Canda tawa itu terlihat begitu membahagiakan. Namun bagi Gibran, ia belum bisa menemukan puncak kebahagiaannya. Dua lelaki yang merupakan sahabatnya belum ikut berada di sana. Tanpa mereka, sekalipun suasananya sangat riuh, tetap saja ia akan merasa sepi. Karena bisa dibilang, setengah jiwanya terletak pada diri dua sahabatnya itu. Hari-hari berganti dan Gibran masih bersekolah di sekolahan itu. Tak banyak hal menarik yang tercipta. Dia tetap saja menjadi Gibran sang pecinta wanita. Hampir setiap gadis yang berada di sekolahan itu terkena gombalan mautnya. Bahkan tak jarang pula ia salah menggoda gadis yang sudah mempunyai pacar sehingga membuat dia harus mendapatkan masalah dengan pacar si gadis. Dia juga tetaplah Gibran, sang manusia usil yang tak ada tandingannya. Tidak peduli jika it

