Kegiatan Dinda di kantor hanya berdiam diri saja. Ia tak tau harus melakukan apa sekarang. Menggoda Wisnu. Wisnu nya sedang di ruang rapat. Ia mengintip dicelah jendela ruangan Farel. Terlihat pria itu sangat fokus sekali.
Anggi yang baru keluar dari tim pembangunan melewati Dinda yang termenung. Mungkin wanita itu merasa kehilangan Wisnu. Karna Wisnu sedang ada rapat.
"Kesambet lo!"Dinda memutar bola matanya malas dan menopang dagunya.
"Bosan gue ngga ada kerjaan," ucap Dinda.
"Jadi lo enak tau, cuman datang kerumah Pak Farel pagi pagi. Terus datang kekantor duduk diam tanpa melakukan pekerjaan banyak. Gue juga mau di posisi lo!"
"Yaudah duduk sini." Dinda pun berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Anggi duduk.
"Gini nih kalo lahirannya nggak sepaket. Otaknya di pending dulu! Jadi ngga ada otak!"
"Serah lo! Uninstal aja tuh kepintaran lo!"
"Ogah gue! Emang lo ngga ada otak!"
Setelah mengatakan itu Anggi pun pergi dari hadapannya bertepatan dengan Farel keluar dari ruangannya.
"Ikut saya. Kita ada rapat dengan klien diluar."
Dinda mengambil tasnya dan mengikuti Farel rapat. Ya ginilah kerjaannya. Kalo ada rapat atau apalah Dinda akan ikut. Namanya juga sekretaris pribadi.
~ ~ ~ ~
Rapat pun selesai. Sekarang Laily yang akan jadi perwakilan tim pengembangan. Dulunya adalah Anggi, Anggi lebih memilih menyibukkan diri di tim yang lain daripada rapat penting.
Wisnu keluar ruangan bersama Laily, Hadi, dan Qina pastinya.
"Apa kamu sudah memiliki pasangan?" tanya Wisnu kepada Laily.
Wisnu bukan tipe yang frontal seperti ini. Entah mengapa ia ingin menanyakan perihal ini kepada Laily.
Laily mengernyitkan keningnya. "Saya?" Laily menunjuk dirinya. Wisnu mengangguk.
"Belum. Saya kurang mempercayai pria. Karna masa lalu saya sangat kelam sekali. Terimakasih."
Laily memilih berjalan terlebih dahulu. Masa lalunya memang sangat kelam. Laily lah yang membunuh kekasihnya tepat dijantung kekasihnya itu. Insiden itu bukan unsur sengaja tapi unsur membela. Yang baca Saquella pasti sudah tau.
"Apa kau menyukai nya?" tanya Hadi kepada Wisnu.
Wisnu hanya tersenyum saja. Ia tak tau apakah dirinya menyukai Laily atau tidak. Masih sedikit ragu untuk perasaannya saat ini.
"Good, kau benar menyukai dirinya. Ya dari penerawanganku kau cocok dengan Laily. Dia itu pekerja keras dan selalu menuruti keinginanku. Walaupun dia tidak bisa mengerjakannya. Dia akan bertanya," jelas Hadi.
"Kurasa aku lebih menyukai dirimu." Wisnu mengedipkan matanya ke Hadi dengan genit. Membuat Hadi menjadi merinding.
"Anak dan istriku kecewa padaku. Jika Ayahnya disukai pria!" setelah mengatakan itu hadi memilih berjalan terlebih dahulu.
Wisnu hanya terkekeh pelan saja. Ada ada saja tentang hadi ini. Bagaimana bisa seorang Wisnu menyukai wanita begitu cepat. Wisnu itu pemilih juga. Tapi dari ungkapan Hadi kalo Laily penurut ya boleh juga. Dia memang mencari wanita yang seperti itu.
~ ~ ~ ~
Dinda keluar dari mobil bersama Farel. Ia berjalan dibelakang Farel. Ternyata disini juga ada media yang menyoroti mereka saat masuk kedalam gedung.
Dinda hanya menampilkan senyumannya saja. Ia mengikuti kemana Farel pergi. Farel tampak santai berbicara dengan rekan bisnisnya.
Dinda mengedarkan pandangannya dan ia bisa melihat begitu seriusnya Adrian saat bersama rekan bisnisnya. Ah kadar ketampanan Adrian semakin bertambah sekali.
"Kapan gue bisa dampingi lo disamping sebagai kekasih lo Adrian," gumam Dinda.
"Dinda tolong ambilkan segelas jus," pinta Farel. Dinda mengangguk.
Ia pun menuju ke stand jus dan mengambil segelas jus. Ia membawa jus kehadapan Farel namun bukannya memberikan jus. Dinda tak sengaja menumpahkan segelas jus kepada Farel. Membuat baju yang Farel pakai menjadi basah.
Dinda terkejut bukan main. Hari ini Farel banyak mengunjungi klien nya.
"KAMU JALAN BAGAIMANA DINDA!" Dinda terkejut dengan bentakan Farel.
Farel kalo diluar memang begini. Memiliki sifat keras. Suara bentakan Farel menggema digedung itu membuat dia dan dinda menjadi pusat perhatian.
"Maaf Pak saya tidak sengaja," ucap Dinda merasa bersalah.
"KAMU TAU JADWAL SAYA HARI INI BAGAIMANA?!"
"KAMU MEMANG WANITA CEROBOH DAN NGGA BERGUNA!"
Dinda melihat sekelilingnya. Klien perempuan menjadi berbisik bisik. Air matanya pun turun tanpa permisi. Ia malu dibentak didepan umum seperti ini.
"Maaf Pak." saat akan membersihkan jas Farel dengan sapu tangan. Farel malah menepis kasar tangan Dinda.
"Permisi dulu," pamit Adrian kepada rekan bisnisnya.
Adrian menghampiri Dinda dan Farel. Farel menatap adrian tidak suka.
"Dia wanita dan dia sudah meminta maaf. Apakah pantas anda bentak?!"
Farel tak berkata kata. Ia memilih pergi saja dari sana. Dinda menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar. Adrian menggenggam tangan Dinda dan membawa wanita itu ketaman gedung. Dinda sangat malu sekali.
~ ~ ~ ~
Adrian menyodorkan sebotol minuman kepada Dinda. Dinda menerima minuman itu dan meneguknya. Adrian duduk disamping Dinda.
"Sejak kapan Farel sering membentak kamu?" tanya Adrian.
Dinda mengedikkan bahunya acuh. "Nggak tau."
"Apa malam ini kita bisa berkencan sebagai tanda maaf saya ke kamu karna pertemuan kita yang tak sengaja itu?"
Dinda menoleh ke Adrian dan ia kembali menatap kedepan. "Boleh saja. Lagian malam ini saya free."
"Apa perlu saya menjemput kamu?"
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri. Cukup kirimkan alamatnya saja."
"Baiklah. Saya kembali kedalam lagi."
"Makasih minumannya."
"Sama sama."
Dinda sangat senang sekali bisa bertemu dengan Adrian. Ia bersorak girang dan meloncat loncat tak jelas.
Ia pun langsung keluar dari gedung itu lewat belakang. Malas sekali bertemu pria kasar itu. Hal sepele saja sudah marah marah. Bos apa kayak gitu, nggak ada baik baiknya.
Dinda berjalan di trotoar dengan menendang kerikil atau batu kecil. Ia pun duduk dihalte merasakan sakit pada kaki belakangnya dan ternyata kakinya lecet sedikit berdarah terkena high heels nya.
"Gue lupa pakai bantalan sepatu," gumam Dinda.
Memang akhir akhir ini ia jarang memakai bantalan sepatu agar kakinya tak lecet. Namun sudah kejadian lecet mau bagaimana lagi.
Dinda hanya menatap kedepan saja. Melihat bis berhenti dan berjalan, berhenti dan berjalan lagi. Itulah kegiatannya hingga sore pun menjelang. 4 jam ia duduk disini.
"Gini amat nasib gue!"
"CEO sialan itu! Awas saja kau!" geram Dinda.
Dinda pun melangkah pergi dari halte bis dengan melepaskan sepatunya saja. Daripada kakinya semakin lecet.
~ ~ ~ ~
Dinda sampai dirumahnya dengan berjalan kaki. Jauh sih tapi Dinda malas naik kendaraan. Iya iya Dinda akui didalam tasnya hanya ada uang seribu saja tak ada lagi. Atm nya ia tinggal kan dirumah. Pria sialan itu yang membuat Dinda harus berjalan kaki.
Dinda langsung merebahkan tubuhnya dikasur. Ia sangat lelah sekali.
"Gue capekkk!" keluhnya.
Laily keluar dari kamar mandi. Ia hari ini pulang agak awal. Ia ikut Wisnu ke tempat pembangunan pondok pesantren. Jadi Wisnu menyuruh nya pulang awal. Dengan senang hati Laily tak menolaknya.
Padahal Wisnu berharap Laily menerima ajakan untuk makan bersama. Namun sayang wanita itu menolak dengan berbagai alasan.
Sial!
Wisnu tidak dapat lagi. Setelah sekian lama wisnu menjomblo dan ingin mencari tambatan hati malah ajakannya ditolak. Perih banget anjir ??. Astagfirullah sabar Nu.