7 : Tabir

1652 Kata
Jangan katakan pada Allah ‘aku punya masalah besar’, tetapi katakan pada masalah bahwa ‘aku punya Allah Yang Maha Besar’. -Ali bin Abi Thalib- ___ Khalilla terlihat serius meyelesaikan soal-soal fisikanya. Tak hanya menjadi salah satu peserta OSN saja, dia juga merangkap sebagai asisten dari guru pembimbingnya. Khalilla yang sudah dua kali ikut menyumbang kemenangan untuk sekolahnya ini membuat gurunya mengakui kemampuannya dalam bidang fisika. Tak terasa dua minggu lagi adalah hari H-nya. Hampir setiap hari sehabis jam sekolah Khalilla dan yang lainnya mengikuti bimbingan untuk mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Khalilla juga jarang lagi me-review buku akhir-akhir ini, mungkin ia akan memilih cuti melakukan hal tersebut. Selain ada OSN yang berada di depan mata, mulai bulan depan Khalilla juga akan mengikuti les tambahan untuk persiapan UAN. Terkadang, Khalilla merasa lelah jika selalu berkutat dengan buku-buku pelajarannya. Namun, gadis berpipi subur ini bisa merasa terhibur karena di rumah sudah ada mood booster-nya yaitu adik kembar yang lucu dan imut-imut. Khalilla bahkan sempat-sempatnya membayangkan jika nanti bisa memiliki prajurit kecil buatan sendiri sehingga bebas untuk diunyel-unyel tanpa ada tatapan tajam dan memperingatkan dari pasangan Abi-uminya itu. Khalilla baru saja kembali dari ruang bimbingan, ia menyerahkan soal-soal yang pernah dipelajarinya pada anggota yang lain karena besok, Khalilla tidak bisa hadir untuk bimbingan dan ikut membimbing adik tingkatnya. Di rumah sedang ada kesibukan mempersiapkan acara aqiqah adik kembarnya sekaligus syukuran pemberian nama untuk mereka. Tak mungkin Khalilla meninggalkan rumah sementara sanak saudaranya yang dari jauh pun juga merapat ke sana. “La, tunggu!” tiba-tiba saja suara Wildan menghentikan langkah Khalilla yang hampir mencapai kelasnya. Khalilla menoleh dan mengernyit heran pada Wildan yang terlihat ngos-ngosan itu. Ngapain sih si Wildan manggil Illa? Tumben. Khalilla membatin. “Kenapa, Wil?” tanya Khalilla. “Mmm ... kamu dari ruang bimbingan ya?” Khalilla hanya mengangguk menimpali. “Aku mau pinjem buku matematika kamu dong, kan kelas kalian udah sampai ke materi 12, sedangkan kelasku baru materi 10. Aku mau pelajarin buat tambahan bahan OSN.” Wildan menyampaikan niatnya. Laki-laki itu menyisir rambutnya yang sedikit berkeringat dengan jari tangannya. Khalilla tak sengaja memperhatikan itu hingga terlihat salah tingkah kemudian menunduk. “Oke, yuk ke kelas Illa! Illa ambilin.” ucap Khalilla, Wildan pun mengikutinya menuju kelas. Sampai di kelas, Zahara yang sedang tertawa bersama teman-temannya seketika terhenti saat menyadari kemunculan Wildan bersama Khalilla. Zahara terlihat tak suka dan ingin berdiri menghampiri Wildan, namun ketika iris mata Wildan menatapnya tajam, Zahara terpaksa menunduk salah. Jika Zahara menatap tak suka dengan dua orang yang baru saja memasuki kelas mereka, lain lagi dengan teman-teman Khalilla yang lain, mereka malah menyambut Khalilla dengan gemuruh ledekan ceria. “Cie ilah, Illa bawa cowok kelas sebelah ke sini.” “Jadi, Illa pilih cowok kelas tetangga nih daripada cowok kelas sendiri?” “Kasihan Qaddafi, kembali patah dan patah lagi." "Nasib anak baik itu mah.” Suara teman-temannya mengeruak kependengaran Khalilla. Tak heran lagi jika Qaddafi yang dekat-dekat dengan Khalilla sang juara kelas, tapi kali ini adalah Wildan si juara kelas sebelah. Siapa lagi yang mengompori teman-temannya ini kalau bukan si Alyaumil---sepupu tercinta. Wildan yang tak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini hanya tersenyum singkat sembari menghampiri meja Khalilla. “Cie Illa, cie Illa ....” Alyau yang berada tak jauh dari meja Khalilla kembali meledek. Khalilla tampak cuek saja saat teman-temannya sibuk mengurus urusannya, ia meletakkan jari telunjuk dibibir sambil menatap Alyau dengan mata melotot lalu memutar tubuhnya menghadap teman-teman yang masih memperhatikannya. “Ssstt ... jangan ricuh, wahai rakyat MIA 1. Terima kasih sudah menyambut kedatangan Baginda Illa. Hehe." ucapnya yang kembali dihadiahi sorakan kecuali Zahara yang sekarang berbalas tatap dengan Wildan, entah dengan maksud apa. Kemudian, Wildan memutus pandangannya pada Zahara dan kembali tersenyum canggung saat Khalilla memperhatikannya. Wildan masih menunggu Khalilla mencari apa yang dia butuhkan hingga tak lama kemudian, Qaddafi pun memasuki kelas yang belum kedatangan guru. Qaddafi terdiam di depan kelas saat menyadari Wildan berada di kelasnya, terlebih lagi bertengger indah di samping meja Khalilla. Qaddafi yang tidak suka melihat kehadiran Wildan itu pun melirik Zahara sekilas dan benar dugaannya, Zahara tengah menatap Wildan dengan pandangan kecewa dan menatap Khalilla dengan benci. Qaddafi berjalan cepat menyambangi meja Khalilla. Sudah menjadi rahasia umum jika Qaddafi menyukai Khalilla yang merupakan tetangganya sendiri. “Calonku, aku ke rumahmu nanti ya. Mau tengokin adik-adik kita.” ucapnya sambil menatap Wildan tajam. Khalilla menyerahkan bukunya pada Wildan. “Nih, kembalikan dua hari lagi ya. Illa mau ngerjain tugas.” pinta Khalilla pada Wildan lalu beralih pada Qaddafi dengan pandangan kesal, “ke rumah terus sih. Tengokin dedek apa alasan mau ketemu Illa? Illa suka naik darah loh, kalo lihat Dafi di rumah Illa.” Sejak beberapa hari yang lalu, uminya telah kembali ke rumah dan Qaddafi selalu saja datang. Awalnya memang bersama keluarganya untuk menjenguk sang Umi, kemudian Qaddafi datang lagi bersama Hajri dengan alasan yang sama dan berakhir dengan duduk tak berfaedah ditemani Khalilla yang didampingi Faaz. Dafi mau datang lagi? Illa kan jadi kesal. Mana manggilnya calon, calon lagi. Apa tadi? Adik kita? Pret, sejak kapan dia sama Illa ada hubungan darah? Ada-ada aja. batin Khalilla. Mengingat kata calon, Khalilla terbayang pria mata biru yang tak pernah tampak lagi. Mungkin dia tidak serius dengan omongannya itu. Iya, mungkin pria itu sudah menemukan calon yang pas untuknya. Mana mungkin pria seperti itu serius melamar anak sekolahan sepertinya. Khalilla menduga. “Aku pinjam ya, La. Eh, kamu punya adek baru?” tanya Wildan sok akrab. “Iya, mereka kembar. Nanti pas 7 harian main ke rumah ya, ada acara aqiqah dan syukuran pemberian nama.“ jawab Khalilla pada Wildan. Qaddafi masih setia berada di samping Wildan dengan pandangan tak suka. “Wildan aja nih yang diajak? Kita enggak?” celetuk Alyau dari bangkunya. Khalilla tersenyum malu hingga maju ke depan kelasnya. “Assalamu’alaikum semuanya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan kepercayaan diri Illa, Illa mau menyampaikan sepatah dua patah kata yang akan menjadi pra-undangan untuk kalian semua, undangan benerannya insya Allah nyusul besok ya. Gini, alhamdulillah Illa dapat adek baru. Nah, ada acara aqiqah dan syukuran di rumah. Jadi, kalian datang ya. Pakaiannya bebas bersyarat. Cewek harus pakai kerudung dan cowok nggak boleh pake kerudung. Oke!” Masyarakat MIA 1 mengangguk. Mereka mengacungi jempol ke arah Khalilla, ada juga yang menjawab oke dan ucapan selamat padanya. Saat Khalilla masih sibuk dengan teman-temannya itu, di bangku Khalilla yang masih terdapat dua laki-laki sedang terjadi ketegangan. Pasalnya, Qaddafi mendapati Wildan yang memandangi Khalilla dengan kagum. “Woi, biasa aja kali matanya.” Wildan menghilangkan senyumnya, kemudian membisiki Qaddafi, “Masalah buat lo.” Qaddafi pun merasa tertantang hingga kembali membalas Wildan, “Lo jangan pikir bisa dapetin Illa seperti lo dapetin cewek-cewek lo itu. Bro, cewek lo udah segunung, ngapain ganggu Illa lagi. Lo pikir gue nggak tahu kalau lo lagi taruhan sama teman-teman lo itu!” Wildan pun salah tingkah, mengapa Qaddafi mengetahui semua tentangnya. “D-dari m-mana lo-“ “Gue tahu semunya. Dari lo yang punya banyak cewek, lo yang ngincar Illa sebagai barang taruhan dengan teman-teman lo. Dan ingat, kalo lo sampai nyakitin Illa, gue nggak akan tinggal diam. Tuh, urus salah satu cewek lo, Zahara. Kasian dia yang lo cuekin hanya demi sebuah taruhan. Susah dapat cewek kayak Zahara yang tahu pacarnya lagi deketin cewek lain, tapi masih aja sayang. Ya, walaupun kali ini untuk taruhan.” bisik Qaddafi lagi. “Eh, Wildan masih di sini? Ada lagi yang mau dipinjam dari Illa?” tanya Khalilla yang telah kembali ke bangkunya. “Eh, itu, nggak ada lagi kok. Aku permisi ya. Aku pinjem dulu bukunya, makasih.” pamit Wildan dengan tergesa-gesa. Khalilla mengangguk kemudian beralih pada Qaddafi. “Situ ngapain lagi di sini?” Qaddafi yang masih kesal pada Wildan itu menghela nafas, ia memperhatikan Khalilla dengan serius. “Illa, aku cuma khawatir sama kamu. Bukan maksud aku mau ngatur kamu dan sok tahu. Tapi, si Wildan sebenar-“ “Illa udah tahu. Illa tahu semuanya kok, kamu tenang aja. Illa nggak bakal bisa dibodohi. Terima kasih ya, udah cemasin Illa.” potong Khalilla sambil tersenyum lembut. Hal tersebut membuat d**a Qaddafi kembang-kempis. Tak pernah ia diberi senyum semanis ini oleh Khalilla. Ini adalah senyum paling ikhlas dari Khalilla untuknya selama ini. “O-oke. A-aku ke bangkuku.” Qaddafi salah tingkah dan terlihat kikuk sendiri. Dia kenapa sih? Kok malu-malunya imut, padahal kan dia cuma bisa malu-maluin selama ini. batin Khalilla. *** Di salah satu sudut rumah sederhana terlihat seorang pria yang tengah kacau, beragam pemikiran menghantuinya. Ia kalut, takut dan tak tahu harus bagaimana lagi. Di saat masalah kepindahannya telah rampung terselesaikan, ia dihadapkan dengan masalah lain. Masalah yang mengharuskannya meredup binar pengharapan pada sosok dambaannya di nusantara sana. Ia telah terluka sekarang dan mungkin akan melukai setelah ini. Ia bisa menolak, tapi disatu sisi pilihan itu tak tega ia utarakan. Sahabat karibnya yang sangat dia sayangi dan menjadi teman berjuang selama ini telah menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan sosok cantik dengan lelehan air mata tiada terbendung. Keduanya hanya sebatang kara hingga pria ini tak sanggup melihatnya hidup tanpa sandaran. Terlebih lagi wanita itu sedang mengandung, pesan terakhir dari sahabatnya terngiang-ngiang ditelinganya. “Tolong kau jaga istriku. Dampingi dia meski sebatas nama, setidaknya sampai anak dikandungannya lahir. Kasihanilah dia yang nanti akan dipandang remeh oleh orang lain dengan keadaannya itu. Jika setelah anak kami lahir dan rasa cinta tumbuh padamu, maka kamu bisa menikahinya. Aku mohon dan aku ridho.” Dengan pertimbangan singkat, ia pun memenuhi permintaan sahabatnya. Permintaan untuk menjaga wanita sebatangkara itu, Ainil namanya. Pria asal Indonesia ini menyanggupi semua kesepakatan mereka sesuai permintaan dari mendiang sahabatnya dan disetujui oleh wanita tersebut. Wanita tersebut hanya mengikuti saja keinginan terakhir dari mendiang suaminya dengan perasaan yang hampa. “Maaf jika nanti aku akan menyakitimu.” ucap si pria dengan pandangan bersalah. “Tidak apa-apa. Kamu bebas menyakitiku karena kamu telah menyelamatkanku dari pandangan buruk manusia.” balas sang wanita datar. “Aku ikhlas menjalankan wasiat dari sohibku, namun aku memiliki satu nama yang ingin aku perjuangkan. Sosok yang tak sanggup lagi aku pikirkan karena takut menimbulkan zina pikiran untuk waktu yang lama. Aku berniat melamarnya, namun-“ “Aku mengerti, aku mendukung apa pun itu. Kamu bebas memutuskan, bahkan memilih untuk menikahi dia. Kamu menjaga nama baikku saja itu sudah cukup.” potong si wanita. “Terima kasih atas semuanya. Setelah bayimu lahir, kamu bisa tetap tinggal di pesantren, Abi dan umiku akan mengerti. Aku baru saja menghubungi mereka.” terang si pria dengan raut bersalah. Wanita itu pun mengangguk dan berlalu.  “Khalilla, aku harap kamu akan mengerti dan memahami posisi pelikku saat ini. Jangan pernah membenciku dan tetaplah seperti sebelumnya hingga aku mampu meraihmu untuk berada di sampingku.” lirih si pria kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN