Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (PoV REO 1)
#Seputih_Cinta_Amelia
Amel Adalah Anugerah Untukku!
PoV REO / Sudut Pandang REO (Nah Reonya udah muncul, ayok kita marah2in dia, kali2 aja di sadar :))
Aku punya mimpi tentang hidup yang tenang, cinta yang menghangatkan dan masa depan gemilang. Demi mewujudkan itu sedari kecil aku tak pernah malu berjualan, keliling dari kampung ke kampung, menjajakan apapun asal halal.
Aku bukan berasal dari keluarga kaya, hidupku sederhana. Aku hanya seorang pemuda tamatan SMA. Tapi itu sudah sangat aku syukuri. Setidaknya aku masih punya bekal ilmu yung kugunakan sebagai modal hidup kedepan.
Membantu Bapak dan Mamak menyekolahkan adik-adik adalah keinginanku. Aku punya tiga orang adik, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua adalah anak-anak yang cerdas, selalu juara kelas.
Besar harapanku mereka akan jadi orang sukses. Biarlah aku saat ini bersusah-susah asal mereka jadi anak-anak yang bisa membanggakan Bapak dan Mamak kelak.
Pada perjalanan hidupku, berkeliling berjualan alat-alat perkakas dapur dengan mobil kecil milik bosku, aku bertemu dengan seorang gadis. Dia anggun dan kalem. Anak orang kaya tapi sikap dan gayanya sederhana sekali.
Tentu aku menyukainya. Hanya saja apa pantas aku mendekatinya. Seperti langit dan bumi, kehidupanku dengannya.
Aku mengenalnya, ketika suatu hari mobil daganganku dan Mang Jaja, asisten merangkap sopirku di stop oleh salah satu asisten rumah tangganya gadis itu. Dia hendak membeli baskom-baskom kecil untuk perlengkapan dapur. Usai memilih-milih, tiba-tiba dari balik pagar rumah, muncul gadis cantik itu.
“Mbak, ini uangnya.”
Mendengar suara lembut seseorang, aku melirik ke samping. Masyaa Allah, ada bidadari di sana. Bibirnya merah, rambutnya hitam panjang, matanya indah, pipinya gembil merah muda.
Mata kami saling bertatap beberapa saat, seperti ada panah yang langsung menancap dalam jantungku. Aku menangkap suatu keindahan di depan sana. Tak lama, matanya goyang, bergerak gugup lalu ia menghilang di balik pagar.
“Loh, Non kok hilang, tadi manggil saya mau kasih uang,” kata si Mbak melenggang masuk mencari gadis itu. Mungkin dia malu, sama sepertiku.
Setelah hari itu, entah kenapa hari-hariku menjadi sangat indah. Ada getaran-getaran dalam d**a. Membayangkan wajahnya saja aku bahagia. Berharap diapun merasakan hal yang sama.
Sejak itu, setiap berkeliling, aku selalu meminta Mang Jaja melewati kawasan perumahan gadis cantik itu. Dan beruntungnya, selalu ada saja yang di beli oleh mbak asisten gadis itu. Entah hanya satu buah pisau, kobokan satu biji, sabut cuci piring dan sebagainya.
“Sini Non, ada mas gantengnya ini, lo,” kata si Mbak.
Wah, kok mbaknya serasa udah familiar sama aku, ya. Jangan-jangan aku sudah jadi bahan pembicaraan mereka. Aku sedikit GR.
Benar saja, si Mbak yang energik ini pada akhirnya bilang, “SSssst, Mas. Dapet salam dari Non Amel.”
Wah, kepalaku seperti sedang disiram es mendengarnya. sejak itu aku tahu namanya Amelia. Nama yang cantik, secantik orangnya.
Dia tidak tahu bahwa dalam hati, diam-diam aku juga menyukainya. Tatapan kalem dengan bibir merah merekah itu yang selalu terbayang-bayang di benakku.
Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Amel mulai berani menampakkan diri, terkadang dia ikut memilih-milih barang dagangan dengan Mbaknya. Mencari-cari apa yang mau di beli.
Lucu juga sich, orang kaya tapi masih mau beli perkakas dapur yang dijual keliling. Padahal bisa saja mereka membeli barang yang lebih bagus ke Mall.
Di perumahan ini, rumah Amel memang yang paling megah. Tapi entah kenapa rumah megah ini justru jadi penghalang batinku yang sedang jatuh cinta. Rumah itu seolah memberi batas untukku, agar aku tahu diri.
Apakah mungkin aku bisa mendekatinya. Aku ini siapa, cuma seorang lelaki penjual perkakas dapur keliling, yang mencari uang untuk bisa bertahan hidup, membantu kedua orang tua menyekolahkan adik yang masih kecil-kecil.
Hanya saja, orang jatuh cinta, kan nggak melihat tempat dan latar belakang. Cinta kami tumbuh begitu saja, pada pandangan pertama.
Mulai berani mendekat dan mengajak bicara setelah sekian kali datang. Sambil memilih-milih dagangan yang entah dia jadi beli atau tidak, aku menyapanya. Luar biasa keringat dingin memenuhi tengkuk dan telapak tanganku.
Bersyukurnya, ternyata dia dewasa. Dia tidak malu bertanya lalu mengajak ngobrol, padahal sebelumnya di amat pemalu.
Mungkin dia mencoba membuka diri padaku yang juga malu. Agar terjalin hubungan yang lebih dekat lagi. Ya, dari gelagatnya, dia memang menyukaiku. Memberi signal-signal agar aku tidak segan mengakrabkan diri padanya.
Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku mulai berani mengajaknya berkencan. Di taman kota. Sebelum berangkat keliling, aku sengaja membawa baju ganti yang lumayan keren. Jadi sorenya bisa numpang mandi dan ganti di kamar mandi masjid, selesai shalat, aku sudah menanti Amel di taman kota. Atau pergi nonton di Mall dekat rumahnya.
Amel sudah menamatkan sarjananya. Dan saat ini sedang magang di kantor Papanya.Amel wanita yang hebat, Papanya orang hebat, dari keluarga yang hebat. Aku benar-benar tak pantas bersanding dengannya.
Pernah berpikir, mungkin hubungan kami bisa dekat, seperti layaknya sepasang kekasih, tapi untuk bisa menikahinya, mengajaknya lebih serius. Itu mustahil. Tak mungkin aku berani meminta kepada orang tuanya. Sudah pasti ditolak!
Amel dan aku seumuran. Lebih tua aku tiga bulan. Sebenarnya di usia dua puluh dua tahunku ini. Aku siap saja menikah, penghasilanku sudah lumayan cukup Sudah bisa membantu orang tua, juga sudah menabung.
Tapi ukuran kesiapan dan kecukupanku tentu berbeda takarannya dengan orang tua Amel. Itulah sebabnya, selama menjalin hubungan, aku tak berani mengajaknya lebih jauh untuk membicarakan hal ini.
Tetapi Amel beberapa kali membahasnya. Aku lebih banyak menimpali dengan biasa karena yakin tak akan mungkin hubungan ini terjalin sampai ke jenjang yang lebih jauh. Walau dalam hati, keinginan ke arah sana sangat menggebu.
Selama ini, aku tidak pernah pacaran, tidak pernah menyukai wanita sedalam ini, dan ingin memilikinya semenggebu ini. Tapi ada dayaku, cukup tau diri. Semua keinginan terhadapnya itu hanyalah angan.
Sore itu, di depan kolam dan air mancur taman kota. Ditemani hijau dedauanan dan semilir angin. Amel menanyakan keseriusanku lagi padanya.
“Mas Reo, jujurlah sejauh apa perasaan kamu sama aku?”
Tatapannya serius. Membuatku harus mengalihkan pandangan ke tempat lain. Ada yang bergejolak dalam hati, setiap tatapan itu masuk ke dasar mataku.
“Ma-maksudnya, Mel?” jawabku gugup.
“Ya, apakah kamu menganggapku sebatas teman dekat, atau ada keinginan lain untuk mengajak ke yang lebih serius?”
Jujur pertanyaan ini adalah hal yang sebenarnya sangat ingin kutanyakan padanya, tapi aku tak pernah sanggup menyampaikannya.
Aku diam. Amel memegang tangan kananku dengan kedua tangannya. Ada yang tersengat di dalam d**a.
Aku menatapnya, tapi bingung harus bagaimana menjelaskannya agar ia tak kecewa.
“Aku ingin, Mel ... Sangat ingin ... Aku ini sangat beruntung bisa kenalan dengan gadis sehebat kamu. kamu cantik, kamu baik, sangat baik malah. Aku mencintai kamu, Mel. Begitu mudahnya aku jatuh cinta sama kamu.”
Kutarik napas dalam-dalam.
“Tapi mustahil, ‘kan ...?”
“Mustahil kenapa ... aku juga jatuh hati sama kamu, Mas?”
“Terima kasih. Tapi aku tau diri. Aku bukan siapa-siapa. Mustahil untuk bisa ke arah yang lebih serius. Belakangan aku sadar aku salah. Seharusnya kita tidak menjaga hubungan sampai sejauh ini.”
“Kamu bicara apa, Mas Reo?”
“Ya, Mel. Tapi pasti orang tuamu nggak akan setuju.”
“Mas Reo. Aku nggak pernah mencoba dekat sama seseorang berdasarkan latar belakang. Dari pertama kenal, aku tahu Mas orang baik, ganteng pula. Tau nggak, aku susah payah menjaga hati ini dari lelaki-lelaki yang datang mendekat. Menolak yang mencoba memberi perhatian atau yang jelas-jelas mengutarakan hati. Sama Mas aku menemukan sesuatu yang beda.bSampai mau janjian ke taman ini, pergi berdua sama kamu. Tanpa sepengetahuan Papa. Itu karena aku sayang kamu.”
Ucapannya justru membuatku patah hati sebelum adanya perpisahan. Karena kenangan ini nanti akan menggores hatiku pada saat kita sudah tak bersama lagi.
“Jadi, apa aku harus mencoba bilang ke orang tuamu?”
“Ya, aku kan sudah mengajak Mas berkali-kali datang ke rumah. Setidaknya Mas kenalan dulu dengan Papa Mama, bertahap. Enggaklah kalau mereka mengusirmu, Mas,” ucapnya sambil tertawa.
Setelah berkali-kali menolak, kali ini aku mencobanya. Ya barangkali Allah masih menyimpan satu kotak keberuntungan untukku.
*
“Jadi dia pacar kamu yang kamu sembunyikan dari Papa?” suara itu terdengar menyambar pendengaranku.
TO BE CONTINUED. Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya.
Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan tmn2, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.