Halaman 15

1046 Kata
Dinda pulang kerumahnya diantar oleh Farel. Sebagai tanda minta maaf Farel karna membentak dinda tadi siang. "Makasih Pak." Farel mengangguk. "Sama sama." Setelah itu mobil Farel pun pergi dari hadapan Dinda. Dinda masuk kedalam rumahnya. Laily dan mai sedang berada di dapur. "Bagaimana kencanmu?" tanya Mai. Dinda memasang wajahnya cemberut. Meletakkan tasnya secara kasar di atas meja makan. Dan duduk disana. "Gagal." "Kenapa bisa?" Laily yang sedang makan brownies buatan Mai pun menoleh ke Dinda dengan cepat. "Mbak, Mbak yakin kalo Pak Adrian itu jomblo?" tanya Dinda. "Iya, dia jomblo dan belum ada pendamping hidup." Mai mendekati Dinda dan memberikan satu cup brownies buatannya. Dapur Dinda tidak akan menjadi pajangan jika Mai sering masak disini. Dinda mengambil brownies itu dan memakannya. Rasanya sangat enak sekali dan lumer dimulut. "Pas tadi Dinda kencan sama Pak Adrian. Ada wanita yang namanya Tasya dia bilang pacar Pak Adrian," jawab Dinda. Mai tertawa nyaring. Laily dan Dinda memandangi Mai heran. Apa ada yang lucu dari perkataan Dinda. "Tasya itu dijodohkan dengan Pak Adrian. Tetapi Pak Adrian selalu menolaknya. Banyak yang belum terkuak dari Tasya. Dia selalu memakai pakaian minim, bibir merah merona, memakai barang mewah yang harganya sangat fantasis sekali. Orangtuanya menjodohkan dia dengan Pak Adrian. Namun Pak Adrian menolak mentah mentah. Orangtua Pak Adrian dan orangtua Tasya hanya menunggu keputusan Pak Adrian saja," jelas Mai membuat Dinda mengangguk ngerti. Mai tersenyum dan mengelus lengan Dinda. "Jangan dipikirin. Sebelum janur kuning melengkung, kamu harus tikung! Kayaknya Pak Adrian juga punya rasa sama kamu." Dinda mengangguk. Apa ia akan memperjuangkan Adrian lagi. Ia takut ditampar kenyataan kalo Adrian menikah dengan Tasya. Alamat ia akan jadi perawan tua. Jangan sampai amit amit jauh jauh dah. "Siapa yang ngantar lo pulang?" tanya Laily. "Pak Farel." "Kok bisa?" "Entahlah." Dinda mengedikkan bahunya acuh. Ia masuk kedalam kamarnya setelah menghabiskan satu cup brownies. Ia tak mood melakukan apa apa setelah kejadian tadi. ~ ~ ~ ~ Farel berada didalam kamarnya. Ada satu poto yang tersembunyi di dinding kamarnya. Ia sangat suka melihat poto itu. Poto anak kecil yang ia yakin sekarang sudah beranjak dewasa. Ia mendapatkan poto itu saat rapat beberapa tahun yang lalu. Poto besar ini entah kenapa ada didalam tasnya. Ia juga merasa aneh. Namun saat ingin membuangnya ia tak tega dan malah membiarkannya saja dan menjadi pajangan. Farel mengambil remot yang memiliki dua tombol. Ia memencet tombol merah daripada tombol hijau dan keluarlah poto dari dindingnya. Memandangi poto ini adalah candu bagi Farel. Farel tersenyum melihat poto itu. Sekilas ia seperti mengenal orang didalam poto ini. Tapi siapa. Dan anehnya bisa bisanya terselip didalam tasnya dengan terlipat. Farel mencoba mengingatnya namun sangat sulit sekali. Ia berusaha siapa yang berada didekatnya saat rapat itu bermula. Ia yakin orang itu salah memasukkan poto ini. "Siapa dia?" Farel memandangi poto itu sambil berbaring dikasurnya. Hingga ia memejamkan matanya. ~ ~ ~ ~ "Pagi Wisnu," sapa Dinda dengan manis setelah Farel masuk kedalam ruangannya. "Pagi," balas Wisnu. Dinda tersenyum jahil. Ia akan menggoda Wisnu lagi. Sudah lama pria ini sibuk dan menganggurkan Dinda. "Nu-" "Dinda kamu pelajari ini! Tonton video ini baik baik. Nanti kamu praktekkan." Farel melemparkan ipad ke meja Wisnu saat Dinda berada disana. Sial! Dinda gagal menggoda Wisnu padahal