Bab 24

2006 Kata
"Eh, mau ke mana kamu?" tanya Pak Anwar. "Ke kelas, Pak. Astaghfirullah. Ya kali saya mau ke Spanyol. Real Madrid kan udah bertanding kemarin," jawab Gibran tak santai. "Kalau bukan kamu yang menggedor-gedor pintu toilet, lalu siapa?" tanya Pak Anwar. "Ya mana saya tahu, Pak. Hantu kali," jawab Gibran. "Ngarang aja kamu. Mana ada hantu di sekolahan ini," kata Pak Anwar. "Ya entahlah, Pak. Pokoknya bukan saya," kata Gibran. "Terus kamu tadi dari mana?" tanya Pak Anwar lagi. "Dari toilet, Pak. Ya Allah. Nanya mulu bapak nih. Bisa kehabisan waktu nih saya," jawab Gibran. "Nah, ngaku juga kalau kamu habis dari toilet," kata Pak Anwar. Sial beribu kali sial. Upaya pembelaan diri yang sangat sempurna dari Gibran harus digagalkan oleh kecerobohannya sendiri. Ia secara tak sengaja menjawab seperti itu atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Anwar. "Eee ... Ya, emang saya dari toilet, Pak. Tapi bukan saya yang ngelakuin hal itu," kata Gibran. "Halah, ngeles aja kamu. Selesai ujian nanti, temui saya di ruang guru. Awas aja kalau kabur!" ancam Pak Anwar. "Lah, Pak. Saya nggak bersalah, Pak," ucap Gibran lagi. "Halah. Sudah! Silahkan masuk ke kelas, sekarang!" ucap Pak Anwar. "Terus nanti gimana, Pak?" tanya Gibran. "Ya temui saya," jawab Pak Anwar. "Lah, Pak. Kok gitu?" "Sudah, gak usah banyak protes!" "Hadeh. Iya iya. Memang guru selalu benar. Murid selalu salah," kata Gibran. "Ya udah, Pak. Saya ke kelas dulu," lanjutnya. Pasrah menjadi pilihannya. Karena pun memang ia bersalah dalam masalah ini. Kebodohannya telah membongkar kesalahan itu sendiri yang harusnya tertutup dengan sangat baik. Ia pun masuk kelas dan kembali mengerjakan soal-soal ujian. Beruntungnya masalah yang barusan terjadi tak mempengaruhi dia dalam mengerjakan. Ia juga masih ingat betul tentang jawaban yang ia dapatkan dari kertas contekannya itu. Sekitar 30 menit kemudian, ujian itupun berakhir. Gibran juga sudah menyelesaikan semua soalnya. Namun kini ia masih belum bisa langsung pulang, melainkan harus menemui Pak Anwar di ruang guru. "Woi, gak pulang Lo?" tanya Iqbal. "Pulang apaan? Gue masih harus menemui si Anwar di ruang guru," jawab Gibran. "Hahaha. Emang ada apa? Kok Lo disuruh menemui Pak Anwar?" tanya Indra. "Jadi, tadi itu waktu dia lagi kencing di toilet, gue gedor-gedor tuh pintu toilet. Eh, dia malah tahu kalau yang ngelakuin itu adalah gue. Ya gini jadinya," jawab Gibran. "Wah, parah Lo. Gak ada sopan-sopannya guru lagi kencing pintu toiletnya malah digedor-gedor. Harusnya ambil tuh celananya terus sembunyiin," kata Iqbal. "Hahaha. Malah lebih parah Lo. Kalau bisa, udah gue lakuin apa yang Lo usulin itu. Sayangnya gak bisa," kata Gibran. "Udahlah. Gue mau ke ruang guru dulu. Bisa gak pulang-pulang gue, entar," lanjut Gibran. "Oke oke. Gue sama Indra mau balik dulu," ucap Iqbal. "Iya. Silahkan aja," kata Gibran. Rasa malas dan ingin melarikan diri mulai menyerangnya. Tapi dia ingat soal ancaman dari Pak Anwar. Pikirnya jika ia melarikan diri, maka hukuman yang lebih berat pasti akan menantinya. Gibran memasuki ruang guru. Dan di sana ada dua guru yang sangat ia kenal. Salah satunya adalah Pak Anwar, yang seolah-olah memang sudah menanti kedatangannya sedari tadi. Gibran pun mempersiapkan fisik dan mentalnya terlebih dahulu sebelum akhirnya datang menghadap gurunya