Bab 19

1749 Kata
"Eh, enggak kok. Kamu masih main PS?" tanya gadis itu. "Ini udah pulang," jawab Iqbal. "Ooo ... udah pulang, ya?" tanyanya. "Iya, Ya. Emangnya ada apa?" tanya Iqbal balik. "Nggak kok, nggak apa-apa," jawab Liya. "Hm, ya udah kalau gitu. Aku tutup teleponnya, ya," ucap Iqbal. "Iya. Nanti aku simpan nomer kamu," kata Liya. "Iya." Percakapan telepon itupun berakhir. Dengan tingkahnya yang menyebalkan, Iqbal mencium layar ponselnya itu seolah sedang memberikan cium jauh ke Liya. "Baru kenal aja Lo udah sehangat ini, Ya, sama gue. Beda lah kalau sama mereka tuh," oceh Iqbal. "Siapa tuh yang Lo telepon?" tanya Indra basa-basi. "Lo gak dengar, kah? Atau telinga Lo udah gak berfungsi dengan baik? Jelas-jelas gue nyebut nama tuh orang. Masih aja nanya," ucap Iqbal. "Sulit dipercaya, tapi nggak apa-apa. Coba lihat ponsel Lo," ucap Indra. "Buat apa? Mau megang ponsel mahal Lo?" tanya Iqbal dengan percaya dirinya. "Cih, ponsel harga dua ratus ribuan aja belagu Lo," ejek Indra. "Gue cuma mau memastikan aja apa yang Lo telepon tadi beneran Liya atau nggak," lanjutnya. "Trik yang bagus, kawan. Lo pasti mau nyatet nomor si Liya, kan? Terus nanti Lo telepon dia," tebak Iqbal. "Gue udah punya nomornya, ngapain gue melakukan hal itu," balas Indra. "Woi, nggak di sini, di rumah, di tempat rental PS, di sekolah, ribut mulu Lo berdua. Jangan-jangan nanti kalau sudah berada di dalam tanah Lo berdua juga masih ribut," kata Gibran. "Udah, sekarang gini aja. Bal, pinjemin ponsel Lo ke Indra. Kalau Lo emang gak mau minjemin, berarti ada dua kemungkinan terburuknya. Orang yang Lo telepon tadi bukan Liya beneran, atau itu emang Liya dan Lo takut saingan sama Indra untuk mendapatkan cintanya. Itu berarti secara tidak langsung Lo udah mengaku kalah dari si Indra," lanjut Gibran. Sebuah perkataan yang benar-benar masuk akal. Iqbal langsung dibuat bingung untuk mengambil keputusan akibat kata-kata yang dilontarkan oleh si Gibran. Ia merasa sedang dalam posisi yang serba salah. Mau meminjamkan ponselnya ke Indra tapi ia takut jika Indra dan Gibran mencatat nomor gadis cantik itu. Bukannya apa-apa. Jika itu terjadi, maka upaya pendekatannya pun akan sangat terganggu. Akan tetapi jika ia tidak meminjamkannya, maka julukan "Iqbal pengecut" layak untuk ia dapatkan. "Gimana, Bal?" tanya Gibran. "Apanya yang gimana?" tanya Iqbal balik. "Ya soal ponsel Lo," jawab Gibran. "Hm, okelah. Dengan terpaksa gue akan minjemin ini kepada Indra," ucap Iqbal. "Nah, gitu dong." Iqbal membukakan dulu ponselnya yang ia kunci dengan menggunakan pola. Baru setelahnya ia memberikannya ke Indra. Namun belum sempat Indra menerimanya, sebuah tangan dengan gerakan kilatnya terlebih dahulu menyahut ponsel milik Iqbal. Tangan itu adalah tangan milik Gibran. "Woi, kok jadi Lo, sih," protes Indra. "Diamlah! Gue juga pengen lihat," kata Gibran sambil mengutak-atik ponselnya Iqbal. Ia mencari nama Liya di sana, dan tak butuh waktu lama ia pun menemukannya. Tanpa ragu lagi segera ia kirimkan kontak milik Liya ke nomornya sendiri. "Parah nih bocah. Malah dikirim ke nomornya. Dihapus untuk saya pula," kata Indra. "Apa?" Iqbal yang tidak ikut melihat pun terkejut ketika mendengarnya. "Nggak, Bal. Gue cuma ingin memastikan lewat ponsel gue sendiri itu beneran Liya, nggak. Kalau memastikannya lewat ponsel Lo, gue tentunya masih ragu," ucap Gibran. Nampak sekali dari raut wajah Iqbal kalau ia sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh si Gibran. Jiwa playboy lelaki yang satu itu benar-benar telah kelewatan munculnya. Semua adalah gara-gara tantangan pada hari itu. Ya memang itu awal dari sang manusia bernama Al Gibran Ramadhana mulai mengenal cinta. Dan ketika sudah terlanjur mengenal, ia malah kelewatan. "Kalau sampai Lo deketin dia juga, siap-siap aja Lo kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cintanya Riani," ancam Iqbal. "Hadeh, Bal. Gue cuma mau memastikan itu beneran dia atau tidak. Kalaupun iya, gue mungkin cuma akan menghubungi dia setiap kali gue ingin main PS," kata Gibran. Iqbal diam, masih merasa berat dengan apa yang Gibran lakukan. "Eh, tuh anak ngapain pula?" tanya Iqbal kemudian. Ia melihat Indra yang juga mengutak-atik ponsel miliknya. Sialnya ia baru menyadarinya. Dan semuanya pun sudah terlambat. Indra telah melakukan hal yang sama seperti apa yang Gibran lakukan. "Wah, parah. Dia juga ngirim kontak milik Liya ke nomornya," ucap Gibran. "Berisik Lo!" "Terserah deh, terserah. Tapi siap-siap aja Lo berdua akan kehilangan Riani sama Elsa," ucap Iqbal. "Dan Lo juga. Kemungkinan terbesarnya, Lo akan kehilangan Nessa. Hahaha," balas Indra. Iqbal mendecak. Memang seharusnya dalam usia mereka yang segitu, belum pantas jika sudah cinta-cintaan. Bahkan seharusnya, pacaran itu dilarang. Mungkin, tentang manusia adalah tempatnya salah dan dosa itu benar. Meski tahu sesuatu itu dilarang, ia masih tetap melakukannya. Dengan alasan karena lewat hal itu ia bisa menemukan bahagianya. Demikianlah makhluk bernama manusia itu hidup. Tak peduli jika hal itu dilarang, selama ia menemukan bahagia atasnya, maka hal tersebut bisa saja diubah menjadi hal yang biasa untuk dilakukan. Dan seiring berjalannya waktu, larangan itupun memudar dan kemudian hilang. Hari itu pun berlalu. Hari yang penuh dengan drama kehidupan. Esok harinya, tentu di hari yang berbeda, Gibran duduk di tempat tidurnya sambil memandangi ponsel yang ia pegang. Di layar kaca sana terpampang jelas nama Liya. Entah apa yang akan ia lakukan dengannya. "Telepon gak, ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Ah, tapi ini masih pagi banget. Dia pun pasti udah bersiap untuk pergi sekolah," lanjutnya. Di pagi yang cerah ini dirinya sudah merasakan yang namanya kebingungan. Dan penyebabnya adalah perempuan. Entah kenapa akhir-akhir ini hidupnya seolah hanya dipenuhi dengan perempuan, percintaan dan cara mendekati anak orang. Hari-harinya yang seperti dulu semakin lama semakin menghilang dari peradaban. Dia yang dulu tiap harinya hanya berpikir tentang main dan main, kini sudah tergantikan dengan pikirannya terhadap para perempuan. Seiring berlanjutnya hari, pikirannya semakin terkontaminasi oleh hal itu. Sialnya, ia tak menyadarinya dan malah menjadikan itu sebagai zona nyamannya. "Ya udahlah, chat aja dulu," ucap Gibran pada diri sendiri. Ia pun mengetikkan sesuatu dan setelahnya langsung ia kirimkan ke Liya. Tak tahu apa yang ia ketik itu. Yang pasti itu adalah privasinya. Dan tak boleh ada yang tahu selain dia dan orang yang ia kirimi pesan. "Oke, waktunya berangkat sekolah," katanya. Singkatnya, ia pun menjalani rutinitasnya sehari-hari. Apalagi kalau bukan bersekolah. Tak ada yang istimewa dari harinya pada hari ini. Pagi, upacara bendera. Lalu di detik-detik selanjutnya juga sama seperti hari-hari biasanya. Terlibat konflik kecil dengan 2 sahabatnya dan juga tentunya bertemu dengan Riani. Sebuah hal yang selalu terjadi tiap hari, tapi entah kenapa ia tak pernah merasa bosan atasnya. Hingga ketika pulang sekolah, di situlah hal yang baru berhasil ia dapat. Di kala ia membuka ponselnya, ia melihat ada notifikasi pesan dari seseorang yang tak lain dan tidak bukan adalah Liya. "Gibran? Gibran temannya Iqbal, yang kemarin main PS itu?" Itulah isi pesan yang ia dapatkan dari Liya. Terlihat waktu pengiriman pesan yang Liya lakukan adalah pukul 09:23. Itu berarti sudah sangat lama ia tak memperdulikan pesan yang dikirimkan oleh Liya. Namun sekarang, tidak ada alasan lagi untuk dia mengabaikannya. Segera ia ketikkan sesuatu pada layar ponselnya untuk membalas chat dari Liya. Lama sekali ia mengetik. Mungkin apa yang ia ketikkan adalah tulisan yang sangat panjang. Tapi ternyata, sesuatu yang menakjubkan pun terjadi. "Iya." Demikianlah