Belajar Ikhlas

2005 Kata

Nayyara sedang merapikan penampilannya di depan cermin. Tak lama kemudian, ia meraih tas, kunci mobil, dan ponselnya lalu keluar dari kamarnya. Saat ia melewati ruang keluarga, ia bertemu dengan Renata. “Mau ke mana, Sayang?” tanya Renata. “Mau ke kantor Papa, Bunda. Nay mau ajak Rafa makan siang," jawab Nayyara. Renata tersenyum hangat. Ia bahagia melihat Nayyara begitu menyayangi putra satu-satunya. Memanglah darah lebih kental dari pada air. “Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan, ya!” “Iya, Bunda.” Nayyara berpamitan seraya mencium punggung tangan dan kedua pipi sang ibu. *** Nayyara memarkirkan mobilnya di parkiran khusus perusahaan. Ia turun dari mobilnya dan disambut satpam yang sedang bertugas. “Selamat siang, Bu Nayyara!” “Siang, Pak!” sahut Nayyara sembari tersenyum. “Wah,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN