Suara tawa terdengar hampir ke seluruh area halaman sekolah. Mereka bertiga tidak menyangka bahwa orang usil dan menyebalkan seperti Gibran pun ternyata bisa juga diusili. Bisa dibilang, itu adalah karma instan yang langsung ia peroleh.
"Gak usah ketawa! Meski gue gak dapat contekan, tapi gue yakin kalau gue bisa dapat nilai yang jauh lebih baik," kata Gibran.
"Okelah. Gue doain. Biar Lo bisa dapat nilai yang baik dan akhirnya nanti dibeliin PS sama ayah Lo. Jadi gue bisa main PS gratis tiap hari di rumah Lo. Hahaha," kata Iqbal.
"Itu kalau gue gratisin. Kalau gue kasih tarif per jamnya gimana?" tanya Gibran.
"Oke, doanya gue batalin," kata Iqbal. Gibran tertawa.
"Jadi gimana nih kelanjutannya? Gue jadi dibayarin main PS, nggak?" tanya Ali.
"Ya nggak jadi, lah. Gue aja gak dapat apa-apa. Masa harus minus duit dengan bayarin Lo PS," jawab Gibran.
"Cih. Parah Lo. Gue udah berjuang hidup dan mati buat ngelemparin tuh kertas ke Agus, Lo malah nggak menepati janji," kata Ali.
"Lebay Lo. Kalau mau marah, marahin tuh si Agus. Dia itu penyebab utama Lo gagal gue bayarin PS," ucap Gibran.
"Berarti salahnya Agus, nih?" tanya Ali dengan polosnya.
"Ya iyalah. Marahin aja tuh si Agus. Kalau perlu tagih aja duit main PS nya ke Agus," jawab Gibran.
Memang, kehebatan Gibran untuk meloloskan diri dari masalah yang menimpanya benar-benar hebat. Hanya dengan bermodalkan kata yang secara spontan keluar dari mulutnya, ia bisa menyelesaikannya dengan mudah. Tapi mungkin itu hanya berlaku untuk masalah-masalah kecil. Tak tahu jika untuk masalah yang besar.
Hari kedua ujian nasional telah usai. Kini tinggal dua mata pelajaran lagi yang masih harus Gibran hadapi. Dua mata pelajaran yang sangat sulit baginya meskipun memang sebenarnya semua mata pelajaran itu tak ada yang mudah untuknya.
Entah kenapa kemenangan Real Madrid menjadi penyemangat tersendiri untuknya belajar. Bercermin dari tim kebanggaannya itu, ia juga harusnya bisa mengalahkan teman-temannya yang lebih diunggulkan dalam hal nilai.
"Tinggal matematika sama IPA dong. Ah, gampang. Gue yakin bisa dapat nilai yang terbaik. Yuk, semangat yuk! Demi PS," kata Gibran.
Besok adalah ujian nasional dengan mata pelajaran matematika, yang mana katanya itu adalah mata pelajaran yang paling ditakuti dan dibenci oleh kebanyakan pelajar. Mungkin termasuk juga Gibran.
Namun, kini bukan saatnya ia membenci. Karena hal yang perlu ia lakukan hanyalah menghadapi. Meski mata pelajaran yang akan diujikan besok adalah mata pelajaran yang sangat tidak ia sukai, setidaknya ia bisa mengerjakannya dengan baik dan teliti.
Kring! Kring!
Gangguan datang menghampiri Gibran di kala ponselnya berbunyi. Tentu itu adalah tanda bahwa ada yang sedang berusaha untuk meneleponnya.
Ia mendecak sebal. Hilang sudah konsentrasinya dalam belajar. Diambilnya ponsel dengan layar yang membentuk pola jalanan di google maps itu dengan malas sekaligus juga penasaran. Tapi, rasa malas itu mendadak hilang di saat dirinya melihat siapa orang yang sedang berusaha untuk menghubunginya.
"Halo Riani. Ada apa? Kangen, ya?" tanya Gibran bertubi-tubi.
"Ih, enggak," jawab Riani.
"Lalu?"
"Cuma mau ngecek aja kamu sedang belajar atau malah main keluar rumah," ucap Riani.
"Belajar, lah," jawab Gibran.
"Gak percaya, aku," ucap Riani.
"Lihat aja nih," kata Gibran sambil mengarahkan layar ponselnya ke buku-buku yang ada di depannya.
Tak usah terkejut dengan tingkah si manusia otak seperempat seperti Gibran. Tak tahu juga ia memang seperti itu atau itu hanyalah bentuk dari candanya saja. Yang pasti apa yang dia lakukan itu tidak sedikitpun mencerminkan perilaku orang yang waras.
"Gibran. Kita ini teleponan, bukan video call," kata Riani.
"Oh iya. Hehehe. Aku lupa. Ya udah, mau video call?" tanya Gibran.
"Gak usah. Nanti malah keterusan terus kamunya gak jadi belajar. Kamu potoin aja coba," kata Riani.
"Ya udah iya. Aku tutup dulu, ya," kata Gibran.
"Iya," ucap Riani.
Gibran membolak-balik buku yang ada di depannya dengan kondisi sambungan telepon yang masih terhubung. Lama sekali, dan pada akhirnya Riani pun memberikan komentarnya.
"Katanya mau ditutup. Ini kok masih terus nyambung, panggilan teleponnya?" tanya Riani.
"Lah. Maksudku nutup buku. Bukan nutup telepon," ucap Gibran.
"Gibran ... nyebelin banget sih jadi cowok," kata Riani.
"Lalu, apa aku harus jadi cewek biar gak nyebelin di mata kamu?" tanya Gibran.
"Bukan itu maksudku."
"Lantas bagaimanakah maksud kamu?" tanya Gibran.
"Ah sudahlah. Gak usah dibahas! Aku mau belajar. Kamu juga harus belajar. Awas aja kalau enggak," ancam Riani.
"Insyaallah, ya," kata Gibran.
"Hm ... Iya terserah," kata Riani.
Dan kemudian sambungan telepon itu terputus. Gibran senyum-senyum tidak jelas. Ada sebuah keseruan yang ia rasakan di kala ia sudah berhasil membuat Riani merasa kesal ke dia. Itu seperti pencapaian yang luar biasa di hidupnya.
Dan esok hari adalah hari ketiga diadakannya ujian nasional. Matematika, sebuah momok yang cukup menakutkan bagi kebanyakan pelajar. Akan tetapi pada hari ini, sesuatu yang menakutkan itu akan ia hadapi.
Di deretan kursi nomor dua dari depan sana nampak seorang siswa yang sangat serius dalam mengerjakan soal ujian. Ya, dia adalah Gibran.
"Ini kayaknya soalnya gak asing banget bagi gue," kata Gibran dalam hati.
"Ah, iya. Kayaknya ada nih dalam kertas contekan yang semalam gue buat," lanjutnya.
Gibran berpikir keras untuk menyelesaikan soal demi soal yang diberikan. Sampai pada bagian di mana ia seperti pernah membaca atau bahkan mengerjakan soal itu. Hanya saja ia lupa tentang bagaimana jawabannya.
Si konslet dengan berjuta ide itu mempunyai sebuah pemikiran yang cukup cemerlang. Ia mengangkat tangannya sambil berucap kepada para pengawas ujian yang tengah sibuk merawat kucingnya yang terperangkap di ponsel.
"Pak, saya izin ke toilet," kata Gibran.
"Iya. Jangan lama-lama," jawab si pengawas.
"Siap, Pak," kata Gibran.
Dengan senyuman liciknya ia pun berjalan cepat menuju ke toilet. Sebenarnya ia tidak ingin kencing maupun b***k, tapi ada sesuatu yang harus ia lakukan.
Sampainya ia di toilet, ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Itu adalah sebuah lembaran kertas yang terdapat banyak sekali goresan tinta. Dengan kata lain, itu adalah contekan.
"Mana tadi, nih?" tanyanya pada diri sendiri sambil berusaha terus mencari.
"Ah, ini dia. Kan bener? Ada dalam kertas contekan ini ternyata," ucap Gibran.
Gibran tak peduli jikalaupun ia harus berlaku curang. Ia cuma ingin mendapatkan nilai yang bagus, yang pada akhirnya nantinya ia bisa dibelikan PS oleh ayahnya.
"Bodoh amat lah. Buat apa jujur? Orang jujur udah gak dibutuhkan lagi di sini," kata Gibran yang kembali melipat kertasnya dan memasukannya ke saku celananya lagi.
Ia menyiram kakinya sampai benar-benar basah seolah-olah dia memang baru saja kencing di toilet. Alasan utamanya adalah agar para pengawas dan teman-temannya tidak curiga tentang apa yang sebenarnya ia lakukan di toilet. Itu adalah rahasia yang besar. Yang tak boleh ada seorang pun yang tahu selain dirinya sendiri.
Ia pun kembali ke kelas dengan jawaban yang teringat jelas di dalam ingatannya. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia pun langsung mengisinya dan ia yakin itu 100 persen benar.
Kini tinggal beberapa soal lagi yang harus dikerjakan, dan sialnya, soalnya sulit-sulit. Pikirannya tak mampu untuk mencari jalan keluar agar ia bisa menjawab soal-soal tersebut. Hingga kemudian, dirinya melihat ke dua soal terakhir yang juga seperti tak asing di ingatannya.
"Wah, parah. Ini juga kayak soal yang gue catat tadi malam," batinnya sambil kepalanya yang mengangguk-angguk.
"Gue harus melakukan hal yang sama seperti tadi, tapi bagaimana caranya? Masa gue harus izin ke toilet lagi?" Ia bertanya-tanya dalam hati.
"Ah, tak masalah. Demi kebenaran, gue akan melakukan apa saja," lanjutnya.
Maksudnya kebenaran adalah kebenaran dalam menjawab soal-soal yang diujikan. Dengan melihat kertas contekan yang sudah ia persiapkan sebelumnya, pastilah dia bisa menjawab soal-soal itu dengan benar.
Lagi dan lagi, seorang Al Gibran Ramadhana selalu saja mempunyai ide yang sangat cemerlang untuk bisa menjalankan rencananya. Ia berlagak seperti orang yang sedang kebelet b***k. Padahal sejatinya, ia punya rencana lain di baliknya.
"Pak, izin ke toilet lagi," kata Gibran sambil mengangkat tangan.
Sang pengawas yang di awal sempat merawat kucing yang terjebak di ponselnya dan kini beralih dengan merawat kotoran di ponselnya pun menanggapi ucapan Gibran dengan tatapan anehnya.
"Tadi sudah ke toilet sekarang mau ke toilet lagi?" tanya si pengawas.
"Gak tahu Pak, ini. Kebelet banget. Kayaknya diare," jawab Gibran.
Tak peduli si pengawas mengizinkan atau tidak, ia secepat kilat langsung berlari keluar kelas. Akting yang bagus. Dengan ia berlari, seolah-olah itu menandakan bahwa dirinya memang benar-benar sedang kebelet. Ternyata Gibran juga mempunyai keahlian yang tersembunyi.
"Huff. Luar biasa teknik gue. Sialan! Ternyata gue berbakat banget jadi kriminal," kata Gibran ketika dia sudah berada di toilet.
Dia lagi-lagi mengeluarkan kertas itu dari saku celananya. Dibukanya lembaran putih itu dan mencari-cari apa yang ingin ia cari. Ternyata benar, kedua soal yang tadi ia percayai jawabannya ada di dalam kertas yang kini ia pegang, nyatanya memang benar-benar ada.
"Hahaha ... Kalau kayak gini gue bisa dapat nilai seratus, nih. Memang rezeki anak sholeh," kata Gibran.
Setelahnya Gibran tetap berada di dalam toilet untuk beberapa saat. Ia menyesuaikan dengan izinnya kepada sang pengawas. Kalau ia langsung kembali, tentu itu akan menimbulkan kecurigaan yang sangat besar.
Sekitar 5 menit kemudian, ia pun memutuskan untuk keluar dari toilet. Di saat dia keluar itulah dia melihat seseorang yang tengah berjalan ke arah toilet lain. Seseorang yang sangat ia kenali. Bukan siswa, melainkan guru.
"Wah, si Anwar tuh. Kerjain dulu, ah," kata Gibran.
Namanya juga Gibran. Saat di sekolahan, seperti itulah dia. Kesopanan seolah-olah tak pernah ia kenal. Berbeda ketika ia berada di rumah ataupun dengan orang-orang di luar sekolahan.
Ketika Pak Anwar masuk, di situlah Gibran perlahan mendekati pintu toilet tempat di mana gurunya itu berada. Tentu alasannya adalah karena ia ingin berbuat jahil.
Ia menunggu beberapa saat. Setidaknya sampai Pak Anwar membuka celananya di dalam sana. Baru setelah itu niat jahilnya akan ia laksanakan.
Brak! Brak! Brak!
Dan lihatlah betapa tidak sopannya seorang Al Gibran Ramadhana kepada gurunya. Ia menggedor-gedor pintu toilet dengan sangat kerasnya. Entah berapa kali gedoran yang ia lakukan dengan kekuatan penuh. Bahkan sampai hampir menyebabkan pintu toilet itu roboh.
"Woi, siapa itu?" Terdengar suara teriakan dari dalam. Gibran cuma cengengesan tidak jelas.
Ia kembali menggedor-gedor pintu itu beberapa kali. Lalu ia secepatnya berlari menjauh dari sana. Sungguh seorang siswa yang patut untuk diacungi jari tengah.
"Hahaha ... siapa suruh pakai toilet siswa. Bau pesing pula. Pasti kalau kencing gak pernah disiram tuh," oceh Gibran dalam perjalanannya menuju kelas.
"Andai gue ini bukan orang yang sopan, pasti udah gue siram air tuh guru," lanjutnya bergumam.
Berjalanlah ia dengan penuh kebanggaan. Selain karena sudah berhasil mendapatkan contekan jawaban dari soal-soal yang tidak ia ketahui jawabannya, ia juga bangga karena telah berhasil menjahili guru yang sangat menyebalkan baginya. Ya, guru itu adalah Pak Anwar.
"Gibran!" Sebuah suara berhasil menghentikan langkah kakinya.
Ia kenal betul nada suara itu. Tak ingin menebak, ia pun langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati ada Pak Anwar yang sedang berdiri di sana. Gibran hanya tersenyum sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Eh Pak Anwar. Ada apa, Pak?" tanya Gibran.
"Kamu ya, yang tadi menggedor-gedor pintu toilet?" tanya Pak Anwar balik.
"Ha? Enggak Pak," jawab Gibran.
"Jangan bohong! Terus kamu habis darimana?" Tanya Pak Anwar.
"Saya dari ... Oh, dari Indonesia, Pak," jawab Gibran tak jelas.
"Jangan bercanda!"
"Lah. Iya, saya dari Indonesia. Negara saya kan emang Indonesia," kata Gibran.
"Gibran. Saya tanya sekali lagi. Kamu kan yang menggedor-gedor pintu toilet waktu bapak sedang kencing?" tanya Pak Anwar.
"Enggak Pak. Astaghfirullah. Bapak kok nuduh saya sembarangan, sih. Mentang-mentang punya dendam pribadi ke saya, saya jadi dituduh yang tidak-tidak," kata Gibran.
"Guru itu digugu dan ditiru lho, Pak. Bapak mau saya tuduh kalau bapak aslinya di toilet bukan kencing, tapi lagi menghisap sabu yang bapak beli dari penjual sayur keliling?" tanya Gibran.
"Kamu ini, dibilangin malah membantah terus," kata Pak Anwar.
"Bukan soal membantahnya, Pak. Saya sebenarnya juga gak mau bersikap gak sopan kayak gini. Tapi kan berani karena benar, takut karena salah, Pak. Makanya saya membantah. Karena saya merasa benar," kata Gibran.
"Ya udahlah, Pak. Saya mau ke kelas. Kan saya sedang ujian. Malah bapak fitnah juga. Nanti kalau nilai ujian saya jelek, itu salahnya bapak," lanjut Gibran.
Betapa beraninya dia terhadap guru. Bahkan kata demi kata yang ia ucapkan seolah-olah tak perlu terpikir di benaknya. Kata-kata itu bisa muncul kapan saja tergantung kehendak mulutnya.