pesan yang ia kirimkan sebagai balasan atas pesan dari Liya. Singkat, padat dan jelas. Tapi juga menyebalkan. Apalagi bagi orang yang sudah mengharap-harapkan balasan dan menunggunya lama. Pasti orang itu akan sangat kecewa. "Dia bahkan mengingat nama gue. Apa itu berarti dia mencintai gue?" tanya Gibran pada dirinya sendiri. "Ah, tidak. Gue gak boleh berpikir kayak gitu. Dia gak mungkin cuma mencintai gue. Pasti dia ingin agar gue segera menikahi dia," lanjutnya. "Hahaha, keren banget. Kalau gue benar-benar bisa dapetin cintanya, itu berarti main PS gratis untuk selamanya. Terus Riani akan tetap gue pertahanin. Ya, ide yang bagus, Gibran," ucapnya lagi. Di sela-sela ocehan itu tercipta, tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda ada notifikasi yang masuk. Ia segera membukanya dan mendapati gadis cantik bernama Liya itu telah mengirimkan pesan ke dia. Beginilah isinya: "Eh, iya, Mas. Dapat nomer aku dari Iqbal, ya? Ya udah, aku save, ya." Bahkan ketika ia membalasnya dengan sangat singkat, gadis cantik itu memberikan balasan lagi dengan kata-kata yang panjang lebar. Gibran semakin percaya diri kalau gadis itu memang sedang menyukainya. Setelahnya ia pun memberikan balasan demi balasan yang hanya dia, Tuhan dan yang ia kirimi pesan saja yang tahu. Dia, Al Gibran Ramadhana, lelaki hebat yang bahkan seharusnya pengetahuannya soal dunia percintaan masih sangat minim, justru ia bisa terlebih dahulu merasakan apa itu cinta dibanding kedua sahabatnya. Kini ada dua gadis yang ia sukai. Dan tak ada yang tahu ia menyukainya dengan sungguh-sungguh atau cuma untuk dibuat main-main saja. Jika cuma dibuat main-main, itu berarti Gibran adalah lelaki yang jahat. Dia tidak pantas dijadikan tokoh protagonis, tapi lebih pantas untuk dijadikan tokoh antagonis. Waktu demi waktu pun berlalu. Setiap detiknya mengantarkan jiwa pada suasana yang baru. Pada hal-hal baru atau mungkin juga pada kehidupan yang baru. Hingga membuatnya tak sanggup merindu, akibat memikirkan masa lalu. Kini, Al Gibran Ramadhana harus merasakan hal-hal baru itu. Hari di mana ia mau tidak mau harus melupakan dulu soal para gadis yang ia sukai. Hari di mana dirinya harus lebih terfokus pada ujian yang akan ia hadapi. Ya, hari itu berlangsung pada hari ini. Ujian nasional untuk kelas 9, yang itu berarti adalah langkah akhir bagi Gibran untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Semalas-malasnya dia dalam belajar, ia tetaplah orang yang akan berpikir keras untuk bisa menyelesaikan soal-soal ujian nasional dengan jawaban yang benar. Dalam usahanya mengerjakan soal ujian, ia teringat dengan kata-kata ayahnya sebelum ujian nasional itu berlangsung. "Kalau kamu nanti bisa mendapatkan nilai yang memuaskan, uang jajan kamu akan ayah tambah. Dan jika bisa dapat satu saja nilai 90 ke atas, akan ayah beliin PS, nanti." Itulah penyemangat dia dalam mengerjakan soal ujian. Bahkan karena itu pula semalam ia belajar dengan sangat keras. Dan sekarang, ketika soal ujian itu sudah ada di depan mata, ia dengan senyum percaya dirinya merasa yakin bahwa dia memang bisa mengerjakan soal-soal itu dengan benar. "Demi PS dan uang jajan bertambah, gue harus bisa dapat nilai yang bagus," batinnya. "Dengan uang jajan yang bertambah, gue gak perlu pikir-pikir lagi kalau ingin mengajak Riani ke manapun. Tapi kalau dibeliin PS, nanti gimana ya sama Liya?" batinnya lagi. "Ah, bodoh amat lah. Biarpun nanti gue punya PS, tetap main aja ke rental PS milik Liya. Biar bisa ketemu terus sama dia. Hahaha," lanjutnya membatin. Gibran terus berjuang untuk mengisi soal-soal ujian nasional tersebut. Dengan modal belajarnya, ternyata ia bisa lebih mudah dalam mengerjakannya. Meski masih ada yang ragu atau bahkan tidak tahu jawabannya, tapi dalam beberapa soal ia yakin sekali kalau jawabannya adalah benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN