“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
[an-Nisa: 19]
___
Khalilla tengah gelisah di bangku sekolahnya, antara ingin pulang bersama Alyau atau tidak. Alyau menawarinya tumpangan sesuai pesan dari sang Abi, sebab, mereka akan langsung menuju Rumah Bersalin. Tapi, pada akhirnya tawaran dari Alyau terpaksa Khalilla tolak karena teringat dengan ancaman pria yang sampai sekarang belum juga diketahui namanya itu, hanya mata biru saja sebagai kodenya.
Khalilla mengeluarkan ponselnya seraya mengetik pesan untuk Faaz, menanyakan di mana adiknya sekarang. Jika sudah sampai di Rumah Bersalin, bagaimana keadaan uminya.
Setelah mendapat balasan dari Faaz, Khalilla pun bernafas lega. Dengan wajah sumbringan, Khalilla langsung membalas pesan tersebut dengan mengatakan bahwa ia sebentar lagi akan menuju ke sana.
Saat ingin menyimpan ponselnya, Khalilla baru menyadari bahwa nomor ponsel Ratu masih terblokir sejak dua hari yang lalu. Khalilla tahu jika Ratu akan kelimpungan untuk menghubunginya hingga gadis berpipi subur ini mengubah setelan ponselnya.
Beberapa saat setelah membuka blokiran tersebut, tanpa diduga panggilan masuk dari Ratu pun muncul. Khalilla menghela nafas seraya mengumpulkan suaranya untuk menggeser icon hijau tersebut.
"Assalamu’alaikum, Illa." sapa Ratu di seberang sana, terdengar jelas helaan nafas sang Ibu pengacara, mungkin karena Khalilla bersedia menjawab panggilannya kali ini.
"Wa'alaikumussalam, Kak." jawab Khalilla sambil menggigit bibir bawahnya, ia sudah menduga sepupunya pasti membawa suatu petaka berupa si mata biru.
"Kakak ada di luar sekarang. Kamu di mana? Jangan bilang kamu udah pulang duluan?" Ratu memastikan.
"Illa masih di kelas kok." Khalilla mulai merapikan tasnya.
"Oke, Kakak tunggu. Cepat ya!" perintah Ratu.
Tak perlu bertanya pun Khalilla sudah tahu bahwa kakak sepupunya itu sedang bersama Om mata biru. Saat berbincang, terdengar sebuah suara di dekat Ratu yang Khalilla yakini adalah suara orang itu.
Khalilla menutup pintu kelasnya yang sekarang tak berpenghuni lagi, kemudian ia menggenggam erat ponselnya. "Kak Ratu nyusahin aja sih, udah bawa Illa ke sumber masalah, eh malah nganter sumber masalah ke sini. Illa berharap Kak Ratu bisa nyelesaiin sendiri tanpa melibatkan Illa, malah si pak tua mata biru itu yang ngotot. Memang ya, pesona Illa tak terbantahkan, buktinya sekarang nambah satu lagi fans Illa selain si Qaddafi." Khalilla membatin.
Saat bergerilya dengan pikirannya, Khalilla teringat dengan seseorang yang beberapa tahun terakhir ini mampu membuatnya tertunduk malu meski hanya mendengar suara ataupun melihat wajahnya. "Beginilah hidup, orang suka Illa, Illanya suka sama yang lain. Semoga Allah mengizinkan Illa menjaga perasaan yang paling suci ini untuk seseorang yang kelak akan menemani Illa meraih keridoan-Nya. Tak perlu harus orang yang Illa suka, cukup ia menyukai apa yang Allah suka dan selalu menolak apa yang Allah larang, maka itu lebih dari apapun." Pikir Khalilla.
Setelah melewati gerbang sekolah, Khalilla melihat ada dua mobil yang terparkir tak jauh dari posisinya. Salah satu dari mobil itu sepertinya tidak asing dan mobil satunya lagi pasti milik Ratu. Khalilla mendekati dua mobil yang terparkir berdampingan itu.
"Ayo naik!" perintah pria mata biru dari kaca mobilnya.
Khalilla menatapnya sekilas dengan pandangan kesal, kemudian menggeleng hingga melewati mobil itu menuju mobil kakak sepupunya. Khailla pun masuk dan duduk di samping Ratu.
"Illa bareng Kak Ratu, Om!" teriak Khalilla dengan menjulurkan kepalanya dari kaca.
Ratu terkekeh mendengar panggilan yang disemat Khalilla untuk atasannya. Setelah Ratu melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah Khalilla, pria mata biru yang Khalilla panggil ‘Om’ itu pun mengikuti mereka dengan menggerutu kesal.
***
"Ini maksudnya apa, Pak?" tanya Ratu saat sang atasan memberinya sebuah map yang masih tertutup rapat.
"Saya ingin meminta bantuan kamu. Sebelum kamu banyak tanya, lebih baik kamu buka map itu!" terang pria itu sambil memutar kursi kerjanya hingga membelakangi Ratu.
Ratu membuka map tersebut, kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto darinya. Ratu mencermati foto pertama, mulai memperhatikannya dengan intens---seorang wanita cantik. Lalu, berpindah ke foto kedua yang menampilkan wanita cantik tadi dengan seorang pria yang tak lain adalah atasannya ini. Ratu memandanginya lama sambil menatap punggung atasannya yang menyander.
Ratu kembali menurunkan foto tersebut dengan mengambil foto lainnya, potret perempuan cantik tadi dengan seorang pria paruh baya yang mungkin adalah ayah dari wanita cantik itu. Ratu mengangguk paham lalu membuka foto terakhir, foto pria paruh baya yang sama dengan gambar sebelumnya, yang kali ini bersama seorang wanita paruh baya. Ratu diam sejenak lalu berpindah pada laki-laki yang berada di tengah mereka, ia mengangkat pandangannya bertepatan dengan sang atasan yang melihat ke arahnya.
"Memang, itu saya dan orang tua saya. Ada yang ingin kamu ketahui lagi?" ucap pria itu sembari berdiri.
"Inti dari kesemua foto ini dan maksud Bapak meminta bantuan saya apa?" tanya Ratu dengan tangan yang masih menggenggam foto terakhir.
"Papa saya menghianati Mama saya, Mama pun frustasi hingga meminta cerai. Setelah melewati masa-masa pengobatan, keadaan Mama saya sekarang sudah stabil dan ia meminta saya untuk menikah secepatnya." terang pria itu.
Ratu masih menunggu kelanjutannya.
"Saya minta kamu carikan saya istri. Tak peduli harus yang seperti apa, asalkan dia mau diajak nikah secepatnya."
Deg
Ratu kaget luar biasa, ini tugas berat. Mencarikan calon istri untuk atasannya dengan cepat dan mau diajak nikah mendadak, di mana ia harus menemukan wanita itu?
"Tapi, Pak, kok saya? Bapak tidak bisa cari sendiri?" tanya Ratu dengan gugup.
"Saya sudah tak tahu lagi apa sebenarnya itu cinta. Saya tak pernah lagi merasakannya setelah dikhianati. Saya pikir, saya tak butuh cinta dan menikah. Tapi demi Mama, saya harus melakukannya." jelasnya yang terdengar pilu diindera pendengar Ratu.
"Temukan dia dalam minggu ini!”
***
Riqhad memandangi orang di depannya dengan intens. Mulai dari rambut pirang, bola mata kebiru-biruan, kulit yang bersih bahkan menyamai warna kulit Khalilla, lalu pakaiannya yang sangat rapi. Riqhad tebak usia pria di depannya ini berkisar 24 tahun. Tampan sih.
Setelah memandangi orang di depannya, sang Abi beralih melirik putrinya yang tengah tertawa riang di ruang rawat Shanum. Umi Khalilla sudah berhasil melahirkan anak kembar mereka beberapa jam yang lalu. Alhamdulillah.
"Illa nggak tahu apa, ini Abi lagi mau emosi karena bawa-bawa pria ke hadapan Abi. Eh, dia malah ninggalin abinya dan cengengesan di situ seolah nggak ada masalah." Riqhad masih memperhatikan putrinya yang asyik tertawa bersama keluarganya di dalam sana.
"Om, ini Bos Ratu mau ngomong!" Ratu yang baru kembali dari ruangan tantenya menyentak lamunan Riqhad.
"Ini lagi satu, enggak waktu kecil, enggak udah dewasa, hobinya bikin runyam aja. Dulu ngusik Shanum buat dikasih Daddy-nya, nah sekarang malah ngajarin Illa bawa pria ke hadapanku. Nanti kalau pria ini mau ambil Khalilla dariku gimana? Ada dendam apa sih si Ratu sering banget nitip pusing dikepala." Riqhad bersuara dalam hati dengan memandangi Ratu yang telah bergabung bersama mereka.
"Ekhm." Riqhad berdehem, berusaha menampilkan wajah santai. “Silakan," ia mempersilakan pria di depannya untuk bersuara.
Pria itu pun meluruskan posisi duduknya, mencoba bersikap setenang mungkin hingga mata birunya menatap netra Riqhad dengan berani. "Maaf mengganggu waktu Om. Perkenalkan, nama saya Edzard Adlyn Rafisqy. Saya ingin-"
"Assalamu’alaikum, di mana si kembar?" tanya sebuah suara yang baru muncul hingga menenggelamkan kalimat yang ingin diucapkan oleh si mata biru yang ternyata bernama Edzard.
Riqhad berdiri dan menyalami mereka dengan sopan. "Wa'alaikumussalam. Tuh di dalam! Ghafar mana?" Riqhad mencari sosok Ghafar yang tak ikut datang.
"Ghafar sudah kembali ke Kairo pagi tadi." jawab Nyai Kintan sambil memandangi pria muda yang tak dikenalinya.
"Pak, berdiri dong! Salam sama yang lebih tua." bisik Ratu pada Edzard yang masih diam di posisi duduknya.
Riqhad hanya menatap Edzard kesal, lalu menimpali perkataan Nyai Kintan, "Syarat kepindahannya ke sini sudah selesai ya, Nyai?"
Wanita paruh baya itu mengangguk.
"Ini siapa?" tanya Kyai Dzaki meyalami Edzard yang baru berdiri.
Edzard menimpali dengan ragu, "Kenalkan, Pak, saya Edzard. Untuk saat ini, saya adalah atasan dari Ratu." Kemudian, Edzard beralih menyalami Nyai Kintan. Namun, istri Kyai Dzaki itu menangkup tangannya di depan d**a seperti yang pernah ia terima dari Ratu dan Khalilla. Edzard pun menahan malu dengan melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, kalian lanjutkan lagi obrolan kalian ya. Kita ke dalam dulu mau tengokin si kembar." Riqhad mempersilakan dua tamunya berlalu menuju ruang rawat Shanum.
Setelahnya, Riqhad kembali melirik pria bernama Edzard seraya mengusap wajahnya. Abi Khalilla ini kesal melihat Edzard yang tidak mengetahui batasan antara laki-laki dan perempuan. Pria bule itu pun tak menampakkan sikap menghormati kepada orang yang lebih tua, buktinya, Kyai Dzaki yang menyalaminya lebih dulu.
Riqhad mempersilakan Edzard untuk duduk kembali. "Jadi, Edzard sekarang adalah atasan dari Ratu?" Riqhad mengulang pernyataan dari Edzard kemudian melanjutkan lagi, "terus, nantinya akan menjadi siapa kalo bukan atasan Ratu lagi?"
Edzard menelan ludah, ternyata, ayah Khalilla yang berwajah kalem ini juga memiliki aura garang yang membunuh.
"Dia mau ngelamar Illa, Bi. Katanya sih gitu, tapi nggak tau juga." Khalilla muncul sebelum Edzard menimpali perkataan abinya.
Khalilla yang duduk di samping abinya langsung menerima tatapan tajam dari pria bermata biru itu. Apa sih? Kan Om yang bilang gitu ke Illa. Khalilla membatin.
Riqhad kaget mendengar hal itu. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut. Inikah inti dari pertanyaan Khalilla kemarin-kemarin?
"Benar begitu?" Riqhad meminta sepatah kata dari Edzard.
Pria bermata biru itu mengangguk mantap. "Iya, Om. Saya ingin menikahi putri Anda, Khalilla."
Khalilla hanya mengangguk-anggukkan kepalanya karena perkataannya benar. "Illa kan jarang boong. Apalagi ke Abi." Khalilla berbangga didalam hati.
"Allahu Akbar! Sakit, Bi! Sakit! Abi kok cubitin paha Illa sih?" Khalilla terperanjat karena dihadiahi cubitan mendadak dari abinya.
Ratu yang awalnya merasa sangat bersalah pada Khalilla, tak mampu menyembunyikan tawanya. Tingkah sepupunya itu mampu membuat orang kesal dan senang sekaligus. Kadang seolah tak memiliki masalah dan beban, terkadang juga seperti orang yang memikul beban paling berat di hidupnya.
"Itu tuh buat anak bandel kayak Illa, masih sekolah udah ada yang ngelamar aja. Tebar pesona ya di luar sana?" tuduh Riqhad dengan kesal sekaligus gemas.
Khalilla mengelus pahanya sembari menggeleng. "Enggaklah, ngapain tebar pesona kalau pesona Illa udah beterbangan dengan sendirinya."
"Lagian, Bi, salahin Om itu, kenapa ngelamar Illa. Illa kan nggak minta dilamar, kenal aja enggak." lanjut Khalilla lagi yang mampu membuat abinya terdiam.
Riqhad menatap pria pemberani di depannya. Nggak kenal? Malah ngelamar?
Edzard menelan ludah, hingga mata birunya menatap Khalilla dengan tajam. Oh, dia berani banget ya kalo ada abinya. Main potong-potong aja omongan orang. Awas aja nanti.
"Ini apa ribut-ribut? Mengganggu ketenangan aja!" Thoriq dan Syafiqa muncul.
“Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraan ini lain hari saja. Itu pun kalau Nak Edzard memang serius dengan ucapannya. Hari ini saya sangat sibuk." ucap Riqhad tegas seraya pamit mengantar Abang dan kakak iparnya ke ruangan Shanum.
"Jadi, nama Om, Edzard? Panggilannya apa?" tanya Khalilla setelah abinya berlalu.
"Jangan panggil ‘Om’, saya nggak setua itu. Panggil saja Eza." kesal Edzard sembari berdiri.
Khalilla mengangguk paham. "Oke deh, Kakak Eza. Ups, kalau 'Kakak' kemudaan banget ya untuk seorang Om-om. Nggak cocok. Mas aja deh kalau gitu." Khalilla menutup mulutnya menahan tawa.
Eza mengeram memperhatikan gadis berkerudung di depannya.
"Illa, temenin Faaz beli makanan sana!" Riqhad kembali muncul dan berkata tegas. Tak ketinggalan, matanya menatap tajam pria mata biru yang masih berada di posisi semula---di depan Khalilla.
"Siap, Bi. Illa pamit, Assalamu’alaikum." Khalilla berlalu menggandeng adiknya yang kecil-kecil sudah hampir menyamai tinggi badannya.
Eza hanya memperhatikan sosok Khalilla yang terlihat begitu ceria, seolah tidak memiliki beban.
"Om, terima kasih atas kesempatannya. Saya pamit. Nanti saya kabari lagi kapan saya akan menemui Om." pamit Eza ketika Riqhad sudah berada di hadapannya lagi. Ia menyalami tangan Riqhad dengan sopan.
Riqhad mengangguk singkat. "Jangan pikir mudah ya, mau ngelamar anak orang." batin Riqhad melepas punggung pria bermata biru itu menjauh darinya.
"Kamu mau pamit juga?" Riqhad beralih pada Ratu yang berada tak jauh darinya.
Ratu mengangguk canggung. "Iya, Om, mau ganti baju sekalian jemput Mommy di kampus."
***
"Apaan?" Khalilla bertanya pada Faaz yang masih memandanginya dengan selidik.
"Bener ya, Mas ganteng yang tadi itu mau ngelamar Mbak Illa?" timpal putra Riqhad itu seraya membayar pesanan makanan mereka.
"Gitu sih kayaknya." Khalilla menjawab enteng.
“Mbak mau nikah muda memangnya?" tanya Faaz lagi.
Khalilla menatap adiknya sejenak dan berkata, "Ogah lah! Tapi, gimana-gimana nanti aja deh, kita kan nggak boleh mendahului-Nya. Membenci keadaan berlebihan pun jangan. Mbak ogahnya seadanya aja. "
"Faaz kok jadi nggak sabar lihat Mbak Illa nikah ya, apa nggak rugi yang jadi suami Mbak nanti? Mbak kan cerewet." ucap Faaz cengengesan.
"Enak aja kamu ngomong gitu, Dek. Mbakmu ini yang rugi kalau nikahnya sama Om-om kayak si mata biru itu." Laki-laki yang dipanggil Faaz itu pun tertawa mendengar perkataan mbaknya.
Drrt... drrrt....
Ponsel Khalilla berdering.
"Faaz masuk duluan ya, Mbak angkat telepon bentar." Pinta Khalilla.
Faaz pun mengangguk mengikuti instruksi dari mbaknya.
"Assalamu'alaikum." Khalilla mengawali sambungan dari nomor tak dikenalinya.
"Ini saya. Save nomor saya. Dan jangan lupa perkataan saya di sekolah kamu tadi, saya nggak pernah main-main sama ucapan saya. Jadi, jangan pernah coba untuk lari apalagi menolak. Jika itu terjadi, dirimu dan nama baikmu saya cemarkan sekaligus." ancam suara itu tanpa basa basi lebih dulu.
Khalilla kaget bukan main, ancaman yang sama dari orang yang sama sudah dua kali ia terima hari ini. Malang sekali rasanya jadi Khalilla, diseret-seret ke sebuah masalah hidup orang lain. Khalilla berusaha mengacuhkan rasa takut yang timbul seketika di dadanya.
"Iya, Illa save nomornya." jawab Khalilla seadanya.
"Minggu depan saya akan menemui Abi kamu lagi karena besok sampai seterusnya saya harus ke luar negeri. Padahal, saya akan membawamu kehadapan Mama saya setelah pertunangan, tapi semuanya gagal karena ulahmu itu." terang suara di seberang sana.
"Terserah aja deh. Nggak peduli juga Illa." Khalilla bergumam.
Eza yang sayup-sayup mendengar gumaman Khalilla itu pun berdecak kesal. "Ya sudah. Saya pamit, kamu baik-baik di sini. Tunggu saya kembali."
Setelah panggilan suara itu ditutup sepihak, Khalilla memegang d**a sebelah kirinya. Ada rasa yang tak biasa di sana, ia menghangat hanya karena kata-kata biasa dari orang biasa. Ini aneh, mengapa bisa begitu. Ada apa dengannya?
Kamu baik-baik di sini, tunggu saya kembali. Wajah Khalilla ikut menghangat tanpa ia sadari. Betapa sejuknya kata-kata itu meski diucap oleh seseorang yang menjadi sumber masalah di hidup Khalilla sejak beberapa hari ini.
"Mbak, ayo!" Faaz membawa Khalilla kembali dari lamunan singkatnya.
"O-oke."
Khalilla memasuki bangku kemudi sambil berpikir.Dia nggak jawab salamnya Illa. Muslim nggak sih si Edzard itu?