Hujan deras yang turun sejak sore hingga dini hari ini membuat suhu udara semakin dingin. Tak hanya udara yang dingin, hubungan Hazig dan Nayyara juga ikut dingin. Beberapa kali Hazig yang sedang membaca materi untuk mengisi seminar besok menengok ke arah sang istri yang sudah terlelap dengan memunggungi dirinya. Untuk pertama kalinya, Nayyara bersikap seperti ini padanya. Hazig menghela napas kasar seraya mematikan laptopnya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk buang air* kecil dan mencuci wajahnya. Setelah itu, ia segera menyusul sang istri dan putranya yang juga sudah ikut terlelap. Ia tatap wajah Nayyara dengan sisa air mata di pipinya. Ia usap lembut air matanya dan mengecup keningnya cukup lama. "Maafkan aku jika aku sudah mengecewakanmu. Aku hanya meminta waktu sehari saja untuk urus

