Lelaki yang satu ini, terbuat dari apa dia sebenarnya? Pikir Riani. Gibran adalah lelaki super aneh yang seakan-akan tak pernah peduli apalagi takut dengan amarah orang lain yang ditujukan ke dia.
"Gibran, aku serius," ucap Riani.
"Riani, aku seratus rius," balas Gibran.
"Ih, kamu gitu mulu," ucap Riani.
"Ih, kamu juga gini mulu."
"Gibran ...."
"Iya Riani."
"Aku nanya serius," kata Riani.
"Aku juga mau jawab serius," ucap Gibran.
"Kamu teleponan sama siapa, tadi?" tanya Riani.
"Sama petugas sedot WC. WC di rumahku udah mampet. Mungkin udah dipenuhi sama si kuning," jawab Gibran.
Riani ingin marah. Tapi ia sadar yang dihadapinya adalah Gibran. Percuma saja marah ke dia. Ujung-ujungnya, tidak ada tanggapan yang Riani inginkan nantinya.
"Ah, udahlah males," ucap Riani.
"Hahaha." Gibran lagi-lagi tertawa.
"Oke. Aku mau jawab serius," ucap Gibran.
"Hm."
"Tadi itu temanku," kata Gibran.
"Teman yang mana? Cewek apa cowok?" tanya Riani berbondong-bondong.
"Teman yang sekarang sedang berada di luar angkasa. Tentang cewek atau cowok, aku juga gak tahu. Dia pun juga gak tahu. Gak pernah diperiksa," jawab Gibran yang untuk kesekian kalinya membuat Riani kesal.
"Aku tutup teleponnya kalau kamu gini mulu," ancam Riani.
"Nah bagus tuh. Kalau gak ditutupin nanti bisa-bisa dikerubungi lalat. Kan bahaya," ucap Gibran.
"Ah, sudahlah," ucap Riani.
Gibran berusaha menahan tawanya atas apa yang ia ucapkan ke Riani. Nampaknya gadis itu memang sedang kesal, tapi sambungan telepon tak kunjung juga ia putuskan. Meski begitu tak ada percakapan lagi di antara keduanya hingga Gibran memulainya lagi.
"Udah nutupnya?" tanya Gibran.
"Kamu teleponan sama cewek, ya?" Riani bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang tadi Gibran tanyakan.
"Iya," jawab Gibran dengan polosnya.
"Tuh kan?"
"Lah, kan kamu sendiri juga tahu. Kok masih nanya," kata Gibran.
"Ha?"
"Ya kamu masa cowok, sih. Kamu kan juga cewek. Dan sekarang aku lagi teleponan sama kamu," kata Gibran.
"Gibran ... Kapan sih kamu bisa serius?" tanya Riani tak santai.
"Aku ya kayak gini, Riani. Banyak nggak seriusnya, kecuali ...." Ia menggantung ucapannya.
"Kecuali apa?" tanya Riani.
"Kecuali dalam menjalin hubungan sama kamu. Aku benar-benar sangat serius," jawab Gibran.
"Kamu ma ... Udah dong, ah. Jawab aja yang jujur tentang siapa yang teleponan sama kamu tadi," kata Riani.
Riani ternyata sangat penasaran dengan itu. Pikir Gibran, sekeras apapun ia mencoba untuk menghindari pertanyaan Riani yang satu itu, tetap saja tidak akan bisa. Kalau tidak sekarang, mungkin besok Riani akan menanyakannya lagi. Kalau tidak besok, mungkin juga lusa dan hari-hari berikutnya.
"Itu lagi. Ya udah aku jawab. Tadi itu beneran teman aku," kata Gibran.
"Teman yang berada di luar angkasa?" tanya Riani.
"Hahaha. Nggak, lah," jawab Gibran.
"Lalu siapa? Cowok apa cewek?" tanya Riani lagi.
"Cewek lah," jawab Gibran terang-terangan.
"Oh."
"Hahaha ... Bercanda. Cowok kok," kata Gibran lagi.
"Hm. Ya udah," ucap Riani.
"Maaf, aku sudah buat kamu berpikir yang tidak-tidak. Maaf juga kalau aku malah membuatnya semakin parah," ucap Gibran.
"Ya udah. Aku tutup, ya, teleponnya. Kamu harus belajar. Besok ujian," kata Gibran lagi.
"Hm. Iya," kata Riani.
Percakapan lewat telepon telah usai. Sang manusia tampan telah kembali pada keadaannya awalnya, yaitu sendirian. Hanya dengan bertemankan buku dan pulpen di meja belajarnya, ia pun bergumam.
"Hahaha. Semesta telah mendukungku. Nampaknya jiwa raga ini telah ditakdirkan untuk mendapatkan hati dua Bidadari sekaligus," kata Gibran.
"Dan nampaknya, diri ini akan menjadi pemenang atas pertandingan yang aku buat kala itu. Sungguh mengagumkan. Seperti Real Madrid yang selalu memetik kemenangan di setiap pertandingannya," lanjutnya.
"Real Madrid? Waduh, sialan! Nanti malam Real Madrid main. Gue harus nonton, nih," ucap Gibran lagi.
Ia memandang lembaran putih di atas meja itu. Berat rasanya kalau harus menutupnya segera. Ia masih punya tanggungan yang luar biasa. Yaitu tentang dia yang harus tetap belajar dan memahaminya dengan seksama, meski tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
"Ah bodoh amat, lah. Cuma Bahasa Inggris juga. Nanti kalau nonton bola juga komentatornya pakai Bahasa Inggris. Jadi sekalian belajar aja. Real Madrid lebih penting. Belajar nomor duakan aja. Hahaha," katanya.
Dan itulah keputusan super hebat dari Gibran. Ia menutup buku Bahasa Inggrisnya dan bersiap untuk tidur. Sebelumnya ia juga telah memasang alarm agar ia bisa bangun tepat waktu untuk menonton pertandingan tim kebanggaannya itu.
Esok hari, di kala sang mentari telah terbit dari ufuk timur. Embun pagi seolah menghilang dari peradaban, takut akan sinar yang dipancarkan oleh sang mentari. Kokokan ayam jantan mulai menghilang seiring dengan cahaya yang raja hari yang sudah mulai memenuhi semesta.
Gibran bangun dari tidurnya dengan hati yang berbunga-bunga. Tim kebanggaannya memperoleh kemenangan yang membuatnya bisa berbangga diri menceritakannya ke seluruh dunia dengan gayanya yang songong. Wajar saja, namanya juga sang pemenang.
Sang mentari perlahan naik, meninggalkan ufuk timur dan akan bergerak ke ujung barat. Dunia bersinar dengan sempurna. Kegelapan pada malam hari pun seketika sirna. Dan saat itulah seorang manusia tampan bernama Al Gibran Ramadhana harus menggerakkan tubuhnya untuk bisa sampai ke sekolahan tempat ia belajar.
Hari ini adalah hari ujian nasional yang kedua dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Gibran dengan semangat 45 nya yakin akan bisa mengerjakannya dengan sempurna. Dengan bermodalkan tekad dan keyakinan yang kuat, serta hasil belajarnya yang sebentar tadi malam, ia yakin bisa. Seperti Real Madrid, tim kebanggaannya yang bisa memenangkan pertandingan melawan tim yang sangat diunggulkan.
"Waduh! Ini Spanyol atau Inggris, sih? Kok bahasanya sulit dimengerti," batinnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Tapi, tidak semudah apa yang ia duga. Bisa dibilang Bahasa Inggris tingkat kesulitannya adalah dua kali lipatnya Bahasa Indonesia. Ia diharuskan untuk banyak membaca, belum lagi harus mengartikannya. Sungguh itu sangatlah sulit.
Gibran melihat ke arah sekeliling. Semuanya sedang mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Di depan sana ada pengawas dari sekolahan lain yang sedang mengawasi. Mengawasi ponselnya sendiri, maksudnya. Tak tahu apa yang ada di dalam ponsel itu. Mungkin saja pacar barunya mengirimkan chat ke dia sehingga dia sangat senang dan ingin terus berbalas chat.
Sedangkan pengawas yang satunya cuma membolak-balik lembaran kertas yang tak tahu itu apa. Mungkin saja itu daftar utangnya yang terlalu banyak ke warung tetangga sehingga dirinya bingung bagaimana cara untuk membayarnya.
"Itu pengawas atau penunggu, sih? Dibilang pengawas kok gak mengawasi. Dan dibilang penunggu, kok kayak hantu aja. Hahaha," batin Gibran lagi.
