Kasih Sayang Ibu Tiri

1041 Kata
Setelah makan siang di rumah Denis, Nayyara diantar oleh Renata dan Rafa pulang ke rumah almarhumah neneknya yang sudah ia tinggali selama bertahun-tahun. Ia pulang hanya untuk mengemasi barang-barangnya karena sang ayah sudah memintanya tinggal di rumah besar milik Denis bersama bundanya dan adik tirinya. Nayyara masih berada di kamarnya dan Rafa bersama Renata sedang mengangkat barang-barang yang sudah dikemas oleh kakaknya keluar menuju mobil box yang sengaja Rafa sewa. Nayyara memang membawa serta buku-bukunya yang jumlahnya ratusan sampai-sampai Rafa kelelahan padahal ia sudah dibantu oleh sopir mobil itu. Setelah barang-barang Nayyara dikeluarkan, Nayyara pun turun dari kamarnya sambil membawa barang yang tersisa. Ia berencana akan menyewakan rumah ini karena ia tak rela menjualnya. "Kakak benar-benar kutu buku, ya! Lihat tuh! Mobilnya penuh cuma gara-gara kumpulan buku," keluh Rafa yang mengusap peluh di dahinya. Nayyara mencubit lengan adik tampannya. "Aduh, kakak!" pekik Rafa. "Kakak emang suka baca buku, bukan kayak kamu yang main game mulu!" sungut Nayyara. "Ayolah, Kak! Game hanyalah pelarianku dari segala tumpukan dokumen kantor yang bikin kepalaku pusing!" Nayyara mendengus kesal sedangkan Renata hanya terkekeh melihat putranya yang tak henti menggoda kakaknya. Ia bisa melihat kegembiraan sang putra karena bisa hidup bersama dengan kakak beda ibunya itu. "Sudahlah, jangan bertengkar lagi!" Renata menghentikan pertengkaran mereka. Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Nayyara lalu tersenyum. "Nay, sudah semua, kan? Gak ada yang ketinggalan, kan?" "Iya, Bunda!" "Ya sudah. Ayo, Sayang! Kita jalan-jalan sambil cari baju yang pas untuk kamu buat nanti malam." "Ta-tapi, Bunda ...." "Turuti apa kata Bunda, Kak! Hari ini aku akan jadi bodyguard buat Kakak!" Melihat Rafa yang menaik-turunkan alisnya, Nayyara terkikik geli sambil mencubit kedua pipi tirus adiknya. "Kakak!" "Hahaha ... Duh, Maaf ya! Kamu menggemaskan soalnya," ejek Nayyara. Renata segera menarik lengan kedua anaknya sebelum mereka bertengkar lagi. *** "Sayang, kamu coba gamis ini?" Renata memberikan gamis berwarna silver pada Nayyara. Imengambilnya kemudian mencobanya di kamar pas. Setelah itu, ia keluar dari kamar pas dan membuat semua orang terpana. Gamis itu begitu cocok di kulit Nayyara yang putih bersih. "Cocok!" "Perfect!" Renata dan Rafa menyahut bersamaan. "Wah, andai Kak Nay bukan kakakku, udah aku culik ke KUA!" Renata yang mendengar itu langsung mencubit pelan lengan putranya itu. "Aduh! Sakit banget nih, Bunda!" "Ini gara-gara kamu yang ngomong sembarangan." Nayyara hanya menggelengkan kepalanya melihat mereka. Ia kembali ke kamar pas untuk membuka gamis yang sudah ia coba tadi. "Aku bantu buka ya, Kak!" Renata menjewer telinga Rafa. Lagi-lagi Rafa meringis kesakitan. "Aduh, tangannya semakin aktif ya, Bun!" "Jangan godain kakakmu terus, Rafa! Bunda heran, deh liat tingkah kamu akhir-akhir ini. Kamu seperti gak bisa berhenti godain kakakmu itu. Mentang-mentang dia cantik." "Duh, Bunda merajuk, ya? Jangan cemburu ya! Bunda juga cantik kok, tapi aku gak berani muji Bunda di depan Papa. Habisnya kalau aku puji Bunda, Papa datang marah-marah. Heran deh sama Papa, cemburu kok sama anak sendiri!" gerutu Rafa. Renata tersenyum geli mendengar keluhan anaknya. Suami dan anaknya itu memang sama-sama posesif padanya. Terlebih lagi Nayyara menjadi bagian dari mereka. Renata cemburu? Tentu saja tidak! Renata sangat mencintainya meskipun ia tak lahir dari rahimnya. "Bunda, aku ambil ini aja ya?" Renata tersadar dari lamunannya dan tersenyum memandang wajah putrinya. "Gak mau yang lain? Atau mau mau gaun yang lain?" "Udah, Bunda. Ini aja!" "Padahal gak apa-apa, Nay kalau kamu mau nambah lagi." "Gak usah, Bunda. Nay gak begitu suka ke pesta, jadi buat apa punya gaun atau gamis model begini banyak-banyak." Renata tersenyum hangat sambil membelai kepala putrinya. Kemudian, ia memerintahkan Rafa untuk membayar belanjaan mereka. "What? Aku yang bayar, Bun?" "Gak usah membantah! Membayar belanjaan kakakmu tidak akan membuatmu miskin!" Nayyara hanya meringis mendengarkan mereka. "Rafa, biar aku yang ba-" "Aku aja, Kak! Tadi itu aku mengira Bunda yang bayarin. Maaf ya, Kak!" Nayyara hanya tersenyum tipis. Rafa sendiri sudah khawatir kalau kakaknya akan tersinggung dengan ucapannya tadi. *** Pukul 17.45, mereka telah sampai di rumah mereka. Denis pun menyambut kedatangan mereka dengan senyuman hangatnya. Mata Denis tertuju pada putrinya yang juga membalas senyumannya. "Selamat datang, Nak! Semoga kamu betah di sini!" "Iya, Papa." "Ya sudah, kamu siap-siap dulu. Setelah magrib baru kita ke hotel, ya!" Nayyara mengangguk dan berjalan menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Rafa. Ia segera masuk dan terpana melihat kamarnya yang sudah tertata rapi. Kamar yang cukup luas dan juga sudah tersedia lemari buku yang sudah diisi dengan koleksi bukunya, mulai dari novel hingga kitab-kitab bahasa Arab dan referensi untuk bahan ajarnya. Nayyara menutup pintu kamarnya, menyalakan AC, lalu melepas jilbabnya. Ia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu. *** Setelah salat Magrib berjamaah, mereka bersiap-siap di kamar masing-masing. Rafa yang telah selesai terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Nayyara. "Kak Nay, Udah selesai?" "Sebentar!" Nayyara membuka pintu setelah memasang jilbab segiempat warna navy beserta gamis silver yang ia beli tadi. Rafa terpukau sejenak penampilan kakaknya. "Kakak cantik banget! Kalau kita bukan saudara, aku bakal panggil penghulu sekarang juga." Nayyara hanya terkekeh mendengar ucapan Rafa. "Ayo, Kak! Kita jadi pasangan malam ini. Jangan mau kalah sama Papa dan Bunda yang bucinnya tak lekang oleh waktu!" Lagi-lagi Nayyara terkekeh diikuti pasangan paruh baya yang baru saja ia bicarakan. "Makanya, kalian nikah biar punya pasangan masing-masing!" Nayyara dan Rafa kompak mendengus kesal. "Rafa, kita pergi aja deh." "Siap!" Mereka pun berjalan menaiki mobil secara terpisah. Denis dan Renata heran karena anak-anaknya menaiki mobil yang berbeda. "Nay! Rafa! Kenapa gak bareng sama Papa dan Bunda?" tanya Renata bingung. Nayyara dan Rafa saling menatap sejenak kemudian mengalihkan pandangan mereka pada orang tua mereka. "Kita gak mau jadi obat nyamuk!" Pasangan paruh baya itu tertawa. Mereka pun membiarkan putra-putrinya naik mobil yang berbeda. "Silahkan masuk, Kak!" Nayyara pun masuk ke dalam mobil milik Rafa setelah adiknya itu membukakan pintu untuknya, lalu ia menutupnya dan berlari kecil menuju pintu di sebelah kanan. "Kakak udah siap?" Nayyara menghembuskan napas pelan. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya. Nayyara hanya mengangguk. Dua mobil itu pun keluar dari kediaman mereka menuju hotel tempat acara. Nayyara dan Rafa terjebak dalam keheningan. Padahal tadi mereka sempat bercanda sebelum berangkat. "Kakak kenapa?" "Aku baik-baik saja, Dek." "Terus kenapa diam? Soal kakek, ya?" "Eh?" Rafa tersenyum hangat sambil menggenggam tangan kanan sang kakak. "Jangan gugup, Kak! Insya Allah semuanya akan baik-baik saja!" Nayyara menghela napas pelan. "Iya. Semoga saja," lirihnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN