Bab 25

1986 Kata
Gibran sudah menduga bahwa kejadian semacam ini pasti akan terjadi. Dan nyatanya memang telah terjadi sekarang. Kini cuma satu hal yang harus ia lakukan, yaitu pasrah dan menerima apa yang akan terjadi setelahnya. "Iya deh, aku salah. Aku minta maaf," kata Gibran. "Ya minta maafnya ke Pak Anwar, jangan ke aku," kata Riani. "Pak Anwarnya kamu yang wakilin bisa?" tanya Gibran. "Enggak," jawab Riani tegas. "Pokoknya harus minta maaf langsung ke Pak Anwar," lanjut Riani. "Hm ... Iya deh. Nanti waktu lebaran aku minta maaf ke dia," kata Gibran. "Ya nggak usah nunggu sampai lebaran!" ucap Riani. "Tapi kalau sekarang kan dia udah pulang. Masa harus nyusul sampai rumahnya, gitu?" "Besok kan bisa, Gibran." "Kalau gak dimaafin gimana?" tanya Gibran. "Pasti dimaafin," jawab Riani. "Kalau nggak?" "Pasti iya," jawab Riani. Memang susah berhadapan dengan seorang perempuan. Sang lelaki harus banyak-banyak mengalah demi ketentraman bersama. Setiap apa yang keluar dari mulut si perempuan, itu harus diiyakan. Mungkin sudah sejak zaman dulu kala hal semacam itu ada dan telah diwariskan secara turun-temurun. "Oke deh. Besok aku minta maaf. Sekarang, kamu gak mau pulang?" tanya Gibran. "Nanti dulu. Masih kumpul-kumpul sama teman-teman. Kan hari-hari terakhir kami bersama," kata Riani. "Kamu sama aku juga hari-hari terakhir bersama di sekolahan yang sama. Gak mau kumpul-kumpul sama aku, gitu?" tanya Gibran. "Enggak," jawab Riani sambil menyelipkan sedikit tawanya. "Gak kangen gitu, nantinya?" tanya Gibran. "Enggak," jawab Riani. "Haduh! Ya sudahlah. Mungkin aku ini memang ditakdirkan jadi orang yang tidak akan pernah dirindukan oleh siapapun," ucap Gibran "Hahaha. Kok jadi sedih gini, sih. Kan kita masih bisa bertemu meski nanti berada di sekolahan yang berbeda," ucap Riani. "Tapi kan tidak bisa selalu bertemu," kata Gibran. "Hm ...." Riani nampak bingung ingin menjawab apa. "Sudah gak perlu dipikirin. Sana kumpul lagi sama teman-teman kamu. Nanti pulangnya mau dianterin, nggak?" tanya Gibran. "Nggak usah, deh. Biar aku naik angkot aja," kata Riani. "Berani?" tanya Gibran. "Enggak. Hehehe. Ya berani, lah. Kan udah biasa," jawab Riani. "Ya udah, iya. Kalau begitu aku pulang duluan," kata Gibran. "Iya," jawab Riani. "Dan jangan lupa besok harus minta maaf," lanjut Riani. Gibran cuma mengangguk. Lalu setelah itu dia beranjak dari tempatnya duduk dan pergi dari hadapan Riani. Rumah menjadi tempat tujuan dia selanjutnya. Rasa lelah yang teramat besar membuatnya ingin segera berbaring di tempat ternyaman yang pernah ada, yaitu kasur di rumahnya. Ia sudah tidak mempunyai pemikiran untuk keluar rumah lagi. Lebih baik tidur daripada keluar rumah. Hari ini memang telah terjadi banyak sekali peristiwa yang menimpanya. Mulai dari yang menyenangkan sampai yang tidak menyenangkan atau lebih tepatnya melelahkan. Niat cuma iseng, malah berdampak pada dia yang dihukum. Sial sekali nasibnya. Pada hari berikutnya, yang mana adalah hari di mana dilaksanakan ujian nasional mata pelajaran yang terakhir. Seperti biasa, Gibran mengerjakan dengan memberi selingan kecurangan. Menurutnya itu tidak menjadi masalah utang besar. Hidup di tempat yang lucu seperti itu memang tidak semestinya semuanya selalu dilaksanakan dengan jujur dan serius. Itu menurut dia. Mungkin anggapannya memang ada salahnya dan ada benarnya juga. Salahnya dia lupa bahwa apa yang ia lakukan sekarang akan mencerminkan dirinya di masa depan nanti. Tapi ia juga sedikit benar. Ia cuma ingin memposisikan dirinya berada posisi yang sama dengan keadaan tempat di mana kini ia hidup. "Waduh! Gue lupa. Riani kan minta gue supaya minta maaf ke si Anwar. Maksud gue Pak Anwar. Eh gue belum minta maaf. Parah, nih," ucap Gibran sambil memukul jidatnya ketika melihat Riani dari kejauhan. "Jangan sampai dia melihat gue dulu. Kalau melihat, dia pasti akan mempertanyakan hal ini. Pasti," lanjutnya. Ia pun berbalik badan. Namun telat sekali. Riani telah mengetahui keberadaannya dan bahkan sudah memanggil nama Gibran. Gibran yang sadar namanya sedang dipanggil oleh seseorang pun segera menghentikan pergerakannya dan secara perlahan menoleh ke arah Riani. "Eh. Riani." Gadis cantik itu mendekat dengan gaya berjalannya yang super elegan. Dengan kecantikan dan keanggunannya itu, mungkin kalau disuruh ikut Miss Indonesia, dia pasti kalah karena dia gak mau disuruh-suruh. Apalagi disuruh-suruh oleh orang yang tidak ia kenali. "Sudah minta maaf ke Pak Anwar?" tanya Riani to the point. "Eee ... Udah dong. Kan kemarin aku bilang kalau aku emang mau minta maaf," jawab Gibran. "Ah, iya. Tapi kamu gak bohong, kan? Kamu beneran udah minta maaf?" tanya Riani bertubi-tubi. "Iya Riani. Tadi udah minta maaf, kok," jawab Gibran berbohong. "Baguslah. Ini hari-hari terakhir kita berada di sekolahan ini. Tolong jangan tinggalkan kesan yang buruk," kata Riani. "Lah. Udah terlanjur," kata Gibran. "Terlanjur apa?" "Aku sudah terlanjur meninggalkan kesan yang buruk. Gimana dong?" tanya Gibran. "Ya diperbaiki," jawab Riani. "Gak punya alat-alatnya." "Gibran! Kenapa ya aku selalu kesal kalau ngomong sama kamu?" tanya Riani. "Karena kamu mencintaiku. Makanya bawaannya kesal mulu," jawab Gibran. "Gak ada hubungannya," kata Riani. Gibran cuma tertawa. "Ya makanya dihubungkan. Bawa tali, nggak?" tanya Gibran. "Sumpah, nggak nyambung banget kalau ngomong." Bahkan sang pacar pun menyebut Gibran seperti itu. Dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa seperti itulah jati diri seorang Al Gibran Ramadhana. Entah nantinya bisa berubah atau tidak, itu tergantung dirinya sendiri. Beruntungnya, Sikap menyebalkannya itu dilindungi oleh paras tampannya hingga membuat Riani tetap mau dengan dia. Kalau saja dia mendadak berubah jelek, mungkin bukan cuma Riani saja yang akan menjauhinya, tapi juga akan ada banyak perempuan yang tadinya menyukainya, malah berganti jadi menjauhinya. "Ini hari terakhir kita bersama di sekolahan ini. Kamu nggak minta apa-apa gitu dari aku?" tanya Gibran. "Apa-apa gimana?" tanya Riani balik. "Ya misal jalan-jalan ke mana gitu?" "Em ... Nggak ah. Nanti kamu apa-apain," kata Riani. "Astaghfirullah. Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu pada seorang gadis yang aku cintai?" kata Gibran. "Bisa. Semua bisa saja terjadi," kata Riani. "Hm ... Ya udahlah kalau gak mau. Aku juga ada acara sama teman-teman sekelas sih, sebenarnya," kata Gibran. Riani langsung memberikan tatapan tak sukanya. Entah kenapa semakin lama ia merasa bahwa lelaki yang berada di depannya ini semakin menjadi menyebalkan. Ya, ia sudah berada di batas kesabarannya sekarang. "Ya kalau udah ada acara ngapain ngajakin jalan-jalan, Gibran? Nggak