Keesokan harinya, udara pagi sudah bisa Aqeela dan keluarganya hirup dengan segar. Jam delapan, setelah semua persiapan selesai, ayah Aqeela sudah bisa keluar dari rumah sakit. Semua orang tentu saja bahagia, ayah mereka tidak perlu lama-lama lagi di rumah sakit. Bersyukur karena kesehatan ayahnya cepat membaik, dan semua tidak seburuk yang mereka pikirkan. Aqeela bersikeras memaksa ayahnya untuk menggunakan kursi roda, padahal sejak di putuskan boleh pulang ayahnya sudah meyakinkan jika beliau bisa berjalan sendiri dan merasa baik-baik saja. Tapi dasarnya Aqeela yang keras kepala dan tetap memaksa. “Kamu kenapa keras kepala sih, ayah bisa jalan sendiri.” “Aqeela kan anak ayah, jadi wajar aja kalo keras kepala,” tanpa rasa bersalah Aqeela justru balik menyindir ayahnya yang sama keras

