Vina mondar mandir didepan pintu ruang kerja Farel, dengan tangan memegang dokumen. Ia mau berbicara dengan Farel tapi belum siap. Beberapa kali ia menarik napasnya dalam dalam. Tapi, keberaniannya belum cukup. Vina meraih knop pintu. Tangannya serasa dingin. "Ih! Gimana ini?" "Masuk? Enggak? Masuk? Enggak?" "Kalo nggak masuk nanti makin deg deg an." "Gimana ya ngomongnya." "Oke, Vina latihan dulu." Vina menarik napasnya lagi dan lagi. Ia mengumpulkan keberanian. Dinda keluar kamarnya melihat Vina yang berdiri di depan pintu ruang kerja Farel. Ia memicingkan matanya dan menghampiri Vina melihat gerak aneh dari Vina. Dinda menepuk pundak Vina. "Vina, ngapain?" Vina terlonjak kaget. "Awww, astagfirullah Vina kaget. Mengecil sudah p******a ini!" kesalnya seraya menyelipkan rambu

