Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (PoV Raya)
#Anakku_Maduku #Ajt
#Seputih_Cinta_Amelia
PoV Raya (Ini Jalan yang Kupilih)
Jangan pernah takut akan kejamnya harapan, karena kalau kita yakin atas pilihan-pilihan yang kita ambil, semesta akan membantu mewujudkannya meski sebagian orang pada awalnya mentertawakan. (Raya)
“Ayah, aku bosan, nggak pernah ada Bunda di rumah. Aku kan juga butuh dipeluk Bunda, dimanja, bukan cuma dikasih uang, dibeliin ini itu.”
“Sama, dong. Ayah juga pengennya ada Bunda di rumah ini. Cuma gimana lagi. Ayah nggak bisa ngelarang Bunda. Bunda kan di sana juga capek bekerja.”
“Kalo gitu Ayah aja dong, sering di rumah. Nggak usah lembur-lembur .... aku kan males kalau malam cuma ditemani Mbok Sum.”
“Emang kenapa kalau ditemani, Mbok Sum ... kan dia baik. Atau kalau bosen, kamu kan bisa baca buku, nonton film. Pergi ke Mall."
“Ah males, pokoknya aku mau Ayah lebih banyak waktu di rumah, temani aku, atau kita main ke mana gitu, biar nggak bosen di rumah terus. Biarin aja Bunda nggak usah kita ajak. Salah sendiri kan ya, nggak ada waktu untuk kita.”
“Hmmm,” jawab Ayah sambil mainin game.
“Dih, kok cuma Hmmm, pokoknya aku mau Ayah lebih sering di rumah, pulang kerja cepet. Oke?” tantangku.
“Iya, iya. Nanti Ayah usahain.”
“Oiya, Kok Ayah nggak bisa ngelarang atau ngebujuk Bunda untuk lebih banyak di rumah. Kan Ayah suaminya?”
Ayah hanya diam, tak lagi menjawab pertanyaanku. Pertanyaan itu kuutarakan dulu, ketika aku berusia lima belas tahun. Ya, awalnya tak ada Bunda adalah hal yang kutakutkan. Waktu itu aku masih bergantung sekali apa-apa padanya. Tapi lama-lama, tak ada Bunda menjadi hal yang menyenangkan untukku.
Karena artinya, aku bisa bebas bermain dan pergi sesukanya, tanpa ada pengawasan ketat dari Bunda. Ya, sesekali dapat teguran Bunda, itu wajarlah, tapi mana ada sih, anak muda yang nggak pernah bandel. Aku suka kebebasan. Aku suka mencoba hal-hal baru.
Entah kenapa, sedari kecil aku suka bertualang. Pernah juga kok Bunda mendukung jiwa petualangku.
“Kamu anak yang pintar Raya. Suka mencoba hal-hal baru, suka bertualang, suka belajar. Ini akan membuat kamu kaya pengalaman. Teruslah explore apa yang ingin kamu ketahui, niscaya itu akan membuatmu jadi orang yang kaya wawasan, orang yang berhasil mewujudkan cita-cita. Namun tetap taati norma-norma, dan menurut sama orang tua,” kata Bunda suatu ketika.
Jadi Bunda sendiri pun mendukungku menjadi sosok yang suka mempelajari hal-hal baru. Tapi maksud Bunda sih untuk hal-hal yang positif. Sementara aku sering bandel, terkadang tanpa perhitungan, sehingga nggak jarang mencelakaiku. Ah, tapi aku mah selow aja. Sakit sedikit, luka sedikit, celaka sedikit itu wajar.
Beruntung akhirnya Ayah menjadi orang yang paham bahwa aku orang yang sangat perlu diawasi dan dijaga. Jadi kadang dia mau mengantarku kemana-mana agar aku tidak berada dalam keadaan bahaya. Ngebut mobil misalnya. Atau pergi ke tempat-tempat aneh yang Ayah nggak pernah duga.
Seperti waktu itu, pukul 24.00 WIB teng, aku pergi ke club malam sendirian. Pulangnya aku dijebak beberapa pemuda dan nyaris diperkosa.
