Sinar matahari pagi membangunkan Hazig dari tidurnya. Setelah salat Subuh, ia memilih tidur lagi karena ia terus-menerus merasa mual selama tiga bulan terakhir. Suara bel yang terus berbunyi membuatnya mau tak mau harus bangkit dari ranjangnya. Ia mencuci wajahnya sebentar lalu bergegas membuka pintu. Ia terkejut begitu tahu kedua orang tuanya tiba-tiba mengunjunginya di akhir pekan. "Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Tania setelah mereka masuk. Hazig mengangguk pelan. "Iya, Umma." Tania meletakkan rantang berisi makanan kesukaan putranya. "Kamu makan dulu, Nak. Keyra bilang kamu sering banget mual-mual." "Umma," panggil Hazig, lirih. Adnan yang sedari tadi menatap tajam putranya berkata, "Kenapa kamu mengusir istrimu?" "Baba, biarkan dia makan dulu!" timpal Tania. "Menantu kita itu

