Pagi yang indah, terasa lebih nyaman saat tak ada suara bising jalan raya beserta asapnya yang menyesakkan. Tak seperti biasanya, pagi ini terasa begitu menyegarkan. Dengan pemandangan asri di sepanjang jalan, pohon rindang yang hijau, petakan sawah dan kicauan burung.
Nampak asri dan membuat siapapun yang datang tak ingin pergi lagi.
Aqeela dengan kulot hitam serta atasan biru muda dipadukan dengan pashmina yang senada dengan bajunya, yang hanya di pentulin dan dililitkan di lehernya. Sepanjang jalan dia tidak pernah memalingkan wajahnya dari jendela mobil. Menatap kagum, seolah dia baru pertama kali dilahirkan dan melihat alam semesta.
Merasa beruntung karena tuhan memberinya kesempatan untuk datang ke tempat yang seolah belum pernah terjamah oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, jauh dari keramaian kota dan polusi. Udara disini sudah pasti bersih dan sehat.
"Kemana nih kita?" Mobil yang dikendarai oleh tiga orang manusia itu mulai bergerak pelan, menanyakan kepada sang penunjuk jalan yang tampak kebingungan.
Setelah berdiam cukup lama, Tiara menyuruh Viano untuk berbelok ke arah kiri.
"Lu beneran bisa baca map kan? Muka lu gak meyakinkan banget, jangan-jangan kita nyasar lagi…" Tanya Viano selaku supir.
Hari ini, mereka hanya bertiga. Pergi ke pesantren yang sudah membuat janji untuk memakai jasa mereka. Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat, meski siapapun tahu jarak antara Bogor dan Jakarta tidaklah sejauh itu, tapi setelah dari sini mereka masih harus menemui beberapa klien lainnya.
Dan berhubung Bogor adalah tujuan mereka yang paling jauh, mereka memutuskan untuk ke Bogor lebih dulu sebelum ke tempat lainnya.
Sebenarnya mereka sudah menyarankan agar bertemu di luar saja, tak masalah jika akhirnya mereka tetap harus ke Bogor. Asalkan jangan langsung membuat janji untuk bertemu di pesantren. Tidak enak saja jika mereka datang hanya untuk masalah yang tidak sebegitu penting ini.
Namun karena orang yang menghubungi mereka adalah seorang ustadzah yang statusnya masihlah seorang santri, dia memberi alasan tidak bisa sembarangan keluar masuk gerbang tanpa izin yang jelas. Dan tentu saja alasan itu mampu membuat tim mereka akhirnya bersedia untuk menghampiri klien. Bahasannya sebenarnya hanya seputar konsep dan harga, yang kalau mereka mau bisa saja di diskusikan via online, dm i********: misalnya. Tapi karena lagi-lagi peraturan pesantren yang membatasi waktu para santri untuk menggunakan ponsel, membuat Aqeela dan temannya menyerah dan mengiyakan saja.
"Tenang aja sih, percaya sama gua, lagian nyasar juga gak rugi, jarang-jarang nih mata gua dimanjakan dengan pemandangan yang hijau."
“Halaah norak lu!” cibir Aqeela.
“Shhuttt diem, orang munafik dilarang ngomong!” Ujar Tiara terang-terangan menyindir Aqeela yang tak hentinya menatap kagum ke luar jendela.
Aqeela tertawa dibuatnya. Berbeda dengan Viano yang raut wajahnya masih Nampak ragu untuk melanjutkan perjalanan. Hal itu tentu saja karena semakin mereka masuk lebih jauh, semakin jarang rumah orang nampak. Yang ada hanyalah hamparan sawah yang nampak hijau sejauh mata memandang.
"Bukan apa-apa nih, kalo makin jauh jalan ternyata kita nyasar begimane?”
"Tinggal puter balik lah, gitu aja kok jadi masalah!”
“Eh kutu dugong, lu kira nih mobil jalan pake kencing kerbau apa? Pake bensin say, kalo misal abis tengah jalan lu mau dorong sampe dapet pom bensin?” kesal Viano.
Saat di perjalanan tadi dia memang tidak mengisi bensin mobilnya, karena malas melihat antrian yang mengular di setiap tempat. Berdasarkan perhitungannya mobilnya akan baik-baik saja sampai pekerjaan mereka selesai dan akan mengisi bensin saat Kembali nanti. Namun dipikir lagi sejak tadi mereka hanya berputar dan tidak kunjung sampai, jika terus begini maka akan lain jalan ceritanya.
“Lagian salah sendiri gak diisi tadi, gua mah ogah dorong nih mobil, noh minta si Aqeela!” cibir Tiara menyebalkan.
Aqeela tak mengindahkan pertengkaran yang terjadi antara Tiara dan Viano, karena jika dia ikutan maka tak akan ada orang waras di dalam mobil itu. Saat matanya fokus menatap hamparan sawah yang Nampak lari di luar jendela, dia melihat seorang bapak-bapak yang berjalan menuruni sawah.
“Noh ada orang, mending lu nanya deh mungkin bapak itu tau.” Ujar Aqeela secara tidak langsung menyuruh Viano berhenti.
Tak lama mobil berhenti.
"Nah baik gua nanya, daripada makin jauh ternyata nyasar yang ada malah gak tau jalan pulang!" Viano membuka pintu, menghampiri orang yang dimaksud oleh Aqeela.
“Halaah lebay kali manusia satu itu!” kesal Tiara belum selesai.
Tak lama Viano kembali dengan wajah kesal, menatap tajam Tiara di sampingnya seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Kenapa Vin?" Tanya Aqeela penasaran.
"Kita nyasar..." ucapnya pelan, matanya tetap menatap Tiara tajam.
"…Harusnya tadi itu kita belok kanan, ege! Bener kan lu gak bisa baca map, gak usah sok jago lain kali!" Protes Viano.
"Yaelah kelewat dikit doang!"
"Dikit doang lu kata? Liat nih jalan sempit b**o, kita harus puter balik dimana!"
Masih dengan omelannya, Viano kembali menjalankan mobilnya, mencari tempat yang lebih luas untuk putar balik. Tiara yang kena omelan merasa kesal dan memilih diam.
"Itu di depan ada belokan, bisa tuh kita puter balik disitu" Aqeela menunjuk jalan bercabang didepannya, yang hanya dibalas deheman oleh Viano.
Tak peduli, Aqeela kembali memperhatikan pemandangan di sepanjang jalan. Sudah biasa baginya mendengarkan adu argument dari teman-temannya dengan Tiara. Biarkan saja, nanti juga mereka akan Kembali bai-baik saja.
Baik Tiara maupun Viano, jika sudah beradu argument tidak pernah ada yang mau mengalah. Berbeda saat Wira yang ngomel. Pada Viano, Tiara berani melawan meskipun pada akhirnya tetap kalah dan kesal sendiri. Tapi pada Wira, dia akan langsung diam saat kalimat sarkas orang itu keluar.
Kalo kata Tiara mah, “Ngeri euy.”
Saat sudah menemukan jalan yang tepat, Viano meminta Aqeela untuk membaca map. Merasa trauma dengan kemampuan Tiara, dan lebih yakin dengan Aqeela yang mempunyai insting kuat dan tidak buta arah seperti perempuan berisik satu itu.
Jalanan sudah mulai memasuki pemukiman warga, meski rumah demi rumah tidak berdempetan seperti kota. Ada jarak yang lumayan jauh dari rumah ke rumah, dipisahkan oleh sawah atau lahan kosong yang tidak digunakan untuk menanam padi-padian dan sejenisnya.
Dari kejauhan, sudah nampak gerbang dengan tulisan pondok pesantren Darul Qur'an di ujung jalan. Pintu gerbangnya hanya terbuka sedikit, menandakan betapa ketatnya penjagaan. Baik santri maupun santriwati tidak bisa keluar masuk gerbang seenaknya, seperti yang klien mereka katakan. Bahkan tamu yang hendak menjenguk anaknya harus melapor dulu ke pos penjagaan.
“Akhirnya…” gumam Viano, saat mobilnya sudah berhenti di depan gerbang besi itu.
Karena gerbangnya hanya terbuka sebatas orang berjalan saja, mereka memilih menghentikan mobilnya di bawah pohon, depan gerbang. Aqeela turun untuk kemudian memasuki gerbang besar nan menjulang yang membatasi wilayah pesantren dengan dunia luar.
Seperti yang Aqeela duga, di depan gerbang sudah dipastikan ada pos satpam sekaligus tempat dimana para tamu harus melaporkan kedatangannya. Jika orang tua santri saja harus melapor apalagi mereka, yang merupakan orang baru dan belum pernah bertamu.
Aqeela mengampiri pos satpam yang ternyata sedang dijaga oleh seorang pemuda yang dia Yakini merupakan salah seorang santri disini, penampilannya sudah menjelaskan semuanya.
"Permisi..." sapa Aqeela sopan.
"Waalaikumussalam..."
Aqeela cengo, lupa jika yang dia sapa adalah seorang santri dan saat ini dia sedang berada di wilayah pesantren.
Pemuda itu menatap Aqeela sekilas, detik berikutnya Kembali menundukkan kepalanya.
"Assalamualaikum..." ralat Aqeela pelan, merasa canggung.
Pemuda tersebut Kembali menjawab salamnya, kali ini lebih ramah dengan senyuman, yang justru membuat Aqeela jadi merasa lebih malu.
"Iya, ada perlu dengan siapa dan kepentingan apa?" tanya pemuda itu, langsung pada intinya.