Dalam kesibukannya mengerjakan soal-soal ujian, Gibran masih sempat-sempatnya mempunyai pemikiran yang seperti itu. Tak seperti teman-temannya yang hanya terfokus pada satu titik, yaitu mengerjakan.
Gibran juga melihat tentang bagaimana kedua sahabat laknatnya itu sok-sokan mengerjakan soal. Padahal sejatinya mereka juga tak jauh beda dari dia. Ya meskipun yang paling parah adalah dia. Intinya pandangan Gibran tak bisa hanya terfokus pada satu arah. Detik demi detik pasti akan fokus pandangan itu akan pindah.
"Wih. Si Agus, tuh. Dia kan jago Bahasa Inggris. Pasti dia bisa lah, ngerjain ini. Apa gue nyontek dia aja, ya," batinnya lagi.
"Ah, iya. Gue harus nyontek. Daripada nilai gue jelek. Bisa hilang hadiah PS gue, entar," lanjutnya membatin.
Tapi masalahnya sekarang adalah tentang bagaimana caranya meminta Agus contekan, secara bangkunya berada lumayan jauh dari tempat duduknya. Ia berpikir sejenak. Bahkan ingin menyontek saja dirinya masih saja diharuskan untuk berpikir. Seolah-olah dalam hidup ini semuanya hanya tentang berpikir.
"Gus," panggilnya pelan. Tapi yang dipanggil tak meresponnya.
"Gus," panggilnya lagi untuk yang kedua kalinya. Dia tidak mau si pengawas menyadarinya.
Tapi sialnya, Agus masih tak kunjung menoleh. Gibran dibuat kesal karenanya. Entah sengaja atau hanya pelampiasan dari rasa kesalnya saja, ia tiba-tiba memanggil Agus dengan nada yang lumayan kencang.
"Gus," ucapnya. Dan hampir semuanya pun menoleh, termasuk Agus dan kedua pengawas itu.
Gibran yang mengetahuinya pun dengan cepat mencari alasan agar tidak ada yang curiga bahwa ia tadi sedang memanggil Agus.
"Gus Dur adalah presiden," ucapnya terbata-bata sambil memposisikan dirinya pada posisi membaca.
Dan berkat itulah kecurigaan para pengawas memudar, meski ia pun sedikit mendapat teguran dari salah satu pengawas itu.
"Tolong bacanya jangan keras-keras, ya. Bisa ganggu yang lainnya, nanti," kata si pengawas yang sedari tadi main ponsel.
"Siap Pak. Laksanakan," kata Gibran.
Di belakang sana nampak Iqbal dan Indra yang sedang tertawa pelan. Tentu alasan terciptanya tawa itu adalah karena Gibran. Tapi meskipun Gibran mengetahuinya, ia tidak meresponnya.
Pikirannya masih terfokus pada satu hal, yaitu tentang bagaimana cara untuk mendapatkan contekan dari si Agus. Sungguh duduk di bangku urutan kedua paling depan memang benar-benar sangat menyebalkan.
"Sialan si Agus. Tadi udah noleh malah mengalihkan pandangan lagi," ucap Gibran dalam hati.
"Siapa lagi nih yang bisa gue contek? Si Ali pikirannya juga cuma PS mulu. Mana ngerti dia soal pelajaran. Kalau Alya ... Cih, gak mungkin dikasih. Dia kan pelit banget. Gak pernah mau ngasih contekan. Harapan satu-satunya terletak pada Agus, nih," lanjutnya.
Gibran tiba-tiba mempunyai ide yang sangat cemerlang. Dia menuliskan sesuatu pada secuil kertas yang mana sesuatu itu pastinya adalah sebuah pesan singkat yang akan ia tujukan ke Agus. Tak butuh waktu lama, akhirnya ia pun berhasil menyelesaikan tulisannya itu.
Setelah itu ia menarik rambut Ali yang kebetulan memang bertempat duduk tepat di depannya. Ali yang merasakan ada yang menarik rambutnya pun sedikit mengerang kesakitan.
"Aduh! Apa sih, Bran?"
"Syut!" Gibran mengisyaratkan Ali supaya diam.
"Tolong kasihin ini ke Agus!" perintah Gibran dengan berbisik.
"Parah. Lo mau nyontek?" tanya Ali pelan.
"Halah. Banyak omong Lo. Kasihin aja!"
"Udah, kasihin aja! Nanti gue bayarin main PS deh," bujuk Gibran.
"Oke, laksanakan," kata Ali.
Itulah Ali, sang manusia pecandu PS yang lebih parah daripada Gibran dan kedua sahabatnya. Tapi kalau dalam hal mata pelajaran, dia sedikit lebih baik daripada Gibran.
Ali menuruti perintah Gibran dengan memberikan kertas itu ke Agus. Beruntungnya si pengawas tidak memperhatikannya. Dan alhasil lipatan kertas itupun bisa mendarat dengan selamat ke hadapan Agus.
Setelah membacanya, Agus pun langsung mengerti. Sejenak ia menoleh ke arah Gibran. Melihat hal itu Gibran pun mengangguk seolah memberikan isyarat mengiyakan. Agus lagi-lagi langsung mengerti.
"Kalau kayak gini, ujian ditinggal tidur juga kelar nantinya," ucap Gibran dalam hati.
Lumayan lama ia menunggu, akhirnya Agus memberikan balasan kepadanya. Dilemparkannya kertas itu ke Gibran. Sebuah kertas yang di dalamnya pasti berisikan suatu tulisan yang sangat diinginkan oleh Gibran.
Senyum kebahagiaan muncul dari wajah seorang Al Gibran Ramadhana. Ia telah mendapatkan contekan. Ia cukup membuka kertas itu dan menulis jawabannya. Dan setelah itu, ia cuma harus mengerjakan soal demi soal yang tersisa.
Namun di saat ia membuka lipatan kertas itu, rasa kecewa campur kesal tiba-tiba memenuhi segala ruang perasaannya. Apa yang dituliskan oleh Agus, ternyata jauh dari harapannya. Kira-kira beginilah kata-kata balasan dari Agus:
"Latihan jujur! Gak usah nyontek!"
Sederhana namun sangat bermakna. Tak banyak kata, tapi sangat mudah dicerna. Gibran menatap Agus yang kini sedang sibuk mengerjakan soal demi soal dengan tatapan super malasnya. Ternyata Agus memang tak jauh beda dari si Alya.
"Yang banyak dibutuhkan di negeri ini adalah orang yang pintar dan licik, Gus, bukan orang jujur," ucap Gibran dalam hati.
"Sialan banget si Agus. Parah, gue harus ngerjain sendiri, nih," lanjutnya membatin.
***
Waktu sudah menjalankan tugasnya dengan sempurna. Kini ujian nasional itupun berakhir. Ujian nasional kedua yang benar-benar sangat sulit bagi Gibran. Meski begitu sejatinya dia juga yakin bahwa apa yang ia isikan lebih banyak benarnya daripada salahnya.
"Hahaha, lihatlah ketika El Real memenangkan pertandingan tadi malam. Itu seperti menandakan akan diri gue. Yang dari posisi terpuruk, akhirnya bisa bangkit dan memenangkan pertandingan. Sama kayak gue. Dari posisi gak paham apa-apa tentang mata pelajaran, hingga nantinya bisa mendapatkan ranking yang pertama," ucap Gibran dengan percaya dirinya.
"Hahaha. Gaya lo, Bran. Lagian Real Madrid tadi malam tuh cuma menang hoki," kata Indra.
"Bukankah cara pandang manusia ke manusia yang lain itu adalah menurut hasilnya. Jika hasilnya bagus, usaha seperti apapun juga tak mungkin akan dilihat. Lagian Real Madrid emang jago. Menang ya menang," kata Gibran.
"Ya deh, iya. Agenda kita selanjutnya apaan nih?" tanya Indra.
"Main PS."
Seseorang tiba-tiba menyahut pertanyaan Indra dari arah belakang. Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah si Ali. Dengan senyumannya yang menampakkan gigi lumayan kuningnya itu, ia pun berjalan pelan ke arah mereka bertiga.
"Gibran janji ke gue tadi, kalau dia mau bayarin gue PS," kata Ali.
"Alah. Gak jadi. Emang minta dihajar tuh, Agus. Masa gue minta contekan malah dikasih yang lain," kata Gibran.
"Hahaha. Emang dikasih apaan Lo?" tanya Ali.
"Ya tulisan. Tapi isinya malah gue disuruh latihan jujur. Gak boleh nyontek," jawab Gibran.