Job
Di sebuah ruangan yang Nampak pengap dengan banyaknya properti, Nampak empat anak manusia yang disibukkan dengan pikiran dan pekerjaan masing-masing. Di pojok ruangan terdapat sebuah meja beserta kursi yang seorang lelaki dengan rambut berantakan duduk diatasnya, laptop dengan logo apel digigit sudah bertengger manis di depannya. Dari raut wajahnya yang serius, semua orang yang juga ada dalam ruangan itu paham bahwa yang bersangkutan tak dapat di ganggu.
Sedangkan tiga anak manusia lainnya sedang sibuk bersantai dengan masing-masing ponsel yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman ketiganya. Dua lelaki lainnya sedang asyik bermain game bersama, dan satu orang perempuan yang sedang melamun dengan earphone di telinganya.
Adalah Aqeela, perempuan yang sedari tadi bosan dan berakhir pada lamunan Panjang tentang masa depan. Aqeela Humaira Dianita, perempuan berusia 25 tahun yang setiap harinya selalu di terror dengan pertanyaan “kapan nikah” oleh ibu serta para tetangganya. Pikirannya berkecamuk membayangkan jika suatu hari dia akan menikah dan harus meninggalkan keempat sahabatnya yang berisik ini.
Tidak, tidak. Aqeela menggelengkan kepalanya saat sadar jika saat-saat seperti itu tidak mungkin secepat itu terjadi. Prinsipnya adalah, siapaun yang akan menjadi suaminya kelak maka dia harus mencerminkan sosok Aqeela sepenuhnya. Maknanya dia harus menemukan dirinya versi lelaki, karena bagaimanapun jodoh itu adalah cerminan diri. Jadi bagaimana mungkin Aqeela menikah dengan orang yang tidak paham dengan keinginannya, termasuk keinginannya untuk tetap berada dalam lingkaran persahabatan ini.
"Ada job nih bestii..." teriak seseorang dengan cempreng, memasuki ruangan berukuran 5×6 m yang di sulap menjadi sebuah studio foto.
Ya Aqeela adalah seorang fotografer yang memulai bisnis dengan membuka studio foto bersama ke empat temannya. Tiga orang laki-laki, dan dua orang perempuan. Mereka merupakan teman satu organisasi dulu saat masih kuliah, sama-sama anggota klub fotografer. Belajar membidik objek untuk yang pertama kalinya, bersama. Cara pengambilan angel yang pas bersama-sama, hingga akhirnya memutuskan untuk membuka bisnis bersama pula setelah lulus.
Yang baru saja berteriak dengan suaranya yang memenuhi seluruh penjuru ruangan adalah Tiara, Tiara Ghania Malika. Perempuan yang usianya sepantaran dengan Aqeela, berwajah manis namun cara bicaranya tidak semanis wajahnya. Suka berteriak dan tak jarang kalimat-kalimat kotor juga keluar dari mulutnya. Dia merupakan telinga terbaik saat Aqeela butuh meluapkan kekesalannya pada tingkah para tetangganya yang suka nyinyir. Tiara juga orang pertama yang Aqeela ajak saat rencana bisnisnya sudah matang.
Meski tentu saja pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang sejalan dengan jurusan Aqeela, tapi ia sangat menyukai profesinya sekarang. Bisa bekerja santai bersama teman-temannya, tidak berada dibawah tekanan siapapun. Tidak ada jam kerja dan finger print. Aturan tidak boleh terlambat hanya berlaku ketika menemui klien dan hari H saat job dilaksanakan. Selebihnya, untuk editing dan sebagainya bisa dilakukan kapan saja selama tidak melebihi batas waktu yang ditentukan.
Sebenarnya selain menjadi seorang fotografer, Aqeela juga seorang penulis. Tidak banyak yang tahu bahwa tulisan Aqeela sudah dimuat di beberapa media, bahkan sudah ada versi cetaknya. Aqeela sengaja menganonimkan namanya, enggan terkenal dengan biodata asli, padahal namanya sudah cukup melambung di dunia kepenulisan. Aqeela memang menyukai sastra, itulah kenapa tulisan-tulisan yang Aqeela tulis selalu memiliki makna mendalam yang sangat disukai semua orang.
Meski sudah bisa dibilang sukses di dunia kepenulisan, tidak banyak orang yang tahu. Makanya tetangga di rumahnya seringkali menyindirnya dengan ucapan yang pedas. Dibilang kerjaannya hanyalah seorang tukang foto yang serabutan, lebih sering di rumah dan menjadi beban orang tua, kenapa tidak nikah saja?
Aqeela akui, usahanya dengan teman-temannya belum begitu terkenal hingga dipakai artis-artis ternama, tapi bukan berarti hasilnya tidak pantas disyukuri kan. Aqeela selalu bersyukur setiap ada acara yang memakai jasa dari studio mereka, berapapun hasilnya itu tetaplah rezeki. Lagipula Aqeela yakin, mereka yang menghina tidak benar-benar peduli dengan prosesnya karena mereka hanya ingin melihat bagaimana hasilnya.
"Abis ini kalian harus nemenin gua ke tanah abang!" Ucap Tiara lagi.
"Ngapain ege?" Timpal Adrian.
Adrian Noah Nugraha, saat di kampus dia adalah senior satu jurusan Aqeela. Namun Aqeela dengan kurang ajarnya justru mengajaknya untuk menjadi bawahannya. Yah meski taka da kesenjangan jabatan dalam pekerjaan yang mereka tekuni bersama, semuanya sama. Adrian adalah laki-laki paling berisik selain Viano yang Aqeela kenal. Meski begitu dia tampan dan tentu saja baik hati. Adrian pintar memanajemen pekerjaannya, meski tidak seahli Wira yang punya jiwa kepemimpinan.
Tiara menghela napas, "lu pada tau gak sih, kalo job kali ini spesial, makanya gua mau merubah penampilan gua yang awalnya mini menjadi layaknya ukhti," jelasnya yang masih belum jelas, sembari mengatupkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya sok ayu.
"Eh Aqeela, lu juga harus mengubah penampilan lu mengikuti jejak gua!"
“Males ah, lu gak jelas entar gua ketularan lagi.” Jawab Aqeela acuh.
Tiara yang hendak protes tak jadi saat detik berikutnya kepalanya mendapatkan toyoran dari Viano, "lu makin kesini makin gak jelas deh! Jelasin dulu kek job nya dimana, konsepnya kek apa! Ini malah sibuk sama penampilan diri, gak penting tau gak, yang penting tuh kerjaan lancar."
Alviano Ferdiansyah, manusia berisik lainnya yang masuk dalam kehidupan Aqeela. Viano menjadi satu-satunya orang dalam lingkaran pertemanan Aqeela yang namanya tersusun hanya dari dua kata saja. Meski berisik, Viano lebih bisa diajak serius daripada Adrian. Meski keduanya tak jarang menjadi partner yang sangat cocok untuk membuat suasana menjadi ramai. Menurut Aqeela pahatan wajah Viano seperti orang Arab. Alisnya tebal dan hidungnya mancung, kulitnya juga putih. Dia nyaris menjadi orang paling bersinar saat berdiri di bawah sinar matahari.
"Aduuh Viano sayang, gua kek gini juga buat kelancaran job kita kali, emang lu mau bawa gua masuk pesantren pake rok mini sama ngumbar-ngumbar aurat gua?"
"Anjaay aurora..." kekeh Adrian.
"Udah tau aurat ngapain masih di buka-buka" sarkas.
Adalah Wira salah satu teman Aqeela yang paling irit ngomong, sekalinya ngomong nyelekit banget. Wirayudha Prambudi Pandhya, wajahnya nyaris selalu datar, sulit sekali menebak suasana hatinya. Bicara hanya seperlunya dan tatapannya tajam. Jika orang yang tidak mengenalnya beradu tatap dengannya, maka dengan sekali tatapan mereka akan merasa terintimidasi. Tapi dibalik tatapannya yang tajam serta wajahnya yang datar, Wira adalah sosok penuh kasih sayang.
Meski kasih sayang yang Wira tunjukkan pada Tiara sedikit berbeda. Dengan bentuk badan yang proposional dan rambut ikalnya, Aqeela seperti melihat Apollo versi nyata saat pertama kali mengenalnya. Dan Aqeela pernah mengungkapkan hal itu secara langsung, meski hanya ditanggapi senyum masam dari Wira.
Tiara cengo mendengar ucapan Wira yang sarkas, langsung menyerang ke ulu hatinya.
"Astaghfirullah ngena banget…"
Yang lainnya hanya tertawa melihat respon Tiara. Sudah tidak heran dengan kelakuan Wira yang selalu sinis dengan Tiara, pada siapapun sebenarnya, tapi entah kenapa dengan Tiara Wira seperti punya dendam pribadi. Padahal jika dilihat-lihat baik Aqeela maupun Tiara, mereka sama-sama tidak memakai hijab, alias tidak menutup aurat mereka dengan sempurna. Tak jarang kata-kata Wira juga menjadi sebuah serangan bagi Aqeela, meski tentu saja yang sebenarnya diserang olehnya adalah Tiara.
Merasa setiap kali Wira menyindir Tiara soal cara berpakaian nya, Aqeela merasa sindiran itu juga di tujukan padanya. Meski dilihat dari manapun gaya berpakaian Aqeela sedikit lebih sopan dari Tiara yang tak jarang buka-bukaan.
Padahal Wira menjadi satu-satunya orang yang beragama Kristen diantara mereka. Hari ibadahnya adalah Minggu, saat Adrian dan Viano sedang sibuk bergelung di dalam selimut, Wira justru sedang khusyu’ berdoa di gereja. Namun meski beragama Kristen, tak jarang Wira menegur saat teman-temannya melanggar apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim. Seperti saat ini misalkan, menyindir secara langsung cara berpakaian Tiara.
“Dahlah, intinya Aqeela entar temenin gua beli baju yang lebih SOPAN…” Tiara menekan kata sopan sambil melirik sinis Wira yang tak peduli.
“… gua mau urus kejelasan job dari pesantren ini, bye!” setelah mengatakan itu, Tiara Kembali keluar dari ruangan itu, entah hendak kemana.
“Dasar, cantik-cantik spek mak lampir!”