Ayah memarahiku habis-habisan, terlebih melihat pakaianku yang serba terbuka. Ya, kalau nggak terbuka, nggak seksi dong, ya.
Dalam hati, sebenarnya aku bersyukur, memiliki kedua orang tua seperti mereka. Mereka berdua adalah pribadi yang lembut hati.
Entah kenapa denganku. Aku memiliki sifat yang berbeda dengan mereka, keras dan kadang sulit di kontrol. Eh tapi jangan salah loch, biar gini-gini, aku pintar, selalu juara kelas dan itu membuat mereka bangga.
Sebenarnya di lubuk terdalam jiwa, aku paham kenapa aku berbeda dari mereka. Karena aku adalah anak angkat mereka. Meski Ayah Bunda menutup rahasia ini rapat-rapat dariku, mungkin menjaga perasaanku, dan tak mau orang lain banyak tahu, apalagi mengorek-ngorek kenapa hingga sekarang mereka belum mempunyai anak.
Sampai-sampai aku lupa kalau aku anak angkat, yang terbersit dalam benakku adalah aku anak mereka. Selesai.
Kasih sayang mereka pun berlimpah kepadaku, sudah benar-benar menganggap aku seperti anak sendiri. Aku nggak perduli siapa orang tuaku, darimana aku dan semua hal tentang latar belakangku.
Oke, sekarang aku mau bicara lebih serius lagi, mungkin bisa dibilang, kenakalanku yang masih terus berlanjut. Yang berakibat fatal dalam hidupku, bahkan menghancurkan masa depanku.
Kala itu, aku berulang tahun ke tujuh belas. Teman-temanku sudah menyiapkan pesta untukku. Termasuk kekasihku. Ya, dari usia lima belas tahun sebenarnya aku sudah pacaran. Ayah Bunda nggak tahu, kami backstreet.
Pacarku itu salah satu cowok paling beken di sekolah. Namanya Tian.
Dengan berbagai alasan, aku membohongi Bunda dan Ayah. Sampai aku diijinkan menginap di rumah Brenda. Padahal sebenarnya aku pergi ke puncak Bogor bersama teman-teman.
Kami menyewa Villa.
Dan malam itu menjadi malam yang tak akan aku pernah lupakan. Ternyata teman-temanku dan pasangannya sudah menjalani hidup bebas, mereka free s*x. Tidur dalam satu kamar.
Sementara aku, biarpun nakal. Masih menjaga virginitasku. Yah walaupun pada malam itu, akhirnya harus terenggut. Aku dan Tian sama-sama tak bisa menguasai diri, setelah pesta miras yang aku tak pernah duga sampai separah itu.
Sejak saat itu, aku menikmati hubunganku dengan Tian. Kami rutin melakukannya sebulan sekali.
Menyewa hotel-hotel murah untuk sekedar melampiaskan rindu kami berdua. Atau terkadang join bareng temen-temenku yang lainnya, menyewa villa bersama kembali.
Aku tahu ini dosa. Aku tahu ini sudah terlalu jauh. Tapi aku begitu menikmati hubungan seperti ini, semacam candu yang sulit kuusir.
Hingga suatu ketika, aku berada di titik aku menyesal. Aku harus berhenti. Dan satu-satunya cara untuk bisa berhenti adalah putus. Putus dengan Tian yang keren, atletis, tapi liar, sama liarnya denganku.
Aku takut suatu saat akan ada di titik Bunda tahu. Bisa-bisa dipecatnya aku sebagai anak. Karena dalam kelembutannya, Bunda juga tegas dan galak.
Tapi anehnya meskipun aku berhenti dari free s*x, aku takut mendekat pada Tuhan. Shalat pun enggan. Merasa bahwa diri telah kotor, percuma saja bertaubat, nggak akan mengurangi menggunungnya dosa yang sudah aku perbuat.
Jadi ya sudah, kujalani hari-hariku tanpa Tuhan. Kalau ada Bunda saja aku terlihat shalat. Ayah sendiri sudah kewalahan ngingetin aku, jadi lebih sering dibiarkannya saja gimanapun kelakuanku.
Sampai pada suatu malam, aku pulang dalam kondisi mabuk. Habis dipaksa clubbing bersama teman-teman. Aku tak bisa menghindari untuk tidak mabuk. Aku mabuk. Mabuk parah.
Pintu dibukakan oleh Ayah, malam itu, kulihat Ayah sangat tampan sekali. Bahkan sekelebat-sekelebat wajahnya berubah menjadi mirip Tian. Aku yang sedang mabuk tak bisa menahan untuk tidak menggoda Ayah.
Mungkin karena sudah lama tidak melakukannya dengan Tian juga.
“Raya, sadar kamu, ini Ayah,” jawabnya, ketika aku memeluknya seketika.
“Ayah, apa Ayah nggak menginginkannya?” tantangku.
Ini memang gila, tapi keinginanku juga sudah memuncak.
Ayah bergeming.
“Ayah nggak usah munafik, aku tahu kok gimana hubungan Ayah dengan Fira, pegawai Ayah.”
Ayah sedikit kaget mendengar ucapanku.
“Ayah kesepian ‘kan karena Bunda jarang pulang.”
Entah kenapa aku tak bisa mengendalikan diri malam itu.
“Ayolah Ayah, kita sudah sama-sama dewasa, lagipula aku bukan anak kandung Ayah ‘kan?”
Ayah terkejut, tapi hanya diam menatap aksiku.
Kulucuti pakaianku sendiri. Mata Ayah membulat melihatku. Dan terjadilah apa yang tak seharusnya terjadi.
Tapi malam itu menjadi begitu indah untukku. Aku tak memikirkan hal lain, aku lupa segala hal. Aku lupa kalau Ayah adalah suami Bunda, Aku lupa walau bagaimanapun lelaki itu harusnya tetap aku hargai. Tapi memang lelaki yang kusebut Ayah ini teramat tampan, sejak aku mengerti arti cinta, aku sudah mengagumi ketampanannya diam-diam. Jadi ketika mabuk, semua yang kusimpan dalam hati selama ini begitu mudah terluapkan.
Maafkan kami Bunda. Kami tahu seharusnya tak begini, tapi karena aku yang liar dan kurang pengawasan juga karena ada kesempatan, maka kenyataan ini harus terjadi. Semoga ini bukan alasanku saja.
Setelah kejadian malam itu. Ayah dan aku sama-sama mengerti bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain.
“Ayah, gimana seandainya pada akhirnya Bunda tahu?”
“Kita jaga hubungan ini agar jangan sampai diketahui Bunda. Kamu harus jaga sikap ketika ada Bunda, ya.”
“Ya, tapi akan sampai kapan? Kita sudah satu tahun seperti ini, beruntung Bunda belum juga mengetahuinya. Seandainya Bunda tahu gimana?”
“Ya, tunggu saja, Ayah jgua sedang berpikir mencari jalan keluar.”
“Tapi Ayah masih mencintai Bunda ‘kan?”
Ayah diam. Aku tahu, tak semudah itu Ayah melupakan Bunda. Entah kenapa saat ini aku menganggap Bunda seperti rival. Aku takut kehilangan lelaki yang aku cintai. Bahkan aku mulai cemburu ketika Bunda pulang dan mereka berada di kamar berdua.
“Jawab, Yah.”
“Ayah sangat mencintaimu, Raya. Kamu halal Ayah nikahi. Hanya saja, tunggu waktu yang tepat.”
“Benar, Yah? Ayah mau kan meninggalkan Bunda dan hidup bahagia denganku selamanya? Aku juga sangat mencintai Ayah, apa jadinya hidupku tanpa Ayah.”
Ayah mendesah dalam. Akhir-akhir ini kulihat ia sering menghabiskan kesendirian bersama rokoknya. Semoga ia sedang mencari cara agar kami bisa tetap bersama.
“Seandainya Bunda tahu dan kita harus dipisahkan, gimana, Yah?”
“Tenang, Itu nggak akan terjadi. Ayah janji akan selalu temani kamu.”
Ayah dan aku berusaha sepandai mungkin, sehati-hati mungkin agar hubungan ini tidak diketahui Bunda. Aku dan ayah harus benar-benar berakting senatural mungkin ketika bunda pulang. Meski ketika Bunda pulang adalah hal yang paling tidak aku sukai.
Semakin kebelakang, aku semakin gundah bila melihat mereka mesra, Aku ingin kebersamaan Ayah dan Bunda cepat berakhir. Tak akan sanggup membiarkan mereka tetap menjadi suami istri dan membakar cemburuku.
“Yah, Ayah harus cari jalan keluar, bagaimanapun caranya. Kalau tidak, aku yang akan bertindak. Aku bisa jujur sama Bunda. Aku sudah nggak kuat begini terus, yah. Aku juga takut hamil,” jelasku.
Kuliahku sudah hampir satu tahun. Aku berharap agar lekas lulus kuliah. Hingga bisa hidup mandiri, tinggal jauh dari Bunda, dan Ayah menyusulku dalam kondisi yang sudah bercerai dengan Bunda, itu harapan terbesarku saat ini.
Pasti hidupku akan tenang bila nanti sudah tinggal serumah dengan Ayah, tanpa Bunda.
Ayah sudah kuminta untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Agar bila sewaktu-waktu dipecat dari kantor, Ayah bisa membuka usaha sendiri.
Pernah suatu ketika aku memasang foto Ayah di Instagramku, beberapa teman-teman mengatakan kami serasi, seperti seorang kekasih, padahal Ayah dan anak.
Mereka tidak tahu bahwa kami memang sepasang kekasih.
Ayah memang memiliki fisik yang sempurna, di usianya yang sudah menginjak empat puluh satu, masih kelihatan seperti usia tiga puluhan. Belum terlihat ada kerutan di wajahnya. Caranya berpakaian pun nggak kampungan. Tak sekali dua kali, ketika aku jalan bersama Ayah. Teman-teman yang tak tahu dia ayahku, menyebutnya pacar baru.
Apakah aku tak memikirkan Bunda? Jahatkah aku? Tak tahu dirikah aku? Sepertinya iya, tapi Ayah dan aku kan juga berhak bahagia. Nggak ada yang salah dengan hubungan ini, karena dia bukan Ayah kandungku.
Kami hanya dipertemukan pada tempat dan keadaan yang salah, cinta kami tak salah, hubungan kami tak salah. Kami hanya dua insan yang saling mencintai dan ingin hidup bersama.
Sayangnya, hidup memang tak pernah selalu mulus seperti yang kita angankan. Pada suatu malam yang hangat, di saat kami sedang benar-benar menginginkannya. Kami lupa, kami kecolongan. Bunda memergoki kami yang sudah terbiasa berciuman di ruang keluarga ketika tidak ada Bunda di rumah.
“Biadab, iblis, binatang!”
“Kalian pengkhianat, kalian keji, kenapa tega melakukan zina di rumahku? Kalian Ayah dan Anak, kalian sadar tidak? kalian orang-orang yang paling aku perjuangkan hidupnya, kenapa sekeji itu?” Suara itu menggelegar.
itu kata-kata yang paling aku ingat keluar dari mulut Bunda. Bunda marah besar. Bunda Murka. Dijambaknya aku, dan ditampar berkali-kali. Ditunjuk-tunjuk wajahku tanpa belas kasih lagi.
Sementara Ayah, lebih habis lagi di maki Bunda. Didorong dan di tampar juga berkali-kali.
Kami hanya diam, tak melakukan perlawanan. Ya, diam adalah pilihan terbaik malam itu.
Bagaimanapun kami memang salah, tapi cinta kami tak pernah salah.
Dear Tuhan, Bukankah setiap hidup terjadi karena kehendak-Mu. Aku percaya, setiap rencanamu dalam hidupku adalah yang terbaik untukku. (Raya)
TO BE CONTINUED.
Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya.
Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan tmn2, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.