Hazig sedang memeriksa dokumen sebanyak 50 halaman dari manajer keuangan. Ia masih betah di kursi kerjanya padahal sudah masuk waktu istirahat. Setelah memeriksanya dengan teliti, ia pun membubuhkan tanda tangannya dan meminta sekretarisnya untuk mengembalikan dokumen itu. Ia melepas kacamatanya dan memijat pelan keningnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Tampak nama kontak Keyra di layar benda pipih itu.
"Halo, Key!"
"Kakakku sayang, jemput dong di kampus!"
"Kenapa gak naik mobil, sih?"
"Lagi malas bawa mobil, Kak! Aku tadi diantar Pak Yana."
"Ya udah, telepon Pak Yana aja!"
"Ih, aku punya Kakak kok gak peka banget sih! Aku tuh mau jalan sama Kakak!"
Hazig menjauhkan telingannya dari ponselnya karena teriakan Keyra.
"Gak usah teriak-teriak napa!" ketus Hazig.
"Ayolah, Kak! Please!"
"Oke! Yang penting kamu mau nunggu sampai Kakak selesai meeting sore nanti. Gimana?"
"Yes! Oke, Kakakku sayang! Aku tunggu sekarang!"
"Keyra minta dijemput. Apa gue bakal ketemu sama dosen cantik itu ya?" gumam Hazig.
Hazig tersenyum saat mengingat dosen Keyra yang cantik, tetapi terlihat tak tersentuh itu.
"Hah ... Dosen itu udah bikin aku susah tidur akhir-akhir ini," keluhnya.
Hazig segera mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya, lalu melangkah keluar menuju parkiran khusus petinggi perusahaan. Sesampainya di parkiran, ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor menuju kampus tempat adiknya menuntut ilmu.
***
Nayyara baru saja tiba di ruang kerjanya dan duduk di kursinya. Ia melepas kacamatanya karena merasa pusing. Ia meregangkan ototnya sejenak karena lelah mengajar di dua kelas ditambah menghadapi dua mahasiswa bimbingannya yang akan sidang skripsi dua hari lagi. Ia melirik jam di ponselnya. Karena sudah waktunya istirahat, ia pun segera keluar dari ruangannya menuju kantin yang tidak jauh dari gedung fakultas tempat ia mengajar.
Saat memasuki kantin, ia melihat Keyra dan Hazig duduk di dekat pintu. Keyra yang juga melihatnya segera memanggil dirinya.
"Bu Nay! Duduk di sini aja! Udah gak ada tempat kosong soalnya."
Nayyara melihat ke setiap sudut kantin dan memang tak ada lagi tempat kosong. Meskipun ia enggan berada satu meja dengan saudara laki-laki mahasiswinya itu, ia pun mengangguk. "Oke!"
Nayyara duduk tepat di depan Hazig. Hazig menatap dirinya tak berkedip. Sang dosen yang ditatap seperti itu malah menaikkan alisnya sebelah seolah berkata 'ada apa?', tetapi Hazig malah mengedipkan matanya sebelah.
Dasar buaya gila! Dia pikir aku tidak tahu dia itu siapa.
Nayyara tahu siapa Hazig karena semalam Rafa menceritakan kolega bisnisnya yang usianya lebih tua dari Rafa, tetapi hubungan mereka sangat akrab layaknya seorang sahabat. Saat Rafa menyebutkan nama Hazig, ia mengernyitkan keningnya.
"Hazig? Aku sepertinya pernah mendengar nama itu. Siapa nama lengkapnya?" tanya Nayyara.
Apa jangan-jangan kakaknya Keyra?
"Hazig Sharim Maqil, Kak. Kakak kenal?"
Benar, dia kakaknya Keyra. Nama belakang Keyra juga Maqil.
"Dia saudara mahasiswiku," jawab Nayyara datar.
"Wah, mahasiswi Kakak banyak yang jomlo, ya? Kenalin dong!" seru Rafa.
Nayyara memukul kening Rafa dengan pulpen di tangannya.
"Kak, sakit tahu! Nanti memar lagi!"
"Lebay! Dijitak pelan pake pulpen gak bakalan bikin memar!"
"Dicium dong, Kak biar gak sakit!" goda Rafa.
Nayyara malah menepuk jidatnya.
Astagfirullah! Dulu sih aku pengen punya adik. Sekalinya punya adik, kelakuannya ajaib banget!
"Eh kak! Serius Kakak kenal Hazig?"
"Hanya tahu. Ketemu aja baru sekali," ungkap Nayyara.
"Oh, ya? Di mana?"
"Di mal. Pas aku jalan sama adiknya."
"Wah, kalian lagi pendekatan, ya? Saranku nih ya, mending jangan sama Hazig deh!"
Nayyara mengernyitkan keningnya.
"Kak, Hazig itu suka tebar pesona sama cewek-cewek di luar. Di kantor aja sok cool, jaga wibawa sebagai CEO. Eh, di luar sering kencan sama cewek, malah sampai one night stand segala. Kami memang akrab, tapi sebaiknya Kakak jangan sama dia! Nanti Kakak sakit hati!"
Nayyara tersentak saat keningnya dipukul pelan pakai sendok oleh Hazig. Ia membalas dengan tatapan tajamnya.
Hazig tersenyum geli. "Dari tadi kamu ditanya mau pesan apa, kamu malah melamun!"
Nayyara mengembalikan ekspresinya menjadi datar, lalu tersenyum ramah pada pelayan kantin.
"Gado-gado dan es teh manis ya, Mbak. Gado-gadonya jangan terlalu pedas!"
"Oke, Mbak! Ditunggu ya!"
Nayyara kembali menatap tajam Hazig. Yang ditatap malah tersenyum lebar.
"Makanya jangan melamun kalau yang kamu lamunin ada di depan kamu!" tutur Hazig dengan penuh percaya diri.
Nayyara malah melotot dan hal itu membuat Hazig tersenyum menang.
Ish! Kenapa tebakannya benar sih!
Keyra yang melihat tingkah jahil kakaknya langsung mencubit pipi kanan Hazig.
"Sakit, Keyra!"
"Kakak tuh jahil banget sih! Sama dosenku pula!" gerutu Keyra.
Gadis itu pun tersenyum tak enak pada dosennya. "Maaf ya, Bu! Tingkah kakak saya ini rada absurd. Biasanya dia gak kaya gitu lho, Bu!"
Nayyara hanya tersenyum tipis. Hazig malah menatapnya bingung.
Emang benar, ya dia gak nyaman sama aku? Kalau cewek-cewek lain mah malah klepek-klepek aku gituin. Nayyara sih cantik walaupun ekspresinya kayak kulkas. Gimana kalau senyum, ya?
"Kakak! Ya, malah dia yang melamun!"
Tak!
Giliran Keyra yang memukul kening kakaknya pakai sendok.
"Keyra! Demen banget sih nyiksa Kakak!" pekik Hazig.
"Syukurin!" ledek Keyra.
Nayyara tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kakak-adik di depannya. Seketika mereka yang sedang adu mulut di depannya langsung berbalik menatap heran dirinya.
Mau tak mau Nayyara tersenyum geli. "Lho, ada apa? Lanjutkan saja pertengkaran kalian!"
Sial! Dosennya Keyra kok jadi manis gitu sih. Umma, anakmu ini bakal gak bisa tidur nanti malam ini gara-gara pesona dosennya Keyra.
Tak lama pesanan mereka datang. Nayyara makan dengan tenang sambil sesekali mendengarkan suara berisik dari adu mulut pasangan yang ada di depannya.
***
Keyra dan Hazig dalam perjalanan menuju kantor perusahaan Hazig.
"Kak!"
Hazig hanya menanggapi adiknya dengan gumaman.
"Kakak naksir ya sama Ibu Nayyara?" selidik Keyra.
"Hmm ... Menurut kamu?" tanya Hazig balik.
Keyra mendengus. "Ditanya malah balik nanya! Baru kali ini, lho Kakak godain cewek sampai segitunya setelah kegagalan yang Kakak alami. Ibu Nayyara juga baru kali ini aku liat ketawa lepas gitu. Emang sih dia ramah di kampus, tapi kalau tersenyum tuh tipis banget. Gak kayak tadi. Jangan-jangan kalian ..."
"Doakan saja! Siapa tahu kami berjodoh!" sergah Hazig sembari tersenyum lebar dan itu membuat Keyra terheran-heran.
Fix! Kakak gue naksir sama dosen gue!
***
Setelah shalat Isya, Hazig tak langsung tidur. Ia berdiri di balkon kamar apartemennya sambil mengingat kembali pembicaraan dirinya dengan Keyra saat sedang makan malam di salah satu restoran.
"Kalau Kakak cuma main-main sama Ibu Nay, mending Kakak gak usah deketin dia!"
"Lho, siapa yang main-main sih?"
"Kak, Ibu Nay itu baik banget. Ya meskipun Kakak bilang dia miskin ekspresi."
"Berani sekali kamu ngatain dosenmu sendiri. Entar nilainya jelek lho!" tegur Hazig.
"Gak bakalan, Kak. Eh, sepertinya Ibu Nay pernah ngalamin kayak Kakak deh!" ujar Keyra asal.
"Sok tahu banget!" sungut Hazig.
"Kan Kakak juga gitu. Susah jatuh cinta gara-gara Alena. Siapa tahu aja Ibu Nay juga gitu. Padahal yang naksir dia di kampus banyak, lho! Gak cuma rekan sesama dosen, mahasiswa juga banyak."
"Kalau Kakak berhasil nikah sama dia, gimana?"
"Yah ... Semoga aja Ibu Nay gak kecewa sama Kakak. Awas aja ya bikin dosenku sakit hati!"
"Insya Allah gak akan! Karena Kakak benar-benar udah jatuh cinta sama dia," tegas Hazig.
Hazig melihat foto-foto Nayyara di i********:. Ia mendapatkan akun tersebut setelah ia bertanya pada adiknya. Tak banyak, tetapi ia tertarik pada foto yang baru saja ia post sepuluh menit yang lalu. Pemandangan langit malam yang cerah dengan bintang bertaburan serta bulan purnama yang bersinar terang. Meskipun tanpa keterangan di bawahnya, ia tetap tersenyum karena ia menyadari bahwa mereka melakukan kegiatan yang sama, memandang langit malam.
***
"Hei, Nona kulkas!"
Nayyara masih terus berjalan memasuki gedung fakultas Sastra saat mendengar suara Hazig.
"Nona kulkas! Nayyara!"
Nayyara baru berbalik dan menatap pria yang berlari mengejarnya.
"Dari tadi dipanggil kok gak berhenti?" ujar Hazig dengan napas tersengal-sengal.
"Memangnya siapa yang kamu panggil 'Nona kulkas'?" tanya Nayyara.
"Hehehe ... Kamu!"
Nayyara menaikkan sebelah alisnya. "Dasar gak sopan!"
"Habisnya kalau kita ketemu kamu selalu datar dan dingin. Untung aja kamu cantik!"
Nayyara menatap tajam Hazig yang mengedipkan sebelah matanya.
"Ya udah, selamat bekerja ya, Nay! Galaknya cukup sama aku aja, jangan ke mahasiswa kamu! Nanti, aku cemburu. Oke, nona kulkas cantik! Assalamu 'alaikum!"
Hazig mengedipkan lagi matanya sebelah sebelum melangkah menuju parkiran di mana ia memarkirkan mobilnya setelah mengantar Keyra. Mereka masih saling menatap dari kejauhan. Hazig tersenyum manis.
Kesibukanku bertambah. Menggodamu dan melamunkan semua tentang dirimu, Nayyara.
Nayyara memutuskan pandangannya terlebih dahulu dan berjalan memasuki gedung fakultas dengan perasaan tak karuan.
Sekian lama jantung ini tak pernah berdebar karena seorang pria. Ah, gak boleh mikir aneh-aneh! Siapa tahu apa yang Rafa bilang benar. Dia begitu bukan hanya padaku.