Bab 21

1404 Kata
Jenuh sekali rasanya. Gibran benar-benar tak bisa berlama-lama dalam belajar. Itu bukan tipenya. Cepat merasa bosan adalah hal yang pasti ia dapatkan di kala belajar. "Ah, teleponan sama Riani aja deh," ucapnya. Ponsel dengan layarnya yang membentuk seperti pola jalanan di google map itupun ia pergunakan. Ia ingin menelepon sang pacar, Riani, yang sekarang ini juga entah berada di mana. Asal jangan sedang berada di toilet, atau sedang keluar dengan selingkuhannya. Itu sudah membuat Gibran tak ragu lagi untuk menelepon Riani. "Halo Yan," ucap Gibran di telepon. "Ih. Kok Yan, sih. Kayak nama panggilan cowok tahu, nggak," protes seseorang di seberang sana. "Maksudku, Yang. Kurang huruf 'g' aja," ucap Gibran. "Kok pakai 'g'." Riani memprotesnya lagi. "Ya udah. Yanka," ucap Gibran lagi. "Apaan Yanka?" tanya Riani. "Sayang pakai 'k'," jawab Gibran. "Gibran. Ya gak gitu juga kali," ucap Riani. "Ah, udahlah. Panggilan doang juga. Ini kamu lagi belajar, kah?" tanya Gibran. "Iya nih. Pusing banget," jawab Riani. "Oh. Boleh aku telepon?" tanya Gibran. Yakin 1000 persen kalau di seberang sana pasti Riani sedang memutar bola matanya dengan sangat malas karena pertanyaan dari Gibran yang sama sekali tidak bermutu. Tapi sebagai seorang pacar yang baik hati dan tidak sombong, dirinya pun mau tidak mau harus menjawabnya. "Kan kita emang udah teleponan sedari tadi, Gibran," ucap Riani. "Maksudku. Boleh aku teleponan sama cewek lain?" tanya Gibran sekali lagi. "Oh." "Gimana? Boleh nggak?" tanya Gibran sambil tertawa pelan. "Terserah." "Jadi boleh?" tanya Gibran lagi. "Terserah." Seketika itulah Gibran tertawa terbahak-bahak. Lelaki dengan kapasitas otak yang teramat rendah itu sungguh usil. Bahkan ketika dirinya sedang berhadapan dengan sang pacar pun keusilan itu tak kunjung menghilang. "Hahaha ... Bercanda. Aku minta sorry," kata Gibran. Dan anehnya, dengan cepat dan mudah dirinya bisa membuat gadisnya itu tertawa kembali. Nampaknya Gibran memiliki ajian tersendiri yang bahkan jauh lebih hebat daripada ajian semar mesem. Mungkin ajian yang ia punya adalah semar mesem versi halal. Yaitu hanya bermodalkan rupa, harta, tahta dan terkesan tidak membosankan bagi para kaum hawa. "Mentang-mentang besok ujiannya Bahasa Inggris, bicaranya juga sok-sokan pakai Bahasa Inggris," ucap Riani. "Ya iya dong. Biar besok bisa mengerjakan soal-soalnya," kata Gibran. "Aamiin." "Terus dapat nilai yang terbaik," kata Gibran lagi. "Aamiin." "Lalu dapat nilai tertinggi di ujian nasional tahun ini," ucap Gibran. "Aamiin." "Terus bisa masuk ke sekolahan SMA terbaik di Nusantara ini." "Aamiin." "Terus nanti dapat pekerjaan halal yang gajinya 101 juta perbulan." "Heh, kenapa ada satunya?" Riani bertanya. Harusnya di negara ini ada peraturan yang menyatakan kalau bertanya kepada manusia yang seperti Gibran itu dilarang. Pasalnya, jawaban yang ia berikan pasti tidak nyambung dengan topik yang sedang dibahas. Tapi dimaklumi saja. Manusia seperti Gibran hanya sepersekian orang yang berada di dunia ini. "Karena satunya itu melambangkan kamu. Dari sekian banyak angka, kenapa aku memilih satu? Karena aku sukanya cuma sama yang itu," kata Gibran. "Ah, kamu. Bisa aja," ucap Riani. Gibran yakin bahwa gadisnya itu kini sedang tersenyum malu-malu. "Ya diaminin dong!" pinta Gibran. "Apanya?" tanya Riani. "Yang aku dapat pekerjaan itu," jawab Gibran. "Oh iya. Aamiin." "Oke aku lanjutin, ya. Terus kalau aku sudah dapat pekerjaan, aku bisa menjadi kaya raya," kata Gibran. "Aamiin." "Kalau sudah kaya raya, terus aku bisa menabung untuk masa depan nanti," ucap Gibran. "Aamiin. Semoga bisa," kata Riani. "Terus aku bisa nikahi kamu," kata Gibran. "Aamiin." "Eh, masih kecil. Jangan bicara nikah-nikah dulu!" lanjut Riani ketika ia sadar akan kata-kata Gibran. Gibran tertawa seperti orang tidak waras. Meski sejatinya juga dia sedikit tidak waras, sih. Riani yang mendengarkan Gibran tertawa pun merasa bingung dengan tingkah laku sang pacar. "Kenapa ketawa?" tanya Riani. "Ha? Enggak kok. Cuma lucu aja. Kamu tadi udah mengamininya," kata Gibran. "Oh. Ya udahlah. Udah terlanjur juga," kata Riani. "Jadi kalau yang tadi terjadi beneran, kamu mau?" tanya Gibran. "Hehehe ... Ya mau," jawab Riani. Gibran kembali tertawa. "Hm ... Udah dulu, ya. Pulsaku udah mau habis nih," kata Gibran. "Pulsa apanya? Ini kan pakai kuota, bukan pulsa," ucap Riani. "Pulsa listrik maksudnya. Udah mau habis. Aku disuruh beli sama Ayahanda tercintaku," ucap Gibran. "Hahaha ... Bisa aja jawabnya. Meski aku tahu itu bohong, ya udah sana beli," kata Riani. "Oke. See you letter," ucap Gibran sok-sokan bicara Bahasa Inggris. "Heh. Later ya, bukan letter. Kalau letter artinya surat," ucap Riani membetulkan. "Ya itulah pokoknya. Aku tutup, ya?" ucap Gibran. "Iya." Kesenangan sejenak sudah ia dapatkan setelah ia berkomunikasi dengan Riani melalui benda kotak itu. Namun jiwa playboy nya masih meronta-ronta. Dilihatnya ada nama Liya di layar kaca sana dan anehnya kebetulan dia sedang online. Dengan senyum jahatnya dia memencet kontak itu dan langsung melakukan panggilan telepon. Anehnya, orang yang ia telepon pun langsung menerima panggilan telepon tersebut. "Halo Gibran. Ada apa?" tanya gadis di seberang sana dengan suara imutnya. "Aduh! Maaf, Ya. Kepencet tadi," jawab Gibran. "Oh. Jadi langsung tutup aja nih teleponnya?" tanya gadis yang tak lain dan tidak bukan adalah Liya. "Eh, gak usah. Berhubung sudah terlanjur, aku ingin nanya ke kamu," kata Gibran. "Hm. Nanya apa, ya?" tanya Liya. "Harga minyak goreng katanya naik, ya? Iya nggak, sih?" tanya Gibran. Mendengar si konslet berbicara membuat Liya tertawa. Tak perlu ada yang bertanya mengapa. Tentu jawabannya adalah karena kata-kata yang diucapkan Gibran jauh dari yang diperkirakan. "Kok malah ketawa," ucap Gibran. "Habisnya aneh," ucap Liya. "Aneh gimana?" tanya Gibran. "Ya kamunya aneh. Masa harga minyak goreng juga ditanyain," jawab Liya. "Ya kan aku emang mau tahu." "Hahaha ... Ya udah, aku jawab. Iya, naik drastis," jawab Liya. "Hm ... Parah. Gorengan di kantin sekolah juga bisa naik nih, harganya. Sial," gumam Gibran. "Ya pasti lah kalau itu," kata Liya. "Iya." "Udah, itu aja?" tanya Liya. "Maksudnya?" tanya Gibran balik. "Gak ada lagi yang mau ditanyain, gitu? Kalau gak ada, aku tutup teleponnya." "Udah gak ada, sih," kata Gibran. "Oh. Ya udah. Eh, gak main PS?" tanya Liya. "Nggak dulu deh. Besok ujian soalnya," jawab Gibran. "Gitu ya? Ya udah aku tutup teleponnya. Semangat belajarnya," ucap Liya yang kemudian langsung memutuskan sambungan telepon. Gibran belum sempat menjawab apa-apa, tapi sambungan telepon sudah lebih dulu terputus. Ia berdiam diri sejenak tanpa ekspresi. Perlahan, ekspresinya pun berubah. Dari yang biasa saja tiba-tiba tertawa tidak jelas. "Hahaha ... Dia suka nih sama gue. Yah, dia pasti sudah mencintai gue. Gue disemangati. Hahaha," ucapnya. "Waduh! Gue benar-benar akan mendapatkan keduanya, nih," lanjutnya. Ya, itulah yang membuatnya tertawa penuh kemenangan. Tentang kata-kata terakhir dari Liya di telepon tadi. Kata-kata yang menyuruhnya untuk semangat dalam belajarnya. Tak lama ia tertawa, dan setelah itu ponselnya tiba-tiba berbunyi lagi. "Ayayayay" Seperti itulah bunyi nada dering ponselnya ketika ada panggilan yang masuk. Nampaknya ia benar-benar kebanjiran telepon pada malam hari ini. Sudah kayak orang penting saja si Gibran. Dilihatnya siapa yang sedang menghubunginya itu. Dan di sana terpampang nama Riani, pacarnya. Ia menunggu dulu sambil berpikir kenapa gadis itu ingin meneleponnya lagi, padahal baru beberapa menit yang lalu ia dan Riani berbincang-bincang lewat telepon. "Halo. Nelepon lagi. Kangen, ya?" tanya Gibran. "Baru juga beberapa menit, lho," lanjut Gibran. "Aku tadi nelepon kamu, kamu kenapa ada di panggilan lain?" tanya Riani. Mampus. Gibran tak menyangka kalau Riani akan meneleponnya ketika ia sedang asyik teleponan dengan Liya. Sial sekali. Jika dia ketahuan teleponan dengan gadis lain, mungkin Riani sudah tidak mau berhubungan dengan dia lagi. "Eh, kok tahu, sih," kata Gibran. "Iya. Tahu." Nada suara Riani terdengar sangat dingin. "Itu tadi aku sedang dipanggil sama ibundaku. Makanya aku sedang berada di panggilan lain," jawab Gibran asal. "Aku sedang serius. Jadi kamu gak usah bercanda. Jawab! Kenapa?" tanya Riani lagi. "Iya. Aku sedang dipanggil sama ibu aku lewat telepon. Disuruh menemui dia, katanya," jawab Gibran lagi. "Bohong," kata Riani. Gibran mulai mengeluarkan keringat sebesar biji jagung. Tapi jagung yang masih kecil. Dirinya bingung mau memberi alasan apa lagi. Ia sedikit takut jika nanti tentang dia dan Liya yang baru saja teleponan ketahuan oleh Riani. "Hahahaha." Gibran malah tertawa tidak jelas. "Kenapa?" tanya Riani. "Kamu udah alih profesi, ya?" "Alih profesi gimana?" tanya Riani tak paham. "Iya. Dari jadi Bidadari sekarang jadi peramal," jawab Gibran. Lelaki dengan kapasitas otak di bawah rata-rata itu ternyata selalu bisa memberikan kata-kata balasan untuk lawan bicaranya meskipun ia sedang dalam keadaan bingung mau menjawab apa. Tapi itulah kelebihan Gibran yang tidak dimiliki oleh semua orang. Berkat itu, Riani pasti melupakan kecurigaannya walau cuma untuk sejenak. Kemungkinan terbesarnya, Riani sedang senyum-senyum sendiri karena salah tingkah. Perkataan Gibran memang luar biasa hebatnya. "Nggak usah gombal. Aku sedang marah," kata Riani. "Nggak usah marah. Aku sedang gombal," balas Gibran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN