Rahasia Terkuak

1300 Kata
Nayyara bingung mengapa ia berada di sini. Tempat indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Belum lagi bau harum yang menusuk indra penciumannya. Angin bertiup membelai wajah dan rambutnya yang tak tertutup jilbab. Saat ia menikmati keindahan yang begitu memanjakan mata, hidung, dan kulitnya, ia mendengar suara merdu yang memanjakan telinganya. Suara yang ia rindukan selama bertahun-tahun. "Nayyara ..." Deg! Mungkinkah itu suara Mama? Atau hanya halusinasiku saja? "Nayyara ... Ini Mama, Nak!" Nayyara berbalik dan terkejut melihat Shayna, ibu tercintanya. Dengan air mata yang mengalir semakin deras, ia berlari demi meraih tubuh wanita itu. Saat ia berhasil meraihnya, ia terisak begitu kencang karena rasa rindu yang begitu dalam pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia. "Mama! Mama!" "Iya, Sayang. Mama di sini. Mama juga merindukanmu. Sangat merindukanmu," lirih Shayna. Shayna terus mengusap punggung putrinya yang tengah mendekap erat tubuhnya seolah tak menginginkan perpisahan lagi. Setelah isak tangis Nayyara mereda, Shayna menguraikan pelukannya dan mengusap air mata putrinya dengan lembut. "Sayang, sudah 16 tahun kita tak bertemu. Kamu tumbuh semakin dewasa dan cantik. Kamu pasti sudah punya seseorang yang kamu cintai, kan?" Nayyara menunduk lalu menggeleng. Shayna tersenyum lembut pada putri satu-satunya itu. "Mama tahu kalau kamu pernah patah hati. Tapi apa salahnya kamu mencoba lagi?" Nayyara menatap ke depan di mana taman yang penuh dengan beragam jenis bunga berada. "Aku benci pernikahan, Ma. Mama menderita karena Papa yang mengkhianati kita. Aku patah hati karena laki-laki yang pernah kucintai sudah menikah di saat kami masih menjalani hubungan. Hubungan yang berjalan 6 tahun kandas begitu saja karena dia yang tak berani menolak wanita yang dijodohkan dengannya. Pernikahan hanya membuatku takut menemukan orang yang salah lagi. Selama ini, aku berusaha menjadi wanita yang mandiri agar harga diriku tidak diinjak-injak oleh siapa pun, termasuk laki-laki." "Mama paham apa yang kamu rasakan, Nak. Hanya saja, sampai kapan kamu akan seperti itu? Kamu harus percaya bahwa Allah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu. Kamu hanya perlu menyiapkan dirimu untuk meraih kebahagiaan itu. Allah tidak akan mengubah nasibmu, kecuali kamu sendiri yang mengubahnya. Kamu akan mendapatkan pria yang tulus mencintaimu jika kamu sendiri bersedia membuka hatimu untuknya." Nayyara terdiam sambil mencerna nasihat ibunya yang dengan lembut merasuki batinnya. "Kamu pernah bertemu Papamu, Nak?" "Pernah. Dua minggu yang lalu. Dia mengundangku ke acara ulang tahun perusahaannya." "Kapan?" "Besok malam, Ma." "Datanglah, Nak! Sambunglah kembali silaturrahim kalian yang terputus bertahun-tahun. Dengan orang lain saja kita tidak boleh putus silaturrahim lebih dari 3 hari, apalagi dengan ayahmu sendiri. Datanglah dengan hati yang lapang. Ikhlaskan semuanya, Nak! Mama akan lebih tenang bila kamu mau memperbaiki hubunganmu dengan Papa. Lagi pula, Papamu tidak sepenuhnya bersalah." Nayyara terkejut. Bukankah papanya pergi karena memilih perempuan lain? "Maksud Mama apa?" "Kamu akan tahu jawabannya saat kamu membuka album foto keluarga kita." "Nay makin gak ngerti, Ma." "Mama pernah menyimpan surat untukmu sebelum Mama pergi. Mama menjelaskan semuanya di situ." Nayyara yang tadinya meragukan ucapan Shayna akhirnya mengangguk mengerti. "Nay, Mama harus pergi, Sayang." Shayna berpamitan pada Nayyara. Nayyara menggeleng. "Mama, aku masih mau bersamamu. Tolong, jangan pergi!" Shayna hanya tersenyum sendu melihat putrinya terus bersedih. "Ingatlah, Nak! Maafkan Papamu, terimalah Renata sebagai ibumu dan Rafa sebagai adikmu! Mereka kini adalah keluargamu. Berbahagialah, Nak!" Shayna mundur perlahan seraya menatap hangat Nayyara disertai senyuman indah yang akan selalu Nayyara rindukan. "MAMA!" *** Nayyara terbangun di atas ranjang almarhumah ibunya dengan nafas tersengal-sengal. Ia mengusap kasar wajahnya dan ternyata wajahnya basah karena air mata. Mimpi itu terasa nyata bagiku. Nayyara melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul 03.00. Ia pun bangkit menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan wajah yang lebih segar karena air wudhu. Ia memutuskan salat Tahajjud di kamar itu dengan memakai mukena ibunya yang selalu rutin ia cuci. Setelah shalat tahajjud dan witir juga muraja'ah hafalan Al-Quran, ia teringat mimpi semalam. Ia membuka mukenanya lalu berjalan ke lemari dan membuka lacinya lalu mengambil dua album foto. Saat ia membuka album foto pertama, ia tak menemukan apapun. Namun begitu ia membuka album foto kedua, sesuatu terjatuh ke lantai. Selembar kertas yang sudah usang. Mungkinkah ini surat dari Mama? Cepat-cepat ia menaruh album itu dan membaca isi surat itu secara perlahan. Bismillahirrahmaanirrahiim. Selamat ulang tahun, Nayyara Sayang. Putri kesayangan Mama sudah besar sekarang. Mama harap, di usia kamu yang 10 tahun ini, kamu tetap tumbuh jadi anak Mama yang salehah, pintar, rajin, dan mandiri. Mama terlalu cepat, ya kasih kamu ucapan selamat. Mama hanya takut usia Mama udah gak sampai lagi, Sayang. Nyawa Mama di tangan Allah, suatu saat Mama akan kembali pada-Nya tanpa ada yang bisa mencegahnya. Saat kamu membaca surat ini, mungkin Mama udah gak bisa menatapmu lagi, memelukmu, bahkan menikmati pertumbuhan dirimu yang semakin hari semakin cantik. Mama bersyukur karena Mama dan Nenek berhasil membesarkanmu dengan baik walau kondisi kita sekarang udah gak seperti dulu, di mana kamu bisa membeli apa pun yang kamu mau, makan makanan yang enak, atau bermain di mall seperti saat kita masih bersama Papa. Mama terharu saat kamu mengatakan bahwa kamu gak masalah hidup susah asal bisa bersama Mama. Kamu adalah nyawa Mama. Mama sangat menyayangimu sejak mual pertama Mama di pagi hari sebagai tanda bahwa kamu telah hadir di rahim Mama. Mama ingin bercerita tentang Papa kamu, Nak. Mama harap setelah kamu membaca surat ini, kamu bisa memaafkan Papa, ya! Sejak dulu, Papa selalu mencintai Mama dan juga kamu. Tidak ada yang berubah di antara kami, Nak. Hanya saja, Kakek Tio tidak bisa menerima kehadiran Mama dan juga kamu karena Mama hanyalah wanita yang berpendidikan rendah. Sejak awal, Kakek Tio menginginkan Tante Renata yang menjadi menantunya, bahkan Kakek meminta Tante Renata bekerja sebagai sekertaris Papa di kantor agar mereka bisa berdekatan. Mama sempat cemburu, tetapi Papa menginginkan Mama tetap bersabar dan tidak pergi dari sisi Papa. Sampai akhirnya Mama tahu pernikahan siri mereka yang membuat Mama begitu marah pada Papamu. Kamu masih ingat gak waktu kamu terus-menerus bertanya soal Papa yang gak pernah pulang? Sebenarnya Papa gak pernah keluar kota, Nak. Papa tinggal bersama Tante Renata atas paksaan kakekmu. Sampai setahun kemudian, Tante Renata melahirkan anak laki-laki bernama Rafa. Mama memilih melepaskan Papa saat itu karena Mama yang meminta untuk berpisah. Papa tak rela bercerai dari Mama, tetapi ia tidak bisa membantah perintah kakekmu. Mama mengalah demi kebahagiaan Papa, agar Papa kembali akur dengan Kakek karena sejak Papa melamar Mama hubungan mereka memang tak harmonis lagi. Selain itu, Mama juga tidak ingin membebani Papa dengan penyakit Mama. Mama menyembunyikan penyakit Mama dari Papa karena Mama gak ingin Papa semakin memikirkan Mama. Mama melakukan ini karena Mama sangat mencintai Papa kamu sampai kapan pun. Jangan pernah benci sama Papa ya, Nak! Karena semua yang sudah terjadi pada kita bukanlah kesalahan Papa sepenuhnya. Mama minta maaf, ya, Nak! Mama menyembunyikan semua ini selama bertahun-tahun hanya karena belum waktunya kamu mengerti. Mama yakin kamu bisa mengikhlaskan semuanya meskipun kamu perlu waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka di hatimu karena perpisahan kami. Maafkan Mama yang belum bisa jadi ibu yang sempurna untukmu! Tetaplah jadi anak Mama yang baik meskipun Mama sudah tiada! Jaga dirimu! Jaga Nenek baik-baik! Mama sangat mencintaimu, juga Papamu sampai hembusan nafas terakhir Mama! Nayyara menggenggam erat surat itu dengan tangisan yang tak bisa dihentikan. Ia tak habis pikir dengan keputusan sang ibu yang memilih mengalah agar hubungan ayah dan kakeknya membaik, tanpa memikirkan dirinya sendiri yang membutuhkan perhatian lebih dari suaminya karena penyakit yang ia derita. Namun, kini ia mengerti. Semua yang ibunya lakukan karena cinta tulusnya pada ayahnya juga dirinya. Ia merasa bersalah pada Denis, ayah kandungnya. Andai bukan karena permintaan ibunya, ayahnya pasti tidak akan menceraikan ibunya demi perempuan lain yang dipaksakan hadir di antara mereka karena keegoisan sang kakek. Allahu akbar Allahu akbar... Suara azan mulai terdengar. Nayyara bangkit untuk berwudhu kembali lalu ia melaksanakan salat Subuh di kamar ibunya. Hari ini ia berniat berziarah ke makam ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN