Bab 18

1238 Kata
"Ngomong-ngomong, Lo tadi ke sininya dibonceng sama Iqbal, kan?" tanya Indra. "Iya lah," jawab Gibran. "Hahaha, terus Lo pulangnya gimana? Iqbal kan udah pulang," tanya Indra. "Ya sama Lo, lah," jawab Gibran santai. "Apa?" tanya Indra. Ia mengarahkan telinganya ke arah Gibran. "Sama Lo," ulang Gibran. Di situlah lelaki bernama Indra kembali mengeluarkan tawa menyebalkannya. Gibran yang melihatnya pun merasa aneh dengan tawa yang dikeluarkan oleh Indra. "Gak. Gue mau pulang sendiri aja. Lo gak boleh ikut," ucap Indra kemudian. "Wah, jangan gitu dong, Ndra. Gak setia kawan, Lo," ucap Gibran. "Salah Lo berani-beraninya ngejek gue," kata Indra. "Iya deh. Gue tarik kata-kata gue yang tadi," ucap Gibran. "Dan semuanya sudah terlambat. Tidak ada yang namanya menarik kata-kata lagi. Ejekan yang Lo tujukan ke gue sudah terlanjur masuk ke hati," ucap Indra lebay. "Ya dikeluarin lagi, lah." "Tidak bisa. Kecuali kalau Lo mau beliin bensin buat motor gue. Baru gue setuju kalau Lo mau nebeng," ucap Indra. "Sialan. Pemerasan. Gue main PS aja minta gratisan dari Lo berdua, eh malah sekarang Lo mintain duit bensin. Parah Lo," ucap Gibran. "Hadeh. Ya udah, lima ribu aja. Patungan sama gue beli bensinnya," ucap Indra. "Dibilangin gue sedang krisis keuangan. Masih aja diminta," kata Gibran. "Emang gak ada lima ribu?" "Ya, ada sih," jawab Gibran. "Ya udah, siniin! Daripada Lo naik angkot atau yang lainnya. Kan sama-sama bayar. Belum lagi jika seandainya waktu di angkot Lo malah kecopetan. Bisa minus berkali-kali lipat, Lo," ucap Indra. "Tapi terserah Lo aja, sih. Semua keputusan ada di tangan Lo. Kalau gak mau ya gue pulang dulu," lanjutnya. Nasib sial harus Gibran alami lantaran orang yang ia anggap sebagai sahabatnya malah dengan teganya meminta uang bensin ke dia hanya gara-gara dia yang ingin membonceng ke motor sahabatnya itu. Mungkin benar apa yang ia katakan bahwa hari ini bukan harinya dia. "Hah, ya udah, terpaksa gue relain duit lima ribu gue," kata Gibran. "Nah, gitu kan enak. Lagian Lo itu anak orang kaya. Duit segitu harusnya ya nggak ada artinya buat Lo," kata Indra. "Dibilangin uang jajan gue dipotong, masih aja bahas soal anak orang kaya. Lagipula berapapun jumlahnya, gue ini orang yang menghargai nilai uang. Karena gue tahu bukan hal yang mudah untuk bisa mendapatkannya," ucap Gibran. "Kayak mendapatkan Riani, ya? Susah banget buat Lo," ucap Indra. Gibran menahan tawa yang hampir saja ia keluarkan. Pasalnya berdasarkan fakta, kata-kata yang Indra ucapkan tadi adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Riani bisa dengan mudah ia dapatkan. Bahkan tanpa harus melalui perjuangan yang keras. Hanya saja sahabatnya itu belum mengetahuinya. "Ngomong mulu dari tadi. Kapan pulangnya, nih?" tanya Gibran. "Ya udah, ayo!" ajak Indra. Tak ada kata lelah untuk menciptakan kenangan persahabatan yang indah. Bahkan konflik yang seringkali terjadi pun bisa terselesaikan dengan mudah. Tak ada kesal yang berkelanjutan, apalagi marah. Itulah persahabatan mereka bertiga, yang jika dirasakan, rasanya seperti sebuah anugerah. Indra telah mencontohkan bahwa di dalam persahabatan seharusnya tidak ada kata sungkan. Karena dengan begitu, kenangannya malah akan sulit untuk dilupakan. Dan itu pula adalah bukti dari sebenar-benarnya persahabatan. Sebuah ikatan kuat yang tak kan pernah bisa lepas meskipun sudah saling berjauhan. "Woi, itu kayak si Iqbal," ucap Gibran sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang mendorong motor. "Bukan kayak lagi. Memang itu Iqbal," ucap Indra. "Hahaha. Kenapa tuh motornya?" tanya Gibran. "Yo ndak tahu. Samperin aja, lah," kata Indra. Dengan tawa kecil yang menandakan akan tidak adanya rasa simpati sedikitpun, Indra melajukan motornya pelan di samping Iqbal yang sedang mendorong motornya. Nampaknya pun Iqbal belum menyadari kehadiran Indra dan Gibran di sampingnya. "Motornya kenapa, Mas?" tanya Indra dengan suara yang dibuat-buat. "Ban motornya bocor. Kena paku mungkin," jawab Iqbal tanpa menoleh, atau lebih tepatnya belum menoleh. "Kenapa gak dibuang aja Mas, motornya? Ke laut atau ke sawah, gitu. Eh, atau ke hutan sekalian," ucap Gibran. Dan saat itulah Iqbal baru menolehkan kepalanya ke dua sahabatnya itu. Saat itu juga ia baru sadar tentang kehadiran mereka berdua. "Sialan Lo! Gue pikir siapa," ucap Iqbal. "Hahaha, kasihan yang ban motornya bocor. Yuk lah, Ndra, kita pulang duluan. Biar Iqbal berjuang sendirian untuk mendorong motor bututnya itu," ucap Gibran. "Cih." Iqbal mendecak. "Hahaha. Bal, gue sebenarnya prihatin sama nasib Lo. Tapi maaf, gue sama Gibran harus pulang duluan. Lo semangat dorong motornya. Jangan biarkan ada setetes pun keringat yang membasahi wajah Lo!" oceh Indra. Iqbal diam. "Yuk Bro. Langsung gas!" pinta Gibran. Laju motor yang Indra kendarai pun mendadak berubah menjadi cepat meninggalkan Iqbal sendirian dengan motornya yang kini sedang ia dorong. Kesal? Tentu perasaan itu seketika muncul di benaknya. Para sahabatnya telah berulah kembali, yang sukses untuk membuat dia merasa kesal. "Luar biasa. Dasar titisan Dajjal. Awas saja entar. Kalau gue udah bisa jadi pacar Liya, gue gak akan ajak Lo berdua main PS gratis," ancam Iqbal. Lelah dan kesal. Tapi ia harus tetap berjalan sambil mendorong motornya agar bisa sampai ke rumahnya. Ya minimal sampai dia menemukan tempat tambal ban. Namun tak lama setelah itu, ia mendengar suara mesin motor yang tak asing di telinganya. Dan benar saja, kedua sahabatnya ternyata kembali. Dalam hati ia sangat bersyukur. Akan tetapi ia tak menampakkannya secara terang-terangan. Malahan yang ia tampakkan adalah sikap biasa saja, atau bahkan mendekati tidak suka akan kembalinya mereka berdua. "Ngapain Lo berdua balik lagi?" tanya Iqbal ketika mereka berdua sudah sampai tepat di sampingnya dengan arah yang sama pula. "Cuma mau ngasih tahu. Motor itu gunanya dinaikin, bukan didorong kayak gitu. Hahaha," jawab Indra. Untuk ke sekian kalinya Iqbal mendecak. Kekesalannya pun bertambah karenanya. Sungguh ia tak pernah menyangka bahwa dirinya bisa mempunyai para sahabat menyebalkan seperti mereka berdua. "Lihat deh! Dia diperbudak oleh motornya sendiri," ucap Gibran. "Kasihan nggak?" tanya Indra. "Awalnya sih iya. Tapi lama-kelamaan jadi enggak," jawab Gibran. "Lah, kenapa gitu?" tanya Indra. "Gak tahu juga. Seru aja gitu ngelihat dia menderita. Hahaha," jawab Gibran sambil tertawa. Indra juga ikut tertawa. Rasanya, kepalan tangan milik si Iqbal ingin sekali ia luncurkan dan mendarat tepat ke wajah kedua sahabatnya itu. Tapi apalah daya, ikatan persahabatan itu masih menjadi penghalang untuk dia melakukannya. Lelah bercampur kesal. Ditambah lagi dengan terik matahari yang terasa menusuk tulang. Tak ada sedikitpun kenyamanan yang Iqbal rasakan. Tapi sebenarnya, di lubuk hati terdalamnya ia sedikit merasa tenang dengan adanya kedua sahabatnya itu, walaupun kelihatannya dia sangat tidak mengharapkan kehadiran mereka berdua. Sepanjang perjalanan, Iqbal terus-terusan harus mendengar ocehan menyebalkan dari mereka. Bahkan hal itu terjadi sampai ia sampai di sebuah tempat tambal ban. Dan di situ jugalah ocehan kedua sahabatnya berhenti untuk sementara. Benar-benar hari yang buruk buat Iqbal. Tapi sekaligus menjadi hari yang baik karena di hari itu pula dirinya bisa mendapatkan nomor telepon dari sang Bidadari play station. Siapa lagi kalau bukan Liya. "Halo." Iqbal menelepon seseorang di saat dirinya dan kedua sahabatnya masih berada di tempat tukang tambal ban. "Iya. Siapa, ya?" tanya seseorang dari seberang. Suaranya adalah suara seorang perempuan. Dan parahnya, ia mengaktifkan loud speakernya, seolah-olah sengaja agar kedua sahabatnya itu mendengarnya. "Iqbal, Ya," jawab Iqbal. "Oh, iya iya, maaf. Nanti aku simpan ya, nomernya," ucap Liya. "Iya, Ya. Kamu masih di rumah teman?" tanya Iqbal. "Masih," jawab gadis cantik itu singkat. Iqbal terdiam sejenak. Pandangannya ia arahkan ke arah kedua sahabatnya yang kini sedang menatapnya tak percaya. Iqbal juga tersenyum, dan seolah-olah ia sengaja memamerkan kegiatan meneleponnya dengan Liya kepada mereka berdua. "Em, ya udah, Ya. Aku cuma mau nunjukin nomer ponselku aja kok, ke kamu. Biar kamu simpan. Sekarang dilanjut aja kegiatannya. Takutnya aku malah ganggu," ucap Iqbal panjang lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN