Dan sudah. Hari pertama ujian nasional itupun berakhir. Gibran nampak sangat yakin dengan jawaban demi jawaban yang ia isi tadi. Hal itu terbukti dari raut wajahnya yang terlihat sangat sumringah saat dirinya berkumpul bersama dua sahabatnya.
"Kayaknya gue akan dapat PS baru nih. Hahaha," ucap Gibran sambil tertawa.
"Kok bisa?" tanya Iqbal.
"Kan katanya ayahanda tercinta, kalau gue bisa dapat nilai yang memuaskan, gue mau dibeliin PS," jawab Gibran. Dan sontak itu mendapatkan respon yang tidak Gibran sangka dari kedua sahabatnya.
Kedua orang itu tertawa. Tertawa menertawai Gibran. Mungkin yang mereka pikirkan adalah mana mungkin seorang manusia seperti Gibran mampu mendapatkan nilai yang memuaskan di dalam ujian nasional, sedangkan untuk belajar saja malasnya sudah kelewat batas.
"Hahaha, gue saranin Lo jangan terlalu berharap, deh. Nanti kalau sudah kecewa, percayalah sakitnya tidak akan mudah hilang," kata Indra.
"Berharap gimana?" tanya Gibran bingung.
"Lha itu kata Lo. Terus sepertinya Lo sangat yakin kalau Lo akan mendapatkan nilai yang memuaskan," kata Indra.
"Oh, tentu saja gue sangat yakin akan mendapatkannya. Bahkan bagi gue, nilai 0 pun sangat memuaskan. Jadi berapapun nilai yang gue dapat nantinya, ayah wajib membelikan gue PS. Karena nilai berapapun, bagi gue itu adalah nilai yang memuaskan," ucap Gibran panjang lebar.
"Bran, Lo pernah nggak sekali aja kepala Lo dipukul dengan sangat keras?" tanya Iqbal.
"Belum pernah, sih. Kenapa emangnya?" jawab sekaligus tanya Gibran.
"Lo mau nyoba, gak?" tanya Iqbal.
"Mau apa?" tanya Gibran balik.
"Gue pukul," jawab Iqbal.
"Habisnya Lo ngeselin, woi. Maksud dari kalau Lo bisa dapat nilai memuaskan maka Lo akan dibeliin PS sama ayah Lo itu bukan kayak gitu," lanjut Iqbal.
"Lha terus gimana kalau gak kayak gitu?" tanya Gibran.
"Maksudnya tuh nilai Lo harus bagus. Bagus sama dengan memuaskan. Bukan apa yang seperti Lo bilang. Dapat nilai nol kalau menurut Lo itu memuaskan, maka akan dibeliin PS. Cih, gampang banget," jawab Iqbal lagi.
"Ealah, gitu to, ternyata?"
"Emang parah Lo," ucap Iqbal.
Kebodohan yang sangat terlihat dari diri seorang Gibran. Tapi entah kebodohan itu nyata ada pada dirinya atau ia hanya mempergunakannya untuk mencairkan suasana dan menciptakan keadaan yang lebih seru lagi di saat ia bersama para sahabatnya. Tak ada satupun manusia yang tahu soal itu kecuali dirinya sendiri. Yang pasti, sebodoh-bodohnya Gibran, ia tak mungkin sebodoh itu.
"Oh ya, liburan tinggal menghitung hari. Itu artinya pengumuman pemenang pun akan kita laksanakan sebentar lagi," kata Iqbal.
"Oke siap. Pasti gue yang akan menang. Fiks, no debat," kata Gibran.
"Percaya diri sekali kau, kawan," ucap Indra.
"Tidak apa-apa. Yang penting kalau kalah nanti dia nggak nangis. Hahaha," ucap Iqbal.
"Kita lihat saja siapa yang akan menangis, nanti," kata Gibran menantang.
"Oke. Siapa takut."
"Oh ya. Yang kalah kan harus nraktir selama sebulan. Entar sistemnya bagaimana, tuh?" tanya Indra.
"Ya gampang, lah. Kalau nanti dua di antara kita bisa dapat pacar. Misal gue sama Lo. Berarti Gibran harus nraktir kita berdua selama sebulan penuh. Tapi kalau dia yang menang, kita lah yang harus nraktir dia," jelas Iqbal.
"Gitu, ya? Tapi gue yakin si Kahlil Gibran gak akan menang. Hahaha. Jadi siap-siap aja tabungan 10 juta lebih sedikit punya Lo itu tinggal 100 ribu kurang sedikit," ucap Indra.
Gibran tak membalas berkata apa-apa. Ia hanya tertawa. Rasanya seperti juara sepak bola yang sedang diledek oleh tim yang terdegradasi. Ia bisa tenang karena Riani sudah berstatus sebagai pacarnya. Jika itu bertahan setidaknya sampai hari yang telah ditentukan, maka ia otomatis akan menang. Dan alhasil, traktiran lah yang akan ia dapatkan.
"Sebentar! Ini jadinya cuma pertandingan tentang siapa yang bisa dapat pacar saja, kah? Yang ke pantai gak jadi?" tanya Gibran.
"Gimana enaknya?" tanya Iqbal.
"Malah nanya balik. Gak jelas Lo," kata Gibran. Iqbal tertawa pelan.
"Pendapat kalian gimana? Apa jadi atau batal ke pantainya? Soalnya gue jamin entah itu Riani, Elsa, Nessa, Liya atau siapapun gak akan mau diajak ke pantai. Ah, lebih tepatnya gak dibolehin sama orang tua. Biar bagaimanapun juga, memang belum saatnya seusia kita ini mengenal cinta. Kitanya aja yang sesat. Hahaha," kata Iqbal.
"Kita? Lo aja kali yang sesat. Gue enggak," ucap Gibran tak terima.
"Sama aja."
"Nggak usah disamain!" protes Gibran.
"Sama," ucap Iqbal.
"Woi, sudah! Dipending dulu berantemnya. Sekarang ini dulu gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, Ndra. Gitu aja. Gak usah ke pantai. Risiko, bawa anak orang," kata Gibran.
"Atau kita ke pantainya bertiga aja. Gimana?" usul Indra.
"Huu ... ujung-ujungnya juga gitu. Waktu itu siapa yang usul ke pantainya sama cewek-cewek?" tanya Gibran.
"Nah. Si Iqbal nih. Sok-sokan pakai mau ngajak cewek-cewek ke pantai. Gak mikir dulu ke depannya gimana. Parah emang," lanjut Gibran.
"Si Indra woi, yang ngusulin. Malah gue yang disalahin," ucap Iqbal.
"Oh. Sorry lah. Salah paham. Hahaha," ucap Gibran sambil tertawa.
"Oke. Gue setuju aja kalau kita-kita ini aja yang pergi," kata Iqbal.
"Kalau gue, selama ada yang ngeboncengin, gue ikut," kata Gibran.
"Dasar beban. Lo punya motor sendiri, woi."
Dan demikianlah si manusia bernama Gibran itu hidup. Terkadang dirinya juga menjelma seperti benalu yang seringkali merugikan teman-temannya hanya untuk kepentingannya. Contohnya saja ketika dia bilang ingin membonceng saja dibanding pakai motornya sendiri. Mungkin ada baiknya jika motor kesayangannya itu dijual atau dibuang ke laut daripada tidak ada gunanya.
"Oke oke. Gue nanti pakai motor sendiri. Tapi bensinnya Lo berdua ya, yang beliin," ucap Gibran.
"Oh boleh saja. Nanti gue beliin. Lalu akan gue siramin ke motor Lo dan akan gue bakar. Mau?" tanya Indra kesal. Gibran cuma diam sambil menghembuskan napas pelan.
Seorang lelaki tengah berjalan sendirian sembari menggali lubang emas miliknya sendiri. Ketika ia sudah mendapatkannya, ia pun menarik emas itu ke permukaan dan menatapnya dengan bangga. Ia berhasil mendapatkan emas yang lumayan banyak, meski belum ditimbang beratnya. Tak puas dengan itu, ia pun melanjutkan aktivitas menggalinya lagi. Mungkin ia tidak akan berhenti sebelum seluruh emas yang ada bisa ia angkat ke permukaan.
Adalah Gibran, si penambang emas profesional yang dalam waktu beberapa detik saja sudah bisa mendapatkan emas yang cukup banyak. Sepulang dari sekolah, tepatnya ketika hari sudah menjelang petang, ia berjalan entah mau ke mana.
"Woi, Gibran."
Dari ujung sana nampak lelaki lain dengan wajahnya yang menyebalkan sedang melambaikan tangan memanggilnya. Gibran tak begitu menanggapinya dan masih terus menggali emas dengan tangan kirinya itu.
Merasa tak ada tanggapan dari Gibran, lelaki itupun memutuskan untuk mendekati Gibran. Dengan iringan tawa seperti orang kurang waras, ia pun kini sampai di hadapan Gibran.
"Udah dapat berapa kilo, tuh?" tanyanya.
"Nih, timbang aja sendiri," jawab Gibran sambil menunjukkan emas hasil tambangannya.
Sial beribu sial. Lelaki yang tak lain dan tidak bukan adalah Indra, kini telah dibuat hampir muntah gara-gara lelaki tampan yang merupakan sahabatnya itu. Ia mengumpati dirinya sendiri kenapa ia harus bertanya.
"Jorok Lo," kata Indra.
"Alah, lebay Lo. Cowok biasa lah kayak gini," kata Gibran.
"Ya nggak sampai segitunya juga kali," kata Indra masih dengan posisi tak mau melihat ke arah sahabatnya itu.
"Ini kalau gue jadiin aksesoris di baju Lo gimana, ya? Keren banget kalau aksesorisnya adalah emas," ucap Gibran.
"Eh, mau ngapain Lo?" tanya Indra tak santai.
"Udah, Lo diam dulu! Gue pasangin nih aksesoris ke baju Lo," kata Gibran.
Mengetahui baju kebanggaan dia sedang dalam bahaya, Indra pun refleks menjauh sejauh-jauhnya dari Gibran. Ia tidak mau baju jersey Manchester Unitednya ternodai oleh upil milik si Gibran. Bisa-bisa dia harus membasuhnya sebanyak 7 kali menggunakan air dan debu, entar.
"Hahaha ... Lebay Lo," kata Gibran.
"Upil Lo tuh tergolong najis mugholadoh. Gue males bersihinnya," ucap Indra.
"Lagipula, ini jersey kebanggaan gue. Lo berani menodainya, ribut dulu sama gue," lanjutnya.
"Hahaha ... Gitu, ya? Kapan nih Manchester United tanding sama Real Madrid? Gue udah pengen lihat club kebanggaan Lo dibantai," ucap Gibran.
"Cih. Lo dukung Real Madrid?" tanya Indra.
"Ya iyalah. Gue kan fans setia Real Madrid. Gak pernah sekalipun gue ketinggalan pertandingannya," jawab Gibran.
"Wah, Lo positif nonton lah ini PSG vs Real Madrid," ucap Indra.
"Ha? PSG vs Real Madrid? Kapan tuh?" tanya Gibran.
"Parah Lo. Fans setia apaan? Gitu aja gak tahu," ucap Indra.
"Bukan gak tahu. Lupa aja." Gibran menyangkal.
"Halah. Nanti malam tuh PSG vs Real Madrid leg kedua liga Champions," ucap Indra.
"Oh itu? Ya ya, gue tahu kalau yang itu," kata Gibran.
"Ya udah gue pergi dulu. Ada urusan penting," lanjut Gibran.
"Urusan penting apaan?" tanya Indra.
"Ini ... Gue disuruh gantiin Haji Maguire jadi bek Manchester United," jawab Gibran asal.
Indra tertawa pelan. Pasalnya apa yang Gibran sebutkan adalah sesuatu yang sangat salah. Nama yang harusnya Harry malah diganti dengan Haji. Ditambah lagi yang disebutkan Gibran adalah nama baginda maharajanya Manchester United. Pastilah dia bisa tertawa geli ketika mendengarnya.
Gibran pergi entah mau ke mana aslinya. Mungkin ingin membeli celana dalam harga 5 ribuan di pedagang keliling. Maka dari itu ketika Indra menanyakan tentang Gibran mau ke mana, Gibran malah menjawabnya asal. Tapi belum tentu juga begitu. Tentang Gibran yang mau ke mana, cuma dia dan Tuhan saja yang tahu. Asal jangan ke sisi Tuhan yang maha esa dulu, itu tidak begitu menjadi masalah.
"Semoga aja nanti malam Real Madrid kalah. Biar gue bisa mengejek dia habis-habisan. Hahaha. Dan semoga aja nanti Manchester United menang. Ah, asal ada Cristiano Ronaldo, pasti menang lah," kata Indra.
Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Gibran yang diharuskan untuk tetap belajar demi kenaikan uang jajan dan PS pun mulai bosan dengan apa yang ia lakukan. Ia meletakkan kepalanya di atas meja belajarnya. Rasanya, orang tidak suka belajar seperti dirinya, dan tiba-tiba diharuskan untuk belajar, itu seperti koala yang disuruh untuk bergerak cepat.
"Parah parah. Gue bukan orang Inggris malah dikasih soal tulisan Inggris," oceh Gibran dengan masih meletakkan kepalanya di atas meja.
"Ini harusnya si Indra nih yang bisa. Dia kan fans Manchester United katanya," lanjutnya.