jelas deh, ah," protes Riani. Layaknya sedang melihat acara komedi, Gibran langsung tertawa. Seperti ada sebuah kepuasan tersendiri untuk dia ketika bisa membuat Riani kesal ke dia. Dia mungkin memang sengaja membuat sang pacar supaya kesal. Singkat cerita, dikarenakan ini adalah hari terakhir Gibran dan teman-teman sekelasnya bisa berkumpul, maka tentu pada hari yang istimewa ini, mereka tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersama-sama. Perpisahan, satu hal yang pasti akan terjadi. Dan kini hal itu akan terjadi pada Gibran dan teman-teman sekelasnya. Satu hal yang sangat dibenci oleh banyak orang tapi tak akan pernah bisa dihindari. Hal itu adalah perpisahan. Semua kenangan yang ada seakan telah mengikat jiwa untuk tidak boleh berpisah satu sama lain. Setiap detik yang telah dilalui bersama terasa berat untuk hanya dijadikan sebagai kenangan masa lalu. Menyakitkan, itu adalah satu kata yang pantas untuk menggambarkan perpisahan. Sulit untuk menerima, tapi harus diterima. "Mau ke mana nih acaranya? Ini adalah detik-detik terakhir kita bersama, lho," ucap Rina, si gadis lumayan cantik yang berperan layaknya seorang pemimpin, terutama bagi para perempuan. "Makan-makan?" usul salah satu perempuan. "Masa cuma makan-makan doang? Gak seru dong," kata Rina. "Gue punya usul," ucap Gibran. "Apa?" "Bagaimana jika kita ke rental PS buat main PS di sana?" usul Gibran. "Sip. Setuju gue," sahut Ali. Secara serentak, khususnya adalah para perempuan segera menolak mentah-mentah usulan dari Gibran. Usulannya pun memang pantas untuk ditolak. Bisa-bisanya dia mempunyai usul yang seperti itu, dan parahnya Ali malah menyetujuinya. "Parah emang Lo, Bran. PS mulu hidup Lo. Sering menghuni papan bawah juga," oceh Indra. "Berisik Lo," kata Gibran. "Hei, sudah! Ini jadinya kita harus ke mana?" tanya Rina. "Terserah aja. Gue ngikut," kata Gibran. "Nyemplung sumur juga ikut?" tanya Rina. "Iya. Ikut nyemplungin Lo. Gue tetap berada di tepi sumur," jawab Gibran. "Cih. Yang serius, lah. Ini kita harus ke mana?" tanya Rina lagi. "Katanya mau nyemplung sumur," sahut Gibran. "Halah. Berisik!" ucap Rina. Gibran tertawa pelan. "Terserah aja mau ke mana. Kita para laki-laki cuma ikut," kata Iqbal kemudian. "Ya jangan gitu! Harus keputusan bersama. Gak boleh cuma sepihak. Biar nanti gak ada yang protes," ucap Rina. "Gitu, ya? Oke, gimana kalau ke taman kota aja?" usul Indra. "Jangan! Panas kalau siang-siang begini. Gak nyaman," jawab Rina. Penolakannya dilanjut oleh yang lain. Maksudnya oleh yang para perempuan. Sedangkan para lelaki cuma diam tak memberikan suara apapun. Karena katanya, ke manapun tujuannya, si lelaki cuma akan ikut saja. "Hm ... Kalau begitu, ke restoran yang dekat dengan sekolahan ini gimana? Biar gak menghabiskan waktu cuma buat perjalanannya." Kini giliran Iqbal yang memberikan usulan. "Juga jangan sih menurut aku." Salah satu perempuan menjawabnya. "Kenapa ya, Na?" tanya Iqbal pada perempuan bernama Tina itu. "Tempatnya itu lho kayak gimana gitu. Pokoknya gak nyaman deh," kata Tina. "Iya. Betul tuh, Tina," sahut Rina. "Pokoknya jangan ke situ," lanjut Rina. "Hm ... Lalu kita ke mana dong?" tanya Iqbal. "Ya terserah." Sebal dan kesal, tapi mau tidak mau harus ditahan. Yang sedang dihadapi adalah perempuan. Makhluk paling benar sepanjang peradaban. Tak