Irene sampai di rumah dengan perasaan yang sangat kacau. Setelah sekian lama mengalihkan perhatiannya dari cinta, dia kembali diingatkan dengan perasaan itu lagi. Dibandingkan bahagia, Irene lebih lama merasakan sedih dan kecewa. DIa pulang cukup larut dan kini hanya sang ibu yang masih terbangun. “ Kamu pulang dianterin Kevin?” Itulah pertanyaan pertama yang diberikan Ruth kepada putrinya sebagai sambutan. “ Tidak, Ma. Aku pulang sendiri.” Irene menjawab sambil melangkah ke dapur. Gadis cantik yang sudah bertumbuh dewasa itu menuangkan segelas air lalu meneguknya dengan cepat. Setelah dia menghabiskan segelas, dia melakukannya sekali lagi untuk membuang segala perasaan kesalnya. Melihat itu, Ruth sangat prihatin hingga menarik Irene ke dalam pelukannya. “Apa yang terjadi, Sayang?” tan

