Di putaran terakhir, tepatnya lima detik sebelum mereka berhenti berlari, suara itu terdengar dengan begitu sempurna. Suara yang datang dari mulut seorang Alex. Ridho geleng-geleng kepala sembari menepuk jidatnya. Ia sudah yakin sekali kalau temannya yang satu itu sebentar lagi juga akan terkena masalah. Itu pasti. Karena ia percaya bahwa seorang Al Gibran Ramadhana tidak akan membiarkan orang yang telah mengejeknya merasa apa itu kenyamanan. "Ah, Pak. Sebenarnya tuh orang juga terlibat. Nggak terlibat secara langsung, sih. Cuma melihat saja. Tapi harusnya kan dia bisa laporin itu ke Bapak. Eh dia malah cuma ketawa dan bilang kalau pasti akan sangat lucu jika Bapak memakai sepatu itu. Keterlaluan banget kan, Pak?" Mungkin, orang seperti Gibran pantasnya adalah dipukuli ramai-ramai. Dia

