Biarkan Aku Menata Kembali Semuanya (7)

1715 Kata
Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 7) #Anakku_Maduku #Ajt #Seputih_Cinta_Amelia Biarkan Aku Menata Kembali Semuanya ‘Jika yang terjadi adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus aku syukuri, maka Tuhan, ajari aku bagaimana cara melupakan tanpa harus membenci.” (Amelia) “Bunda, tapi saat ini Raya sudah terima, sudah pasrah, tak apa-apa Raya tak menikah dengan Ayah. Raya akan menanggung semuanya. Toh Raya sekarang sudah tinggal di kampung. Tak ada yang tahu siapa Raya. Yang mereka tahu Raya hamil nganggur. Tapi Raya nggak masalah dengan sebutan itu. Anggap aja ini hukuman untuk Raya yang sudah liar selama ini.” “Bagus, kamu sudah menyadarinya. Tapi Bunda juga nggak akan melanjutkan rumah tangga ini dengan Ayah,” jawabku. “Jujur Raya sedih.” “Sedih kenapa? Karena ternyata mimpimu untuk menikah dengan Ayah dan menjadikan Bunda madu gagal? Itu kan mau kamu?” “Bukan Bunda, Raya sedih karena Ayah dan Bunda harus bercerai. Dan sudah seminggu Ayah terbaring, entah sampai kapan akan bangun.” “Terlambat kamu bilang seperti ini, Raya. Sekarang baru menyesal. Seandainya kamu nggak rakus dan egois, ini semua nggak terjadi. Kamu lihat sekarang akibatnya, Ayah koma, kamu hamil dan Bunda hampir depresi. Hubungan kita sudah sulit untuk dipersatukan lagi. Bunda tak akan pernah mau kembali seperti dulu. Membayangkannya saja sudah jijik.” Ia diam. Biar kutumpahkan amarahku padanya sekali ini saja, biar ia tahu betapa aku kecewa dan marah. Bukan aku dendam. Hanya perlu membuatnya membuka mata atas kesalahan yang sudah dia perbuat. Bukannya ia tak pernah berbuat salah, sangat sering malah. Dari kecil hingga dewasa, tak pernah tak termaklumi, aku selalu maklum. Pernah ketika kupegangi kartu kredit, ia buang-buang uang hanya untuk mentraktir teman-temannya minuman keras berbotol-botol. Hilang uang seharga satu mobil, aku masih maklum. Pernah ia menabrak lelaki tua yang menjadi tulang punggung keluarga, dan pada akhirnya aku harus membiayai hidup keluarga mereka karena kepala keluarganya berpulang, aku masih bisa memaafkan. Semua keinginannya tak pernah tak terkabul. Tapi yang ini keterlaluan Raya. Bagaimana mungkin ia meminta suamiku sebagai suaminya dalam keadaan sudah hamil. Ia pikir aku juga akan dengan mudahnya mengiyakan permintaannya. Ini gila. “Pergilah kalau mau packing barang-barangmu. Saya mau istirahat.” Akhirnya ia mundur, keluar dari pintu kamar ini. Kubiarkan Raya membenahi semua barangnya di bantu dua orang ART. Aku memilih berisitirahat di kamar. Sebaiknya memang aku tak melihat Raya lebih lama, daripada harus sedih melihat ia mengemasi barang-barangnya. Mungkin hari-hariku selanjutnya akan terasa sepi. Tapi ini lebih baik. Kurebahkan diri kembali ke atas kasur. Kelebatan kenangan masa lalu bermunculan di kepalaku. Seperti sebuah film yang sedang diputar. Aku mengingat semuanya kembali. Kenangan empat belas tahun silam. Seorang wanita datang membawa-bawa anak kecil, meminta pekerjaan sebagai ART. Sebenarnya aku sudak tak membutuhkan karena di rumah sudah ada dua orang yang bekerja. Tapi melihatnya datang dalam kondisi kehujanan dengan wajah yang begitu memelas, membuatku jatuh iba. Mungkin ia memang sedang butuh pekerjaan sekali. Siang itu, Yu Sopinah langsung kuterima bekerja. “Yu, nanti bagianmu menyapu halaman belakang yang luas itu saja, dan membantu dua orang yang sudah bekerja di sini, agar pekerjaan mereka lebih ringan,” ucapku. Yu Sopinah mengangguk penuh binar. Ia kelihatan bersyukur sekali kuterima bekerja di sini. “siapa namamu, Nak?” tanyaku. Anak kecil berkuncir kuda itu tersenyum. Menjawab malu-malu. “Yani, Buk,” jawabnya. Sambil sekali lagi tersenyum menampakkan deretan gigi gupisnya. “Berapa usianya, Yu?” tanyaku pada ibunya. “tiga tahun setengah, Bu.” Si anak nyengir lagi ketika kutatap. Mungkin dia risih karena aku memperhatikannya betul-betul. Padahal aku gemas. Anak ini manis sekali. Kulitnya putih, bibirnya merah, hidungnya mancung bulu matanya tebal dan rambutnya lurus panjang. Ia sama sekali tidak mirip dengan Yu Sopinah. Mungkin ia mirip bapaknya, pikirku kala itu. Jika Yu Sopinah sedang menyapu halaman, Raya kecil akan bermain sendiri. memetik bunga-bunga di samping dan belakang rumah, melihat air mancur di tepi kolam ikan. Atau bermain boneka dan masak-masakan yang kubelikan. Semakin hari Raya semakin riang dan lincah, membuat aku dan Reo gemas melihatnya. Kala itu namanya bukan Raya, Tapi Yani. Yani Andriani. Sayangnya ia belum memiliki akte kelahiran. Aku membantu Yu Sopinah membuat akte ketika Raya berusia hampir empat tahun. Sebelum aku membuat akte, ada kejadian yang membuat namanya berubah. “Apakah yani suka dengan nama Yani Andriani?” “Sebenarnya aku tidak suka, Bunda.” “Oya, kenapa?” “Nama itu kampungan. Aku mau punya nama yang bagus, keren.” “Haahaha, kamu, nich, lucu, Yani. Memang suka nama apa?” “Raya, lucu ‘kan Bun, nama Raya?” “Lucu. Tapi emang beneran suka nama itu?” “Suka, seperti nama temenku di sana, orang kaya namanya Raya. Kartun yang aku suka juga namanya Raya,” katanya lugu dengan intonasi yang gemas. “Mmm, emang boleh nama Yani diganti, Bunda, kalau boleh aku mau pake nama Raya?” ucapnya sambil melompat girang. Akhirnya nama di akte berubah menjadi Raya Andriani. Orang tua Raya tidak keberatan karena Raya sendiri yang meminta. Selama tinggal di rumah ini, Raya sering kubawa kemanapun pergi, ke mall, ke tempat wisata, ke restoran. Bahkan ia sering tidur bersamaku. Pakaian, sepatu, sekolah, aku yang biayai. Hingga suatu ketika, setelah tujuh bulan bekerja. Yu Sopinah harus pulang ke Cirebon, orang tuanya sakit keras. Raya tidak mau ikut dengan ibunya. Memilih tinggal dengan kami. Aku dan Mas Reo tidak keberatan. Karena setelah empat tahun menikah, kami memang belum dikaruniai anak. Sejak itu Raya sudah kami anggap sebagai anak sendiri. terlebih ibunya tidak pernah kembali lagi ke sini. Aku pikir ya sudah tidak apa-apa, karena Raya juga memiliki banyak kakak, anggap saja aku jadi orang tua angkat yang membantu mengurus dan membesarkan Raya. Raya aku besarkan sepenuh hati. Benar-benar seperti anak sendiri. Ini membuatnya lupa sampai besar bahwa ia memiliki orang tua kandung. Mungkin untuk ukuran anak empat tahun, memori mengingatnya belum terlalu sempurna, sehingga ia lupa dengan kenangan dan rupa orang tuanya. Sebenarnya setelah tak bekerja di sini, Yu Sopinah sesekali datang menjenguk Raya. Tapi setelah dua tahun ia tak pernah lagi datang lagi. Perkiraanku ia sungkan karena terakhir datang ia meminjam uang senilai empat puluh juta. Padahal aku tak berharap dikembalikan. Kemungkinan juga ia semakin repot karena telah melahirkan adik-adik Raya yang lain. Reo sangat menyayangi Raya. Terlebih sampai sekian tahun aku tak pernah hamil. Raya yang pintar, cantik, dan lincah sudah cukup membuat kami berdua merasa memiliki keluarga yang sempurna. Ia pandai bernyanyi, suka balet, les piano, sayangnya sedikit bandel jika disuruh pergi mengaji, sampai di datangkan guru mengaji pun ia malah menangis. Beberapa tahun belakangan, aku mulai disibukkan dengan perluasan bisnis Papa. harus berada di bandung tiga hari dalam sepekan. Sementara Reo tetap di jakarta. Raya semakin beranjak dewasa, ia terlihat cepat sekali menjadi gadis remaja yang cantik dan pintar. Aku masih tetap kontak dan mengawasi Raya dari jauh. Menasehatinya agar tak kelewat batas. Sayangnya karena tak ada aku di rumah. Pergaulannya kadang tak terkontrol pula. Ada hal yang mengganggu sebenarnya, ketika teman-teman Raya berkunjung ke rumah dan melihat Reo. Sejak itu banyak teman wanita Raya yang mengidolai Reo. Raya jadi sering memajang foto-foto Reo di social medianya. Aku tak pernah khawatir sedikitpun, hanya menasehati untuk tidak terlalu berlebihan saja. Sebagai ibu yang khawatir, aku selalu meminta Reo untuk mengawasi pergaulan Raya. Jadi Reo dan Raya sering melakukan aktivitas bersama. Hanya saja tak pernah ada kecurigaan dalam diriku melihat kedekatan mereka. Aku pikir anak yang di asuh dari kecil, hingga belasan tahun bahkan ia sendiri sudah lupa siapa orang tuanya. Akan sama seperti anak kandung pada umumnya. Menganggap kami sebagai roang tua sepenuhnya. Kasih sayangkupun tulus, apa yang ia mau tak pernah kutolak karena belakangan aku merasa bersalah kurang memiliki waktu untuk mereka. Tapi saat itu aku masih bisa memastikan Raya bukan anak yang nakal. Prestasi akademik selalu bagus. Dia paham etika dan norma masyarakat. Hanya saja ia belum mau menutup aurat, sering berpakaian seksi seperti teman-teman sebayanya. Aku maklum, karena akan ada masanya ia menyadari pentingnya hijab dan mau berjilbab. Itu pikirku. Reo sendiri adalah seorang Ayah yang rajin shalat dan tak bosan mengingatkan aku dan Raya untuk shalat. Aku pikir semua berjalan baik-baik saja. Sudah banyak rencanaku untuk mereka. Raya yang akan aku kuliahkan S2 hukum ke luar negeri. Reo yang sebenarnya tiga bulan lagi akan diangkat jadi wakil Director, menemani Papa dan Bang Bana yang sudah ada di jajaran direksi juga pemilik saham. Ya, semua terlihat begitu baik sampai malam itu aku melihat kenyataan yang berbeda. KREEKK! Pintu dibuka. “Bunda, aku ijin pulang ....” Suara Raya menyadarkanku kembali dari lamunan. Aku bangkit. “Ya, pulanglah.” Ia diam, lalu maju beberapa langkah ke arahku. “Boleh aku memeluk Bunda?” “Sudah nggak perlu. Pergilah." “Bunda, janin dalam perut ini ingin memelukmu.” Ia mengelus perutnya. Apa-apaan ini. “Dengar Raya. Aku mau seandainya itu cucuku. Bukan anak dari Reo.” Aku menarik napas panjang dan membuangnya dengan kesal. Ya, sebaiknya jangan lagi terlalu dekat dengannya. Ini adalah terakhir kalinya aku bicara padanya. Untuk jangka waktu yang lama. Setelahnya aku akan menghindarinya, melupakannya, agar hatiku bisa menjadi biasa saat mengingat semua kenangan pahit ini. “Saya mau isitahat, pergilah.” Ia berusaha menatap mataku. Mencari-cari dasar terdalam hatiku. Berharap aku masih mau menerimanya. Aku membuang muka. Memberi tanda bahwa aku benar-benar tak ingin di ganggu. Akhirnya Ia mengerti, ia pergi. Terdengar Pak Lody dan satpam menggeser koper-koper dan kardus-kardus ke dalam mobil. Aku bangkit, dari lantai atas menatap keluar jendela. Hari masih siang tapi ada mendung menggayut di sana. Angin bergerak perlahan lalu mengencang. Awan di bagian selatan kota Jakarta mulai gelap, memayungi bumi yang penat dengan aktivitas dan hiruk pikuknya yang tanpa jeda. Satu-satu hujan mulai jatuh. Mengiringi mobil yang mengantar Raya pergi. Pergilah Raya. Bersama kenangan pahit yang ada dalam jiwaku. Dengan janin dalam kandunganmu. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa terkadang ada kesalahan-kesalahan yang tak bisa termaafkan yang membuat seseorang bisa menjadi berubah seperti tak kau kenali lagi, menjadi dingin, beku seperti batu. Kulirik handphone di tangan yang berbunyi. [Bu, Pak Reo sudah sadar.] “Jika waktu masih memberiku kesempatan untuk hidup, maka mungkin waktu yang akan menjadi jawaban atas kesempatan selanjutnya.” (Reo) TO BE CONTINUED PART 8. Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya. Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan tmn2, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN