Sungguh di luar dugaan Iqbal tentang gadis yang satu ini. Dikiranya Liya adalah gadis yang pendiam dan tidak bisa terbuka seperti ini kepada orang baru. Akan tetapi nyatanya ternyata dia tidak seperti apa yang Iqbal kira.
"Iya juga, sih," kata Iqbal.
"Hmm."
"Oh ya. Boleh minta nomor ponsel kamu?" tanya Iqbal.
"Buat apa?" tanya Liya balik.
"Ya kan kamu anaknya si pemilik rental PS ini. Nah, kalau aku mau ke sini, tinggal nelpon kamu dulu, nanyain apa masih ada yang kosong atau tidak. Kalau aku langsung datang ke sini bisa-bisa kayak tadi," jawab Iqbal panjang lebar.
"Emang tadi kenapa?" tanya Liya.
"Hampir penuh. Gak ada tempat lagi."
"Oh." Gadis itu mengangguk paham.
"Makanya itu, demi menghindari kejadian seperti yang tadi lagi, aku ingin minta nomor ponsel kamu. Biar nanti kalau mau ke sini tinggal nanya kamu dulu. Kalau udah penuh, ya gak jadi ke sini," ucap Iqbal.
"Begitu, ya? Ya udah, ponsel kamu," ucap Liya sambil meminta ponsel milik Iqbal.
"Sebentar."
Iqbal mengambil ponsel yang ada di sakunya, kemudian memberikannya ke Liya. Gadis itupun segera menggerakkan jemarinya di layar ponsel milik Iqbal guna menuliskan angka demi angka dari nomor ponsel yang ia punya.
"Nih," ucap Liya.
"Udah?" tanya Iqbal.
"Udah," jawab Liya.
Iqbal pun menerimanya dan mendapati ada barisan angka yang merupakan nomor ponsel milik Liya sudah terpampang jelas di layar ponselnya. Hanya saja Liya belum sempat menamainya.
"Aku namai apa, ya?" tanya Iqbal.
"Ya terserah," jawab Liya.
"Emm, pacar kesayangan, boleh?" tanya Iqbal.
"Eh, jangan!" jawab Liya. Iqbal tertawa pelan.
"Bercanda," ucap Iqbal kemudian.
"Aku namai Liya PS, ya," ucap Iqbal.
"Kok gitu," protes Liya.
"Katanya terserah."
"Hm, ya udah. Kasih nama Liya aja gitu," kata Liya.
"Oke, siap."
Lelaki bernama Iqbal itupun langsung menyibukkan diri dengan ponsel yang ia pegang. Ia mengetik sesuatu di layar ponselnya sambil berucap.
"Liya aja," ucapnya.
"Gini, kan? Udah nih," lanjutnya.
"Ih, maksudku bukan gitu," ucap Liya.
"Lah, katamu Liya aja. Ya ini udah aku tulis begitu," ucap Iqbal sambil tertawa pelan.
"Hm, iya deh, terserah aja. Maaf ya, aku buru-buru nih. Aku berangkat dulu, ya," pamit Liya.
"Iya. Hati-hati. Jangan lupa helmnya di...." Iqbal menggantung ucapannya.
"Dipakai?" tanya Liya.
"Diambil dulu. Nah, setelah itu baru...." Untuk kedua kalinya Iqbal menggantung ucapannya.
"Baru dipakai?" tanya Liya lagi.
"Baru dibersihkan dulu helmnya agar nggak kotor," jawab Iqbal.
"Cih." Gadis itu mendecak pelan.
"Nah, barulah setelah itu boleh memakai helm," kata Iqbal.
"Iya iya."
Gibran, Iqbal dan Indra. Tiga serangkai yang mempunyai sifat menyebalkan. Selalu saja ada tingkah aneh yang terjadi. Namun sisi positifnya, dari situlah yang membuat suasana kembali hidup.
Seperti apa yang Iqbal lakukan saat ini. Bahkan tak peduli jikalaupun Liya adalah gadis yang baru saja ia kenal. Seolah-olah dari pandangan mata orang lain, ia dan Liya adalah dua manusia yang sudah sejak lama kenal. Padahal sejatinya tidaklah seperti itu.
"Liya, Liya. Gue nggak nyangka, ternyata Lo lebih cantik daripada Nessa. Hm, mungkin gue akan lebih terfokus ke Lo aja daripada ke Nessa," ucap Iqbal pelan sambil memandang kepergian gadis itu.
Dan itulah sikap buruk yang tak pernah hilang dari dalam diri seorang Iqbal, atau mungkin juga Indra atau Gibran. Tak ada yang namanya terfokus pada satu tujuan di kamus dia. Selagi ada tujuan yang lebih bagus, maka ia akan mengejarnya. Kini tujuan yang dimaksud adalah tentang tujuan untuk mendapatkan cinta seorang gadis.
"Ah sebaiknya gue kembali ke dalam aja," ucap Iqbal.
Sebuah trik hebat yang ia punya telah membuatnya berhasil mendapatkan nomor ponsel sang gadis yang ia incar. Dan kini dirinya mulai selangkah lebih maju daripada kedua sahabatnya untuk mendapatkan hati gadis cantik itu. Tinggal selanjutnya apa yang akan ia lakukan. Dan itu yang akan menentukan apa ia bisa mencapai keberhasilan atau tidak.
"Waduh, sialan! Itu kenapa udah dua kosong, woi?" tanya Iqbal tak santai di saat ia melihat ke arah skor yang terpampang jelas di layar kaca.
Sontak perkataannya itu membuat kedua sahabatnya secara bersamaan menoleh ke arahnya. Dan di situlah mereka baru sadar akan kehadiran Iqbal.
"Biasalah. Lawannya amatiran," jawab Indra dengan bangganya.
"Cih, pemain gak ada yang bener. Kipernya lemah. Tendang pelan aja gol," kata Gibran.
"Tadi nyalahin wasit. Sekarang kiper. Lalu nanti bisa-bisa penonton yang disalahin," ucap Indra.
"Sudahlah. Tim lemah. Males main gue. Nih, Bal," ucap Gibran sambil memberikan stik PS itu ke Iqbal.
"Waktu udah mau habis Lo suruh gue main," ucap Iqbal.
"Masih sisa 12 menit tuh," kata Gibran.
"12 menit di dalam permainannya. Sedangkan 90 menit setara dengan 15 menit dalam permainan itu. Jadi kalau 12 menit ya cuma setara dengan 2 menit, lah. Mana bisa dalam waktu dua menit gue bisa cetak 2 gol. Waduh! Bisa mendadak jago matematika gini, gue," ucap Iqbal panjang lebar.
"Bisa tuh. Setiap satu menit satu gol," kata Gibran.
"Gak," sahut Iqbal.
"Woi, udah kalah banyak omong Lo. Cepat lanjutin permainannya!" ucap Indra dengan nada kesalnya.
Permainan itupun kemudian dilanjutkan dan tetap saja pada akhirnya, Gibran lah yang harus merasakan kekalahan. Ejekan demi ejekan pun harus ia terima, dan ia hanya bisa diam sambil sesekali memberikan perlawanan terhadap ejekan itu. Akan tetapi, dari situlah keseruan itu terasa.
Mungkin benar, pertemanan tanpa ejek mengejek itu tidak ada seru-serunya sama sekali. Karena setiap ejekan yang ada adalah sebagai simbol dari kedekatan. Tanpa itu, rasanya satu dengan yang lain adalah seperti orang asing.
"Hahaha, ternyata cuma tong kosong berbunyi nyaring. Omong doang Lo, 4 pertandingan kalah mulu," ejek Indra ke Gibran seusai mereka bermain PS.
"Mohon dimaklumi, Ndra. Main PS sama Gibran itu ibarat Real Madrid dengan skuad terbaiknya main menghadapi klub sepakbola antarkampung. Terlalu mudah untuk mengalahkannya," kata Iqbal.
"Halah. Bukan harinya gue aja. Biasanya juga gue sering menang," ucap Gibran.
"Hahaha, terserah Lo, deh. Biasalah, si papan bawah emang selalu gak bisa menerima kekalahan," ucap Iqbal.
"Betul. Tapi ngomong-ngomong, gue gak lihat Liya sampai kita pulang tadi," ucap Indra.
Hampir sama Iqbal tertawa saat itu juga, tapi berhasil ia tahan. Memang benar, dari dia dan kedua sahabatnya itu, hanya dia sendiri yang tahu kalau Liya, si anak pemilik rental PS itu sedang keluar rumah, yang lebih tepatnya pergi ke rumah temannya.
"Senyum-senyum di kamar mungkin, karena pertama kalinya melihat cowok ganteng kayak gue," ucap Gibran dengan penuh percaya diri.
"Eh, si papan bawah ikut ngomong. Hahaha," ejek Indra. Iqbal yang juga mendengarnya pun ikut tertawa.
"Eh, sebentar," ucap Indra lagi sambil memfokuskan pandangannya ke layar ponselnya.
"Oh, Liya ngechat gue. Katanya dia minta maaf karena gak bisa menemui gue. Lagi nyuci baju dianya," kata Indra lagi.
Tanpa adanya aba-aba, terciptalah tawa yang berbeda suara. Tawa yang datang dari diri Iqbal dan Gibran akibat geli hati melihat tingkah salah satu sahabatnya itu.
"Eh, si papan bawah ngapain ketawa?" tanya Indra tak terima.
"Dasar Indra ke enam. Lo kalau mau bohong ya lebih pintar lah, woi! Waktu ketemu tadi Lo baru saja memperkenalkan diri Lo ke dia. Terus Lo bilang Lo udah punya nomernya sebelum ini. Udah sering chat-chatan pula. Hahaha, kebohongan macam apa itu?" ucap Gibran panjang lebar.
"Kali ini gue setuju sama si papan bawah. Mana mungkin Lo punya nomornya Liya. Tapi kalau gue, bisa lah dipercaya," ucap Iqbal.
Setelahnya ia menunjukkan layar ponselnya kepada para sahabatnya. Terpampang nama Liya di sana dengan foto profil yang juga merupakan foto gadis cantik itu. Gibran dan Indra hampir tak percaya ketika melihatnya. Lagi-lagi yang ada di pikiran mereka adalah Iqbal yang sedang berbohong. Mana mungkin Iqbal bisa mendapatkan nomor ponsel gadis itu, sedangkan mengobrol dengannya saja Iqbal tidak pernah? Itulah yang mereka berdua pikirkan.
"Alah, sulit dipercaya," kata Indra.
"Iya. Mana mungkin Lo bisa dapat nomor tuh cewek," ucap Gibran ikut-ikutan.
"Lo berdua matanya masih berfungsi dengan baik, kan? Kalian lihat nggak kalau foto profilnya adalah foto dia?" tanya Iqbal.
"Cih, foto profil. Ya iya sih, itu memang dia. Tapi bisa aja itu nomor milik Lo sendiri. Terus Lo pasang foto Liya di foto profilnya. Gitu aja gue juga bisa," ucap Gibran.
"Mikir lah, woi! Dari mana gue dapat foto dia?" tanya Iqbal.
"Sosial medianya, mungkin," jawab Indra yang juga disetujui oleh Gibran.
"Halah, terserah Lo berdua aja. Yang pasti, waktu gue bilang mau ke toilet tadi, itu sebenarnya gue mau ngejar Liya yang pergi keluar rumah. Nah, gue udah banyak berbincang-bincang dengan dia dan dia ngasih gue nomor ponselnya. Gue juga tahu sekarang dia ke mana. Dia sedang ada di rumah temannya," jelas Iqbal.
Mendadak suara tepuk tangan pun meramaikan suasananya. Sang pencipta suara itu adalah Gibran dan Indra. Mereka berdua seolah sedang takjub dengan Iqbal.
"Pendongeng yang sangat andal. Luar biasa sekali," puji Gibran.
"Jangan-jangan dongeng si kancil juga Lo yang menciptakan. Gue lumayan bangga punya teman kayak Lo," ucap Indra juga.
"Ah sudahlah. Males gue," ucap Iqbal. Ia segera menaiki motornya dan berniat untuk segera pulang.
"Hahaha. Woi, tunggu kami, woi!" ucap Indra, tapi tak direspon oleh Iqbal.
Iqbal benar-benar pergi. Rupanya ia tak mampu lagi menghadapi kebodohan kedua sahabatnya itu. Sebal dan kesal pastilah berkumpul menjadi satu membentuk sebuah perintah yang wajib dilaksanakan yakni segera pergi dari sana. Dan ia memang telah melakukannya.
"Hahaha, dia pergi," ucap Indra sambil tertawa.
"Iya. Tapi kalau itu nomor milik Liya beneran gimana?" tanya Gibran.
"Gak mungkin. Mana bisa dia dapat nomor gadis itu dengan mudah," kata Indra.
"Tapi coba Lo pikir dulu, bagaimana bisa jika itu bohongan, foto profil cewek yang kontaknya dia namain Liya kok bisa sama dengan Liya si anak pemilik rental PS itu. Kalau dia dapat dari sosial medianya Liya, jelas gak mungkin. Nama begitu bukan cuma satu, oi. Pasti sulit untuk menemukannya," ucap Gibran panjang lebar.
"Hm, benar juga Lo. Kayaknya itu emang nomer asli," ucap Indra.
"Heh, meski peringkat Lo sedikit lebih bagus dari gue, ternyata gue masih lebih pintar dari Lo, ya. Gue jadi curiga kalau Lo itu tukang nyontek yang andal," ucap Gibran.
"Parah Lo. Berani-beraninya bilang kayak gitu," ucap Indra.
Gibran hanya tertawa pelan. Sekali lagi dalam persahabatan itu selalu ada keseruan yang terjadi. Entah dari hal apa dan membahas tentang apa.