itu. "Ada apa, Pak? Kok saya dipanggil ke sini?" tanya Gibran tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Masih nanya ada apa?" tanya Pak Anwar balik. "Ya iyalah, Pak. Malu bertanya sesat di ruang guru," kata Gibran tak jelas. "Sudah. Duduk dulu!" perintah Pak Anwar. Dan Gibran pun menurutinya. Kala itu si guru yang satunya tiba-tiba keluar ruangan. Kini hanya tersisa Pak Anwar dan Gibran saja yang berhadapan satu lawan satu. Kalau harus baku hantam, sepertinya Gibran pun sudah siap. "Kamu itu sudah mau lulus. Sudah mau masuk SMA. Tolong ya, sifat jeleknya itu dihilangkan," kata Pak Anwar serius. "Lah. Sifat saya bukannya bagus-bagus, Pak? Saya kan tokoh protagonis. Masa punya sifat jelek?" ucap Gibran. "Apa yang kamu maksud menggedor-gedor pintu toilet, sedangkan ada guru kamu yang berada di dalam itu termasuk sifat yang bagus?" tanya Pak Anwar. "Lah. Itu kan bukan saya, Pak," elak Gibran. "Sudah, jangan mengelak! Apa perlu kita lihat cctv biar semua terbukti?" "Lah. Emang toilet ada cctv-nya, Pak?" tanya Gibran. "Ya jelas ada, lah. Apa perlu kita lihat sekarang. Jika terbukti benar kalau yang ngelakuin itu kamu, maka akan saya tambah hukumannya jadi berkali-kali lipat," kata Pak Anwar. Gibran menelan ludahnya sendiri. Terbayang di pikirannya jika ada bukti yang nyata bahwa dirinya lah sang pelakunya. Pasti hal buruk sudah menantinya. Ia mempunyai pemikiran yang baik, tapi juga berisiko. "Bagaimana? Kita lihat sekarang aja?" tanya Pak Anwar. "Eh, gak usah, Pak. Iya, saya ngaku. Saya yang melakukannya. Saya minta maaf, Pak. Tolong jangan kasih hukuman yang berat-berat. Ajak makan di restoran aja misalnya," kata Gibran. "Hahaha ... Gibran Gibran. Sudah saya duga itu kamu," kata Pak Anwar. "Lah. Bapak baru menduga? Bukan karena sudah tahu semuanya dari cctv?" tanya Gibran. "Mana ada cctv di toilet," jawab Pak Anwar. "Saya sengaja bilang kayak gitu supaya kamu segera mengaku," lanjutnya. Terjebak sudah dirinya. Kelicikannya ternyata masih kalah dengan Pak Anwar. Rupanya dirinya masih harus banyak belajar dari gurunya itu. Gibran memandang sekitar dengan malas. Ia telah terjebak oleh kata-kata yang diucapkan oleh Pak Anwar. Harusnya ia tidak secepat itu terpancing. Harusnya ia bisa mengira-ngira dulu tentang apa maksud dari perkataan Pak Anwar itu. "Wah, parah. Bapak kok suka bohong, sih. Saya sebagai muridnya bapak merasa kecewa dengan apa yang bapak perbuat. Tapi, akan saya tiru apa yang bapak lakukan saat ini di kemudian hari," kata Gibran masih merasa tak berdosa. "Gibran. Jangan banyak bicara! Atau nanti hukumanmu akan jadi lebih parah," ancam Pak Anwar. Gibran pun terdiam. "Ya udah iya. Silahkan dihukum. Saya udah lapar. Mau pulang. Rendang di rumah saya sudah manggil-manggil, nih," kata Gibran. Pak Anwar hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah! Sekarang ikut saya!" Pak Anwar pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan. Gibran yang diminta untuk ikut pun juga langsung mengikuti ke mana arah langkah kaki Pak Anwar. Rupanya tempat yang dituju adalah halaman sekolah. Firasat Gibran sudah tidak enak. Dia yakin sekali bahwa hukuman yang akan ia terima adalah sama seperti apa yang ia pikirkan. "Sekarang kamu lari keliling lapangan seribu kali!" perintah Pak Anwar. "Parah. Itu mau ngasih hukuman atau mau melakukan pembunuhan, Pak?" tanya