Malam semakin larut, tetapi Hazig yang sudah lelah mengerjakan beberapa dokumen yang ia bawa pulang ke apartemennya belum juga tidur. Ia melakukan olahraga ringan agar tubuhnya lelah, tapi tetap saja ia tak bisa tidur juga.
"Oh, ayolah! Kenapa aku gak bisa tidur juga!" jerit Hazig.
Hazig mendadak frustasi karena rasa kantuk yang tak kunjung datang. Minum wine? No! Dia sudah tak memiliki sebotol wine pun karena adik satu-satunya sudah membuangnya, tanpa memikirkan berapa uang yang keluar saat membelinya.
"Andai saja dia bukan adik kandungku, mungkin sudah kusuruh ganti!" gerutunya.
Saat perjalanan pulang dari mall tadi, Keyra menceramahinya soal hukum miras dan seks bebas. Ia yang mendengarkan hanya diam sambil sesekali mendengus kesal. Ia bukan tak paham akan semua maksiat yang sering ia lakukan itu. Satu-satunya penyebab atas semua itu adalah karena ia patah hati di masa lalu, dan kini kebiasaan itu terus ia lakukan hingga sekarang. Ia pun jadi sulit membuka hatinya untuk wanita lain.
Eh, tunggu! Sepertinya ia mulai penasaran dengan sosok dosen muda yang ia temui tadi di mall. Ia sempat mengira bahwa dosen yang dimaksud Keyra adalah dosen yang berusia di atas 40 tahun. Ternyata dosen itu usianya jauh lebih muda dibanding dirinya. Bahkan menurut penuturan adiknya, dosennya itu sebentar lagi akan meraih gelar doktornya.
"Tahu gak, Kak ... Aku tuh pengen banget kayak Ibu Nayyara. Memang sih ekspresinya kayak gitu kalau ketemu orang baru, tapi sebenarnya beliau orangnya baik, kok. Beliau cerdas dan senang bantu mahasiswa juga kalau ada yang kesulitan memahami mata kuliah lain. Aku sama teman-teman pada suka sama beliau. Pokoknya beliau dosen favorit di fakultas deh. Entahlah kalau soal hubungannya dengan pria. Beliau seperti menutup diri gitu. Bahkan ada salah satu dosen yang udah terang-terangan suka sama Ibu Nay, tapi gak pernah digubris." Keyra begitu bersemangat menceritakan sosok dosen andalannya pada sang kakak.
Lagi-lagi Hazig memikirkan wanita itu. Wanita yang seperti tak berminat memandang ke arahnya. Seketika egonya terluka karena perlakuan Nayyara tadi, tetapi di sisi lain ia harus paham tentang Nayyara yang berusaha menjaga dirinya dari kontak fisik dengan laki-laki non-mahram.
"Apalah diriku yang memiliki tangan yang sudah melakukan lebih dari sekedar sentuhan dengan wanita lain," gumamnya lirih.
Sesaat Hazig mengingat nasihat adiknya.
"Kak, mulai sekarang kakak jangan kayak gitu lagi! Aku menutupi semuanya dari Umma dan Baba karena aku yakin mereka pasti akan sangat kecewa sama Kakak. Kakak berhenti berzina dan nyentuh alkohol mulai saat ini! Aku gak peduli berapa harganya dan di mana Kakak dapetin itu semua, pokoknya stop! Memangnya Kakak mau liat Umma nangis lagi kayak waktu Kakak gagal nikah? Memangnya Kakak mau Baba serangan jantung lagi? Baba udah ganti ring jantung lho 3 bulan yang lalu. Jangan sampai Baba sakit lagi! Aku bilang gini karena aku sayang Kakak. Aku juga perempuan. Kalau ada laki-laki yang berani menyentuhku, gimana perasaan Kakak?"
Hazig hanya diam saat mengingat nasihat panjang adiknya saat dalam perjalanan pulang tadi. Ia mengalihkan pandangannya pada sajadah dan mushaf Al-Qur'an. Bahkan ia lupa kapan ia terakhir menyentuhnya. Seketika ia merasakan sesak di dadanya. Rasa sedih dan penyesalan hadir begitu saja. Ia pernah menyalahkan Allah atas kegagalannya membina rumah tangga. Ia yang pernah marah pada-Nya karena merasakan kepedihan bertahun-tahun akibat cinta yang terlalu dalam pada orang yang salah.
Ia akan memulainya hari ini.
Segera ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu shalat Isya dan dilanjut shalat taubat.
Ya Allah, aku menghadap pada-Mu dengan dosa yang bertumpuk. Maksiat yang sengaja kulakukan sebagai bentuk kemarahanku pada-Mu. Kini aku sadar, bahwa Engkau telah menyelamatkanku dari wanita yang tidak baik. Engkau menyembuhkan kebutaan hatiku pada dia yang tidak layak untukku menurut pandanganMu. Apakah masih ada kesempatanku untuk kuperbaiki diriku? Apakah masih pantas diriku mendapatkan wanita baik-baik sebagai teman hidupku hingga kami dipertemukan lagi di surgaMu? Aku akan memanfaatkan kesempatan dan nafas yang masih Engkau berikan untukku. Aku akan menjauhi semua laranganMu, membahagiakan keluargaku dengan sebaik-baiknya.
Air mata Hazig mengalir tiada henti. Air mata penyesalan atas segala dosanya. Hatinya kini melembut. Ia percaya bahwa Allah akan menggantikan semua kesedihannya dengan kebahagiaan yang tak akan pernah ia sangka sama sekali. Tanpa sadar ia tertidur di atas sajadah yang ia gelar di atas karpet berbulu dekat ranjangnya.
***
Nayyara mencoba memejamkan matanya, namun matanya tak mau diajak kompromi. Padahal besok ia harus mengajar pagi lagi. Kepalanya sudah terasa pusing karena sejak setelah shalat Isya, ia memeriksa tugas-tugas dan skripsi mahasiswa bimbingannya.
Nayyara menghela napas panjang. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Ia turun dari lantai dua menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga habis. Ia memalingkan pandangannya ke arah kamar almarhumah ibunya. Di tengah kegelapan dibantu lampu senter dari ponselnya, ia berjalan menuju kamar tersebut. Kamar yang belum pernah ia masuki lagi setelah Felisha menginap di sini. Ia membuka pintu dan menyalakan lampu kamar itu. Lampu senter di ponselnya ia matikan. Ia memperhatikan seluruh isi ruangan. Ia memang sengaja tak mengubah apa pun di dalamnya, termasuk isi lemarinya yang masih tersisa beberapa lembar pakaian milik ibunya dan juga perhiasan favorit pemberian ayahnya dulu.
Ia membuka laci yang ada di lemari itu. Dua buah album foto ada di dalamnya. Ia mengeluarkan semuanya. Satu album adalah foto pernikahan orang tuanya dan satunya lagi adalah kenangan masa kecil Nayyara.
Ia membuka album foto kenangan orang tuanya. Mereka yang pernah saling mencintai. Terlihat jelas senyum sumringah milik ayah dan ibunya saat mereka duduk di pelaminan. Mereka adalah pasangan yang membuat iri para tamu undangan saat itu. Siapa yang menyangka, pasangan itu tak berakhir bahagia.
Nayyara tak kuasa menahan air matanya lagi saat ia mengingat dengan jelas kepergian sang ayah demi keluarga barunya dan ibunya menderita akibat leukimia yang membuat kondisinya terus menurun hingga hembusan napas terakhirnya. Belum lagi sang nenek yang harus banting tulang demi biaya pendidikannya selepas kepergian ibunya. Nayyara yang menangis memeluk album foto itu sambil berbaring di ranjang ibunya.
"Mama, Nay masih sakit hati karena Papa meninggalkan kita. Nay ingin kita bertemu lagi, Ma. Nay merindukanmu," gumamnya lirih.
Anak perempuan mana yang tidak terluka saat laki-laki pertama yang ia cintai dalam hidupnya tega mengkhianati sang ibu yang telah memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus. Sejak Nayyara merasakan betapa perihnya akibat dari pengkhianatan dalam hidupnya, membuatnya begitu membenci pernikahan.