“Ya Allah, Illa tahu ini semua datang dari-Mu. Jika ini memang seharusnya terjadi pada Illa, Illa mohon berikan Illa pemahaman agar bisa mengakhirinya tanpa mengecewakan-Mu.”
-Khalilla-
___
Khalilla sibuk menghubungi keluarga sembari menahan tubuh uminya di kursi belakang bersama Faaz. Shanum akan dibawa ke Rumah Bersalin Azharah disupiri Riqhad yang menyetir sambil menatap khawatir Shanum yang sedang menahan sakit di bangku belakang dengan kedua anak disisinya dan dua anak diperut.
Sesekali Riqhad memandangi Shanum dari kaca mobil dan sesekali memandangi Khalilla. Selain mencemaskan Shanum, ia juga mencemaskan perkataan putrinya. Pertanyaan Khalilla terngiang-ngiang ditelinganya. Riqhad memang sering mendengar pertanyaan horror dari putri cantiknya itu, baginya, dari kesemua pertanyaan Khalilla selama ini, baru kali ini ia temukan satu pertanyaan paling ajaib yang mampu membuatnya begitu terusik.
“Misal ada yang ngajak Illa nikah gimana?”
Riqhad mengenyahkan suara putri tercinta yang berdengung dipikirannya. Mengapa Khalilla tiba-tiba saja berpikir ke arah sana? Siapakah gerangan yang mampu menyentuh hati putrinya dan membuat Khalilla berani mengutarakan pertanyaan seperti itu meskipun dalam permisalan? Apakah diam-diam Khalilla berpacaran? batin Riqhad. Namun itu tidak mungkin, ia percaya jika Khalilla selalu menjaga amanahnya untuk menghindari hal tersebut.
Apa si Qaddafi itu ya? Setahu Riqhad, Qaddafilah yang paling gencar mendekati putrinya hingga berani mengirimi Khalilla surat cinta, untung saja jatuh ke tangan Riqhad lebih dulu.
“Bi, Abi! Nyetirnya yang bagusan dong, fokus! Abi bawa banyak nyawa loh ini.” Khalilla menyadarkan lamunan Riqhad.
“Iya, kamu pegangin Umi baik-baik.” balas Riqhad yang kembali fokus ke jalanan. Ia menyempatkan diri untuk melirik Khalilla yang menghapus peluh di wajah uminya. Memangnya udah siap tuh anak kalo nikah muda? Kelakuan aja belum benar, sok pake nasehatin abinya kurang fokus nyetir lagi. Memang, gara-gara siapa abinya ini hilang fokus. Riqhad berkata tanpa suara.
Faaz memijit punggung sang Umi dengan sabar tanpa berkomentar apapun.
Mobil yang dikemudikan Riqhad akhirnya sampai juga di gerbang Rumah Bersalin milik Sarah yang memang bersebelahan dengan kediaman keluarga itu.
“Bang, Shanum udah waktunya lahiran, tapi belum tahu kapan pastinya. Saran aku, lebih baik kalau di sini aja, nanti susah kalo kontraksi mendadak.” terang Sarah setelah beberapa saat menangani Shanum.
Riqhad menatap sang istri yang mulai terlelap kemudian beralih pada Khalilla dan Faaz yang berada di samping ranjang uminya. Riqhad memperhatikan sang putri yang sedang mengelus lengan Shanum dengan lembut, kemudian memutuskan, “Oke, kita di sini saja.”
Pria 41 tahun ini pun menghampiri tubuh istrinya yang terbaring. “Mbak Illa sama Adek pulang ya? Biar Abi aja yang jagain Umi.”
Riqhad mengelus pipi gembul istrinya yang terlelap. Meski badannya tak akan seindah dulu lagi, perasaan Riqhad tak pernah padam. Ia tetap menyukai Shanum seperti awal jumpa bahkan setiap bertambahnya usia pernikahan mereka, rasa pun ikut bertambah. Riqhad jatuh cinta lagi dan lagi.
“Tapi, Bi, kita-“
“Nggak apa-apa. Nanti Oma ke sini juga kok.” potong Riqhad cepat.
Faaz mengangguk paham. Ia menghampiri uminya dan mengecup pipinya dengan sayang. “Umi, Faaz pulang ya. Besok ke sini lagi, Umi yang kuat! Faaz sayang Umi.”
“Bi, Illa ikut jagain Umi di sini ya? Biar Adek sama Bi Darmi aja yang di rumah, Illa mau temenin Umi.” Khalilla memohon.
Setelah berpikir sejenak, Riqhad mengangguk menyetujuinya.
***
Keesokan harinya, Khalilla memilih izin dari sekolah untuk menemani sang Umi bersama Oma Hasna karena abinya harus kembali ke kantor menyambut kedatangan klien penting dari luar negeri yang tidak bisa diwakilkan. Tanda-tanda sang Umi akan melahirkan pun belum terlihat jelas, hanya sering konstraksi ringan saja.
“Illa, kemarin ada hubungi Tante Fhariza nggak sih? Kok mereka nggak tahu pas Oma bilang Umi kamu dibawa ke sini?” tanya Oma Hasna.
Khalilla menyengir. “Illa cuma hubungi Oma, Abah sama Bunda doang.” jawabnya.
Oma Hasna mengangguk paham dan tak menukas lagi. “Masih sakit, Sayang?” tanyanya pada menantu kesayangannya itu. Shanum baru saja mengalami konstraksi yang kedua kali hari ini.
“Udah medingan, Ma. Tolong bantu Shanum baring, ngantuk.” Shanum memelas.
“Jangan tidur tengah hari gini, nggak baik. Kamu nyander aja ya.” tawar Oma Hasna dan Shanum pun mengangguk.
“Illa solat dulu ya, Ma, Mi, sekalian ambil makan siang.” ucap Khalilla setelah sang Umi mendapat posisi yang nyaman.
***
Keesokan harinya lagi, Khalilla kembali ke sekolah setelah dipaksa oleh abinya. Mereka masih berada di Rumah Bersalin, sebab, Shanum sudah melewati pembukaan pertama pagi ini sebelum Khalilla dan Faaz berangkat ke sekolah. Sebenarnya, Khalilla tak ingin meninggalkan uminya, namun ia tak bisa mengabaikan sekolahnya juga.
Khalilla masih terlihat cemas dan selalu memikirkan keadaan uminya yang berkemungkinan akan melahirkan nanti malam. Gadis berkerudung lebar ini bahkan tak menyadari jika salah satu sahabatnya sedang memanggil-manggil namanya.
“La, Khalilla? Ada yang nyariin tuh di parkiran.”
“Siapa?” Khalilla mengangkat wajahnya dari memperhatikan buku Fisika Terapan.
“Enggak tahu. Orangnya keren banget, mana ganteng lagi dan juga sedikit dewasa.” terang si penyampai infomasi dengan mata mendamba.
“Om-om ya? Perasaan Om-om Illa kamu udah kenal, ada Om Gilan, Abah, Ayah sama Om Azhar. Jadi nggak ada dari mereka?” Khalilla memastikan lagi.
“Ih, bukan Om-om Illa, ini kayaknya abang-abang mateng keren. Udah sana!” ucapnya lagi yang tak mendapat respon antusias dari sosok Khalilla.
“Ogah, Illa nggak kenal berarti. Untuk apa juga.” tolak Khalilla dengan cuek.
“Katanya, kalau kamu nggak ke sana, dia yang ke sini nyamperin kamu.” Ayna kembali meyakinkan Khalilla untuk menemui orang itu di parkiran.
“Idih, siapa sih berani banget ngancam Illa?” Khalilla mulai merasa terganggu.
Ayna meletakkan jari telunjuknya di samping bibir, seolah mengingat-ingat. “Matanya warna biru, bule kan ya?”
Deg
Khalilla teringat dengan pria di Airport sekaligus pria yang mampu membuatnya gundah gulana hanya karena perkataannya itu. Khalilla pun meninggalkan bangkunya dengan cepat tanpa berkata-kata apa-apa lagi.
“Huh, tadi sok nolak, pas dibilang bule langsung ngacir. Khalilla ... Khalilla ... ternyata suka yang bule gitu ya? Pantasan yang lokal ditolak terus.”
Hachiim
Qaddafi muncul di kelas beberapa menit setelah Khalilla keluar.
“Khalilla mana?” tanyanya pada Ayna.
Ayna mengangkat kedua bahunya lalu meninggalkan meja Khalilla dengan menahan tawa. “Yang diomongin dateng. Panjang umur ya.” Ayna berkata dalam hati.
Di sisi lain, Khalilla menelusuri koridor sekolah dengan jantung yang berdetak kencang. “Jangan bilang pria mata biru ini sama dengan pria stres yang di Airport itu! Kalo memang dia, ngapain ke sekolahnya Illa sih?” gumam Khalilla disela langkahnya.
Beberapa menit berlalu, Khalilla sampai di area parkir sekolah. Di sana, ia diperlihatkan dengan pemandangan tak biasa. Seorang pria berdiri tegap di depan mobil mewah berwarna silver dengan bersedekap d**a. Banyak pasang mata yang memperhatikan sosok tersebut hingga pria yang menarik perhatian itu melihat ke arah Khalilla.
Seperti menemukan yang dicarinya, pria itu pun melepaskan tangannya yang semula menyilang di d**a hingga menyambut kehadiran Khalilla. Saat ia ingin mendekat pada Khalilla, gadis bersegaram sekolah ini mengisyaratkan tangannya hingga Khalilla sendirilah yang mendekati mobil itu.
“Kok lama?” tanya pria itu dengan raut kesal.
Khalilla tak berani lagi menentang mata orang di depannya. Ia memilih mengabaikan warna mata yang cantik itu dengan memandangi angin. “Untung saya mau ke sini.” ketus Khalilla dengan memainkan ujung kerudungnya.
Pria itu tersenyum simpul, tak menyangka sosok yang ingin dinikahinya ini terlihat berbeda dari kali pertama mereka bertemu. Waktu itu, Khalilla sangat pemalu.
“Kenapa cari saya?” tanya Khalilla jutek.
“Masuk ke mobil, akan saya jelaskan!” tawar pria itu sambil menatap Khalilla intens.
“Nggak mau, di sini aja, biar ada yang lihat bahwa saya nggak ngapa-ngapain sama Om-Om.” tolak Khalilla dengan malas.
Pria itu menarik sudut bibirnya seraya menimpali, “Jadi, kamu mau ada orang yang dengar pembicaraan kita ini? Memangnya saya mau ngapain kamu kalo ngomongnya di mobil? Kamu m***m juga ya ternyata.”
Khalilla melebarkan pupil matanya. “Enak aja ngomong gitu. Illa masih polos tahu, memangnya kayak Om apa, udah nggak higienis lagi.” balas Khalilla kesal yang langsung menggunakan kata ‘Illa’ untuk menyebut dirinya sendiri. Kemudian, gadis berpipi subur ini menambahkan lagi, “to the point aja, Om, Illa siswi yang sibuk karena mau bimbingan OSN.”
Meski kesal dengan ucapan Khalilla, pria itu tetap menimpali, “Oke, karena saya adalah pria nggak higienis yang tentunya lebih sibuk dari kamu, maka saya langsung saja.” Ia menghirup nafas sejenak lalu melanjutkan, “saya dari rumah kamu kemarin, tapi nggak ada orangnya. Kalian ke mana?”
“Jadi, omongan Om di Airport itu beneran? Bukan lagi syuting ya?” Khalilla menunjukkan ekspresi berlebihan agar terlihat dramatis.
Pria di depan Khalilla menahan kedutan di sudut bibirnya, sambil menyander di badan mobil, ia kembali bersuara, “Kebanyakan baca novel kamu. Saya serius itu dan ucapan saya nggak bisa ditarik lagi. Asal kamu tahu, gara-gara kamu menghilang kemarin, acara yang sudah saya siapkan jadi gagal total hingga saya harus menanggung malu dan menyelesaikan masalah yang kamu tinggalkan.”
Khalilla berkacak pinggang. “Kok nyalahin Illa? Kan Illa nggak mau, Om, kenapa nggak dengerin pendapat Illa sih? Apa gunanya undang-undang dengan pasal kebebasan dalam berpendapat kalau Illa nggak boleh bersuara.”
Pria itu menarik ujung bibirnya sedikit, suka dengan cara Khalilla menanggapinya. Ia mengacuhkan ketidaksukaan Khalilla dengan berkata, “Kamu sampai memblokir nomor Ratu dan panggilan masuk di ponsel kamu? Kamu memang pemberani, makanya saya semakin tertantang rasanya.”
“Jadi, kalian ke mana kemarin dan kapan saya bisa menemui orang tua kamu?” tambahnya lagi sembari menatap Khalilla yang masih saja menampakkan wajah cemberut. Apalagi gadis berseragam sekolah ini menggembungkan pipinya lalu mengempesnya lagi dan begitulah seterusnya. Lucu dan menggemaskan.
Khalilla yang mulai risih karena menjadi pusat perhatian masyarakat MAN ini pun memilih bersuara agar dirinya bisa cepat kembali ke kelas. “Kami di Rumah Bersalin Azharah, Om. Umi di sana karena mau lahiran.”
Jawaban Khalilla itu dibalas ketercengangan dari pria beriris biru di depannya. “Umi? Ibu maksudmu? Ibu kamu mau lahiran?” tanyanya memastikan.
Khalilla mengangguk.
“Ck, berapa sih usia orang tua kamu? Kok masih niat punya anak lagi, padahal putrinya sendiri sudah bisa melahirkan cucu untuk mereka.”
Khalilla melotot dan memandangi pria di depannya sekilas sebelum mengalihkan ke arah lain. Khalilla kesal mendengar perkataan orang aneh itu.
“Anak adalah titipan dari Allah, Om. Itu tandanya Allah masih mempercayai Umi dan Abi untuk menjaga titipan-Nya yang lain. Umi dan Abi nggak tua amat kok, Umi 37 tahun dan Abi 41 tahun.” jawab Khalilla dengan tenang. Setiap menyinggung Abi dan uminya, membawa ketenangan menghampiri d**a Khalilla kapan pun itu.
Pria itu mengangguk, terbuai dengan pandangan gadis di depannya. Saat menyebutkan kata ‘Allah’, ‘Abi’ dan ‘Umi’, entah mengapa wajahnya tak lagi ganas, malah terlihat manis dan menyejukkan. “Kamu anak pertama ya?” tanyanya lagi.
Khalilla kembali mengangguk.
“Oh iya, jangan panggil saya ‘Om’ lagi. Saya tak setua ayah kamu. Umur saya 25 tahun, seumuran Ratu---sepupumu.” terangnya. Tak terima mendengar gadis di depannya memanggil dirinya dengan kata ‘Om.’
“Siapa yang nanya?” gumam Khalilla.
“Udahlah, Om, kalau tua ya tua aja. Kalo mau sharing cerita jangan ke Illa. Illa mau pamit ke kelas ini.” Khalilla memperhatikan kiri-kanannya yang masih ramai.
“Kamu sebentar lagi sudah punya KTP, kan? Jadi, nggak sulit buat ngurus surat nikahan nanti dan saya lihat, postur badan kamu juga sanggup untuk melahirkan anak. Nggak apa-apa deh adeknya kamu nanti umurnya beda tipis sama anak kita, biar anak kita ada teman mainnya.” ujar pria itu dengan santai, namun Khalilla yang mendengarnya seperti ingin meledak marah.
Khalilla memutar tubuhnya yang semula miring, ia melirik pria kurang ajar di depannya sejenak dengan ekspresi takut jika ada yang mendengar perkataan Om itu.
“Apa sih, Om, kebelet nikah banget ya karena udah tua? Udah sana, cari yang lain aja. Yang seumuran kek, tante-tante lebih cocok sama Om. Illa kan masih belia.” tolak Khalilla dengan berani, namun setengahnya mengejek.
Pria itu merasa geram hingga kesal ke ubun-ubun. “Pulang nanti saya jemput! Jangan coba-coba lari dari saya lagi! Kalau enggak, saya bisa cemarin diri kamu dan nama kamu di sekolah ini. Bahkan sekarang pun bisa!”
“Camkan itu!” tegasnya lagi.
Brukk
Pria beriris biru itu pun menutup pintu mobilnya dengan keras hingga memekikkan telinga Khalilla.
Khalilla menganga tak percaya. “Kok dia yang marah sih? Kan Illa yang seharusnya marah karena tiba-tiba diajak nikah paksa, terus datang-datang ngomong nggak jelas gitu ke Illa. Dasar mata biru aneh.”
Khalilla merungut dengan memandangi mobil mewah yang kian menjauh darinya. “Ya Allah, Illa tahu ini semua datang dari-Mu. Jika ini memang seharusnya terjadi pada Illa, Illa mohon berikan Illa pemahaman agar bisa mengakhirinya tanpa mengecewakan-Mu.” Khalilla bermonolog. Ia mulai beranjak menjauh dari parkir yang menjadi tempat pertemuan keduanya dengan pria bermata biru yang sayangnya belum Khalilla ketahui siapa namanya.
“Illa tadi ngomong sama siapa sih? Kok keliatan marah gitu?” tanya Wildan yang tiba-tiba mencegat langkah Khalilla. Wildan baru saja mengantar salah satu gurunya hingga tanpa sengaja menyaksikan Khalilla bersama seorang pria dewasa.
“Itu, Om.” jawab Khalilla singkat, sebab otaknya masih memikirkan ancaman Om-om mata biru itu.
“Omnya Illa? Kok kayak bule? Illa ada keturunan bule ya?” tanyanya lagi.
Khalilla menggeleng. “Enggak kok. Itu Om stres. Udahlah, Wil, Illa males ngebahasnya. Illa ke kelas dulu ya. Assalamu’alaikum.” pamit Khalilla.
“Wa’alaikumussalam.” sambut Wildan.
“Ada apa dengan Khalilla?” Wildan bergumam heran, “seperti menyembunyikan sesuatu.” lanjutnya.