Nayyara yang membawa sebotol air dan keranjang bunga terus berjalan menyusuri kompleks pemakaman. Lokasi makam Shayna cukup jauh dari pintu masuk, tetapi ia tak lelah berjalan kaki. Setelah ia sampai, ia berjongkok dan membersihkan makam ibunya dari rerumputan dan daun kering. Ia menuangkan air dan menaburkan bunga di atas pusara itu.
"Mama, terima kasih sudah hadir dalam mimpi Nay. Nay bersyukur karena Allah mengabulkan permohonanku untuk bertemu denganmu. Dia juga telah membuka mata hatiku untuk tidak membenci Papa lagi. Sebenarnya, Nay tidak pernah membenci Papa. Nay hanya merasa kecewa padanya sehingga Nay tidak menikah walau usiaku bisa dikatakan matang untuk menjalani pernikahan. Nay terlalu takut bila nantinya Nay mendapatkan laki-laki yang hanya bisa menyakiti hatiku. Oh, iya, Nay akan datang ke acara perusahaan Papa. Nay sudah memikirkan ini baik-baik. Nay akan siap menghadapi apa pun, termasuk penolakan dari Kakek Tio. Nay ingat sikap Kakek yang gak pernah peduli padaku padahal waktu itu Nay ingin sekali dipangku Kakek, tapi ... begitu melihat mata tajam Kakek, Nay jadi gak berani. Sekarang, Nay sudah dewasa. Nay tidak akan membiarkan diri ini direndahkan lagi. Nay udah buktikan bahwa Nay bisa hidup tanpa uang dari keluarga besar Papa."
"Mama jangan khawatirkan Nay lagi, ya! Mama harus istirahat dengan tenang di sisi Allah. Nay udah ikhlas, Ma. Nay gak akan takut lagi. Nanti, kalau Nay udah ketemu pria yang tepat untuk suamiku, Nay akan bawa ke sini. Pria itu akan Nay cintai seumur hidup seperti Mama yang tetap mencintai Papa sampai kapan pun."
Tanpa Nayyara sadari, seorang pria paruh baya tengah berdiri di belakangnya dengan linangan air mata. Pria itu tidak menyangka bahwa keputusannya menerima permintaan Shayna untuk meninggalkan mereka di masa lalu membuat mereka terluka begitu dalam. Ia sudah menyelidiki penyebab kematian istri pertamanya yang telah memberinya seorang putri. Wanita yang menjadi cinta pertamanya. Wanita yang mengajarkan banyak hal padanya. Kini ia hanya merasakan penyesalan terdalam. Wanita yang sangat ia cintai telah meninggalkannya untuk selama-lamanya tanpa sempai ia mengucapkan kata cinta, maaf, dan terima kasih. Meskipun kini ia sudah mencintai istri keduanya, tetapi Shayna tetap memiliki posisi khusus di hatinya. Cinta pertama yang akan selalu ia kenang.
Denis mulai berjongkok di samping putrinya. Nayyara terkejut dan menoleh ke samping kanannya.
"Papa," panggilnya lirih.
"Sekali lagi, Nak! Sekali lagi kamu panggil Papa!"
"Papa!"
Nayyara segera memeluk laki-laki yang sangat ia rindukan selama 21 tahun. Laki-laki yang tak pernah ia sapa lagi dan ini untuk pertama kalinya ia menyebut kata "Papa" lagi. Denis terisak sambil tetap memeluk erat putrinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga putrinya meskipun nyawanya menjadi taruhannya. Ia akan melakukan apa pun demi menebus kesalahannya karena lalai menjaga putri satu-satunya.
"Maafkan Papa, Nak! Papa janji, Papa akan selalu melindungi kamu. Papa akan terus ada untuk kamu. Sampai kapan pun, kamu adalah kesayangan Papa selain Mama kamu. Kamu benar-benar mewarisi kecantikan dan sifat Mama kamu, Nak. Papa menyesal pernah menyia-nyiakan kamu. Papa tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan kamu. Pertama kali Papa melihat kamu, Papa sangat takjub karena kamu tumbuh menjadi wanita anggun dan tangguh di saat bersamaan."
Nayyara menguraikan pelukannya dan memandang lekat wajah Denis. Ia usap perlahan air mata sang ayah yang terus mengalir di pipinya yang mulai tirus dan keriput namun masih kelihatan tampan.
"Papa, Nay juga minta maaf. Nay udah jadi anak durhaka karena udah bersikap kasar sama Papa. Nay udah mengabaikan Papa. Nay gak pernah angkat telepon dari Papa ...."
"Papa gak pernah menganggap kamu anak durhaka, Nak! Papa mengerti kamu masih kecewa sama Papa. Kamu yang masih belum bisa menerima Papa kembali," timpal Denis.
"Sekarang, Nay mau sama-sama Papa lagi. Nay rindu sama Papa."
"Tentu saja, Sayang! Nanti kita tinggal sama-sama lagi. Ada Bunda Renata sama Rafa, adik kamu."
"Ta-tapi ...."
"Ssttt ... Kamu jangan khawatir! Mereka sudah tahu siapa kamu. Mereka pun ingin bertemu denganmu. Nanti malam kamu datang kan, Sayang?"
"Insya Allah, Pa."
Denis mengalihkan pandangannya pada pusara istri pertamanya. Ia tersenyum sendu.
"Shayna, terima kasih kamu sudah membesarkan putri kita. Dia sangat mirip denganmu, Sayang. Aku benar-benar menyesal. Seandainya aku tidak menuruti keinginanmu, mungkin aku akan mengusahakan pengobatan terbaik untukmu. Aku mencintaimu, tetapi Allah lebih mencintaimu. Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu. Maafkan aku yang tidak berdaya menghadapi Ayah yang begitu menentang kehadiranmu dan Nayyara. Aku akan menjaga Nayyara, putri kita. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi meskipun aku harus melawan Ayah. Aku gak mau kehilangan putri kita lagi."
Mereka berdoa untuk Shayna agar ia tenang di sisiNya. Setelah itu, mereka beranjak dari pusara Shayna dan berjalan keluar dari kompleks pemakaman.
***
"Nay," panggil Denis.
"Iya, Pa?"
"Kenapa kamu gak bawa mobil?"
"Tadinya mau bawa mobil, tapi mesinnya gak mau nyala."
"Papa belikan kamu mobil, ya!"
"Eh, gak, Pa! Gak usah! Mobilnya masih bagus kok. Cuma kadang suka rewel."
"Jangan menolak pemberian Papa, Nak! Selama 21 tahun, Papa tidak pernah memenuhi kebutuhan kamu. Papa lalai tidak menafkahi kamu."
"Papa, jangan merasa bersalah lagi, ya! Papa juga gak perlu repot-repot belikan apa pun untuk Nay. Asal Papa selalu bersama Nay, itu sudah lebih dari cukup."
Nayyara tersenyum hangat pada Denis dan itu membuatnya terharu.
"Papa bangga sama kamu, Nak. Oh iya, katanya kamu mau sidang promosi doktor kan? Kapan?"
"Insya Allah dua minggu lagi, Pa. Papa doain aku ya!"
"Papa pasti mendoakan kamu, Sayang. Papa bangga sekali sama kamu."
Nayyara kembali memeluk lengan sang ayah. Denis benar-benar tidak menyangka putrinya kembali ke sisinya dan kembali bermanja dengannya. Denis yang terus menatap ke jalan raya tidak menyadari bahwa Nayyara kini tertidur pulas sambil memeluknya.
"Tuan, Nona Nayyara tertidur," tegur sang sopir.
Denis pun menoleh dan seketika tersenyum memandang wajah putrinya. Ia tak berhenti mencium puncak kepalanya seolah ia tidak ingin kehilangan putrinya lagi.
***
"Sayang, kita sudah sampai."
Nayyara yang merasakan elusan di pipi kirinya terbangun. Ia tersenyum tak enak karena telah menyusahkan ayahnya.
"Maaf ya, Papa. Nay keenakan tidur."
"Hahaha ... Bukannya waktu kamu kecil, kamu suka tidur sambil peluk Papa, kan?" ujar Denis sembari tersenyum.
"Iya, sih. Tapi, tetap aja kan bikin Papa pegal."
Nayyara meringis membayangkan lengan sang ayah yang terasa kaku akibat terus memeluk dirinya.
"Tidak masalah, Nak! Yang penting kamu mijitin Papa!"
"Oke!"
Denis terkekeh melihat putrinya kembali ceria seperti dulu.
"Ayo turun!"
"Ini rumah Papa?"
"Rumah kita, Nak. Ayo!"
Mereka turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke sebuah rumah mewah berlantai dua itu. Mereka disambut oleh salah satu asisten rumah tangga yang berusia 50 tahun.
"Panggil semuanya ke sini, termasuk Ibu dan Rafa!"
"Baik, Tuan!"
Mereka duduk di sofa ruang tamu itu. Nayyara menunduk, tapi tangan kirinya digenggam erat oleh sang ayah.
"Jangan takut, Nak! Papa hanya ingin mereka tahu bahwa kamu adalah putri Papa."
Selanjutnya Renata, Rafa, dan tiga orang asisten rumah tangga berkumpul di ruang tamu. Denis mulai angkat bicara.
"Semuanya, perkenalkan ini adalah Nayyara. Putri saya dari istri pertama saya, almarhumah Shayna."
Renata dan Rafa terkejut. Lalu mereka berdua segera maju, mengabaikan para asisten rumah tangga yang sedang berbisik-bisik.
"Kalian buatkan makanan untuk putri saya!"
"Baik, Tuan!" Mereka menyahut bersamaan.
Renata memberanikan diri bertanya pada Nayyara.
"Benar kamu Nayyara?"
"Iya, Tante!"
Nayyara menunduk, sementara Renata berjalan ke arahnya dan segera memeluknya.
"Panggil saya Bunda, Nak! Kamu juga anak Bunda. Papa kamu sudah menceritakan semuanya sejak dulu. Maafkan Bunda. Maafkan kehadiran Bunda sehingga Mama kamu menderita hingga akhir hayatnya."
Renata tidak kuasa menahan air matanya lagi. Air mata penyesalan karena sudah jadi orang ketiga dalam keluarganya mereka.
"Bunda," panggil Rafa.
Renata menguraikan pelukannya dan memanggil Rafa. Rafa memenuhi permintaan ibunya dan segera memeluk erat kakaknya.
"Kak Nay,akhirnya aku bisa ketemu sama Kakak."
Nayyara tersenyum hangat sambil mengusap pelan punggung tegap pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Ternyata aku punya adik yang sangat tampan," puji Nayyara
Rafa menguraikan pelukannya dan mengusap pipi kakaknya. "Kakak juga sangat cantik."
Rafa tak malu lagi berinteraksi dengan kakak beda ibunya itu. Ia sampai mengacak-acak kepala Nayyara hingga jilbabnya kusut. Nayyara merengut sedangkan kedua orang tuanya tertawa melihat tingkah menggemaskan putra-putrinya.
Renata berbisik di telinga sang suami.
"Baru ketemu tapi mereka seperti sudah lama saling mengenal ya, Mas?"
"Itu karena dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama. Kamu gak keberatan kan Nayyara tinggal di sini?"
"Tentu saja, Mas. Nay putriku juga. Aku malah senang dia tinggal di sini. Aku jadi punya teman, kan?" ujar Renata sembari tersenyum.
"Tapi putrimu itu seorang dosen yang sangat sibuk. Sebentar lagi dia akan promosi doktor, Sayang."
"Oh,ya? Wah, aku bangga sekali, Mas! Ini adalah hal yang paling membahagiakan untuknya karena nanti saat dia wisuda, ia punya foto keluarga lengkap."
Denis tersenyum sendu melihat Nayyara yang kini bersenda gurau dengan Rafa. Ia benar-benar telah melewatkan momen penting putrinya. Putrinya yang sudah wisuda dua kali tanpa keluarga. Renata yang melihat perubahan ekspresi suaminya mengusap pelan lengannya.
"Ini adalah kesempatan kita untuk membahagiakannya, Mas!"
Denis mengangguk pelan.
Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan untuk membahagiakan putriku.