ia sudah punya jurus paling panas agar Wisnu main solo lagi dikamar mandi. "Baiklah," keluhnya dan kembali kemeja sambil membawa ipadnya. Disana Dinda sangat bosan sekali. Ya video itu menunjukkan bagaimana caranya memasang dasi. Namun Dinda sangat kesulitan. Didepan Dinda ada ipad dan patung yang hanya sebatas kepala saja. Dan ditangannya ada dasi yang dibelikan Farel tadi. Farel kesal saat meminta wanita itu memasangkan dasi malah tidak bisa dan hanya mengikatnya saja. "Duh, divideo mudah. Kenapa gue enggak bisa bisa sih!" kesal Dinda dan menjatuhkan kepalanya dimeja. Ia berusaha fokus pada video itu dan kembali mempraktekkan di patung ini. Namun sudah berkali kali gagal. Dari Wisnu pergi rapat hingga Wisnu kembali ke meja. Dinda belum bisa lagi. Wisnu rapat 3 jam dan Dinda tak membuahkan hasil apa apa selama menonton video membosankan ini. Jangan tanya berapa kali dinda mengulang video ini. "Gini amat dah!" Setelah sekian lama Dinda akhirnya berhasil mempelajari bagaimana cara memasang dasi. Dengan gembira pun ia keruangan Farel. "Pak saya bisa memasangkan dasi sekarang!" ucap Dinda senang. Farel yang sedang fokus pada komputer dan ipadnya pun menoleh ke Dinda. Ia melihat jam dindingnya. Ia menyuruh Dinda mempelajari cara memakaikan dasi pagi tadi dan sekarang sudah siang dan sudah mau jam makan siang. "Lama!" "Ya intinya saya bisa," kata Dinda dengan sombong. "Duduk di sofa." Dinda dengan senang hati duduk disofa. Tak mungkin juga ia memasangkan Farel dari sambil berdiri. Tubuh pria itu tinggi. Farel pun berjongkok dihadapan Dinda membuat Dinda jadi grogi karna Farel begitu dekat dengannya. Tangan Farel diletakkan dipahanya yang tertutup celana panjang. "Ayo, bagaimana masangnya," pinta Farel membuyarkan lamunan Dinda. Dinda pun mulai melepaskan dasi yang Farel pakai dan memasangkan dasi yang dibeli Farel tadi sebagai bahan prakteknya. Dinda begitu serius memasangkan Farel dasi. Padahal menurut Farel memasang dasi sangatlah mudah. Tapi mungkin otak wanita itu kebanyakan m***m dan jadi susah diisi dengan yang baru. "Tuhkan dinda bisa," bangga nya ketika ia bisa memasangkan Farel dasi. Ia pun memperhatikan wajah Farel yang begitu dekat dengannya. Wajah itu semakin dekat. Hingga Dinda bisa merasakan hembusan napas Farel. Farel meletakkan tangannya disisi tubuh Dinda. Dinda semakin memundurkan tubuhnya ketika Farel memajukan wajahnya. Dinda semakin gugup saat pria itu menatap bibirnya dan jenjang lehernya yang memang sangat mulus dan kebetulan rambutnya ia ikat satu. "Dinda," panggil Farel. "I-iya a-ada apa Pak?" jawab Dinda gugup. Jantung mereka berdua berpacu begitu kencang. Wajah pria itu semakin dekat dengan Dinda. Membuat dinda semakin grogi. Sedikit lagi bibir Farel menyentuh bibir mungil Dinda. Namun wanita itu malah membekap mulut Farel dengan tangan mungilnya. "Pak saya ada urusan sama Laily. Saya permisi." Dinda dengan cepat keluar dari ruangan Farel setelah mendorong tubuh pria itu begitu pelan. Sial! Dinda memegangi jantungnya setelah keluar dari ruangan farel. Ia bisa mati kalo begini. Wisnu menatap dinda heran. "Kenapa?" tanya wisnu. "Jantung gue, jantung gue lagi pesta" Aish! Dinda malu kalo ketemu Farel. Mau sembunyi dimana dia kalo kayak begini. Kenapa pria itu mau menciumnya. Dinda hanya kaget saja. Dinda pun duduk dikursinya dan menjatuhkan kepalanya disana. Gerak gerik Dinda diawasi Farel lewat jendela ruangannya. Farel hanya tersenyum tipis dan kembali ke pekerjaannya yang tertunda tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN