Affair Reo Lainnya Terungkap (8B)

1090 Kata
Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 8B) #Anakku_Maduku #Ajt #Seputih_Cinta_Amelia Affair Reo Lainnya Terungkap (Siapa Fira?) “Baik, Bu. Saya kembalikan semuanya pada Ibu. Hanya itu saja yang saya khawatirkan atas kejujuran ini. Tapi kalau saya tidak jujur, saya malah kasihan dengan Ibu.” “Saya paham. Terima kasih, Pak atas kejujuran Bapak. Saya harap ini tetap jadi rahasia kita. Nanti saya akan telusuri sendiri semuanya. Jika bapak perlu waktu lagi, bisa kontak saya, atau WA saya. Sekarang saya mau menyelesaikan pekerjaan dulu.” Pak Radi paham maksudku. Ia segera permisi meninggalkanku sendiri. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kutanya pada Pak Radi, pasti ia memiliki banyak informasi tentang Reo. Termasuk penggelapan uang yang Reo lakukan. Hanya saja aku sudah tak tahan mendengar pengakuannya. Kepalaku sakit. Berita yang baru disampaikan Pak Radi, foto-foto intim Reo dan Fira. Membuatku seketika down lagi. Seterlambat ini ternyata aku mengetahuinya. Reo ... bukankah kita menikah karena saling cinta? Bukankah aku tidak hanya sekedar mencintaimu, tapi juga mencintai keluargamu, banyak membantu kehidupan Ayah ibumu, sekolah juga kuliah adik-adikmu. Kenapa baru Allah tunjukkan saat ini, kenapa bukan kemarin-kemarin. Kenapa aku tak bisa mencegah perselingkuhan itu ada dalam keluargaku? Apakah aku terlalu abai kepada mereka? Apa alasan yang begitu kuat yang mendasari mereka mau begitu mudahnya bermain api tanpa memikirkan akibatnya, tanpa memikirkan aku yang seluruh hidupnya berjuang untuk mereka. Papa masuk ke dalam ruanganku. “Mel, kamu menangis? Ada apa?” Rupanya Papa belum mengetahuinya. “Nggak, Pa. Kepalaku hanya sakit,” jawabku. Selama satu jam aku termenung di dalam ruangan. Banyak yang harus aku pikirkan. Aku pergi menuju Cafe sebelah kantor. Mengambil satu ruangan privat. Memesan beberapa makanan dan minuman hangat dan segera masuk ke dalamnya. Aku ingin menangis selepas-lepasnya tanpa ada yang mendengar di ruangan itu. Kelebatan-demi kelebatan masa lalu bermunculan dalam benakku. Melihat Raya yang lucu berlari ke arahku dan Reo, menunjukkan ulangan hariannya yang nilainya sempurna. Lalu kami bertiga berpelukan bahagia. “Aku hebat, kan, Bunda? Nanti aku pasti juara kelas lagi,” ucap gadis kecilku itu. “Iya, Nak. Kamu hebat, kamu harus lebih hebat dari Bunda memang,” jawabku sembari membelai-belai kepalanya. “Bunda saja sudah luar biasa, Ayah sangat mengagumi Bunda. Raya bisa seperti Bunda pun sudah sangat hebat ...,” kata Reo. Lalu kelebatan lain muncul lagi. Saat kami bertiga bercanda tawa saling melempar bola-bola salju di sebuah taman, ketika berlibur dua tahun lalu ke jepang. Kubayangkan ketika Raya kecil merajuk, minta dibelikan boneka besar, sebesar tubuhnya sambil menangis, berharap agar aku mau luluh dan membelikannya. Ribuan kenangan terus berkelebat dalam benakku. Itu semua sangat indah. Sampai akhirnya kembali kubayangkan kejadian malam itu, kejadian yang mencipta trauma dalam benakku. Lalu saat ini, muncul kenyataan baru, ia dengan Fira terlibat affair. Ya Allah. Setega itu kamu Reo. Suami yang tadinya sangat aku cintai sepenuh jiwa dan setulus hati. Yang selalu kujaga kebahagiaan hatinya. Yang selalu kuperjuangkan karirnya juga hidupnya. Sehingga semua kenyataan ini mencipta nyeri dan sakit yang begitu menghujam jantung. Kutekan voice note di WA untuk Sekretaris kantor. “Fanya, tolong suruh Fira, masuk ke dalam Cafe GXO sendirian dan minta ia masuk ke dalam exclusive room-two,” pintaku. “Baik, Bu.” Tak lama, Fira sudah ada di hadapanku. Di dalam ruangan kedap suara ini akan kutunjukkan bagaimana seorang w*************a harus dihargai. “Iya, Bu? Ibu panggil saya?” tanyanya setelah menutup pintu ruangan. Mataku menatapnya lekat. Mencari-cari gurat wajah cantik tp liar itu. “Jujur ...!” ucapku lembut namun menusuk ke dasar mata Fira. Gadis cantik itu gemetaran. Tak ada wajah genit nan lincah yang biasanya digemari lelaki hidung belang. Ia begitu polos seperti anak kecil yang ketakutan dimarahi ibunya. “Ma-maaf, Bu, jujur apa?” “Ada hubungan apa selain pekerjaan antara kamu dan Pak Reo?!” Mata gadis bertubuh sintal itu membulat, terkejut. “Jawab!!!!” bentakku. Ia terlonjak, mundur kebelakang. menunduk tak berani berkata-kata. sesaat kemudian ia menengadahkan wajah sembari menarik napas berkali-kali dengan cepat. menetralisir debar yang mungkin sedang menguasai dadanya. Melihat tatapan marahku, lalu ia berlari menghambur di bawah kakiku. Bersujud dengan tangisan yang pecah ruah. “Maafin saya, Bu. Saya khilaf. Saya nggak bisa menolak ajakan-ajakan Pak Reo yang terus memaksa. Akhirnya saya pasrah,” jelasnya dalam sesenggukan. “Dengarkan saya, Fira.” “Saya tahu kamu tulang punggung keluarga. Saya tahu kamu takut dipecat. Saya tahu alasan kamu kenapa mau didekati Pak Reo. Tapi saya harap, cukup. Jangan pernah kamu menjalin hubungan dengan pria beristri ma-na-pun apapun alasannya!” Aku mengucapkan setiap kata penuh penekanan dan nada emosi. “Saya tidak akan pecat kamu. Hanya saya pinta, jangan pernah lagi mau menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Saya benci wanita-wanita yang begitu bodohnya tak menolak ajakan-ajakan perselingkuhan. Kamu punya otak, kamu punya nalar, kamu bisa memilih untuk menghindar. Jangan beralasan karena dipaksa, tak bisa menolak dan sebagainya, lalu terjadi perselingkuhan. Seandainya kamu bisa tegas, perselingkuhan tidak terjadi. Tak akan ada hubungan yang berkelanjutan, membuat janji dari hotel ke hotel, dari dinas ke dinas yang direkayasa. Sekali lagi, kamu bisa menolak dan menghindar!” ucapku tegas. “Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Pak Reo? Berapa lama? Apakah selama itu kamu sama sekali tak bisa menghindarinya? Atau jangan–jangan kamu bahkan menikmatinya? Sehingga tak pernah sekalipun menolak ajakannya? Atau mungkin kamu bahkan sudah meminta untuk dijadikan istri keduanya? Tolong jawab dengan jujur Fira? Jangan takut sama saya Fira, jangan TAKUT!” bentakku. Ia diam seribu bahasa. Hanya ada getar ketakutan dari wajahnya yang basah. “Jika alasannya karena uang, karena takut dipecat. Kamu bisa dengan sukarela datang kepada istrinya. Jujur dan minta perlindungan. Minta bantuan apapun kepada istrinya, akan diberi, jangan justru semakin lena bermain di belakang saya!” teriakku. Mendengar ucapan demi ucapanku, Ia menangis kejer. Biarlah, biar ia menyadari dimana letak kesalahannya. kulempar tiga gepok uang seratus ribuan dalam tasku. Uang itu jatuh di meja dan di lantai. Berhamburan. “Ambil! uang itu untuk kamu semua. Untuk kebahagiaan keluargamu. Bisa juga untuk modal usaha. Tapi penuhi satu permintaan saya. Jangan pernah mau menjalin hubungan dengan pria beristri manapun. Karena apa yang kamu lakukan, bila tidak dihentikan akan menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Menjadi pelakor. Hinggap dari satu laki-laki kepada laki-laki lainnya. Dengar itu!!!” ucapku tegas. Kemudian aku berlalu pergi meninggalkannya. “Kesalahan yang dilakukan untuk pertama kalinya adalah pengalaman, tapi kesalahan yang diulang-ulang adalah pilihan.” (Amelia) TO BE CONTINUED PART 7. Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya. Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan tmn2, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN