"Cantik amat bu. Mau kemana?" goda Laily yang berdiri di ambang pintu. Ia jadi keingat Nisa waktu pertama kali kencan sama Gilang.
"Gue mau kencan sama Adrian."
Laily langsung mendekati Dinda ketika mendengar bahwa Dinda ingin berkencan dengan Adrian.
"Seriusan Din?" tanya Laily tak percaya.
"Dua rius malahan."
Laily menatap Dinda dari atas sampe bawah. Boleh juga penampilan Dinda.
"Penampilan dinda udah oke," puji Laily.
"Terus gue harus gimana?" tanya Dinda.
"Nih ya menurut pengalaman Laily waktu sama ni-"
"WOYY NGGAK MAKAN DIRUMAH GUE?!" pekik Mai di ambang pintu. Ia pun berdecak kagum melihat dinda yang sudah cantik dan rapi.
"Mau kemana Din?" tanya Mai sambil mendekati dinda.
"Mau kencan." Dinda memandangi Laily malas. Bukannya seharusnya Dinda yang menjawab kenapa malah anak jin ini yang jawab.
"Wah, biar manjur kita kasi doa dulu. Surah yasin."
Dinda membelalakkan matanya. Emang mengenang 40 hari kepergiannya pakai yasin segala.
"Nggak mau!"
Laily dan Mai pun memaksa wanita itu. Kalo dibacain surah yasin yang ada ia terlambat buat kencan. Ribet aman cuman kencan doang.
Dinda dengan malas pun mendengarkan dua wanita aneh ini yang membaca ayat kursi. Katanya kalo yasin kepanjangan. Setelah membaca ayat kursi. Mereka lanjut membaca surah an-nas.
"Woy lu kira gue setan!" kesal Dinda. Malah dibaca surah an-nas.
Dinda langsung pergi saja. Ia tak perduli pekikan dari dua orang gila ini. Ia kira bakalan mendapatkan satu teman waras. Namun sama sama gila.
~ ~ ~ ~
Acara kencan Dinda dan Adrian pun berjalan lancar. Dinda malu malu sendiri. Ia bersikap sangat anggun seolah ia adalah perempuan tulen. Padahal paling m***m.
"Terimakasih sudah mau menghadiri kencan ini," ucap Adrian.
"Sama sama."
"Boleh aku bilang sesuatu?" tanya Adrian. Dinda mengangguk.
"Kamu cantik sekali." tuhkan Dinda pengen tenggelam aja di sss.
Panggilannya yang membuat Dinda tak tahan. Aku kamu eaa. Dinda jadi malu sendiri. Semburan merah terlihat dipipinya. Ia jadi senyum senyum sendiri tak jelas.
"Oh, ini klien kamu. Sudah lama kita tidak berjumpa." Adrian kaget dengan kehadiran wanita disampingnya ini.
Dinda menatap wanita itu dari atas sampe bawah. Siapa dia.
"Tasya?" Adrian kaget dan langsung berdiri.
"Hai, aku Tasya. Pacar Adrian."
Dinda menatap gadis itu tak percaya. Katanya Adrian single tapi ini apa. Dinda berusaha tersenyum dan membalas jabatan tangan wanita itu. Pada saat menaruh hati kenapa harus ada penghalang lagi.
"Dinda."
"Nama yang bagus. Oh iya sayang, kenapa kamu nggak jawab telepon aku?" kini Tasya beralih tanya kepada Adrian.
Dinda mengambil tasnya. "Makasih pak makan malamnya. Saya pamit."
Daripada menganggu mendingan Dinda pamit saja.
"Dinda tunggu!" Adrian yang ingin mengejar Dinda pun ditahan oleh wanita itu. Adrian menghempaskan tangannya kasar.
"Saya tidak pernah berpacaran dengan anda! Dan saya akan tetap menolak perjodohan itu!" bentak Adrian.
"Ayolah Adrian. Lirik aku sedikit saja, apa kamu tidak minat dengan tubuhku?!"
"Cih, kau menawarkan tubuhmu dengan pria yang jelas jelas bukan suamimu!"
"Sebentar lagi kita akan menikah!"
"Mimpi!"
Setelah mengatakan itu Adrian pergi dari hadapan Tasya. Niatnya mau mengejar Dinda. Tasya menghentakkan kakinya kesal.
"Kamu cuman milik aku, Adrian!"
~ ~ ~ ~
Kencan yang indah, romantis, dan penuh cinta itu harus lenyap. Siapa wanita itu? Banyak yang bilang Adrian masih lajang. Tapi kenapa wanita itu mengaku pacarnya Adrian.
Sakit banget hati Dinda. Setelah Af yang meninggalkannya karna nikah sama oranglain. Sekarang Adrian lagi. Memang hidup Dinda tak boleh bahagai ya.
"Ah sial! Sial! Sial!" umpat Dinda kesal sambil memukul tangannya di udara.
"Kenapa selalu jadi sadgirl sih! Gue juga pengin bahagiaaaaa!"
"Kenapa kebahagiaan berpihak sekejap saja?!"
Dinda pun memilih duduk dibawah pohon dengan danau. Ia berjalan kemana kakinya melangkah.
Ditemani malam, ditemani pohon dan danau. Ditemani kesepian. Ia ingin pulang kejakarta. Sunyi nya jalanan sepi ini mewakili hati dinda.
Angin berhembus dengan lembut menerpa wajahnya dinda dan menerbangkan rambut wanita itu.
Dizaman modern ini dengan penuh teknologi yang selalu maju. Tapi dirinya tak pernah maju dan tak ada perkembangan membebaskan dirinya dari kata jomblo. Selalu disakiti, dikhianati, dikenalkan ke orangtua dan nikahnya bukan sama dia.
Ah pria itu seperti b******n saja bagi Dinda. Apa guna nya memperkenalkan dirinya kepada keluarga besar Af kalo nyatanya pria itu memilih wanita lain.
Apa guna nya mengajak Dinda kencan dan seperti memberi harapan jika ada wanita lain. Dan apa guna nya hidup ini.
Seseorang pun duduk disamping Dinda. Ya pria itu mengikuti kemana Dinda pergi. Saat akan kerumah wanita itu dan meminta maaf. Ternyata wanita itu malah pergi menaiki taksi. Ia pun berinisiatif mengikuti wanita itu.
Dinda menoleh kesampingnya. Pria ini yang membentak dirinya dan mempermalukan dirinya.
"Maafin soal tadi. Saya tidak sengaja membentak kamu."
"Lupakanlah."
Dinda malas berdebat sekarang. Ia lebih memilih menatap lurus kedepan dengan tangan meraba tanah dan mengambil batu kecil.
Plung
Plung
"Kenapa lo suka bentak gue? Kenapa suka marah marah nggak jelas? Apa benar hidup gue nggak pernah diinginkan orang? Terus apa guna nya gue dilahirkan kedunia. Kalo ujung ujungnya dibuang keluarga gue lagi?"
Dinda menoleh ke Farel. Mata pria itu menatapnya sangat teduh sekali.
"Gue tau lo orang baik. Tapi kenapa suka kasar sama gue? Apa karna gue nggak pernah lo inginkan juga?" tanya nya lagi.
Farel mengedikkan bahunya acuh. "Inilah sikap gue. Mood gue selalu berbeda beda. Tapi percayalah, jika gue udah sayang sama seseorang. Orang itu nggak akan gue biarkan pergi dari hidup gue."
"Lo suka sama seseorang?" tanya Dinda dengan serius.
"Wanita ceroboh yang suka berbicara aneh dan selalu membuat kegaduhan jangan lupakan ia begitu kocak sekali. Kadang gembira, kadang sedih, kadang bikin orang naik darah dan kadang bikin orang jadi rindu."
Dinda memandangi Farel dari samping. Apa itu dia? Ah terlalu berharap sekali. Nanti dihempaskan lagi ke bumi setelah diterbangkan tinggi tinggi. Malas sekali. Yasudahlah tetap berusaha bertahan dan bangkit dari keterpurukannya.
"Bilang sama gue kalo pria itu berengsek!"
Farel menoleh ke Dinda. Ia menatap mata itu dengan sendu.
"Saya tersinggung!"
"Baper!" cibir Dinda.