kalau sepulang sekolah, kamu ke kantor ibu dan nanti kamu kerjakan ulang soalnya di depan ibu?” tantang sang guru.
“Ibu gak percaya ya? Ya sudah, bukan masalah.” Dean sama sekali tidak takut. Semenjak dia memerhatikan penjelasan guru dan rajin mencatat, ternyata semua pelajaran tak terlalu sulit. Dia baru sadar, ternyata otaknya tak sebodoh yang dia kira.
“Baguslah! Kita lanjut dulu pelajarannya.” Guru itu langsung melanjutkan pelajaran setelah membagikan nilai ulangan para murid di kelas B.
Tak terasa, tahun ajaran ini sudah tinggal beberapa bulan lagi. Anak kelas X akan segera naik ke kelas XI, kelas XI akan naik kelas XII dan ini adalah tahun terakhir untuk siswa/i kelas XII. Bagi Dean, semuanya sangat terasa begitu cepat. Sambil mencatat, dia tersenyum tipis teringat bagaimana awal masuk dia ke sekolah ini dan awal pertemuannya dengan Irene. Semua momen bersama Irene terangkum di otaknya dengan jelas.
Dia sangat bersyukur mengenal Irene. Karena gadis itu, dia jadi mengerti soal pentingnya mengejar prestasi di saat seperti ini. Dia memberikan motivasi pada Dean sehingga cowok itu ingin mengejar dan menjadi setara denganna. Dean ingin agar Irene bisa menganggapnya layak untuk bersanding dengannya. Walau niat awalnya begitu, belakangan Dean menyadari kalau semua ilmu yang dia pelajari saat ini akan sangat penting untuk masa depannya. Dia juga ingin punya masa depan yang terjamin.
‘Gue gak mengira kalau gue bisa jadi seperti ini karena Irene,’ batin Dean tersenyum bahagia.
‘Hahh! Jadi kangen sama dia! Udah berapa lama gak jumpa sama dia ya?’ Dean kepikiran lagi. Dia teringat kalau sudah sebulan lebih mereka tak berkomunikasi. Dean akhir- akhir ini memang sudah lebih cepat pulang karena ingin menyelesaikan PR-nya dan belajar. Tapi lucunya, mereka satu sekolah tapi gak pernah saling menyapa seperti dulu lagi.
‘Kok rasanya ada yang aneh ya?’ pikir Dean lagi sambil menulis catatannya. Fokusnya mulai terbagi ketika memikirkan hal ini. Tapi, dia berusaha fokus kembali supaya dia bisa menangkap elajaran kali ini dengan baik.
Dulunya Dean gak pernah peduli soal guru yang menjelaskan di depan. Dia kerjanya hanya menggambari di buku dan tak pernah mencatat. Kalau ada tugas, dia akan cari di internet dan tinggal salin. Kalau lupa, dia minta tolong sama temannya seperti Becca. Sungguh perubahan total dalam beberapa bulan. Semua guru dan teman sekelasnya berhasil dibuatnya kagum. Bahkaan Irene mengagumi kemajuannya.
“Baiklah anak- anak! Jangan lupa kerjakan tugas di halaman 125 ya! Jangan lupa kalu kita ada praktek Minggu depan. Sampai jumpa!” pamit sang guru karena jam pelajarannya sudah selesai. Sekeluarnya ibu guru Fisika itu, semua murid bernapas lega karena ini juga adalah jam istirahat.
“Apa aku cek langsung ke kelasnya aja ya?” gumam Dean pelan. Dia langsung berdiri dan keluar dari kelasnya. Dia berjalan ke kelas sebelah untuk melihat Irene. Dan ternyata, dia langsung bertemu dengan gadis itu sebelum sampai ke kelas X-A.
“Irene! Nice to meet you!” sapa Dean dengan senyuman manis seperti biasanya.
“Oh, Dean! So Sorry, tapi gue buru- buru!” Irene langsung cabut gitu aja dan berjalan cepat menjauh darinya. Dean berbalik melihat Irene yang menyusuli beberapa teman perempuannya untuk pergi ke arah kantin. Dean merasa benar- benar diacuhkan saat ini. Padahal selama ini, Irene akan selalu meluangkan waktunya untuk bicara dengan Dean.
‘Kok sesak ya?’ Dean merasa dadanya sesak melihat Irene yang mulai seperti menjauhinya.
“Dean kan?” Dana menyapa Dean yang kebetulan berdiri dekat kelasnya.
“Eh, iya! Loe Dana kan!” sahut Dean sambil tersenyum pada Dana.
“Ada yang mau aku bilang sama kamu soal Irene. Dia adalah teman SMP-ku. Aku tahu, kamu sepertinya memerhatikan dia.” Dana berucap membuat Dean tentu saja penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Dana.
“Kita… bicaranya di mana?” tanya Dean.
“Di sana aja!” Dana menunjuk sebuah bangku di taman sekolah. Langsung saja Dean mengangguk dan mereka berdua beranjak ke sana.
“Sejak kapan kamu suka sama Irene?” tanya Dana membuka percakapan dengan Dean.
“Kenapa loe kepo? Loe juga sempat ya suka sama Irene?” Dean malah nanya balik karena merasa Dana agak kepo soal urusan pribadinya.
“Bukan gitu! Hanya saja, Irene itu sudah seperti mengunci hatinya pada seseorang. Dulu di SMP banyak juga yang suka sama dia. Tapi, dia selalu menolak dan langsung bersikap dingin kepada cowok yang terang- terangan menyukainya. Kalau aku sih, gak pernah ada rasa yang begitu pada Irene. Dari penilaianku, Irene seakan tak mau dipalingkan dari tujuannya. Dan sudah sangat jela, dia menyukai ketua OSIS di sekolah ini,” jelas Dana soal Irene dari sudut pandangnya.
“Untuk apa loe ngasih tau ini ke gue?” tanya Dean soal maksud Dana.
“Aku sudah anggap kamu sebagai teman. Jadi, aku akan memberi tahu apa yang sebaiknya harus kamu lakukan. Ya, walau hanya teman satu sekolah sih!” jawab Dana seadanya.
“Jadi… apa yang harus gue lakukan?” tanya Dean meminta sarannya Dana.
“Ikuti aja permainan Irene! Sekarang ini, dia sedang jaga jarak sama kamu. Kalau memang kedekatan kalian selama ini bermakna baginya, maka dia yang akan cari kamu terlebih dahulu!” Dana memberi saran yang cukup efektif sebenarnya. Tapi Dean tahu, cara seperti itu terlalu beresiko. Ya, beresiko mengetahui kebenaran kalau Irene benar menganggapnya istimewa atau tidak. Kebenaran kalau Irene tak menganggapnya seistimewa itu pasti akan membuat Dean putus asa.
“Jadi, kalau dia sama sekali gak ada rasa sama gue, dia gak bakal nyari gue? Artinya, gue juga harus mundur?” tanya Dean lagi.
“Sakitnya sih gitu.” Dana menjawab sambil mengangguk.
“Sakit sih! Tapi, lebih baik seperti itu, daripada nantinya kecewa! Padahal, gue belum nyatain perasaan sama Irene. Tapi, rasanya kayak udah ditolak aja ya?” miris Dean.
“Jangan miris dulu! Siapa yang tahu kedepannya. Lebih baik, kamu coba aja jaga jarak sama Irene! Aku yakin, Irene duluan yang akan mencarimu lagi!” Dana mencoba menyemangati Dean.
“Kenapa loe yakin?” Dean mempertanyakan keyakinan Dana.
“Karena Irene sepertinya memiliki rasa terpendam sama loe!” jawab Dana lalu berdiri dan beranjak meninggalkan Dean yang masih duduk di kursinya. Dia masih bingung dengan maksud Dana. Dia mencoba mencerna dan mengingat semua momen kebersamaannya bersama Irene.
‘Apa iya, Irene menganggap gue istimewa?’ pikir Dean.
Di sisi lain…
Ruang OSIS
“Becca, dua bulan lagi, kakak akan lulus. Kakak akan rekomendasi kamu ke kepala sekolah untuk jadi ketua OSIS berikutnya. Kamu mau?” tawar Kevin yang saat ini sedang bicara empat mata dengan Becca.
“Kenapa saya, kak?” tanya Becca merasa dirinya belum layak dengan posisi sebagai ketua OSIS di sekolah ini. Apalagi, dia masih berad di kelas X.
“Karena kamu sangat berdedikasi! Kakak akan merasa sangat kecewa kalau kamu tidak mau. Seenggaknya, hanya menyambung sampai pemilihan ketua OSIS untuk tahun ajaran baru,” bujuk Kevin lagi. Dia memang merasa Rebecca punya kemampuan memimpin yang baik. Kualitasnya sudah teruji selama dia menjadi sekretaris di OSIS.
“Tapi, bagaimana dengan tanggapan yang lain?” tanya Becca merasa gak enak dengan beberapa seniornya di OSIS dan anggota lainnya.
“Kakak akan jelaskan dan mereka pasti mengerti! Yang kakak butuh adalah jawaban kamu, ya atau tidak.” Kevin menjawab sambil agak menuntut jawaban Becca.
“Tentu saja, saya takkan menolak kalau ditawari tanggung jawab apapun, kak. Saya pasti terima,” jawab Becca mengiyakan membuat Kevin tersenyum padanya. Cowok itu reflex menepuk pundak Becca karena senangnya.
“Kalau begini, kakak merasa sangat lega! Baiklah, kakak harus latihan basket dulu untuk lomba terakhir kakak di sekolah ini. Makasih ya, Becca!” Kevin pamit tak lupa berterima kasih pada Becca yang sudah mau mengemban tanggung jawab sebagai ketua OSIS berikutnya. Ya, walau Becca belum bisa mewakili sekolah ini melalui olimpiade, dia bisa mengukir nama baik sebagai anggota OSIS yang bisa menjadi teladan siswa/i di sekolah ini.
Di kantin…
Irene kini bersama beberapa temannya sambil menyantap makanan mereka. Teman- temannya bercerita, tapi Irene hanya tersenyum menanggapinya. Dia tak terlalu tertarik dengan pembahasan teman- temannya soal sosial media atau bias Korea mereka. Irene memang suka Drama Korea, tapi dia bukan tipe fans fanantik. Marsha juga terlihat saangat supel dan nyambung aja kalau bicara dengan mereka. Di saat seperti ini, Irene jadi teringat soal Dean.
Dia teringat, bagaimana Dean yang berusaha mencari topik pembicaraan untuk mereka. Berusaha membuatnya tersenyum dan tertawa, serta memberikan kenyamanan baginya. Hal itu tak tergantikan bagi Irene. Walau di sini ramai dengan teman- temannya, dia merasa kesepian. Waktu bersama Dean, dia sama sekali tak pernah merasa seperti ini. Irene merasa ada yang aneh dengan dirinya.
‘Apa yang kurasakan ini?’ batin Irene mulai merasakan kerinduan akan sosok Dean yang memang sengaja dia jauhi belakangan ini.
“Irene? Kamu kenapa melamun?” tanya Marsha melambaikan tangannya di depan wajah Irene.
“Eh? Aku… hanya kepikiran soal ulangan tadi! Aku memikirkan, apa jawabanku benar semua apa enggak!” bohong Irene sebagai jawaban kepada teman- temannya.
“Oh! Kalau juara umum memang beda ya lamunannya? Biasanya sih, kalau cewek melamun, dia memikirkan seseorang!” balas salah seorang temannya membuat Irene merasa tertohok. Kenapa? Karena jawabannya sangat tepat.
“Hahahaha! Kalau gue sih begitu! Irene memang beda sih!” tambah Marsha.
“Eh, tapi beneran gak sih, kamu pacaran sama Dean?” tanya temannya satu lagi.
“Gue gak mau pacaran pas sekolah. Kita hanya temenan biasa. Kedekatan kita emang terlalu mencolok ya?” tanya Irene.
“Iya!” jawab dua teman lainnya selain Marsha tentunya.
“Tapi, kita gak segitunya kok! Sekarag gak begitu lagi kan?” Irene bertanya memastikan.
“Baguslah kalau begitu, Rene. Sebenarnya, aku suka loh sama dia. Dia itu sekarang mulai keren. Kamu tahu gak, dia bahkan ikut ekskul basket kayak kak Kevin loh!” ujar salah satu temannya.
“Aku baru tahu.” Irene menanggapi.
“Baru sebulan ini sih!” Marsha memberi sedikit penjelasan.
“Oh, begitu ya.” Irene hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan.
“Tapi, kalau semakin dia popular, makin banyak saingan ya? Beruntung banget Lani dulu pernah pacaran sama Dean waktu SMP,” tambah temannya lagi membuat Irene tanpa sadar meremas roknya. Dia gak mau mendengar soal ini. Rasanya, akan ada yang membuat dirinya semakin jauh lagi dengan Dean dan dia sama sekali tak rela. Tapi kenapa?