ada manusia lain yang bisa menyalahkan. Apalagi jika kaum lelaki yang menyatakan. Bisa-bisa lelaki itulah yang malah disalahkan. "Ya sudahlah. Terserah kalian para perempuan aja," kata Iqbal frustasi. "Jangan gitu, lah! Pokoknya harus keputusan bersama," kata Rina. "Ya diajak ke taman kota gak mau. Di ajak ke restoran juga gak mau, dan yang terakhir, di ajak ke tempat paling istimewa, yaitu ke rental PS juga gak mau. Terus maunya ke mana? Ke hotel, gitu? Nginep satu kamar cowok sama cewek?" ucap Gibran panjang lebar. "Parah Lo. Gak sopan," ucap Indra sambil sedikit mendorong kepala milik Gibran. Makhluk Tuhan bernama perempuan memang sulit dilawan. Tapi satu manusia yang datang dari golongan lelaki berani melakukannya. Dia adalah Gibran. Si manusia super tampan yang juga berasal dari keluarga yang mapan. "Maksud gue, nginep satu kamar, cowok sama cowok. Terus satu kamar lain, cewek sama cewek. Paham gak, sih?" kata Gibran. "Oh gitu?" tanya Indra. "Ya." "Hm ... Ayo lho, diputuskan. Jangan menghabiskan waktu!" kata Rina. "Ya kalau usulan gue sih tetap ke restoran yang tadi itu," kata Iqbal. "Gak nyaman, Bal, di sana. Gimana, sih? Tempat yang lain gitu, lah," ucap Rina. "Kalau misal ke cafe yang dekat perempatan itu gimana?" usul Tina. "Cafe itu, ya? Setuju-setuju aja, sih," jawab salah satu perempuan. "Oke. Berarti kita ke sana aja, ya. Cowok-cowok setuju, kan? Setuju lah, pastinya," ucap Rina. Pada akhirnya, begitulah nasib para lelaki. Disuruh mengusulkan, tapi usulannya tidak dipergunakan. Tidak mengusulkan, tapi dipaksa untuk melakukan. Ternyata tak mudah jadi seorang lelaki. Harus banyak mengalah jika sudah berhadapan dengan yang namanya perempuan. "Halah. Ujung-ujungnya juga dia yang nentuin. Pakai bilang harus keputusan bersama, lah. Tidak boleh sepihak, lah. Heh, dasar cewek," gumam Gibran. "Ngomong apa, Bran?" tanya Rina dengan lemah lembutnya. "Ha? Enggak. Enggak ngomong apa-apa," jawab Gibran. "Tadi kayak dengar ngomong cewek-cewek gitu," kata Rina lagi. "Iya. Cewek-cewek hebat, ya, bisa menentukan ke mana kita harus pergi?" ucap Gibran dengan entengnya. "Oh, gitu?" tanya Rina. "Iya. Masih nanya lagi?" jawab sekaligus tanya Rina. "Gak. Gak perlu," kata Rina. Gibran sebenarnya agak sedikit kesal. Dari dulu teman-teman perempuannya selalu saja seperti itu. Tapi dia maklumi. Atas alasan bahwa mereka adalah perempuan, maka tindakan semacam apapun yang mereka lakukan hanya cukup diiyakan. Singkatnya, mereka pergi ke cafe yang sudah direncanakan. Sampai di sana ada yang bertugas memesan makanan, minuman dan juga hidangan penutupnya. Ada juga yang duduk di tempat yang sudah disediakan. Ada yang numpang buang air kecil ke toilet. Dan ada juga yang dengan tanpa rasa berdosanya ghibah tentang semua menu baik makanan maupun minuman yang ada di cafe tersebut. "Lihat tuh! Nih cafe rame bener, ya," bisik Indra ke Iqbal. "Wajar lah rame. Namanya juga cafe," jawab Iqbal. "Oi. Bisik-bisik apaan tuh?" tanya Gibran yang melihat kedua sahabatnya itu berbisik. "Nggak. Cuma heran aja. Nih cafe rame bener," jawab Indra. Terlintas sebuah pemikiran super licik di otak Gibran. Dia ingin memberitahukan sesuatu kepada kedua sahabatnya. Sesuatu yang harusnya sangat tidak ingin mereka dengar. "Lo berdua tahu, nggak?" tanya Gibran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN