Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 8)
#Anakku_Maduku #Ajt
#Seputih_Cinta_Amelia
Affair Reo Lainnya Terungkap
(Siapa Fira?)
Pergilah Raya. Bersama kenangan pahit yang ada dalam jiwaku. Dengan janin dalam kandunganmu. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa terkadang ada kesalahan-kesalahan yang tak bisa termaafkan yang membuat seseorang bisa menjadi jahat, menjadi dingin, beku seperti batu.
Kulirik handphone di tangan yang berbunyi.
[Bu, Pak Reo sudah sadar.]
Rany mengabariku.
Reo sudah sadar. Apakah aku akan menjenguknya lagi? Tapi apakah ini nggak akan meyakitiku dan semakin membuatku sulit melepasnya? Jujur memang sulit, bagaimana tidak, bersamanya selama delapan belas tahun dan tak pernah merasakan kekecewaan yang dalam kepadanya, saat ia sakit, tergeletak, selama ini aku yang mengurus.
Tapi, ah, sudahlah. Sudah keputusanku untuk pergi dari hidupnya.
Sebaiknya aku memilih menyiapkan diri lebih matang lagi saja untuk umroh. Menghapal bacaan talbiyah dan doa-doa saat Thawaf agar semua rangkaian ibadah menjadi mabrur.
[Tolong urus semuanya, Ran. Aku mau fokus menenangkan diri saat ini. Pastikan ada keluarga Reo yang mengurusnya. Adiknay kan banyak. Semua biaya tolong dibereskan.] balasku.
[Baik, Bu.]
Esoknya aku pergi ke kantor. Memastikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku sudah terhandel dengan baik. Terlebih setelah Reo diberhentikan, banyak jobdesknya yang juga harus aku bereskan. Semoga Pak Ikhsan bisa menggantikan posisi Reo dengan baik.
Pfiuh, aku merebahkan diri sesaat setelah sampai di ruang kerja. Di sini sekarang terasa sepi, terasa hampa. Tak berwarna. Seperti ada sesuatu yang hilang.
Dari ruangan ini, kupandangi pintu ruang kerja itu. Ruang kerja yang dulu sering kudatangi. Mengajarinya banyak hal sampai ia bisa dan berhasil menjadi seseorang yang dibanggakan oleh Papa.
“Bagus, Reo. Hasil kerja yang cemerlang,” ucap Papa suatu hari kepadanya.
“Terima kasih, Pa.”
“Oke, selamat menyelesaikan proyek selanjutnya.” Papa meninggalkannya.
Dari kursi kerjanya, Reo mengedipkan mata kanannya kepadaku yang berada di ruangan ini. Semacam bilang terima kasih. Aku menarik napas lega, akhirnya Reo mendapat kepercayaan Papa.
Teringat perjuangan bagaimana dulu menaklukan hati Papa dan Mama, ketika Reo memintaku menjadi istrinya.
Kulirik ruangan meeting sebelah kanan. Teringat dua bulan lalu. Aku duduk di salah satu bangkunya. Menyaksikan Reo yang dengan gagah dan berwibawa mempresentasikan programnya di hadapan kami. Menggunakan NEC Proyektor ia tampilkan slide demi slide materi yang telah ia susun semalaman. Gambar juga video yang ia buat khusus, demi kepuasan para pemegang saham dan jajaran direksi yang hadir.
Aku pribadi puas dan presentasi itu juga mendapat pujian dari seluruh peserta. Tinggal direalisasikan bersama team yang sudah ia bentuk. Sayangnya belum sampai terealisasi, Reo sudah harus segera menandatangani surat pemecatan yang kuajukan.
“Padahal ... sedikit lagi, karir kamu mencapai puncak, Reo ...” bisikku.
Tiba-tiba pintu diketuk. Mengembalikan kesadaranku dari lamunan.
“Masuk.”
“Permisi, Bu, boleh saya masuk?”
“Silahkan, Pak.” Pak Radi, salah satu staff dan orang kepercayaan Reo.
“Maaf, Bu. Boleh saya minta waktu.”
“Ya, silahkan, Pak. Apa kabar, Pak Radi?”
“Alhamdulillah baik, Bu. Semoga Ibu juga sehat selalu, ya.”
Aku mengangguk, menanti ia memulai pembicaraan. Tapi ada keraguan dari wajahnya.
“Gimana, Pak? Apa yang mau kita bahas?” tanyaku.
Ia diam sejenak.
“Maaf, ya, Bu. Jika saya di sini, tapi sedang akan membicarakan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan kantor.”
“Tidak apa-apa, Pak. Jika itu penting. Saya luangkan waktu.”
Pak Rady menggaruk pelipisnya sesaat, tampak ragu lagi.
“Begini, Bu ... Maaf kalau sekarang saya baru jujur. Tadinya saya ingin menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Tapi perasaan bersalah dalam hati saya membuat saya tak tenang dan ingin segera menyampaikannya pada ibu. Saya berpikir, setidaknya kalau saya sampaikan, Ibu bisa lebih mempertimbangkan apapun kedepan yang akan ibu lakukan. Meskipun sebenarnya sekali lagi, ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan.”
“Langsung saja, Pak. Ceritakan, ada apa sebenarnya?”
Pak Radi akhirnya menceritakan, tentang suatu fakta, yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya. Bahwa dia, lelaki yang saat ini baru bangun dari koma itu, telah menjalin hubungan terlarang dengan Fira, salah satu karyawan kantor ini, yang sering ikut serta bersamanya dinas ke luar daerah.
“Benar yang Bapak katakan itu, Pak?!” Aku bertanya sedikit keras, berusaha jika apa yang disampaikannya ini adalah candaan, maka sama sekali tak lucu. Sayang, itu sebuah kebenaran. Pak Rady menunjukkan bukti-bukti foto itu.
Pyarr!! Sekali lagi hatiku hancur.
Reo, suami yang teramat aku cintai itu. Kenapa ia bisa begitu mudah bermain dengan siapapun. Banyak sekali foto-foto candid yang Pak Radi tunjukkan. Itu mustahil sebuah rekayasa. Reo dan Fira berada di pantai, di club, di lorong hotel, sofa hotel, kamar hotel berdua.
Gaya mereka berdua, bukan layaknya atasan dan bawahan, tapi seperti sebuah pasangan yang sudah begitu dekatnya. Aku sampai jijik melihatnya.
Reo, Reo ... Selama ini, sepercaya itu aku padanya. Tak ada yang berubah sikapnya kepadaku. Sehingga tak ada yang harus dicurigai. Pun kedekatannya dengan Raya, yang ternyata menyimpan bangkai. Tak pernah terendus olehku.
Ia tetap terlihat seperti Reo yang setia, baik, kalem dan soleh. Ada sayat-sayat perih tiba-tiba mulai melukai sisi hatiku yang lain. Ah, luka yang kemarin saja belum kering. Harus kembali menganga, lalu luka itu seperti di aliri kucuran air jeruk segar.
“Bapak dari mana bisa dapatkan foto-foto itu?”
“Karena saya adalah orang yang dibayarnya untuk tutup mulut, Bu. Saya dapat banyak uang dari Bapak. Kemanapun Bapak pergi saat dinas saya ikut. Foto-foto itu asli dari kamera saya, saya terkadang selfi atau wefie begitu saja dengan mereka. Pak Reo tau dia tidak bisa menutupi kejelekannya dari saya, walau saya diam saja. Jalan satu-satunya yang beliau lakukan adalah dengan menutup mulut saya pakai uang tanpa saya minta.”
Ada keseriusan dalam ucapannya. Pak Radi memang orang kepercayaan Reo. Sangat wajar tahu banyak hal.
“Tapi makin ke sini, makin tahun, perasaan bersalah dalam hati saya makin besar, Bu. Terlebih ketika melihat Pak Reo koma, dorongan untuk jujur itu makin besar. Saya pikir ini akan melapangkan jalan Pak Reo kedepannya. Itu keyakinan saya, Bu. Jadi saya minta Maaf, Bu, jika kejujuran yang saya sampaikan ini salah. Saya siap di pecat,” ujarnya.
“Tidak, Pak. Terima kasih atas kejujurannya, pasti ini sulit bagi Bapak untuk mrnyampaikannya kepada saya. Kejujuran bapak banyak membuka mata saya.”
“Tapi, Bu. Ada satu hal yang saya khawatirkan atas kejujuran ini. Bagaimana dengan nasib Fira. Saya khawatir ibu memecat dia. Dia tulang punggung keluarga.”
Aku menarik napas dalam, menghembuskannya. merubah posisi duduk.
"Biar itu saya yang selesaikan. Saya tidak akan semena-mena dalam bertindak."
TBC
Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya.
Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.