Hati yang Luluh

1089 Kata
Acara perayaan ulang tahun Prayudha Group, sebuah perusahaan yang memproduksi beragam produk kebersihan rumah tangga, diselenggarakan di sebuah ballroom hotel ternama. Dekorasi ruangan yang mampu menampung seribu orang tersebut terlihat mewah dan menimbulkan kesan bahwa acara tersebut memang ditujukan khusus kalangan atas. Aneka ragam hidangan yang tersedia begitu menggugah selera. Rafa selaku putra satu-satunya seorang Denis Prayudha benar-benar membuat acara ini sangat berkelas. Perusahaan tersebut merupakan hasil keringat ayah Denis sekaligus kakek Nayyara dan Rafa dan sudah berdiri selama 30 tahun. Perusahaan yang dahulu hanya sekelas industri rumah tangga yang memperoleh keuntungan yang sangat sedikit dan hanya memiliki sepuluh orang karyawan kini tetap terus bertumbuh dengan jumlah karyawan ribuan orang. Sepasang orang tua dan putra-putri mereka berjalan masuk ke ballroom yang sudah mulai ramai dengan kedatangan tamu undangan. Dari kalangan pengusaha hingga pejabat hadir di acara ini. Nayyara yang sedikit gugup pun merasa sedikit tenang dengan rangkulan tangan Rafa di bahunya. Acara pun dimulai. Mereka berempat sudah duduk di tempat yang sudah disediakan di depan panggung. Kemudian, tiba giliran Denis berbicara di panggung. Setelah menyampaikan beberapa hal mengenai perkembangan perusahaannya dan ucapan terima kasih pada para tamu undangan, kini ia berniat memperkenalkan Rafa sebagai CEO yang baru menggantikan dirinya. Rafa diminta naik ke panggung, lalu dilakukan serah terima jabatan. "Selain memperkenalkan putra saya sebagai pimpinan yang baru, saya juga memperkenalkan putri saya yang berusia 3 tahun lebih tua daripada putra saya. Dia putri saya dari pernikahan pertama saya. Dia bernama Nayyara Fidelia Syafrina." Nayyara yang disebut namanya diminta naik ke panggung. "Tunggu!" Seseorang berteriak. Nayyara yang mendengarnya menegang seketika. Ia berbalik menghadap ke arah pintu masuk ballroom hotel dan mendapati seorang pria berusia kurang lebih 80 tahun duduk di atas kursi roda yang didorong oleh seorang perawat laki-laki. "Sejak kapan kamu kembali?" tanya pria itu. Nayyara semakin gugup. Kedua tangannya kini berkeringat dingin. Matanya terpejam erat, membayangkan wajah seorang Setio Prayudha di masa lalu. "Jawab pertanyaanku, Nak!" Suara Setio melirih. Entah karena kondisi fisiknya yang melemah atau karena rasa sesak di dadanya. Nayyara yang tadinya gugup kini memberanikan diri menghadapi situasi ini. Saat semua mata tertuju hanya pada dirinya dan Kakek Tio. "Saya tidak pernah ke mana-mana! Saya hanya menyendiri setelah kepergian Mama dan Nenek Ratna untuk selamanya. Menjalani hari-hari saya dengan pekerjaan dan kuliah tanpa pernah mengusik siapapun, termasuk kehidupan baru Papa," jawab Nayyara tegas. Rafa yang mendengar suara Nayyara bergetar hendak turun dari panggung, tetapi ia dicegah oleh Denis. "Biarkan mereka berbicara, Rafa! Sudah lama Kakekmu mencari Nayyara." "Jadi ini bagian dari rencana Papa?" tanya Rafa selidik. "Iya, Nak!" jawab Denis tegas. Suasana hening sejenak sampai akhirnya Setio berbicara lagi. "Kemarilah, Nak! Kamu cucu perempuanku! Cucu pertama dalam keluarga Prayudha. Cucu yang tak sempat ku peluk karena kebencianku pada ibumu dan itu membawaku pada rasa bersalah yang mendalam. Darahku mengalir di tubuhmu, tapi aku malah membuangmu dari hidupku. Maafkan Kakek, Nak!" Setio tak mampu menahan sesak di dadanya. Nayyara yang hendak ke panggung kini berbalik dan berlari menuju kakeknya. Mengabaikan pandangan heran para tamu. Yang ia inginkan hanya satu. Ia ingin memeluk kakeknya. "Kakek ...." "Nayyara, Kakek merindukanmu," lirih Setio. Ia pun segera memeluk kakek yang sangat ia rindukan. Tak ada lagi amarah di hatinya. Semua luruh bersama air mata kerinduan dan rasa kasih sayang tulus yang hadir begitu saja walaupun mereka sudah terpisah selama bertahun-tahun. "Maafkan kakek, Nak!" ucap Setio dalam isak tangisnya. "Kita saling memaafkan, ya, Kek! Nay juga merindukan Kakek." "Kamu cucuku yang paling cantik. Kakek sudah tahu semua tentangmu. Kini kebahagiaan Kakek begitu lengkap dengan kembalinya dirimu." Sekali lagi mereka berpelukan. Tak sedikit tamu undangan yang mengusap air matanya melihat momen mengharukan. Selanjutnya, Nayyara mendorong kursi roda kakeknya ke depan panggung, lalu ia duduk di sampingnya. Setelah sesi serah terima tersebut, para tamu undangan diminta menikmati hidangan yang telah disediakan. Nayyara mencoba menawarkan makanan pada Setio. "Kakek mau makan?" "Iya, Nak!" Nayyara menanyakan makanan apa saja yang boleh dikonsumsi kakeknya pada perawatnya. Setelah itu, ia bergegas menuju meja yang terdapat berbagai macam hidangan mencari menu yang sesuai untuk kakeknya. Lalu ia kembali sambil membawa seporsi makanan. Ia pun duduk dan mulai menyuapi Setio. Tak lupa ia meminta perawat Setio untuk makan. "Enak gak?" "Enak." Tiba-tiba tangan Setio terulur ke arah Nayyara dengan sesendok makanan. "Kamu juga harus makan, Nak! Seorang dosen sepertimu jangan sampai sakit!" Nayyara membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang kakek dengan air mata tertahan. Kasih sayang yang tak sempat ia dapatkan di masa kecilnya kini ia dapatkan di saat ia dewasa. Momen saling menyuapi ini tak luput dari perhatian Denis, Renata, dan Rafa. "Akhirnya ya, Mas." Renata kini bernapas lega. "Iya. Aku tahu Ayah berulang kali menangis karena merindukan cucu perempuannya. Salah satu alasanku kenapa ingin membawanya ke rumah kita karena Ayah. Ia ingin segera bertemu dengan Nayyara sebelum semuanya terlambat," tutur Denis sembari merangkul pinggang sang istri dengan mesra. *** Acara sudah selesai, tetapi sepertinya Setio tak ingin berpisah dengan Nayyara. "Nay, menginaplah di rumah kakek!" "Maaf ya , Kek! Nay gak bisa menginap dulu. Insya Allah besok setelah dari kampus, Nay langsung mampir ke rumah Kakek. Tolong, sini ponsel Kakek! Biar Kakek bisa telepon Nay kalau ada apa-apa." Mereka bertukar nomor ponsel. Setelah itu, Nayyara pamit pada Setio. "Pokoknya besok harus datang!" "Iya, Kek! Insya Allah. Kami pulang dulu, ya! Assalamu 'alaikum." Nayyara tersenyum hangat dan berbalik menuju mobil Rafa yang sudah terparkir di depan ballroom. *** "Gimana, Kak?" tanya Rafa dengan mata tetap fokus pada jalanan. Nayyara tersentak dari lamunannya. "Eh? Apanya?" "Rencana Papa yang tadi, Kak!" "Jadi tadi itu rencana Papa?" "Iya. Papa cerita kalau Kakek pengen banget ketemu sama Kakak." "Oh, pokoknya sekarang ini aku udah lega, Rafa." "Lega?" "Iya. Aku udah bebas dari kemarahan yang tak seharusnya kusimpan selama bertahun-tahun. Tak mendapatkan kasih sayang yang sempurna sejak kecil membuatku selalu menyendiri dan sulit berteman dengan siapa pun. Aku selalu merasa bahwa aku berbeda dengan mereka." "Kakak memang berbeda. Kakak orang yang kuat dan mandiri tanpa terus bergantung pada orang lain. Aku tak bisa bayangkan kesulitan seperti apa yang harus Kakak hadapi di masa lalu. Belum tentu aku bisa menghadapinya seperti Kakak. Lalu, di saat wanita seusia Kakak sudah menikah dan memiliki anak, Kakak memilih fokus pada pendidikan dan pekerjaan. Kakak tentu punya alasan sendiri kenapa Kakak melakukan itu. Mungkin Kakak pernah kecewa dengan seseorang." "Hah... Kenapa kata-katamu selalu tepat sasaran sih?" gurau Nayyara. "Hahaha ... Udah kebaca kali, Kak!" "Sok tahu!" gerutu Nayyara. Rafa memilih terus menggoda sang kakak yang mengalihkan pembicaraan ketika ia menyinggung tentang sosok pria pada wanita yang duduk di sampingnya. Ia merasa mungkin Nayyara masih belum nyaman bercerita dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN