Suhu udara Subuh hari ini lebih dingin daripada biasanya. Aroma petrichor tercium oleh hidung wanita itu saat ia membuka jendela. Hujan masih terus membasahi bumi. Meskipun demikian, ia tetap menikmati udara dingin yang menurutnya begitu menenangkan. Nayyara telah terbangun sejak pukul 03.00 dini hari. Ia menunaikan ibadah sunnahnya dan muraja'ah hafalannya. Setelah ia rasa cukup, ia hendak tidur sedikit sebelum waktu Subuh tiba. Namun, matanya tak bisa terpejam lagi. Ia memilih kembali larut dalam ayat-ayatNya sembari memperhatikan wajah damai Mirza yang masih terlelap. Ditemani embusan angin dan suara rintik hujan, ia mengelus perutnya yang masih datar sembari tersenyum getir. Seharusnya ini adalah kabar bahagia baginya dan suami tercinta. Ah, andai saja suaminya tak mengedepankan amar