Gibran. "Bandung Bondowoso aja bisa buat seribu candi dalam satu malam. Masa kamu lari keliling lapangan aja gak bisa?" "Eh, salah ya Pak. Dia cuma bisa buat 999 candi. Bukan seribu," sangkal Gibran. "Lagian ini Gibran Ramadhana, tokoh utama dalam kisah nyata. Bukan Bandung Bondowoso yang merupakan tokoh di kisah tak nyata," lanjut Gibran. Dasar Gibran. Dia seperti tak punya ketakutan sedikitpun pada gurunya itu. Kata-kata bantahan selalu bisa terucap dari mulutnya. Orang seperti Gibran memang sangat cocok bekerja sebagai sales. "Ya sudah, 20 kali putaran," kata Pak Anwar. "20 kali itu banyak lho, Pak. Saya larinya pelan, kayak siput. Gak apa-apa sih kalau bapak mau nunggu sampai sore," kata Gibran. "Siapa bilang saya mau nunggu?" tanya Pak Anwar. "Jadi gak ditungguin, Pak? Ya itu berarti bapak nggak bertanggung jawab. Bapak yang ngasih hukuman, eh malah ditinggal pergi. Benar-benar tidak mencerminkan tukang hukum yang baik," oceh Gibran. "Kalau tukang hukum yang berasal dari rakyat kecil seperti kita juga gak bekerja dengan baik dan gak adil, lalu bagaimana kelangsungan dari negeri ini, Pak? Bapak mau kalau keadaan negeri ini tiba-tiba berantakan?" lanjut Gibran. "Ah, sudah sudah. Kamu ini pintar sekali bicaranya. 10 kali putaran aja, dan cepat laksanakan!" perintah Pak Anwar. "Jangan menyuruh seseorang untuk cepat, Pak. Setiap orang punya kadar kecepatannya masing-masing. Misal aja orang yang gak punya kaki bapak suruh lari cepat, itu jadinya malah menghina," kata Gibran. "Ngebantah lagi, saya ganti hukumannya jadi bersihin seluruh toilet sekolahan. Mau?" tanya Pak Anwar. "Eh baik Pak, saya laksanakan lari 10 putaran," kata Gibran. Gibran pun mulai berlari kecil mengitari halaman sekolah yang bisa dibilang cukup luas. Terik matahari menjadi penambah penderitaannya. Hanya karena usil, dirinya harus menerima konsekuensi yang seperti ini. Sungguh sial sekali nasib hidupnya. Bukan cuma itu. Ia bahkan juga melihat sekelompok perempuan sedang berjalan di teras-teras kelas. Dan dari sekelompok perempuan itu, salah satunya adalah orang yang sangat dekat dengannya, yaitu Riani. Sialnya, saat itupun Riani juga menoleh ke arahnya. Gibran yang tak punya persiapan atas hal itupun cuma bisa menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. Ya walaupun itu adalah tindakan yang percuma. "Waduh! Rusak deh harkat dan martabat gue di depan Riani," batinnya sambil terus be lari pelan. Dari kejauhan, Riani seperti memberikan isyarat lewat tangannya kepada Gibran. Tak tahu isyarat apa yang diberikan. Menurut Gibran, itu adalah isyarat tanda yang buruk. Ia langsung memalingkan pandang dari Riani dan kembali melanjutkan larinya. Luar biasa kesialan yang ia dapatkan hari ini. Sudah dihukum, eh sang pacar mau mengamuk pula. "Lebih cepat, Bran!" perintah Pak Anwar. "Kan saya sudah bilang, Pak. Lari saya pelan. Eh malah disuruh lari lebih cepat," kata Gibran. Sang guru diam seperti tak memperdulikan ucapan dari muridnya yang satu ini. Lelah dan kesal sekali rasanya kalau harus menanggapi Gibran secara berlebihan. Sekitar 10 menit setelahnya, hukuman itupun selesai. Gibran langsung menjatuhkan dirinya dengan keadaan napasnya yang terengah-engah. Ia benar-benar nampak sangat kelelahan. "Oke Gibran. Hukumanmu sudah selesai. Lain kali kalau tidak mau dihukum, jangan diulangi lagi perbuatan yang seperti itu. Selain karena tidak sopan, itu juga tidak baik," kata Pak Anwar menasihati. "Iya iya, Pak," jawab Gibran masih dengan posisi berbaringnya. "Sekarang kamu boleh pulang," kata Pak Anwar lagi. Gibran diam. Dalam batin Gibran pasti dia sedang membalas perkataan dari gurunya itu. Tapi entah apa yang ia ucapkan sebagai bentuk dari pembalasannya. Dia nampak diam sambil terus mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Lari 10 putaran saja ternyata sudah terasa sangat melelahkan. Apalagi jika lebih dari itu. Pak Anwar dengan tanpa rasa berdosanya malah pergi meninggalkan Gibran sendirian. Seolah-olah dia baru saja sedang bertarung dengan Gibran dan dia menjadi pemenangnya. Lalu meninggalkan Gibran yang sudah terkapar lemas tak berdaya. "Nih." Tanpa Gibran sadari, tiba-tiba ada tangan yang menjulur ke arahnya dan memberikan sebotol air untuknya. Napas ngos-ngosan yang ia rasakan mendadak berhenti di kala dia melihat siapa sang pemberinya. "Riani," ucap Gibran. "Minum dulu!" perintah Riani. "Iya." Gibran pun menerima sebotol air itu dan meminumnya sampai benar-benar habis. Dahaganya pun telah hilang. Tenggorokannya yang tadi sempat mengering kini sudah terbasahi oleh air yang diberikan oleh sang pacar. Sungguh beruntung sekali dirinya punya pacar secantik dan sebaik Riani. "Aku tunggu di tangga sana," kata Riani dengan nada suara dinginnya. Namun Gibran tidak bisa merasa senang terlebih dahulu. Nampak sekali dari gaya bicara Riani yang dingin. Itu menandakan bahwa dirinya sedang merasa kesal atau bahkan marah kepada Gibran. Itu pasti. Riani tak pernah bersikap seperti itu kalau sedang dalam keadaan yang biasa saja. Gibran mengusap semua keringatnya seraya mengatur napasnya kembali. Lelah masih ia rasa. Tapi ia harus segera menemui sang pacar demi ketentraman bersama. Dia yakin sekali bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan ceramah dari seorang yang bukan ustadz maupun ustadzah. "Duduk!" pinta Riani di kala Gibran sudah sampai di depannya. "Duduk di mana?" tanya Gibran. Bahkan dalam keadaan seperti itupun dia masih tetap menjadi lelaki yang menyebalkan. "Atas genteng," jawab Riani kesal. "Harus nyari tangga dulu dong," kata Gibran. "Sudah! Nggak usah bercanda! Duduk di sini!" perintah Riani sambil menunjuk sisi samping kanannya. Gibran pun menurutinya. Bukan karena ia takut pada Riani. Bukan karena ia tak punya wibawa sebagai seorang lelaki sehingga harus tunduk pada perempuannya. Bukan karena itu. Tapi lebih tepatnya karena ia menghargai gadisnya itu. Maka dari itu ia menurutinya. "Kenapa dihukum?" tanya Riani to the point. "Gak tahu tuh. Pak Anwar pengen banget ngehukum aku," jawab Gibran. "Serius!" "Aku lebih serius, Riani," balas Gibran. "Kenapa dihukum?" tanya Riani lagi dengan nada super dingin. "Hm ... Gini ceritanya," ucap Gibran. Riani hanya mengangkat sebelah alisnya. "Jadi tadi, sewaktu dia di toilet, aku gedor-gedor tuh pintu toiletnya. Hahaha. Eh sialnya dia malah tahu kalau yang ngelakuin itu aku. Jadi ya kena hukum, deh," kata Gibran. "Gak ada sopan santunnya banget," ucap Riani. "Ya maaf. Kan niatnya cuma bercanda. Eh, Pak Anwar malah serius dalam menanggapinya," ucap Gibran. "Ya karena kamu salah dan sudah tidak sopan dengan yang lebih tua. Makanya Pak Anwar marah," kata Riani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN